Ponsel berdering di malam hari bukan pertanda yang baik. Kulirik ponsel yang tersimpan di meja plastik tempatku menyelesaikan pekerjaan, mengembuskan napas berat ketika melihat siapa yang menghubungiku. Firasatku mengatakan akan terjadi perdebatan atau peperangan jarak jauh.
Dengan berat hati kujawab telepon, saat itu juga nada tinggi menyambut.
"Bapak butuh duit, iraha maneh rek ngirim? (Bapak butuh uang, kapan kamu akan kirim?)"
Seketika ponsel kujauhkan dari telinga, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Kembali menempelkan ponsel di telinga. "Pak, Mila teu acan gajian, masih saminggu deui. (Pak, Mila belum gajian, masih seminggu lagi.)"
"Sabodo teuing, nu penting mah Bapak butuh duit kudu aya ayeuna. Isukan ditungguan, buru-buru transfer. (Bodo amat, yang penting Bapak butuh uang harus ada sekarang. Besok ditunggu, cepetan transfer.)"
Setelah mendengar itu sambungan telepon terputus, kembali kuhembuskan napas lelah, menyeka cairan bening yang mendadak muncul di sudut mata. Getir yang dirasakan ketika mendengar cerita orang lain tentang orang tua mereka yang pengertian dan penyayang.
Tidak mau berlama-lama larut dalam kesengsaraan hati bergegas kulihat isi dompet pink yang sudah kumal, menghitung sisa lembaran uang di dalamnya. Kutarik napas panjang, sisa dua ratus lima puluh ribu, itu pun untuk makan dan ongkos untuk satu minggu. Kulirik wadah plastik yang biasa diisi dengan beberapa bungkus mie instan dan telur, sudah kosong. Apa harus berpuasa? Aku menggeleng, beranjak dari duduk, bergegas mengambil jaket dari gantungan di belakang pintu, lalu keluar rumah. Suasana di sekitar kosan sangat sepi, ditambah rintik hujan yang berjatuhan.
Mengirup aroma malam sampai ke adalah salah satu caraku menekan stres, melangkah perlahan di tepian sedikit meneduh dari rintik hujan.
"Mau ke mana, Mil?"
Aku menoleh pada Ibu Kos yang tengah duduk bersama suaminya di teras rumah, tersenyum tipis. "Keluar, Bu, kirim uang buat di rumah."
"Lewat m-banking emang nggak bisa? Hujan loh, Mil."
"Nggak ada uang digital, Bu, adanya uang cash," jawabku, "Ya udah, Bu, saya permisi dulu, ya. Takut keburu malam." Kuanggukan kepala, berlalu keluar gerbang kosan.
Kulirik sekitar ada beberapa toko yang sudah tutup, menyondongkan ke kiri melihat minimarket yang ternyata juga sudah tutup. Kuhela napas panjang, tidak ada atm dekat kosan selain di minimarket. Ke pom bensin juga lumayan jauh bila harus berjalan kaki.
Berpikir beberapa saat, menggigit bibir bawah dengan orang yang terlintas di pikiranku. Telepon Pak Bos? Rasanya kurang pantas karena bukan urusan pekerjaan, ditambah tempo lalu sudah kukerjai dia. Mundur beberapa langkah, bersandar di tembok, merogoh ponsel di saku jaket, lalu menghubungi nomor Mama.
"Halo, Neng?"
"Ma, Bapak nyungkeun artos kanggo naon? Sisa artos Mila kantun dua ratus lima puluh rebu deui, eta oge kanggo bekeul saminggoneun. Tapi ieu bade ditransfer, tos tutup minimarketna ge. (Ma, Bapak minta uanh buat apa? Sisa uang Mila tinggal dua ratus lima puluh ribu lagi, itu pun untuk bekal seminggu ke depan. Tapi memang mau ditransfer, minimarketnya juga udah tutup.)"
"Kanggo modal, tadi seep sareung modal-modalna. (Buat modal, tadi habis sama modal-modalnya.)"
Kepalaku mendadak berdenyut sakit, kuremas rambut sedikit kencang, mengembuskan napas lelah. "Nya atos, Mila milarian heula atm. Weungi ayeuna dikintun. (Ya udah, Mila nyari dulu atm, malam ini dikirim.)" Kututup sambungan telepon, kembali menatap sekitar. Sangat tidak mungkin untuk berjalan ke atm yang jaraknya satu kilo meter dari kosan.
Ke mana kuharus minta tolong?
Bapak Kos? Oh tidak mungkin, yang ada akan jadi fitnah ke depannya. Anak-anak di kosan yang punya motor? Oh tidak mungkin juga, karena aku tidak terlalu kenal dengan mereka karena kerjaanku berangkat pagi pulang malam. Ya ampun... nasibmu, Mil.
Siapa?
Kenek gudang? Tidak mungkin.
Admin gudang? Tidak mungkin juga.
Sopir? Apalagi.
Ya ampun... ternyata bersosialisasi itu berfungsi untuk mempermudah urusan. Namun apalah dayaku yang kurang handal bersosialisasi.
Dari sekian banyak kenalan, yang paling sering berinteraksi dan merepotkanku hanya Pak Alwi, untuk orang lain tidak ada. Kuputuskan untuk kembali ke kosan terlebih dahulu menimbang antara meminta tolong atau jangan. Sesampainya di kamar kos, seperti setrikaan mondar-mandir sambil menggenggam erat ponsel, berpikir.
Hubungi, jangan?
Hubungi, jangan?
Hubungi, jangan?
Daripada jadi anak yang sering dikutuk durhaka, kuputuskan untuk menghubungi Pak Alwi. Biar sajalah apa katanya nanti, asal tidak memotomg gaji dan mengurangi uang bonusku.
Nada sambungan telepon terhenti di bunyi ketiga.
"Halo?"
Kupejamkan mata beberapa detik, lalu berbicara, "Pak, sudah tidur?"
"Belum, saya lagi main game. Kamu ganggu saya. Ada apa?"
Spontan aku mencebik. "Saya mau minta tolong,"
"Udah jam 9 lebih, klinik gigi udah tutup jam segini, salon juga."
Belum apa-apa ucapanku sudah ditempas. "Bukan itu, Pak, tapi beneran saya mau minta tolong."
Terdengar decakan dari sana. "Terus, kamu telepon minta tolong buat apa? Kemarin juga kan minta tolong buat cukurin rambut saya."
Aku menghela napas. "Gini, Pak," kuceritakan maksudku menghubunginya.
"Terus, makan sama buat ongkos berangkat kerja gimana?"
Aku diam beberapa saat, sebelum akhirnya dengan mantap menjawab, "Gimana nanti aja deh, Pak. Yang penting itu dulu, masa iya Allah nggak kasih rezeki buat saya."
"Bukan begitu maksud saya, Mil. Kan bagaimana pun juga tetap perlu ikhtiar. Kalau kamu kasih semua ke orang tua kamu, kamu mau bagaimana? Sedangkan setahu saya, kamu nggak pernah pinjam duit ke orang lain."
Ya Tuhan... mengapa rasanya terharu mendengar kepeduliannya terhadapku. "Nggak apa-apa kok, Pak. Saya sanggup puasa seminggu, terus jalan kaki, dekat ini, kok."
Helaan napas terdengar dari seberang. "Ya sudah, saya ke sana sekarang. Tunggu di depan."
Aku mengangguk, tersenyum haru. "Makasih banyak loh, Pak."
Tanpa ada jawaban, telepon ditutup.
Segera kuberlari keluar kamar, berjalan cepat menuju gerbang kosan. Lima belas menit menunggu dia datang menggunakan motor Vespanya. "Cepet naik, udah malam."
Aku mengangguk, memegang pundaknya lalu naik ke motor. "Atm mana?"
"BRI deh, Pak."
Dia mengangguk, mengendarai motornya. Wangi yang menguar dari jaket kaosnya membuat keningku mengernyit. "Pak!"
"Apa?" balasnya berteriak.
"Jaket Bapak wangi parfum, tapi kenapa wanginya ada bau asam-asamnya, ya?"
"Kan saya sudah pernah bilang, buat apa mandi kalau ada parfum?"
Seketika batinku meringis. Tenang Mila, kamu harus ingat kebaikannya.