Goa itu gelap. Semakin lama semakin gelap, seakan waktu malam terus berjalan. Tak ada cahaya bulan. Apalagi cahaya dari bohlam. Jangan mengharapkan sesuatu hal yang mustahil di tempat yang tak kita kenali.
Goa semakin lama terasa semakin lembab. Seperti apa yang pernah Lura katakan mengenai teorinya tentang paru-paru basah, maka kali ini, mereka berbaris rapi mencari jalan keluar. Ingin segera lepas dari belenggu yang menyakitkan.
Hanya berdasar feeling. Tidak ada hal lain selain akomodasi mata yang membuka maksimal. Tetap Lura yang menjadi pemimpin dalam perjalanan mereka kali ini.
Setelah keluar dari hamparan tanah lapang goa, mereka mulai menyusuri lorong tempat Penna ditemukan. Tetap gelap. Setitik cahaya yang sempat menyinari, kini seakan mulai meredup. Bahkan, perlahan mulai menghilang.
“Tadi aku terbangun di sini,” ucap Penna ketika rombongan mereka baru saja melewati posisi di mana tubuhnya terbangun dari pingsan—atau tidur yang disertai dengan mimpi aneh. Apa pun itu sebutannya, yang jelas, Penna masih mengingat dengan jelas segala perjalanannya dalam mimpi. Bila tiba-tiba sekelabat bayangan itu hadir, ia sering bergedik ngeri, seakan ia dibawa kembali ke alam yang bukan dunianya.
Lura berdeham. Membuat Penna tersadarkan pada kelakuan nekatnya.
Malu.
Pipinya pun bersemu. Ia tak menunduk karena tak ada siapa pun yang melihat tampilan wajah malunya. Bila ia menunduk, ia takut curiga Funa dan Bratra melihat gerak-gerik malu-malunya itu.
Sunguh malu Penna. Ia menyesali tindakan spontannya itu. Bisa-bisanya ia melakukan hal yang tak pernah terbayang dalam benaknya. Sungguh memalukan. Padahal, bila diingat kembali, ia begitu anti dengan Lura. Lalu mengapa ia secara tak terkontrol melakukan hal konyol itu?
Senang sih senang. Namun ia tetap saja merutuki kebodohannya yang datang tak tepat waktu. Dasar Penna.
‘Nanti pasti Lura mikir aku cewek yang nggak-nggak,’ gerutu batinnya.
‘Makanya, lain kali itu dipikir dulu sebelum bertindak. Jangan asal peluk cowok,’ peringat batinnya.
Yah, namanya juga nggak sadar. Mana sempat Penna memikirkan tindakannya. Ah, sudahlah. Ia berulang kali menggeleng untuk melupakan putaran hal yang memalukan itu.
Sedangkan Lura yang berjalan di depan Penna merasa gugup. Lura seakan kembali ke masa muda. Malu-malu bila ada seorang perempuan yang bertindak cukup agresif padanya. Padahal ia pun pernah menjalin hubungan dengan Bubunga.
Hah.
Bubunga lagi. Bubunga lagi.
Bila seperti ini, kapan ia bisa melupakan bayang-bayang perempuan itu? Sudah semaksimal mungkin melupakan tentang Bubunga, nyatanya, bayang-bayang perempuan itu masih sering hadir dalam pikirnya.
Ia pun bukan cowok kaku yang enggan memegang tangan perempuan. Apalagi bila hubungan yang terjalin dengan perempuan adalah sepasang kekasih. Ia pernah memeluk Bubunga, juga menggandeng tangan perempuan itu. Hanya sekedar itu. Ia berpegang teguh pada prinsipnya yang akan terus berusaha menjaga perempuan dengan sebaik mungkin. Dan skin ship yang ia lakukan sangat jarang, mungkin bisa dihitung dengan jari. Ia cenderung menjadi laki-laki yang tidak begitu suka dengan skin ship berlebihan. Toh hubungan yang terjalin baru sekedar pacaran.
Sayangnya, perempuan yang telah lama ia jaga sepenuh hati memilih pergi dengan laki-laki lain.
Menyebalkan. Lebih tepatnya menyakitkan. Berulang kali ia mengumpati nasibnya yang sungguh tragis. Sudah mengenal Bubunga cukup lama, ditambah dengan ikatan cinta yang terjalin, lalu tiba-tiba itu semua hilang dari dunianya hanya karena datangnya orang baru yang menawarkan lebih banyak kadar cinta untuk Bubunga.
Sungguh benci ia dengan jalan hidupnya. Namun, tak mungkin ia tetap stagnan dengan kisah pilunya. Ia harus bangkit. Mengejar segala ambisinya yang telah ia susun dengan apik, juga kembali mengejar segala inginnya.
Terkadang takdir memang tak sesuai harapan. Ekspektasi tak sesuai realita. Sehingga banyak orang yang bilang, jangan terlalu banyak berharap, tetapi lakukan apa pun semampumu, tanpa mengharapkan apa pun. Lebih baik kamu menanam sesuatu kebaikan sehingga kamu dapat memanennya nanti.
Begitu pula dengan Lura. Dulu, saat masih menjalin hubungan dengan Bubunga, ia begitu ingin serius dengan perempuan. Namun, ya harapan tinggallah harapan. Kini ia siap membuka lembar kisah baru. Menghapus sedikit demi sedikit ukiran luka di kertas putih yang mulai kotor penuh dengan rasa kecewa, dendam, dan sesal.
Lura pun berusaha mengabaikan perasaan aneh yang menjalarinya. Menghilangkan debaran jantung yang sedikit menggila karena pelukan yang Penna lakukan. Ia berusaha mendoktrin pikirnya untuk fokus pada apa yang ada di depannya kini, yaitu keluar dari tempat ini. Tidak boleh ia terjebak dalam goa lembab ini. Ia harus tetap melanjutkan hidup. Melanjutkan rangkaian kisah yang berisi dengan ambisi dan mimpinya.
“Rek..” Lura menghentikan langkahnya. Jalan di hadapan mereka sungguh sangat kecil. Tidak akan mampu untuk dilewati oleh tubuh mereka. Lura memandang teman-temannya sembari menunjukkan jalan kecil di depannya.
“Ini jalannya?” tanya Funa memastikan. Ia memasang wajah takut.
“Masak kita tadi masuk ke goa sana lewat jalan sekecil ini?” sahut Bratra tidak yakin.
Lura mengedik. Ia juga tidak tahu, yang jelas saat ini, jalan di depan mereka berupa jalan yang sangat sempit. Tidak hanya ukuran jalannya yang kecil, tetapi juga banyaknya bagian dinding yang menonjol. Jalan itu semakin terlihat sempit dan kecil.
“Terus kita mesti gimana?” sahut Penna panik.
“Ya mau nggak mau kita harus jalan miring. Kita harus mengatur tubuh kita supaya bisa melewati jalan itu. Yah intinya, kita harus bisa melenturkan tubuh kita,” kata Lura.
“Jadi, kita harus banget lewat sini?” tanya Funa memastikan.
“Ya iyalah. Kan nggak ada jalan lain lagi. Mau tetap bertahan di sini saja?” balas Lura tajam.
“Sudah. Kalian jangan memulai perdebatan, ya. Fokus kita adalah keluar dari goa ini, bukan mendengarkan kalian berdebat,” lerai Bratra.
Lura mengembuskan napas. Mencoba menekankan hatinya agar ia lebih sabar menghadapi Funa. Sering berdebat dengan perempuan itu, tidak membuatnya belajar dari pengalaman.
Sedangkan Funa mengalihkan pandangan. Enggan menatap Lura. Aura permusuhan mulai terlihat jelas pada mimik wajah Funa.
“Funa.. kamu mesti ingat, ya, bahwa karena LUralah kamu bisa selamat,” tegur Penna. “Jadi.. aku mohon dengan sangat, kurangi perdebatan tidak penting dari kalia,” kata Penna tegas.
Lura dan Funa tak menanggapi ucapan Penna. Mereka malah sama-sama enggan memandang. Childish. Sangat bukan Lura sekali.
“Lura.. ayo kita lanjutkan perjalanannya,” tegur Bratra.
Lura pun mengangguk. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya. Sebelum melewati jalan sempit itu, Lura memandang rekan-rekannya satu per satu. Memastikan kesiapan fisik dan mental para rekannya.
“Kita sedang tidak membawa apa pun. Selain tubuh yang semoga saja tetap kuat dalam melintasi segala aral rintangan yang ada. Dan semoga jalan yang akan kita lewati ini tak begitu panjang. Sehingga kita bisa melewati ini semua,” harap Lura.
“Aamiin,” jawab mereka serempak.
“Kalian sudah siap, kan?” tanya Lura memastikan.
“Siap!” jawab tiga temannya serempak.
Lura kembali mengayunkan langkah pastinya. Tekadnya kuat untuk menapaki segala jalan terjal, bebatuan, atau apa pun yang melintas di hadapannya nanti.
Lura mulai memiringkan tubuhnya agar ia dapat melintasi jalan kecil dan sempit itu. Jalan itu hanya mampu dilewati jika tubuh dimiringkan. Dan itu butuh perjuangan yang ekstra agar dapat melewati jalan itu. Tidak hanya sekedar dengan memiringkan tubuh semata, tetapi setiap orang yang melewati jalan itu harus butuh tenaga ekstra. Melewati jalan kecil juga butuh tubuh yang mudah diliukkan.
Lura memendekkan tubuhnya. Kakinya ia tekuk sehingga ia bisa menghindari tonjolan pada dinding yang cukup panjang. Tonjolan itu menyerupai stalagtit dan stalagmit yang ada di permukaan dinding goa. Berbentuk seperti tabung kecil dengan ujung yang tumpul. Kurang lebih menyerupai ranting pohon.
“Hati-hati ada tonjolan,” peringat Lura pada teman-temannya sembari ia melangkah dengan posisi tubuh yang masih melipat kakinya, seakan berjongkok hanya saja ia masih terus bergerak.
Tiga temannya mengikuti gerakkan Lura. Mereka juga berjongkok tetapi dengan langkah yang tetap semangat dan penuh tekad.
Jikalau dalam kehidupan normal, mereka akan merasakan berbagai ujian dalam hidup. Di alam yang menurut berbeda ini, mereka merasakan ujian hidup dengan berbagai aral rintangan yang harus diselesaikan. Mereka harus dapat segera keluar dari tempat yang tak mereka kenali.
“Aduh,” ucap Penna.
Lura segera menghentikan langkahnya. Ia putar badannya untuk menghadap Penna. Meskipun Penna di belakangnya, jarak mereka terbentang kurang lebih setengah meter.
“Kenapa?” tanya Lura datar.
Topeng. Semua itu hanya topeng. Lura tak sedatar itu dalam menanggapinya. Ada sedikit, mungkin setitik rasa khawatir pada Penna.
“Kenapa, Pen?” Funa yang posisinya tepat di belakang Penna pun panik. Takut terjadi sesuatu pada temannya, apalagi bila sampai Penna terluka.
Penna meringis dengan wajah tampak menahan sakit. “Tadi nggak lihat kalau ada tonjolan di atasku. Terus kepalaku bentur tonjolan itu,” kata Penna dengan ringisan kecil. Rasanya memang tidak begitu sakit. Hanya saja rasa nyeri dan nyut-nyutan merajai kepalanya.
“Sekarang gimana, Pen?” tanya Funa. Ia kini berada di dekat Penna. Mengamati rekannya itu.
“Masih nyut-nyutan, tapi nggak masalah kok,” jawab Penna menenangkan.
Funa mengembuskan napas lega. “Nanti lebih hati-hati lagi, Pen. Dindingnya dominan nggak rata soalnya,” pesan Funa.
“Iya, Fun. Terima kasih, ya,” balas Penna tulus.
“Makanya lain kali jalan itu dilihat. Jangan sambil ngelamun,” ucap Lura sedikit ngegas.
Penna begitu ingin memukul kepala Lura dengan benda apa pun yang ada di sekitarnya. Menyesal sudah dirinya karena sempat merasakan debaran jantung setelah tadi memeluk Lura. Lebih tepatnya tidak sengaja memeluk Lura. Berulang kali ia pun menyalahkan keadaan. Jika mereka tidak sedang terjebak dalam tempat yang tak mereka ketahui ini, tempat di mana mereka dilanda dengan ketakutan dan kecemasan, mungkin ia tidak akan sudi memeluk Lura.
“Temannya kena musibah bukannya ditolongin, malah disewotin,” balas Penna tak kalah tajam.
“Sudah.. sudah.. Kalian berdua ini kenapa selalu suka jadi kayak musuh gini sih? Kita semua teman bukan?” lerai Bratra.
“Malas banget aku nganggep dia teman,” kata Lura datar.
“Siapa juga yang mau temenan sama kamu?” balas Penna tajam.
“Ishhh.. sudah.. Kalian berdua ini sudah jangan debat dan bertengkar lagi, ya?” kata Funa menenangkan. “Pen, kepala kamu sudah baik-baik saja kan?” tanya Funa.
“Sudah kok, Fun. Apalagi setelah mendengar omongan pedas tadi. Jadinya cepet sembuh,” sindir Penna.
“Alhamdulillah kalau gitu,” tanggap Funa. Ia tak mempedulikan Penna yang tampaknya mengibarkan bendera perang kepada Lura. Jika ia ikut meladeni Penna dan Lura, bisa-bisa mereka terhanyut dalam perdebatan yang tak berkesudahan. Sedangkan mereka saat ini sedang menuju tujuan yang entah kapan sampainya.
“Kita lanjutkan perjalanan, ya. Lura dan Penna, dimohon untuk tidak saling berdebat dulu. Aku saja sudah nggak debat lagi sama Lura,” kata Funa.
Lura mendengus. Sedang Penna mencibir Lura. Funa dan Bratra pun hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan kedua temannya itu.