29. Kembali Bersama dan Saling Bercerita

1651 Kata
Begitu indah pertemuan setelah perpisahan. Banyak cerita yang dibagikan dengan berbagai ekspresi yang terpancar dari wajah tiap-tiap insan. -Bilbul17- Napas lega tak dapat disembunyikan. Hati juga terasa lebih tenang. Ketakutan yang sempat menghantui kini tergantikan dengan kehangatan. Urusan berada di tempat yang tak diketahui keberadaannya ini bukan menjadi masalah besar. Asal bersama dengan teman-teman, berkumpul kembali, itu adalah hal besar yang patut disyukuri. Empat mahasiswa itu duduk berhadapan. Lura menepuk pundak Bratra. Sedangkan Penna dan Funa masih dibalut kebahagiaan dengan berpelukan erat seperti Lala dan Poo dalam Teletubbies. Funa mengembuskan napas lega. Meskipun wajah pucatnya masih terlihat jelas. Senyum itu tak mampu menutupi wajah lemahnya. "Aku bersyukur banget. Alhamdulillah. Aku masih bisa diberikan kesempatan hidup. Dalam tidurku tadi, ah, atau pingsanku itu, aku seakan diajak jalan-jalan ke suatu tempat yang indah. Seperti taman bunga di Teletubbies itu. Lalu tiba-tiba ada angin besar, seperti angin yang membawa kita ke sini, membawa tubuhku ke tempat yang mengerikan. Semacam tempat penyiksaan?" kata Funa dengan wajah penuh ketakutan. "Pokoknya serem. Gelap, lembab, dan bau anyir tercium mulai dari jarak satu kilo mungkin," lanjutnya. Lalu ia diam tak dapat melanjutkan kembali ceritanya karena ketakutan yang tiba-tiba menderanya. Sungguh mimpi yang baru saja hadir dalam tidur pingsannya seakan terjadi dalam dunia nyata. Membangkitkan rambut di permukaan kulitnya. Penna pun memeluk kembali Funa dari samping. Ia kuatkan temannya itu meskipun ia tak tahu apakah pelukannya itu mampu mengurai ketakutan yang dirasakan Funa. "Hampir sama denganku," sahut Bratra sehingga berhasil membuat perhatian teman-temannya teralihkan padanya. "Aku juga mimpi kurang lebih seperti itu. Namun saat aku tiba di tempat menyeramkan itu, tiba-tiba aku jatuh pingsan. Dan aku dapat melihat jika aku pingsan. Dan.." Bratra menghentikan ucapannya lalu mengusap wajahnya pelan. Ada ketakutan yang terpancar dari wajah laki-laki itu. "Aku tiba-tiba diangkat oleh tiga orang berjubah hitam. Dan aku sudah hendak disiksa. Bayanganku berusaha menghentikan itu semua, tetapi aku akhirnya tak mampu melawan karena ragaku pingsan dan tidak sadar. Namun, ketika aku memalingkan muka, ada seorang berjubah putih, tak terlihat apa pun dari tubuhnya. Wajahnya juga tertutupi oleh penutup kepala yang melekat dengan jubahnya itu menepuk pundakku." Bratra menjeda ceritanya dengan menarik napas dalam. "Lalu ketika aku memandang kembali tubuhku yang sudah diikat kuat dengan bambu-bambu itu, tiga orang berjubah hitam itu tampak seperti patung. Alat-alat yang akan digunakan untuk menyiksaku menggantung dalam pegangannya. Dan teriakan seseorang yang memanggilku terdengar di telingaku. Kupikir, karena hal itulah mereka tidak jadi menyiksaku," lanjutnya. "Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Penna dengan wajah takut. Perempuan itu bahkan menggigit jari telunjuknya. "Entah. Aku sudah tidak tahu. Tiba-tiba tadi terbangun dan bertemu dengan Lura," kata Bratra dengan mengedikkan bahu. Rasa takut yang sempat menghampiri tiba-tiba sirna dan digantikan dengan kebingungan. Hal yang baru saja menimpanya sungguh tak terduga. Sehingga membuat perasaannya pun seakan dibolak-balik dengan cepat. "Apa itu yang disebut mati suri?" celetuk Lura. Tiga temannya seketika memandang horor laki-laki itu. Yang dipandang pun tampak biasa-biasa saja, seakan apa yang ia katakan bukanlah sesuatu yang menakutkan. "Lur.." Penna dan Funa memandang Lura tajam. "Aku hanya menyampaikan pendapatku saja," jawab Lura tenang. "Tapi bisa saja apa yang dikatakan oleh Lura benar adanya. Kalian pernah denger cerita orang yang mati suri nggak sih?" Bratra memandang tiga temannya secara bergantian dengan serius. "Tetanggaku dulu ada yang seperti itu," kata Lura. "Jadi tidak salah kalau aku mengatakan dugaanku," ucapnya tenang. Penna dan Funa diam. Pikirannya dipenuhi dengan ketakutan-ketakutan. "Aku mimpi juga. Lebih menyeramkan," kata Penna. Semua mata seketika memandang Penna dengan penuh perhatian. Bahkan mereka pun merapatkan duduknya karena suasana diantara mereka tiba-tiba terasa mencekam. "Gimana, Pen?" tanya Funa sembari memeluk pundak Penna dengan erat. Meskipun diselimuti rasa takut, ia begitu ingin tahu cerita Penna. "Aku awalnya juga berkeliling ke taman yang indah. Lalu menuju tempat penyiksaan dengan makhluk-makhluk berjubah hitam. Aku pun melihat Bratra. Namun, saat aku ingin memanggil Bratra, suaraku nggak keluar. Bulu roma mereka berdiri. Suasana di antara mereka mencekam. "Aku terus berjalan menyusuri area penyiksaan itu. Namun, tak ada di antara orang-orang yang berada di area itu melihatku. Apa ada lapisan tak kasat mata yang memisahkan antara tempat yang kulewati dengan area itu, ya?" Penna tampak berpikir. Tiba-tiba ia bergidik ketakutan. Tiga temannya pun sama takutnya. Hawa dan suasana di tempat mereka duduk saat ini terasa menakutkan. Mencekam. "Aku melihat banyak orang yang disiksa," kata Penna dengan nada sendu dan takut. "Aku berusaha ingin menyelamatkan. Namun, seperti yang kukatakan, ada batas yang memisahkanku dengan area itu," lanjutnya dengan pandangan kosong. "Aku terus menatap area itu. Menutup mata bila ada kejadian yang menakutkan. Hingga tiba-tiba aku seakan berada di tempat yang berbeda. Seperti hutan. Dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Permukaan pohon penuh dengan lumut. Tanah-tanah di bawah pohon juga dipenuhi dengan lumut. Hutan itu gelap. Mencekam. Sunyi. Dan sesekali aku mendengar suara burung gagak yang menakutkan." Penna melanjutkan ceritanya dengan tubuh yang bergetar ketakutan. "Dan tiba-tiba.." Penna menangis histeris. Masih teringat jelas dalam benaknya bayangan makhluk besar yang menakutkan. Wajah dipenuhi dengan lumut yang menjuntai. Seluruh tubuhnya seakan mengenakan jubah berbahan lumut. "Aku berjalan seorang diri. Setiap menengok ke belakang aku melihat hutan itu sangat gelap. Hanya tampak batang-batang pohon yang menyeramkan. Ranting-ranting pohon yang patah kulihat seperti tangan yang melambai." Penna masih menangis sesenggukan. Funa pun segera memeluk Penna kembali dengan erat. "Dan saat aku menengok sejenak ke samping karena aku seperti melihat cahaya, tiba-tiba cahaya itu hilang dan berganti dengan monster besar. Sangat besar. Dia penuh dengan lumut. Dengan lumut-lumut yang menetes ke tubuhku. Begitu menjijikkan." Wajah Funa menunjukkan rasa jijik. Sedangkan Lura dan Bratra tetap dengan wajah datarnya. "Aku hampir saja ditangkap oleh makhluk besar itu. Tapi waktu ada yang memanggil namaku, dia tiba-tiba menghilang. Dan hutan itu berubah seperti hamparan sawah gitu. Aneh banget pokoknya," kata Penna dengan wajah yang tampak bingung. Air matanya telah mengering. Kesedihan telah menguap bersamaan dengan berakhirnya cerita darinya. "Kalau kamu gimana, Lur?" tanya Funa penasaran. Mereka merasa lebih tenang setelah cerita menegangkan itu usai diceritakan. Tidak ada lagi suasana mencekam atau bulu roma yang menegak. Rambut-rambut halus di kulit telah kembali rebahan. "Nggak mimpi apa-apa. Aku bangun merasa pusing dan pening. Lalu tiba-tiba terbatuk sampai d**a dan hidungku nyeri," kata Lura sembari mengedikkan bahu. "Dan kamu bisa menemukan kita bagaimana?" tanya Bratra. "Aku takut dan terkejut ketika menyadari tidak ada kalian di sekitarku. Perasaanku nggak tenang. Lalu melihat tujuh lorong itu membuatku berinisiatif mencari jalan keluar. Sayangnya enam dari tujuh lorong itu buntu. Dan hanya satu yang ada jalannya, lorong tempat Penna terdampar," kata Lura. "Tapi kamu masih ingat lorongnya yang mana, kan, Lur?" tanya Funa panik. "Aku sudah menandai lorong-lorong yang buntu dengan tanda silang itu. Hanya satu lorong yang belum kutandai. Dan itu lorong di mana Penna terdampar." Funa dan Penna mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah aku seneng banget kita bisa kumpul lagi. Pokoknya kita harus selalu bareng-bareng. Nggak boleh pisah lagi. Kita sedang berada di negeri atau dunia yang entah nggak kita ketahui di mana," tutur Funa. "Iya. Aku takut kalau mimpi kayak tadi lagi. Serem banget," sahut Penna. "Intinya kita harus saling menjaga. Nggak boleh meninggalkan. Kita tersesat di sini bersama, maka harus keluar dari sini juga bersama," sahut Bratra. "Bener," kata Lura pelan. "Tapi.. kalian mikir nggak sih? Misal jika ini berkaitan dengan.." Funa menjeda ucapannya. Lalu dipandangnya Lura dengan tatapan tak enak hati. Lura membalas tatapan itu dengan dahi yang mengernyit. "Jika tersesatnya kita ini berkaitan dengan kecurangan kamu, Lur dan juga didukung dengan kita yang masuk terlalu dalam ke dalam hutan, apa kita memang sengaja disadarkan dengan cara seperti ini?" "Maksud kamu kita sengaja diputar-putarkan?" sahut Lura dengan nada dingin. Funa mengangguk. "Aku merasa kita nggak juga menemukan titik terang. Yang ada kita malah terus dibawa ke tempat yang tidak kita ketahui ini di mana," ucap Funa. "Dari satu tempat ke tempat lain. Dan semua tempat itu kayak mustahil banget gitu," lanjut Funa. "Apa jangan-jangan kita dibawa ke alam yang berbeda?" sahut Penna. "Kayak yang dicerita-cerita horor itu lho?" lanjutnya. "Iya.. ya.. Apa kayak kisah pendaki gunung yang hilang dan dibawa ke suatu alam yang tidak dapat dijangkau oleh manusia?" Kali ini Bratra yang ikut bergabung dalam obrolan. "Entah.. mendengar cerita kalian tentang mimpi-mimpi itu, tiba-tiba pikiranku mengarah ke sana," kata Funa. "Semoga saja tidak. Kita harus bisa keluar dari sini," kata Penna takut. "Jelas!! Kita harus keluar dari tempat ini. Kita harus segera keluar dan bergerak. Entah apa pun hal yang akan kita temui di depan, kita harus mampu melewatinya bersama-sama," ujar Lura. "Bener!! Kita bukan lagi saatnya untuk saling menyalahkan, karena jika kita telisik lebih dalam dan dianalisis dengan baik, kita semua salah. Kita nggak bisa menyalahkan botol yang Lura bawa karena rasa-rasanya pun mustahil bila larutan itu membuat lumut menjadi besar. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi dengan larutan itu," jelas Funa. "Atau mungkin ada yang sengaja menukar?" sahut Lura dengan dahi yang berkerut. Wajah teman-temannya pun memandang Lura dengan menyelidik. "Maksud kamu gimana, Lur?" "Aku hanya menebak." Lura mengedikkan bahunya. "Karena saat aku hendak kembali ke tempat parkir, di sekitar area lumut itu aku merasa ada mata yang mengawasiku. Namun, saat aku menengok ke belakang, tidak ada siapa pun di belakang. Hingga aku merasa semakin takut karena pandangan itu terasa begitu kuat tanpa aku memandangnya. Aku pun lari dengan kencang menuju tempat parkir," jelas Lura. "Tapi botol yang kamu ambil tadi sama kan dengan botol yang kamu bawa waktu itu?" tanya Bratra. "Sama. Ada tulisannya formalin juga. Itu tulisanku. Nggak ada berubah." "Mungkin cairan itu hanya ditukar. Tapi siapa yang menukar? Aneh banget," sahut Funa. Mereka pun saling terdiam dengan pikiran yang berkelana mengendarai berbagai praduga. Namun semakin dipikir dan dianalisis, semakin membuat kepala pening dan pusing. "Lebih baik kita segera bergerak dan keluar dari tempat ini. Setidaknya kita harus mencari sumber makanan. Entah mengapa tiba-tiba aku mulai merasa lapar," ucap Lura enteng. Tiga teman Lura saling memandang. Mereka seakan saling berbicara dalam tatap. 'Kalian lapar?' Funa seakan bertanya dengan alis yang naik. Dua temannya menggeleng. Membuat mereka bertiga bergidik ngeri dengan ucapan Lura yang mengandung makna ganda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN