Tiga

1048 Kata
Suasana menjadi sangat canggung berkali-kali kami berdeham bergantian, tetapi tetap tidak ada yang membuka suara. Kuputar bola mata jengah, menatap bosku yang hanya diam seperti patung. “Ehem!” Dia menoleh ke arahku, membalas tatapanku. “Apa?” Alisku terangkat. “Mbak Lia dapat referensi dari mana minta saya jadi istri Bapak?” tanyaku menuntut jawaban. Bukannya menjawab, dia malah mengusap wajahnya, lalu menelungkupkan wajahnya di meja. “Nggak tahulah saya.” Aku kembali berdeham, beranjak dari tempat dudukku, menghampirinya. “Pak, saya setuju banget kalau Bapak mengubah sifat jorok Bapak.” Kepalanya terangkat, menatapku tajam. “Saya nggak sejorok yang kamu omongin, ya,” elaknya tak terima. Kuhembuskan napas menambah stok sabar. Tidak sejorok yang kubicarakan? Tidak mandi berhari-hari siapa yang betah? Barang dilempar dan disimpan di mana saja apa itu bukan termasuk kejorokan? Sabar, sabar, sabar. Mungkin Tuanku yang terhormat belum sadar dengan sifat buruknya itu. “Ya kalau Bapak merasa nggak jorok, berarti harusnya setiap hari Bapak mandi dong? Berkas sama fail juga nggak perlu repot-repot saya buat dobel bahkan tripel dong?” Dia mengibaskan tangan. “Itu bukan jorok, tapi lebih ke pelupa.” Aku mengangguk, tersenyum kaku. Gemas ingin kukubur hidup-hidup pria ini. “Bapak kok nggak mau terima masukan, sih?!” kuraih tangannya, mengangkatnya tinggi-tinggi. “Kuku hitam panjang begini apa bukan kejorokan? Gigi kuning kehitaman Bapak juga bukan kejorokan?” Dia melotot. “Kamu kok berani ngomentarin saya, heh?!” Aku tertegun saat dia menarik tangannya kasar, tersadar sudah melampaui batas yang mengancam keselamatan gajiku. “Ya itu supaya Bapak sadar apa yang diomongin sama Mbak Lia itu benar adanya,” jawabku terbata. Dia melengos sedikit membuatku bernapas lega. Tidak mau terlalu dekat dengan zona merah, aku mundur beberapa langkah kembali duduk di kursi kerjaku. Hening mengisi. Aku merutuk, memukul kepalaku karena terlalu berani. Di saat sedang sibuk merutuk dia tiba-tiba sudah berdiri di depan mejaku. “Saya mau keluar dulu.” Setelah mengatakan itu dia berlalu begitu dari ruangan. Apa komentarku terlalu kasar? Atau mungkin dia tersinggung karena komentarku? Aish... mengapa harus terbawa emosi dan malah mendatangkan bahaya coba. Susul jangan? Susul jangan? Aku mendesah frustrasi, mengusap wajah kasar. Ah biarkan sajalah. Kalau sampai gajiku dipotong gara-gara ini, langsung resign saja. Malam menjelang, tidak ada tanda-tanda kedatangan bosku yang katanya ingin memeriksa faktur dan menandatangani beberapa produk yang akan dijual. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6 sore, mendesah pelan menyayangkan waktu yang terbuang menunggu dia datang. Kucoba menghubunginya lagi, tetapi nihil tak kunjung dijawab. Kulirik keluar jendela, beberapa pegawai sudah bersiap untuk pulang. Kuhela napas panjang, beranjak dari duduk, melangkah keluar ruangan. “Loh ternyata ada Mila di dalam, kirain kamu ikut sama Pak Alwi.” Salah seorang kenek melihat ke arahku. Aku tersenyum tipis. “Mana bisa ikut, Pak Alwi ke mana aja aku nggak tahu,” sahutku dari teras sembari memperhatikan tiga orang kenek yang sibuk mengangkat barang memasukkannya ke mobil truk. Memang bosku sengaja membuat satu ruangan di gudang barang karena dia lebih senang berlama-lama di gudang daripada di kantor formal. Katanya, supaya bisa lebih jelas melihat kinerja karyawan di lapangan. Tiga orang pria mendatangiku. Salah satu dari mereka membuka suara, "Maaf, Mbak, saya dari Mayora mau minta tandatangan Pak Alwi buat produk kami yang mau launcing." Aku mengangguk, mengusap rambut bingung. "Pak Alwi lagi keluar, tapi kamu bisa titip ke saya berkas yang harus ditandangan, nanti saya sampaikan." Dia mengangguk, lalu berganti pada pria di sebelah kirinya. "Saya dari Unilever, Mbak, tujuan saya sama juga." Kugaruk kepala pelan, menatap ketiganya, lalu menunjuk pria paling ujung. "Kamu dari mana?" Dia tersipu. "Saya dari Nabati, Mbak." Seingatku tidak ada jadwal temu dengan produk mereka, apa memang tidak tercatat di agendaku? "Kalian datang mendadak?" Mereka mengangguk. "Iya, Mbak, kami sengaja supaya bisa langsung bertemu Pak Alwi-nya karena beberapa kali minta jadwal temu selalu lewat Supervisornya. Mungkin karena kami staff biasa kali ya, Mbak." Kuhela napas panjang, mengusap kening. "Kadang Pak Alwi suka mendadak pergi nggak jelas kalau mood Beliau lagi nggak baik." Kulirik berkas yang mereka pegang, dengan inisiatif menganjurkan tangan memberi isyarat agar mereka menyerahkan berkas itu. "Kebetulan saya ada lembur, biar saya susulkan ke Pak Alwi. Besok saya hubungi kalian setuju ambil produk baru kalian atau nggak. Begitu, ya? Nggak apa, kan?" Mereka tersenyum, mengangguk terlihat sungkan. "Ya sudah kami titip ya, Mbak, berhubung Mbak asisten beliau." Mereka menyerahkan berkasnya padaku. "Makasih banyak, Mbak." Aku tersenyum, sedikit mengangguk. "Sama-sama, maaf loh, ya." "Iya, Mbak." Mereka pamit lalu meninggalkan gudang. Mencengkeram berkas kuat, aku bergegas berbalik menuju ruangan untuk menghubungi bosku. Berkali-kali kuhubungi dia, tak kunjung dijawab, decakan lolos dari bibirku, tak henti menggerutu merasa diabaikan. Suara adzan berkumandang keras membuatku tak menyadari pintu ruangan terbuka. "Kamu telepon saya berkali-kali, kangen, ya?" Dengan segera aku berbalik, memicingkan mata menatap kesal dia. "Ada yang datang dari tiga produk, nungguin Bapak. Tapi Bapak susah banget dihubungin." Bukannya menjawab, dia malah berjalan melewatiku sembari membuka kancing kemejanya. "Saya baru ingat ada kegiatan Futsal, jadi saya buru-buru ke gor buat nyusulin teman-teman saya." Apa katanya tadi? Main Futsal? Apa aku tidak salah dengar? Haha, lucu sekali dia. Di sini aku khawatir dia tersinggung dan berakhir memecatku sebagai asistennya. Tapi dia malah bersantai bermain Futsal? Haha... batinku meringis. Kapan aku bisa jadi Bos supaya bisa bersikap seenaknya. "Besok kamu ada acara nggak?" Aku mengerjap beberapa kali. "Enggak, kenapa?" jawabku sedikit terbata terkejut karena tidak biasanya dia menanyakan waktu liburku. Dia mengangkat bahu ringan, berbalik menghadapku. "Temani saya ke ke rumah teman lama saya. Udah lama nggak berkunjung ke sana." Keningku mengernyit. "Urusan pekerjaan?" Dia menggeleng. "Terus kenapa Bapak ajak saya?" Dia mengangkat bahu ringan. "Kamu kan asisten saya, kalau asisten harus siap kapan aja dong? Bukan masalah kerjaan doang." Oke, dia mulai menjengkelkan. "Bapak mau ketemu teman Bapak dengan keadaan seperti itu?" tanyaku sembari mengedik ke arah wajahnya. "Seperti apa harusnya?" Aku mendesah frustrasi, mengusap kening kesal. "Harus bersih dong, Pak! Bukan dengan keadaan kumis dan jenggot tebal, rambut hidung pada nonjol keluar. Nggak malu Bapak?" Dia mengangguk-angguk. "Kenapa harus malu? Stayle saya seperti ini, kok." Kuberengutkan wajah, mencebik, mengutuk kecuekannya. "Iya Bapak emang nggak kenapa-napa, tapi saya yang malu, Pak." Bukannya menanggapi dengan serius, dia malah tersenyum santai, memasukkan tangan kanannya ke saku celana. "Itu sih urusan kamu." Biasanya aku suka mengutuk sifatnya, tapi sekarang apakah boleh aku mengutuk orangnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN