Empat

1579 Kata
"Pak, tolong saya, Pak!" lirihku dengan nada tersendat. "Kamu kenapa, Mila?" Agar lebih bisa menghayati aktingku, kukerutkan kening, meringis. "Tolong saya, Pak." Nada bicaraku semakin pelan seolah sedang kesakitan. Tunggu, rencanaku bukan terdengar seperti kesakitan, tapi harus terdengar seperti sedang ketakutan. Hah, tanpa sadar berdecak dengan aktingku yang ternyata buruk sekali. "Di mana kamu sekarang? Saya ke sana sekarang." "Saya di dekat salon Apricot, Pak. Beneran Pak, saya minta tolong." Tanpa terdengar balasan darinya, sambungan telepon terputus. Kuhembuskan napas lega, terkikik geli oleh ulahku sendiri. Semalaman aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa memangkas rambut di kepala dan di wajah dia, teringat kepeduliannya sangat tinggi, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan drama sedikit. Karena kalau diajak secara langsung, bosku yang luar biasa itu tidak akan pernah mau. Dia datang menggunakan motor Vespa matic, pakaiannya sangat simple, kaos lusuh dan celana jeans belel banyak sobekannya. Kuhela napas panjang, menggeleng-geleng melihat penampilannya. Dia berlari ke arahku, mencengkeram kedua sisi lenganku, memutar-mutar tubuhku. "Kamu kenapa?" Dari nada bicaranya terdengar panik. Beberapa detik aku terpana, kemudian menggeleng. Bukankah aku sudah tahu tingkat kepeduliannya terhadap orang lain sangat tinggi, mengapa harus terpana segala coba. "Saya nggak apa-apa, Pak. Tapi di dalam sana," tunjukku sembari memiringkan tubuh ke salon di belakangku. "Kenapa di sana? Kamu dipalak? Ada yang nyakitin kamu?" Aku mengerjap beberapa kali, aroma dari tubuhnya kembali menyadarkanku dari lamunan tidak masuk akal ini. "Nggak," jawabku lalu menarik tangannya untuk mengikutiku. "Pokoknya Bapak ikut dulu deh." Sesekali mencuri lirik ke belakang, dia tampak kebingungan, tapi tetap mengikutiku. "Teh, saya mau bos saya ini dibersihkan dari atas sampai bawah," ujarku pada salah satu pegawai salon. Seketika dia melepaskan genggaman tanganku. "Apa-apaan kamu!" sungutnya melotot ke arahku. Aku hanya balas menyengir, kembali meraih tangannya, memaksa duduk di kursi salon. "Udah, Bapak diam aja. Pokoknya Bapak tahu beres dan bersih," jawabku sedikit membusungkan d**a bangga. Iya, aku merasa bangga karena bisa membawanya ke Salon. Tempat yang sangat dia enggan untuk datangi. "Awas kamu, Mila!" ancamnya tanpa melepaskan tatapannya ke arahku. Aku tersenyum lebar, mengangguk. "Nggak apa saya dimarahi, asal Bapak udah bersih dan wangi. Saya ikhlas." "Kamu pikir saya ini kucing bisa dipaksa-paksa begini, heh!" "Aa' tampannya diam dulu, yes. Biar eike rapikan dulu, biar semakin kelihatan tampannya," ucap pegawai Salon tersebut dengan nada kemayunya. "Mila, kamu lihat nanti," geramnya dengan nada rendah. Aku hanya menyengir, melambaikan tangan menanggapi omelannya. Biarkan sajalah, penting untuk melihat tampan dengan versi bersihnya. Setidaknya nanti di gudang pemandangan mataku tidak terlalu sumpek. "Aduh, Pak bos ini tampan, lo... punya mata bulat, bulu alisnya tebal alami, bibirnya juga seksi. Sayang aja Pak bos kurang cinta kebersihan," celoteh pegawai Salon pria itu. "Kan bener kata saya, Pak," sahutku, "Bapak itu ganteng, perempuan di luar sana nggak mau dekatin Bapak itu karena belum melihat kegantengan Bapak yang hakiki." "Berisik kamu!" semburnya dengan nada ketus. "Ini apaan sih colek-colek dagu saya," cebiknya menepis tangan pegawai salon tersebut. Pegawai salon yang bernama Agus itu menoleh ke arahku, mengedipkan mata genit. Aku terkikik geli, ditambah melihat ekspresi dia yang menunjukkan tak suka. Sangat menggemaskan. Dari mulai potong rambut, membersihkan wajah,medikur dan pedikur, dan yang terakhir treatment wajahnya membersihkan komedo dan jerawat. Dua jam menunggu, akhirnya dia keluar. Untuk beberapa saat aku terpaku, wajahnya bersih dan terlihat seperti anak muda. Apa aku salah lihat atau salah menilai? "Hah, benar kan, kalau saya bersih begini bisa bikin perempuan tuh terpesona," kelakarnya tersenyum jumawa. Haha... Apa katanya? Tapi memang benar juga, sih. Mataku beralih menatap bibirnya, merasa ada yang janggal. Apa, ya? Dia tersenyum unjuk gigi. Ah benar, giginya belum bersih. Ke mana harus kubawa? Berpikir beberapa detik, sampai akhirnya mendapat jawaban. "Nanti siang kita ke dokter gigi ya, Pak." Dia mencebik, melengos. Aku tersenyum bahagia, bergegas ke kasir Salon. Senyum bahagia yang semula bersinar, mendadak sirna setelah melihat harga tagihan, satu juta kurang 10 ribu. Mendadak kerongkonganku terasa kering, tanganku gemetar. Untuk uang sewa kos, dan ongkos pulang-pergi dihabiskan dalam dua jam. Tiba-tiba sebuah tangan menyambar struk tagihan, menyerahkan uang lembaran berwarna pink bercampur biru. "Lain kali, kalau mau traktir saya yang murah-murah aja. Nggak usah mahal-mahal begini," ucapnya tanpa melihatku. "Saya yang ajak Bapak ke sini, biar saya aja yang bayar, Pak." "Kalau kamu maksa bayar, nunggak uang sewa kos sama berangkat kerja mau jalan kaki?" Aku tersenyum malu, menundukkan kepala, mundur dua langkah berdiri di belakangnya. Malu bukan main, Coy! *** Setelah dari salon, niatku ingin membawa bosku ini ke dokter gigi. Namun apa daya bajet tidak memadai, harga salon saja sudah membuat dompetku menjerit, ditambah ke dokter gigi untuk melakukan scaling. "Jadi ya temani saya ke rumah teman." Aku mengerjap, tersadar dari lamunan. "Kapan, Pak?" "Malam ini," jawabnya sembari menyodorkan helm ke arahku. "Kamu bisa siap-siap dulu." Aku bergeming, menatapnya heran. "Kenapa saya harus siap-siap dulu?" Dia berdecak, beranjak dari motornya memasangkan helm ke kepalaku. "Acara lamaran, tapi kalau kamu nggak mau siap-siap juga nggak apa. Asal temani saya aja." Dia menarik tanganku, lalu mengedikan dagu memerintahkan untuk naik motor Vespanya. Masih belum mengerti apa tujuannya membawaku ke acara formal temannya itu, aku kembali bertanya, "Tapi, Pak, kenapa harus ajak saya? Bapak kan bisa berangkat sendiri." Dia mencebik, mengangkat bahu santai. "Saya nggak suka pergi ke acara-acara begituan nggak bawa teman." Refleks kugaruk kepala meski tak gatal, mengernyit bingung. Masalahnya, aku sangat enggan keluar di malam hari. Pikirku, lebih baik tidur awal daripada harus "Bukannya nanti Bapak ketemu sama teman-teman Bapak di sana?" Dia memutar bola mata. "Saya kasih uang bonus deh nanti kalau kamu mau temani saya." Seketika radar keuanganku menyala, jantungku berdegup cepat, uang bonus sangat ampuh membakar semangat dalam diriku. "Siap, Pak! Mau jam berapa jemput saya? atau saya yang ke rumah Bapak?" Sentilan melayang di keningku, refleks tanganku mengusap kening, mendelik ke arahnya. "Bapak kok sentil-sentil jidat saya?!" Dia mengangkat bahu terlihat tak peduli. "Kamu mata duitan, nggak ada jaga imej sedikit pun kalau masalah duit," cibirnya kemudian menyusul naik ke motor. Aku mundur beberapa senti agar tidak berdekatan dengannya, mencebik karena rasa sakit dari sentilan yang dia berikan di keningku. "Mana helmnya?" Dia menoleh, balik bertanya seperti sedang mengejekku. "Mana helmnya?" "Iya!" sungutku kesal. "Itu di kepala kamu apaan? Kepala numpang kepala?" Kuarahkan mata ke atas, ternyata helmnya sudah terpasang di kepala. Bagaimana bisa tidak sadar helm sudah dipasangkan di kepalaku? Apa mungkin terlalu fokus pada pembicaraan? "Berangkat sekarang, ya." Dia menyusul naik, menyalakan mesin motor, lalu melajukan motornya. Semilir angin yang harusnya terasa sejuk, berubah menjadi panas dan berbau asap rokok akibat jaket yang sedang digunakan olehnya. Aku menghela napas lelah, enggan berkomentar. "Mau ke mana, nih?" teriak bosku membuatku terpaksa sedikit maju, memiringkan tubuh lebih ke samping sedikit. "Pulang ke kosan lah!" jawabku masih dongkol akibat sentilan tadi. "Makan dulu deh, ya? Kebetulan saya belum makan dari kemarin." Aku menggeleng tak habis pikir. Banyak duit pun perkara makan susah sekali, beda denganku yang tidak kuat tahan lapar. Meleset beberapa menit saja dari jadwal makan, perutku sudah keroncongan seperti akan pingsan saat itu juga. "Saya masih kenyang, tadi pagi udah makan," tolakku. Sekilas aku melihat dirinya menatapku lewat kaca spion. "Nggak apa kalau kamu masih kenyang, temani saya makan aja." Refleks mataku memutar malas. "Apa temani Bapak makan sama dengan kerja tambahan?" Dia tidak bersuara lagi, itu artinya dia mengurungkan niat memintaku menemaninya makan, karena berurusan denganku harus mengeluarkan uang lebih. Setelah lumayan lama tak bersuara, dia kembali berbicara, "Saya heran, di kepala kamu isinya uang bonus, uang tambahan, uang sejenisnya. Apa cuma duit isinya, ya?" Aku tersenyum malu, menggeplak punggungnya. "Saya mah realistis, Pak. Saya butuh uang, selagi ada kesempatan kenapa enggak? Iya, kan?" jawabku tanpa merasa berdosa. Masalahnya, uang bonus dan kawan-kawannya itu lumayan banyak dan bisa dikirimkan ke Mama di kampung. Nasib jadi tulang punggung harus serba uang, biar yang di rumah tercukupi. Tidak tahu saja dia bagaimana rasanya orangtua minta uang pas tanggal tua. Sesaknya lebih dari tersedak es teh manis. Tanpa kusadari, ternyata dia sudah memarkirkan motornya di sebuah tempar parkir sebuah kafe. Kulirik sekitar, menghela napas panjang. "Saya kan belum setuju diajak makan, Pak." Dia melepas helm. "Udah kamu tenang aja, saya kasih uang lebih deh." Dengan berat hati aku mengangguk. "Nggak mau turun?" Aku menyengir, turun dari motor, melepas helm. "Saya jadi nggak enak, kesannya saya mata duitan gitu." Dia mengangkat bahu, raut wajahnya menunjukan ketidakpedulian. "Memang iya, kan?" Entah keadaan sadar atau tidak, dia menggenggam tanganku, menuntunku masuk ke kafe. Genggaman tangannya membuatku tercengang, bak disihir aku hanya mengikuti ke mana dia melangkah. Genggamannya terasa hangat dan menghantarkan geleyar aneh ke dalam diri. Ada yang berbeda, tapi apa? Kutatap punggungnya, rasa hangat semakin terasa. Apa mungkin perlakuannya yang membuat hatiku merasa hangat? "Mau pesan camilan apa?" Aku menggeleng, masih bimbang dengan rasa hangat yang mendadak hadir dalam hati. "Minum?" Menggeleng lagi, fokusku terpecah. "Pak," panggilku tanpa menatapnya. Saat aku mengangkat pandangan, menatapnya, ternyata dia juga sedang menatapku. Tatapan yang semakin membuat hatiku terasa aneh. "Apa?" Aku mengurungkan niat mengungkapkan kejanggalan di hati. "Nggak jadi deh." Dia melayangkan tatapan tajam. "Nggak jelas banget kamu." Dalam hati, aku membenarkan. Benar, aku juga heran dengan ketidakjelasan yang mendadak melanda hati ini. "Tapi, Pak," "Apa?!" Aku mendesah bingung. "Nggak jadi deh." Apa yang aku rasakan sekarang itu bukan hal aneh. Perasaan yang wajar terjadi karena memang seorang pria dan wanita yang bersentuhan. Pasti menghantarkan geleyar aneh. Benar, bukan? Kugaruk pelipis, mencuri lirik ke arahnya. "Pak," "Apa?! Sekali lagi kamu jawab nggak jadi, saya lempar kamu pakai puntung rokok ini," ancamnya sembari melotot ke arahku. Aku menyengir, cengengesan. "Saya mau jujur, deh, kok Bapak mendadak terlihat tampan, ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN