Juleha benar-benar sudah risih. Ia sudah tidak tahan lagi dengan tangan Erwin yang begitu mudahnya menjalar di sekujur tubuhnya. “Hhmm ... Mas, kita kembali duduk yuks. Aku agak sedikit pusing,” bohong Juleha. Wanita itu melepaskan tangan Erwin dari tubuhnya. Ia memegangi kepalanya seolah-olah kepala itu memang tengah terasa berat. “Owh ... okay.” Erwin menuntun Juleha menuju kursi mereka. “Maaf ya, Mas. Mungkin karena semalam aku kurang tidur. Tadi siang juga aku banyak kerjaan, jadi kepalaku agak terasa berat.” Juleha kembali beralasan. “Tidak masalah. Bagaimana kalau kita istirahat saja. Aku akan pesankan kamar terbaik di salah satu hotel bintang lima. Aku pastikan, kamu akan sangat nyaman di sana.” Erwin mulai mengeluarkan ponselnya. “Maaf, Mas ... lain kali saja ya ... Sepertiny

