31. Laboratorium Apik

1756 Kata
Mereka berempat kembali melanjutkan langkah. Jalan sempit berhasil mereka lewati dengan berbagai cara. Tidak hanya berjalan sambil berjongkok. Mereka juga beberapa kali harus tengkurap karena dindingnya penuh dengan tonjolan, bahkan hampir ke dasar goa. Kali ini mereka kembali melewati lorong yang panjang dan gelap. Hanya setitik cahaya yang entah dari mana asalnya yang menemani mereka melewati lorong itu. Cahaya itu semakin dicari semakin tidak diketahui asalnya dari mana. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan asal cahaya itu. “Gelap banget,” celetuk Bratra. “Iya. Tapi bersyukur masih sedikit terang. Nggak gelap banget seperti saat kita berada di saluran gelap penuh dengan lendir itu,” sahut Funa. “Ya kita mesti bersyukur karena setidaknya kita masih kuat melewati ini semua. Tenaga kita masih kuat melewati aral rintangan ini. Aku sih berharap, sangat berharap banget bisa segera keluar dari tempat ini,” sahut Penna. “Sama. Aku sudah rindu rumah,” kata Funa dengan mata menerawang. “Gimana ya kabar Mama dan Papa?” Ah, Funa begitu merindukan mereka berdua. Tidak hanya Funa, tetapi juga rekan-rekan lainnya. Mereka dilanda dengan perasaan rindu pada rumah, kampus, dan teman-teman. Rindu suasana berkumpul bersama siapa pun, keluarga, sahabat, dan teman-teman. “Kita harus bergerak cepat untuk keluar dari sini. Supaya kita bisa segera berkumpul dengan keluarga dan juga teman-teman,” sahut Lura. Mereka mengangguk bersama. Semangat seakan menggelora, selalu meningkat bila teringat akan orang tua. Mereka terus melangkah, menyusuri lorong nan gelap dan panjang, seakan tak ada ujung. Namun mereka tak lelah, mereka terus melangkah. Lura fokus memandang ke depan. Tak sekali pun ia menoleh ke kanan dan kiri. Seakan ia hanya fokus pada satu titik. Tidak terpengaruh oleh apa pun yang ada di sekitarnya. Sedang yang lainnya sibuk mengedarkan pandangannya ke sekitar lorong. Dinding itu tidak ada relief seperti dinding goa peninggalan jaman purbakala. Hanya dipenuhi dengan lekukan juga tonjolan pada dindingnya. Mereka terus melangkah. Hanya tujuan untuk keluar dari lorong itulah yang membuat kaki mereka tak berhenti bergerak. Lura memimpin teman-temannya untuk terus melangkah. Tak peduli pada sekitarnya. Bratra menghentikan langkah ketika melihat sesuatu yang berbeda dari lorong yang sedang dilewatinya. Ia berdiri memandang sebuah tempat di ujung lorong kecil yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Lorong itu bagaikan gang kecil di kawasan padat penduduk. Tidak begitu terlihat bila mata tak jeli memandang sekitar. Bratra tetap berdiri di posisinya. Ia terus memandangi tempat itu. Dari posisinya, Bratra melihat bila tempat itu tampak terang, seperti cahaya lampu yang menyinari seluruh ruangan. Ruangan itu seakan disinari oleh lampu putih sehingga tampak terang. Seperti sebuah ruang di rumah sakit yang digunakan untuk observasi. Atau menyerupai laboratorium di jurusannya. “Rek..,” panggil Bratra pada teman-temannya yang terus melangkah ke depan. Ternyata tidak ada salahnya ia memandang ke sekitar yang mereka lewati. Ia dapat melihat apa pun yang ada di sekitarnya. Tiga temannya yang sudah berjalan, meninggalkan dirinya beberapa langkah pun menghentikan langkah dan menoleh pada Bratra. “Ada apa, Tra?” tanya Penna heran. “Kamu terluka, Tra?” tanya Funa sedikit panik. “Enggak. Kalian coba ke sini,” panggil Bratra tak sabar. Lura, Funa, dan Penna saling bertukar pandang. Tatapan bingung tampak jelas di netra mereka. “Ada apa memangnya?” tanya Lura. “Sudah kalian cepat ke sini saja. Pasti kalian akan terkejut,” ujar Bratra semakin tak sabar. Ia kesal dengan teman-temannya yang tidak gerak cepat. Seakan tenang-tenang saja dan tidak ingin tahu akan apa yang ada di hadapannya saat ini. Bratra gemas dengan teman-temannya yang masih diam di tempat. “Kenapa masih berdiri di situ?” tanya Bratra. “Ayo ke sini!!” lanjutnya. Dengan langkah malas, tiga teman Bratra mulai mengayunkan kakinya menuju posisi Bratra. Lalu mereka memandang Bratra bingung. “Ada apa sih, Tra? Kita kan harus melanjutkan perjalanan. Seperti yang kita rencanakan dari awal, lebih cepat, akan lebih baik bukan?” protes Lura. “Kalian lihat itu,” pinta Bratra sembari telunjuknya menunjuk pada ruangan yang sedari tadi menarik fokusnya. Semua mata mengarah pada apa yang ditunjukkan Bratra. Seketika bola mata mereka melebar. Apa yang ada di depannya benar-benar sesuatu yang tak terduga. “Itu apa?” tanya Penna. “Aku juga nggak tahu. Tadi nggak sengaja tengok kanan kiri, lalu aku melihat ruangan itu. Sepertinya ada aktivitas di sana,” jelas Bratra. “Kita mau ke sana?” tanya Funa. “Menurutku kita memang harus ke sana. Bisa saja ruangan itu menjadi petunjuk bagi kita,” kata Bratra yakin. Funa dan Penna saling pandang. Seakan bertanya melalui batin. Sedang Lura hanya diam, tampak serius berpikir. “Gimana, Lur?” tanya Bratra. “Aku sih nggak masalah. Terserah kalian saja, mungkin ruangan itu bisa membantu kita keluar dari sini,” jawab Lura. Bratra pun memimpin langkah mereka menuju ruangan terang itu. Ruangan itu dikelilingi dengan kaca. Sehingga cahaya lampu dapat terlihat bahkan memancar jauh hingga ke luar ruangan. “Pelan-pelan, Tra,” pesan Funa yang berdiri di belakangnya. “Aku takut ada sesuatu di sana. Kita harus pelan-pelan dan hati-hati,” lanjutnya dengan lirih. Bratra mengangguk. Ia melangkah dengan langkah lebar tetapi tapak kakinya ia tapakkan dengan perlahan agar tidak terdengar. Tiga teman di belakangnya pun melakukan hal yang sama. Bratra telah tiba di depan salah satu sisi kaca ruangan. Tiga temannya yang lain berdiri di samping Bratra. Tampak di hadapan mereka sebuah ruangan yang penuh dengan berbagai alat laboratorium. Ada tabung reaksi, pembakar bunsen, autoklaf, alat sterilisasi, dan berbagai alat lainnya. Tidak hanya itu, laboratorium itu dipenuhi dengan berbagai alat laboratorium modern dan kualitas bagus. “Wah.. bagus banget,” decak Penna kagum. Kakinya pun bergerak, bergeser dari posisinya sebelumnya. Ia ingin memandang lebih jelas bagaimana laboratorium itu. “Ckkk… laboratoriumnya bersih banget. Kayak laboratorium yang ada di iklan-iklan TV itu.” Funa pun tak kalah kagum. Semua alat-alat laboratorium tertata begitu rapi, bersih, serba putih. Lura pun melangkah maju. Matanya begitu cerah dan terang. Seakan baru saja melihat harta karun yang menumpuk, atau mungkin sebuah istana megah. Matanya tak teralihkan. Fokusnya tertuju pada laboratorium yang ada di hadapannya. Dalam hati ia begitu kagum karena dapat melihat laboratorium yang begitu indah. “Wawawa cacaca sasasa?” (Bagaimana hasilnya larutan tadi?) “Wacasa.” (Bagus) Empat mahasiswa itu saling bertukar pandang. Tubuh mereka seakan kaku kala mendengar suara seseorang yang saling berbincang. Meskipun bahasanya tak dimengerti oleh mereka. Semacam bahasa dari planet lain. “Gimana ini? Suara mereka semakin dekat,” kata Bratra panik. Tidak ada tempat persembunyian di dekat mereka. Hanya lorong yang tadi mereka lewati dan lorong di depan laboratorium. Lorong itu lurus menuju sebuah tempat yang gelap. Mereka pun tidak tahu lorong itu akan mengarah ke mana. Funa dan Penna tak kalah panik. Mereka saling berpegangan tangan dengan wajah yang tampak takut dan sedikit pucat. “Aku takut kalau mereka adalah makhluk berbahaya. Kalau kita lihat laboratoriumnya yang berada dalam goa yang tampaknya di suatu pedalaman, pasti mereka adalah orang-orang yang ingin mencari sesuatu. Atau sedang melakukan penelitian besar seperti yang di TV itu,” ucap Funa seakan menganalisis apa yang ada di hadapannya. Penna mengangguk. Menyetujui apa yang diucapkan oleh Funa. Bisa saja apa yang diucapkan Funa benar. Lura segera menarik dua perempuan yang terus berbincang tentang analisisnya masing-masing menuju ujung lorong. Mereka berpura-pura berdiri bagaikan patung. Beruntungnya, ujung lorong di dekat mereka sedikit menjorok, sehingga bila orang-orang yang sedang berbincang itu melewati mereka, tubuh mereka tidak terlihat. Semoga saja persembunyian mereka aman. Suara orang berbincang terdengar semakin dekat. Membuat kerja jantung semakin menggila pula. Bila mereka tertangkap dan diketahui keberadaannya, mereka takut tidak dapat keluar dari tempat ini. Membayangkannya saja sudah membuat mereka bergedik ngeri. Salah satu putaran adegan film terputar dalam benak mereka. Mereka akan tertangkap dan dianggap sebagai penyusup atau mata-mata. Lebih parahnya lagi bila mereka disiksa, dibunuh, atau dianiaya dengan berbagai cara yang menakutkan. Di balik persembunyiannya, mereka berusaha mengintip orang yang sedang berbincang itu. Mereka begitu penasaran dengan wujud makhluk yang tampak sedang berbincang serius. Bahasa yang tidak dimengerti, ditambah dengan kondisi laboratorium yang begitu apik. Mereka terus memantau orang-orang yang berbicara itu. Dan tak lama dari itu, mereka melihat dua makhluk yang seketika membuat mata mereka membelalak lebar. Telinganya sedikit panjang dengan ujung runcing. Menyerupai makhluk di salah satu film Barat. Dan yang semakin membuat netra membuka lebar adalah rambut-rambut halus yang tampak jelas menutupi kulitnya. “Itu makhluk apa?” tanya Funa lirih. Tiga temannya menggeleng. Apa yang mereka lihat seakan membuat mata mereka terbuka lebar. Menakutkan dan membuat rambut kuduk meremang. “Itu rambut kan? Bukan bulu?” tanya Penna. “Coba kamu ingat-ingat mata kuliah sistematika hewan, Pen. Bulu dan rambut jelas berbeda,” kata Funa sedikit keras. “Sssttt.. kalian jangan terlalu berisik. Kalian tidak ingin mereka tahu keberadaan kita kan?” peringat Lura. Mereka pun mulai mengecilkan suaranya dalam berbincang. “Memang bedanya apa, Fun?” tanya Penna polos. “Ya ampun!! Kamu waktu kuliah sebenarnya dengerin dosen jelaskan nggak sih?” tanya Funa sedikit kesal. “Lebih mudahnya, bulu itu untuk kelompok makhluk aves, burung-burungan, unggas. Kalau rambut itu untuk kelompok mamalia,” sahut Lura tenang. “Dan dari strukturnya pun dapat dilihat dengan jelas bahwa bulu lebih kedap air, sedang rambut tidak,” tambahnya. Penna mengangguk-angguk mengerti. “Ah.. iya iya. Paham aku sekarang.” Funa memutar bola matanya tak habis pikir. Penna memang cantik, tapi untuk beberapa hal perempuan itu juga memiliki kelemahan. Nyatanya, tidak semua orang sempurna. Orang yang cantik memang menarik perhatian banyak orang dan dikagumi, tetapi ia pun tetap manusia biasa yang memiliki kekurangan dan kelemahan. “Makanya lain kalau kuliah itu diperhatikan, Pen. Pikirannya itu jangan diajak touring kemana-mana,” celetuk Bratra. “Ya kadang aku sudah berusaha untuk fokus ke pembelajaran, tapi entah mengapa pikiranku rasanya suka banget jalan-jalan,” jawab Penna polos. Entah polos atau memang terlalu terbuka dalam berbicara. Lura, Funa, dan Bratra hanya mampu menggeleng tak habis pikir dengan Penna. Luar biasa memang teman mereka satu ini. “Ssstt.. kalian dengar itu? Kayaknya ada yang baru datang,” ucap Bratra pelan. Mereka kembali diam. Tubuh mereka bersembunyi di balik dinding dengan kepala yang menyembul di balik dinding. Mata mereka begitu awas menanti kemungkinan makhluk yang sama dengan dua makhluk yang mereka lihat pertama tadi. Mata mereka kembali terbuka lebar kala melihat penampakan makhluk yang sama seperti dua makhluk sebelumnya. Mereka sama seperti manusia normal pada umumnya. Yang membedakan hanya pada rambut yang dominan menutupi kulit tubuhnya. Juga telinganya yang dapat mereka lihat dengan jelas di depan mereka. Mereka segera menyembunyikan kepala di balik dinding ketika mata makhluk-makhluk itu memindai ke seluruh bagian lorong itu. Jantung mereka pun berdetak cepat. Takut bila keberadaan mereka diketahui oleh makhluk-makhluk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN