28. Terpisah

1720 Kata
Air itu membawa tubuh empat insan pada goa bawah tanah yang tersambung dengan saluran pipa. Bratra yang berada di paling depan—karena posisinya paling belakang sehingga membuatnya berada di posisi paling depan terbawa gulungan air bah lebih cepat dari yang lain. Bratra terbawa gulungan air hingga melebihi hamparan lapang goa. Tubuhnya ikut hanyut dibawa air hingga masuk dalam lorong. Kondisinya sama dengan Lura dan dua perempuan, rekannya yang juga ikut terjebak dalam perjalanan yang sungguh tak masuk di akal itu. Funa yang berada di belakang Bratra pun tak berbeda jauh dari Bratra. Perempuan itu lebih dulu pingsan dari yang lainnya. Kondisi tubuhnya lebih lemah membuatnya tak mampu menghadang kuatnya air. Tidak berdayaan Funa membuat tubuhnya terbawa air ke lorong yang berbeda dengan Bratra. Lalu disusul pula oleh Penna yang terbawa arus ke lorong yang berbeda. Dan yang terakhir adalah Lura. Laki-laki itu masih dapat sesekali mencari pijakan, tapi sayangnya tenaganya mulai menipis. Membuatnya pingsan lalu terdampar di hamparan lapang goa yang lembab tanpa telaga air itu. *** Seperti ada suara yang memanggil. Namun mata enggan untuk membuka. Nyawa seakan masih melayang, terpisah dari raga. Mulut hendak menyahut tapi tak kuasa. Tubuh terasa kaku dan nyeri di segala sisi. Seakan terdapat beban berat yang menindih tubuh. Mulut dan mata seakan direkatkan dengan lem kuat yang menempelkan dua sisi organ itu. Suara teriakan memanggil nama berulang kali terdengar jelas di telinga. Raga seakan ingin memberikan jawaban, tapi apa daya bila jiwa masih enggan kembali menyatu dengan raga. 'Ada apa denganku? Kenapa tubuhku menjadi kaku dan sulit digerakkan?' 'Di manakah aku sekarang?' 'Sungguh rasanya begitu sakit luar biasa.' Berbagai pertanyaan berkelabat dalam pikir. Namun tentu tak ada yang mampu menolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. "Bratra!! Penna!! Funa!!" Teriakan itu kembali terdengar. Kali ini lebih kencang. Namun raga masih tetap tak mau digerakkan. Suara terhenti di tenggorokan, tak sampai di mulut. Keinginan untuk menjawab begitu kuat, tetapi apa daya bila tubuh tak mendukung. Lama-kelamaan seruan itu mulai melemah. Membuat tiap-tiap diri yang masih berada dalam pengaruh ketidaksadaraan itu hanya mampu menggerakkan tubuh tak tenang. Berusaha melepaskan rantai yang mengukung tubuh, rantai yang hanya sebuah ilusi. Mereka terus saja bergerak. Namun yang tidak mereka sadari bahwa tubuh mereka tak bergerak sama sekali. Mereka hanya melakukan gerakan semu yang hanya dapat mereka rasakan tetapi otot tubuh enggan melakukan perintah itu. Saraf seperti tak mau meneruskan perintah itu hingga ke otot. Lelah dalam gerak yang tak kunjung mendatangkan hasil membuat mereka ingin berteriak kencang. Perasaan kesal menyelimuti karena mereka tidak dapat mengendalikan tubuh agar dapat menjalankan perintah seperti biasanya. "Aaahhh..." Sayangnya itu hanya erangan yang tak bersuara. Hanya dalam batin, tidak dari pita suara. Tidak dapat menghasilkan gelombang bunyi yang mampu ditangkap oleh indra pendengar. Namun tubuh itu tak lelah dalam berusaha. Tidak kenal kata menyerah. Setelah suara yang memanggilnya namanya itu cukup lama hilang, kini terdengar kembali. Hati bersorak senang. Namun mata dan bibir belum juga bersedia diajak bekerja sama. Kala suara itu terdengar begitu dekat dan keras, tiba-tiba kesadarannya hilang. Tak dapat mendengar apa pun. *** Lura terus memasuki lorong. Dengan derap langkah yang masih tak ia bunyikan. Dan suara itu semakin jelas terdengar. Hingga matanya dapat menangkap tubuh seseorang yang tergeletak. Tubuh itu tampak tinggi, tetapi seperti tak ada daya. Ia mendengar rintihan yang keluar dari bibir orang—atau entah apa—itu. Dengan cepat ia berlari menghampirinya. "Bratra!!" pekik Lura. Lura segera menepuk pipi Bratra. Tidak terlalu keras tetapi tidak juga lembut. Bratra tampak berusaha mengerjapkan matanya. Sangat lama laki-laki itu menggerakkan matanya. Tidak juga segera membuka. Lura berusaha menarik kesadaran Bratra dengan menepuk pipi temannya itu. "Bratra.. kamu baik-baik aja, kan?" Lura dilanda kepanikan. Ia takut akan hal buruk menimpa Bratra. Lura berusaha menyadarkan Bratra dengan memijat jempol kaki Bratra. Ia juga menepuk pipi Bratra berulang. "Tra," panggil Lura panik karena mata Bratra tidak segera terbuka. Ia terus menepuk pipi Bratra. Sungguh ia tidak ingin memandang sesuatu hal yang mungkin saja akan terjadi pada Bratra. Ia takut. Hingga Lura mengembuskan napas lega kala Bratra mulai mengerjapkan matanya. Dan semakin lega pula kala Bratra mulai menggerakkan tangan dan kakinya. “Lur…” Bratra berbicara dengan lirih. Lura dengan sigap lebih mendekat pada Bratra. “Kenapa, Tra?” “Tubuhku kok nggak bisa digerakkan, ya?” Paniklah Lura. Pikirannya kembali dipenuhi dengan berbagai praduga. Bratra harus baik-baik saja. Tidak boleh ada sesuatu hal buruk yang menimpanya. Begitu batin Lura. Ia berusaha melakukan berbagai cara. Menggerakkan lengan Bratra yang terasa kaku, juga kaki-kaki Bratra. Ia tak lelah dalam membantu Bratra. Setelah digerakkan berulang, akhirnya tubuh Bratra mulai dapat digerakkan sedikit demi sedikit. Lura pun membantu Bratra untuk duduk perlahan. “Gimana? Sudah mendingan?” tanya Lura dengan panik. Bratra hanya mampu menanggapinya dengan anggukan. Bibirnya masih susah untuk digerakkan. “Kalau buat jalan, kira-kira kuat nggak?” Bratra mengedik. Lalu bibirnya bergerak seakan mengatakan, kita coba saja. Lura pun menuntun Bratra keluar lorong. Dengan sabar ia menuntun tubuh Bratra yang masih lemas. Sehingga ia membutuhkan tenaga yang cukup besar. Lura dan Bratra mengembuskan napas perlahan setelah berhasil duduk di hamparang lapang goa. Lura berinisiatif hendak memberikan minum pada Bratra, sayangnya mereka sedang berada di tempat di mana tidak ada apa pun yang dapat mereka makan atau minum. Bratra mencoba membasahi kerongkongannya dengan air ludah. Kerongkongan dan tenggorokannya terasa nyeri. Kerongkongannya pun terasa sangat kering, membuatnya tak mampu bersuara. Namun ia tak menyerah, ia berusaha untuk mengembalikan suaranya. “Aku mau coba nyari Funa dan Penna dulu, ya. Kamu di sini aja, Tra,” pesan Lura pada Bratra. Lura berpikir, tak perlu membuang banyak waktu lagi. Ia yakin bahwa Bratra akan baik-baik saja. Sedangkan masih ada dua rekannya, keduanya perempuan, yang masih belum ia temukan. Berhasil menemukan Bratra di salah satu lorong di antara tujuh lorong itu membuat perasaannya menjadi lega luar biasa. Bratra hanya mengangguk dengan wajah yang tampak menahan sakit. Setiap kali ia menelan ludah, kerongkongannya terasa begitu sakit. Sepertinya setelah menalan air cukup banyak membuat fungsi kerongkongannya menjadi terganggu. Lura kembali berlari menuju lorong yang belum ia tandai setelah memberikan tanda pada lorong tempat ditemukannya Bratra. Ia kembali memanggil nama Penna dan Funa. Ia terus berlari masuk dalam lorong yang gelap dan panjang. Rasa takut seakan sirna ketika ia menemukan Bratra. Semangatnya berkobar. Keyakinannya membumbung tinggi. Ia percaya bahwa Penna dan Funa berada di lorong-lorong yang belum dikunjunginya. Hingga masuk ke dalam, lorong itu buntu. Tak ada siapa pun di dalamnya. Lura berlari dengan cepat keluar dari lorong. Ketika tiba di hamparan lapang goa, terlihat Bratra yang terbatuk. Lura segera menhampiri Bratra dan memberikan segala jenis pertolongan yang dapat meringankan rasa sakit yang Bratra rasakan. Tak berapa lama, Bratra memuntahkan air. Membuat dadanya nyeri. Namun, justru Bratra merasa lega. Ia pun dapat kembali bersuara. Lura ikut mengembuskan napas lega. Ditepuknya pundak Bratra penuh semangat. “Aku bantu kamu mencari Penna dan Funa,” kata Bratra. “Kita tidak berpencar saja?” saran Lura. “Aku takut tubuhku masih belum terlalu kuat,” balas Bratra. Lura mengangguk mengerti. Lalu mereka berdua berlari memasuki lorong goa. Tidak lupa dengan tetap menyerukan nama Funa dan Penna. Semakin mereka masuk ke dalam, mereka mendengar suara rintihan dan deru napas yang tersengal. Lura dan Bratra pun mempercepat langkah lari mereka. dan saat tiba di ujung lorong, terlihat siluet tubuh seseorang yang sedang duduk dengan menyelonjorkan kakinya. Kepala orang tersebut menunduk sembari memegang d**a, menahan rasa sakit dan mengatur napasnya yang tak teratur. Orang tersebut membelakangi Lura dan Bratra. Orang itu berambut tak begitu panjang. Sayangnya rambut itu tampak berantakan. “Funa,” panggil Lura pelan. Lura dan Bratra dibuat terkejut dengan seseorang yang di hadapan mereka. Bukan orang lain. Benar. Orang itu Funa. Tapi tampilan Funa sungguh mengenaskan. Wajah perempuan itu tampak pucat dengan tatanan rambut yang acak adul. “Lura!! Bratra!!” seru Funa riang. Sayangnya suaranya tampak mencicit dan serak. Air bah itu nyatanya benar-benar membuat tenggorokan dan kerongkongan menjadi sakit. “Kamu nggak apa?” Bratra melangkah mendekat pada Funa. Begitu pula dengan Lura. Funa mengangguk. “Aku baik-baik saja. Hanya saja, tenggorokanku sangat sakit,” jawabnya lirih. Funa masih duduk di tempatnya. Sesungguhnya ia merasa sedikit kedinginan, tetapi ia masih mampu menahannya. “Kita harus mencari Penna, Fun. Kamu masih bisa jalan? Atau harus kugendong? Atau digendong Bratra?” Lura bertanya beruntun. Cukup panjang, seperti rangkaian lokomotif kereta api. “Ehm.. aku mau nyoba jalan dulu. Yang sakit tenggorokanku, bukan kakiku, kok,” jawab Funa. Meskipun ia tak yakin bahwa ia mampu, setidaknya ia harus berusaha lebih dahulu. Pilihan untuk digendong memang menggiurkan, tetapi ia merasa tak enak hati bila harus merepotkan para rekannya. Mereka berjalan santai. Kaki Funa pun baik-baik saja saat berjalan. Funa mengembuskan napas lega karena tubuhnya masih mau diajak bekerja sama untuk keluar dari lorong goa yang membuat tubuhnya terlantar dan kesakitan. Ah, bukan salah lorong goa. Namun, salah air bah yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Tubuh masih terasa lama, tetapi ia masih mampu mengimbangi langkah dua laki-laki di sampingnya. “Aku di sini saja, ya? Kalian cari Penna berdua saja? Aku ingin rehat sejenak,” kata Funa ketika mereka tiba di hamparan tanah lapang. “Kamu sama Bratra saja. Biar aku yang mencari Penna,” ucap Lura. “Tra, tolong jaga Funa, ya! Kalau ada hal urgent, panggil saja namaku. Teriak yang kenceng,” pinta Lura. “Oke, siap. Kamu tenang saja, Lur.” Lura kembali berlari. Meninggalkan Funa dan Bratra yang memilih mengistirahatkan tubuh. Kondisi tubuh mereka benar-benar berada pada titik terlemah. Lura memanggil nama Penna berulang. Ia terus berlari tanpa menengok ke belakang. ‘Penna harus segera ditemukan!’ Begitu tekadnya. “Penna!!” Lura memanggil Penna dengan teriakan kencang. Berulang kali ia memanggil Penna. Dan masih belum mendapatkan jawaban. Lura tidak lelah. Ia juga tak peduli dengan tenggorokannya yang mulai terasa sakit. “Penna!!” panggil Lura untuk yang kesekian kalinya. “Lura?” Sebuah suara balasan berhasil ditangkap oleh indra pendengarnya. Lura pun semakin memperlebar langkah larinya. Ia yakin bahwa suara yang baru saja menjawab panggilannya adalah suara Penna. “Penna!! Kamu di mana?” tanya Lura berteriak. Penna tampak berdiri di depan Lura dengan penampilan yang begitu berantakan. Berbeda dengan penampilan Penna yang biasanya. Penampilan Penna yang selalu tampak modis dan cantik. Penna mengembuskan napas lega. Lalu tiba-tiba, secara tidak sadar, ia berlari menghampiri Lura. Lalu memeluk laki-laki itu. Lura terkejut. Tubuhnya kaku. Tindakan spontan Penna membuat dirinya berubah menjadi patung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN