Rambut-rambut halus yang biasanya memenuhi permukaan kulit orang normal, kini terganti dengan rambut-rambut halus yang menyerupai lumut, talus lumut daun. Dilihat dengan mata telanjang, rambut itu berukuran lebih besar daripada rambut halus pada orang normal. Namun lembutnya sama, strukturnya pun sama. Hanya berbeda pada ukuran dan warnanya saja.
Netra empat mahasiswa itu masih juga membelalak kala melihat makhluk-makhluk yang menurut mereka aneh. Tubuh manusia, entah bisa disebut seb
agai manusia atau tidak, rambutnya lebat. Seperti bule juga beberapa pribumi yang memang memiliki rambut halus lebat di sekujur tubuh.
Wajahnya menyerupai manusia, dua alis, dua mata, satu hidung dengan dua lubang, satu bibir dengan dua bilahnya, dua pipi, giginya pun sama dengan manusia normal. Namun, ada organ di kepalanya yang membedakan dengan manusia, telinga cukup panjang. Bentuknya memang sama seperti manusia normal, hanya daun telinga bagian atas sedikit lebih panjang lalu membentuk runcing di ujungnya.
Empat mahasiswa itu bergedik ngeri. Meskipun perawakan dan tubuh makhluk-makhluk itu menyerupai manusia, wajah yang tertampil pada makhluk itu tampak menyeramkan.
Wajahnya tegas. Tatapan matanya tajam. Abaikan kulit wajahnya yang putih bersih. Seperti kulit manusia-manusia di Benua Eropa, Amerika, atau di Korea Selatan dan China. Ketampanan dan kecantikan tampak jelas di wajah mereka, hanya saja kesan menakutkan itu tak dapat ditutupi dengan kulit putih bersihnya itu.
Manusia dengan tubuh dipenuhi rambut seperti lumut itu disebut Makhluk Richia. Makhluk itu awalnya manusia normal, lalu setelah disuntikkan dengan suatu larutan dalam tubuhnya, maka berubahlah menjadi Makhluk Richia. Mereka tidak dapat kembali menjadi manusia normal. Mereka akan tetap seperti itu, bahkan bila diturunkan pada keturunannya. Gen mereka telah diubah dengan cairan yang membuat mereka seperti itu. Tak dapat kembali.
Mereka pun tak ingin kembali menjadi manusia normal. Bagi mereka, tinggal di tempat yang saat ini mereka tempati lebih baik daripada harus bergabung dengan manusia-manusia yang lebih sering membuat kerusakan, tamak, dan beberapa sifat buruk lainnya.
“Lalu kita mesti ngapain di sini? Kita harus kembali, bukan? Kalau kita mengganggu mereka, kita malah akan semakin terjebak di sini,” kata Funa setelah lorong itu sepi kembali. Hanya deru napas mereka yang saling bersautan.
“Bener. Kita harus lanjut perjalanan. Atau kita harus mencoba mengikuti jalan para makhluk tadi? Mungkin makhluk-makhluk itu tadi menuju keluar goa?” sahut Bratra.
“Risikonya besar, Tra. Bisa saja kita bertemu mereka dalam perjalanan keluar dari sini bila kita lewat jalan sana. Kita teruskan saja melalui jalan kita yang tadi,” ucap Funa tak setuju.
“Apa kamu menjamin bahwa jalan yang akan kita lalui tadi membawa kita keluar dari sini? Enggak juga kan, Fun?” balas Bratra.
“Kita coba saja lewat jalan yang dilalui makhluk-makhluk tadi. Tapi perlu diingat, kita harus pelan-pelan dan hati-hati,” sahut Lura tegas.
“Jadi kita harus mengendap-endap begitu?” tanya Penna.
“Iya, Sayangku,” balas Funa gemas.
Kenapa semakin ke sini Penna semakin menjengkelkan, sih? Semoga teman-temannya tetap sabar menghadapi Penna.
Setelah memastikan bahwa tidak ada siapa pun di lorong itu, empat mahasiswa itu keluar dari tempat persembunyiannya. Berjalan mengendap melewati laboratorium yang tampak canggih itu.
Mereka menghentikan langkah sejenak kala melihat sebuah alat distilasi yang penuh dengan cairan warna-warni. Cairan berwarna biru cerah itu tampak mengalir dari satu tabung ke tabung yang lain melalui pipa kaca kecil. Kemudian akan berganti menjadi warna pink setelah warna biru cerah itu menetes ke tabung Erlenmeyer.
“Gila!! Canggih banget. Itu kenapa cairannya bisa berubah warna, ya?” decak Bratra begitu kagum.
“Perasaan semasa semester satu dulu di perkuliahan Kimia Umum alatnya nggak sebagus itu,” ucap Funa.
“Ini beda level. Laboratoriumnya ini nggak main-main,” ujar Lura dengan netra yang terfokus pada alat distilasi itu. Sungguh ia masih berdecak kagum sejak tadi dengan kecanggihan alat itu. Melihatnya secara nyata membuatnya semakin bersemangat untuk terus menggapai semua mimpinya. Berharap ia bisa menjadi ilmuwan hebat dan terkenal.
Distilasi adalah salah satu proses di laboratorium berupa memanaskan suatu larutan—benda cair, bisa juga benda padat hingga berubah menjadi uap. Uap tersebut akan disalurkan dengan selang kaca ke dalam bejana terpisah. Namun, saat ini kebanyakan menggunakan tabung erlenmeyer atau tabung reaksi untuk menampung uap itu. Hasil uap dari larutan atau padatan yang dipanaskan kemudian akan dikondensasikan dengan pendingin. Salah satu contoh produk yang dipasarkan dengan distilasi adalah minyak kayu putih.
“Ayo kita bergegas. Jika kita terlalu lama kagum dengan laboratorium itu, kita bisa tertangkap oleh makhluk-makhluk tadi. Sia-sia kita bersembunyi dari mereka jika ujung-ujungnya kita akan tertangkap,” peringat Bratra.
Mereka pun akhirnya mulai melangkah menjauhi laboratorium itu. Kali ini Bratra yang memimpin. Lura terlihat masih terfokus dengan alat-alat modern yang tertata rapi dan apik di laboratorium itu.
“Laboratorium apa ini? Kenapa ada di dalam goa yang dalam seperti ini?” gumam Lura dengan pikiran yang tidak berhenti mencoba menebak-nebak akan keberadaan laboratorium yang ada di hadapannya kini.
Sejak Bratra menunjukkan laboratorium ini padanya juga pada teman-temannya, pikirannya telah dipenuhi dengan berbagai spekulasi. Apa laboratorium ini adalah sebuah laboratorium rahasia? Apa ada sekelompok orang yang memang punya suatu rencana sehingga terus menggali pengetahuan di laboratorium itu?
Lalu, ketika ia melihat Makhluk Richia, pikirannya semakin banyak menampung praduga. Adanya makhluk-makhluk itu membuatnya teringat dengan laboratorium beserta dengan berbagai makhluk aneh yang berada di suatu alam yang tak terjamah.
Dan apakah benar adanya bahwa mereka telah terbawa ke alam berbeda? Suatu alam yang dipenuhi dengan lumut dan makhluk-makhluk aneh yang menjadi penghuni alam itu.
Bratra, Funa, dan Penna berjalan pelan. Sesekali mereka akan mengendap-endap dan menempelkan diri di dinding lorong goa kala mendengar derap langkah kaki.
“Nggak ada petunjuk kalau jalan yang kita tempuh ini bener jalan keluar, Tra?” tanya Funa lirih.
Mereka sudah berjalan cukup jauh dari laboratorium yang melenakan mata. Mungkin sudah mencapai 500 meter. Cukup lama memang waktu yang mereka habiskan, tetapi itu semua karena mereka mawas diri. Melindungi diri dari kemungkinan diketahui oleh Makhluk Richia.
“Belum, Fun. Kita pun juga baru berjalan setelah keluar dari tempat persembunyian, kayaknya belum sampai satu kilo juga,” balas Bratra.
Funa mengembuskan napas panjang. Kapan mereka bisa segera keluar dari goa ini? Rasa-rasanya, jika dipikir-pikir pun mereka sudah berjalan sangat lama. Namun mereka belum juga menemukan jalan keluar. Mungkin sudah satu jam mereka berjalan selepas dari istirahat dan saling bercerita di hamparan tanah lapang dalam goa. Dan seingatnya, goa yang selama ini dikunjungi tak pernah ada yang sejauh dan sepanjang ini. Membuatnya semakin panik dan ketakutan.
“Kita nggak salah jalan kan, Tra? Apa seharusnya kita tadi meneruskan jalan lewat jalan sebelumnya?” sahut Penna mulai ikut panik. Ia begitu khawatir bila mereka semakin masuk ke dalam goa. Bila mereka kembali masuk ke dalam goa, lalu kapan mereka bisa segera menghirup udara bebas tanpa adanya berbagai aral rintangan yang datang? Yang seakan memberikan kejutan pada mereka secara bertubi. Benar-benar surprise yang membuat jantung berdetak secara menggila.
“Aku juga nggak yakin. Tapi pasti makhluk-makhluk tadi juga keluar dari laboratorium itu kan? Dan kemungkinan, pasti ada jalan keluarnya di sini,” kata Bratra sembari terus melangkahkan kakinya, tidak menoleh ke belakang sekali pun.
“Sssttt.. sepertinya ada yang datang,” bisik Bratra. “Bagaimana ini? Tidak ada tempat untuk bersembunyi,” kata Bratra panik.
Funa dan Penna pun tak kalah panik. Apa hidup mereka setelah ini akan terpenjara dalam pengawasan Makhluk Richia?
Penna pun mengedarkan pandangannya. Seketika netranya membola kala tidak melihat Lura.
“Lho? Lura di mana? Bukannya seharusnya dia di belakangku, ya?” tanya Penna dengan cepat dan panik.
Brata dan Funa pun memandang sekitar. Benar. Tidak ada Lura di antara mereka. Lalu, di manakah laki-laki itu?
“Bukannya dia di belakang kamu, Pen?” tanya Bratra.
“Aku tadi nggak sadar. Aku ya langsung mengikuti kalian. Nggak noleh kanan kiri juga depan belakang. Dan baru sadar ya barusan,” jawab Penna.
“Apa dia masih di depan laboratorium?” gumam Funa tak yakin.
“Gimana, Fun?” tanya Bratra karena ia tak mendengar apa yang diucapkan oleh Funa. Suara Funa terlalu kecil.
“Apa dia masih ada di depan laboratorium? Atau jangan-jangan.. dia ditangkap oleh manusia dengan telinga panjang dan berambut seperti lumut itu?” tanya Funa takut. Suaranya pun terputus-putus.
“Kalau dia ditangkap makhluk itu, kita pasti juga ditangkap, Fun,” jawab Bratra.
Laki-laki itu berjalan mondar-mandir, tak tenang. Melupakan langkah kaki yang sempat mereka dengar sebelumnya. Telunjuknya ia ketuk-ketukkan di dagu dengan lengan kirinya yang juga tak bisa diam, terus mengetuk-ngetuk pahanya.
“Berarti kemungkinan besar dia masih di depan laboratorium?” tanya Funa.
“Bisa jadi. Ayo kita susul dia dulu. Kita cek kembali ke sana,” tandas Bratra.
“Kita harus bergerak cepat. Waktu kita tidak banyak. Kita juga tidak tahu kapan makhluk aneh itu akan keluar dari laboratorium,” pinta Bratra dengan langkah lebar dan cepat.
“Jangan cepet-cepet kalau jalan,” pinta Penna sembari berlari kecil. Langkah Funa dan Bratra begitu cepat dan lebar. Kakinya tidak mampu mengimbangi mereka. Hanya dengan berlari ia bisa mengimbangi langkah mereka. Memaksa berjalan dengan langkah lebar, ia pasti akan tetap tertinggal karena ia tidak bisa berjalan terlalu cepat. Bukan kebiasaannya.
Napas Penna terengah. Namun ia tetap kembali melanjutkan langkahnya dalam berlari. “Isshhh… Lura ini memang membuat susah saja,” gerutunya sambil terus berlari.
“Jangan berucap seperti itu, Pen. Nggak baik,” peringat Funa yang masih dapat mendengar gerutuan Penna karena posisinya tak begitu jauh dari Penna.
Penna pun mengancing bibirnya dengan rapat. Mungkin lebih baik ia diam daripada mulutnya akan berbicara pedas yang bisa menyakiti perasaan orang lain.
“Iya, Fun. Maaf, ya,” kata Penna tak enak hati.
“Jangan minta maaf ke aku. Tapi, lain kali jangan diulangi lagi!! Kamu harus ingat, bahwa kita saat ini berada dalam alam yang tidak kita ketahui keberadaannya. Jadi, kita harus bersikap baik juga menata tutur kata,” pinta Funa.
“Ayo lebih cepat!! Waktu kita tidak banyak,” perintah Bratra sembari memandang dua rekan perempuannya yang tampak asyik berbincang.
Funa dan Penna pun berlari kecil menuju Bratra. Mereka harus segera bertemu dengan Lura. Lura tidak boleh dibawa Makhluk Richia. Mereka harus kembali berempat. Tidak boleh bila jumlah rombongan mereka berkurang. Datang bersama, pulang pun harus bersama.
Sumber arti distilasi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan menggunakan aplikasi KBBI V.