“CEPAT KATAKAN!!” Lagi-lagi, polisi itu membentak Dennis. Dennis yang sudah lelah menangis, masih tetap bersikeras menutup mulutnya. Ia masih menutupi kesalahan bos besarnya itu. “Kamu mau saya kirim ke penjara bawah tanah, ha? Di sana gelap lho. Hanya ada tikus-tikus nantinya yang akan menemani kamu di sana, mau!” “Haduh ... jangan dong, Pak. Bapak nggak kasihan apa sama saya. Nanti bapak banyak dosanya lho. Saya ini sudah teraniaya masa bapak tega sih menganiaya saya lagi?” Dennis yang tadinya sudah selesai menangis, kembali terisak. “HEH! Berhenti nangis, nggak. Atau lo mau gue sumpel mulut lo pakai bon cabe.” Polisi lainnya yang berpakain preman, kini mendekati Dennis. Sudah dua orang polisi menyerah menangani kaki tangan Erwin itu. “Pedes dong, Pak.” “Jangan main-main sama apara

