Netra Lura tak henti memandang laboratorium itu. Ia bagaikan terbius dengan alat-alat laboratorium itu. Semuanya canggih dan modern. Begitu pula dengan tatanannya yang sangat apik, bersih, dan putih. Jika boleh mengatakan, laboratorium itu lebih menyerupai museum daripada dipergunakan untuk laboratorium. Kebersihan dan keselamatan kerjanya begitu dijaga, tidak ada kotoran sedikit pun di segala sisi laboratorium. Tampaknya, debu pun tak ada. Ya begitulah laboratorium yang seharusnya. Steril. Tidak boleh ada campuran sesuatu zat atau kotoran. Bila laboratorium terkontaminasi, bisa membuat segala percobaan atau penelitian hancur.
Lura terus melangkah pelan. Netranya terfokus pada laboratorium. Mengabaikan ajakan teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan. Ia bahkan lupa dengan tujuannya, untuk segera keluar dari goa gelap nan panjang ini.
Laboratorium itu benar-benar menghanyutkan pikirannya. Membuat segala keinginan Lura untuk bertemu orang tuanya, terlupakan. Entah hanya lupa sejenak atau benar-benar lupa.
Lura berniat untuk mengikuti langkah tiga temannya, kala melihat satu orang, yang berbeda dengan manusia Richia. Ia benar-benar manusia normal, seperti dirinya. Orang itu tampak sibuk dengan sebuah larutan juga sebuah buku tebal di depannya.
‘Siapa dia? Apa dia pemimpin dari makhluk-makhluk yang sebelumnya kulihat itu?’ batin Lura terus bergumam.
Mata Lura terus mengawasi gerak-gerik manusia itu. Lura segera menyembunyikan dirinya kala manusia itu tampak menyadari keberadaannya. Ia tak boleh ketahuan. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia bersembunyi di balik tembok. Beruntungnya laboratorium itu tidak dipenuhi dengan dinding berupa kaca, masih ada beberapa sisi berupa tembok dengan batu bata dan semennya.
‘Tidak mungkin laboratorium ini tiba-tiba ada di sini. Sangat mustahil. Laboratorium ini terlalu bagus bila sudah dibangun sejak jaman bahula. Peralatannya juga canggih. Pasti ini baru saja dibangun,’ gumam batin Lura.
***
Mnium Rutabulama.
Ia sedang ingin menjelajah hutan belantara di sekitarnya. Ia rindu hehijauan dedaunan. Ia rindu aroma tanah yang basah karena hujan. Ia juga rindu aroma dedaunan yang telah menyatu dengan tanah.
Mnium terus melangkah ringan. Tak terasa, kakinya telah melangkah cukup jauh dari tempat berdiamnya selama ini. Kakinya pun tak merasa kelelahan. Ia merasa baik-baik saja melangkah sejauh ini.
Matanya terus disuguhkan dengan sajian pemandangan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Semak-semak belukar yang memenuhi tepi tebing juga jurang.
Ditariknya napas dalam. Aroma dedaunan yang berjatuhan tercium kuat di indra pembaunya. Daun yang berjatuhan dan berkumpul di bawah pohon memang aroma yang begitu sedap untuk dihirup. Menenangkan dan menyegarkan.
Ia kembali mengayunkan langkah. Netranya terus menengok ke kanan dan kiri. Hutan ini semakin rimbun dan padat dengan pohon-pohon besar.
Masuk di pendengarannya suara burung yang saling berkicau. Saling bertukar siulan satu sama lain. Mnium merasa semakin tenang. Alam selalu menyuguhkan surga dunia bagi manusia, terutama hutan dengan biodiversitasnya yang tinggi.
Mnium memilih berhenti di depan sebuah tumbuhan paku besar, salah satu jenis tumbuhan paku yang dikenali orang banyak, sikas atau biasanya dikenal dengan mawar jambe. Sikas itu tumbuh tinggi. Menjulang dengan daun-daun majemuknya yang berkumpul di pucuk pohon.
Di sekitar sikas itu dipenuhi dengan suplir, salah satu jenis tumbuhan paku juga. Suplir itu rimbun dengan daun-daun kecilnya. Tumbuhannya tak terlalu tinggi, tetapi tetap mampu memberikan kesejukan bagi sekitarnya. Daun-daunnya menggerumbul di sekitar tumbuhan sikas.
Mnium memegang salah satu daun suplir. Lalu dipatahkannya batang kecilnya itu. Dipandanginya daun suplir itu dengan seksama. Daun berwarna hijau muda itu tampak segar di pandangannya.
Mnium menghela napas panjang. Dibawanya batang kecil beserta daun suplir itu. Kemudian ia mulai melanjutkan langkah dengan pikiran yang tiba-tiba terasa penuh dan d**a yang begitu sesak.
***
“Kenapa batang suplir ini kecil?”
Suara dosen memenuhi ruang kelas yang dihuni oleh 31 orang, sudah termasuk dosen. Hening merajai setelah kata terakhir dari pertanyaan yang dosen ajukan terhenti dengan kalimat tanya yang begitu jelas dan tajam.
Detak jarum jam menjadi saksi bisu keterdiaman para mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan Tumbuhan Tingkat Rendah atau biasa yang disebut dengan TTR. Detak jantung pun ikut menggila. Aura Sang Dosen begitu tegas dan menakutkan. Selalu berhasil menciptakan suasana seram di dalam kelas. Bahkan dengan keterdiamannya saja berhasil membuat para mahasiswanya kedinginan, bahkan membeku karena begitu takut dengannya.
“Kenapa diam?” Suaranya kembali menggelegar memenuhi kelas. “Kalian tidak membaca buku yang kami pinjamkan, hah?” teriaknya dengan membahana. Bahkan pembuluh darah di wajahnya pun tampak menonjol. Rahangnya mengetat kuat. Bola matanya membelalak lebar.
Mahasiswa berhasil dibuatnya bergetar. Tak hanya tangan yang bergerak tak beraturan, tubuh pun bergetar hebat. Seakan terserang demam yang berhasil membuat tubuh menggigil hebat.
“Kalian tidak menghargai kami dalam meminjamkan buku?” bentaknya keras. Hal ini sudah biasa terjadi dalam setiap mata kuliah yang diampunya. Ketegasan yang tersimpan dalam dirinya selalu keluar disertai dengan amarah yang membumbung tinggi.
Tidak ada niatan untuk marah-marah, tapi hal itu memang sudah mendarah daging dalam dirinya. Ia ingin mahasiswanya berhasil. Mungkin dengan cara sedikit keras. Intinya ia ingin mahasiswa berhasil. Berhasil karena kemampuannya, bukan hanya berdasar pada hasil mencontek. Ia juga melatih cara berpikir kritis mahasiswanya dengan mampu menganalisis segala hal yang ia bahas.
Kepala mahasiswa menunduk dalam. Tak ada yang berani mengangkat kepala. Bagi mereka, lebih baik diam daripada berucap dan membuat amarah Sang Dosen semakin tinggi.
“Tidak ada yang berani menjawab?”
Tundukkan kepala semakin dalam. Semua diam tak berani bergerak. Mengambil napas pun sangat perlahan. Apalagi ketika mengembuskannya, mereka sungguh sangat hati-hati dan perlan-pelan dalam melakukannya.
Terdengar helaan napas panjang. Lalu dosen tersebut memilih duduk di kursinya yang berada di dalam kelas.
“Saya tunggu lima menit. Silakan baca materi paku. Lebih dari itu tidak ada yang menjawab saya keluar dari kelas. Dan kita akhiri kelas lebih awal.” Sangat pelan dalam berucap, tetapi mengandung ketajaman dan makna yang membuat setiap mahasiswa itu ketakutan.
Suara menyibak buka terdengar saling bersahutan. Sang Dosen hanya menghela napas lelah sembari menggeleng. ‘Sabar,’ ucapnya dalam batin. Berulang kali ia mensugesti diri agar sabar menghadapi para mahasiswanya.
Waktu lima menit baru saja berlalu. Masih belum ada tanda-tanda mahasiswa yang mengangkat tangan. Sang Dosen sudah berniat mengangkat tubuhnya dari kursinya. Namun terhenti karena ada seorang mahasiswa yang tiba-tiba mengangkat tangannya.
“Iya?” tanya dosen tersebut dengan alis yang sedikit naik. Tatapannya pun tajam.
“Saya ingin menjawab pertanyaan yang Ibu ajukan tadi,” jawab mahasiswa itu dengan suara lirih.
“Silakan. Tapi tolong, keraskan suaramu!! Kamu bukan mahasiswa lemah bukan?”
“Baik, Bu,” balasnya dengan oktaf yang sedikit naik dari sebelumnya. Ia mengambil napas dalam, lalu diembuskannya perlahan dan panjang. “Ukuran batang yang kecil pada tanaman paku, khususnya suplir, berkaitan dengan susunan anatominya yaitu jaringannya. Dikarenakan kebanyakan batangnya rimpang atau tumbuh menjalar di tanah, membuat susunan jaringannya cukup sederhana. Selain itu, tumbuhan paku merupakan tumbuhan tingkat rendah di mana organ-organnya tidak sekompleks tumbuhan tingkat tinggi. Kurang lebih, hal itulah yang menyebabkan batang paku berukuran kecil,” jawab mahasiswa itu dengan suara yang bergetar.
Sang Dosen diam. Ia sengaja. Ia ingin membuat mahasiswanya itu lebih hebat dalam menyampaikan argumentasinya.
Mahasiswa yang baru saja menjawab itu menunduk dalam. Apa yang ia sampaikan tidak tepat? Atau bahkan sama sekali tidak tepat? Sungguh ia ingin menenggelamkan diri dalam bumi saja bila seperti ini.
“Ada jawaban lain?” tanya Sang Dosen.
Semua kepala mahasiswa menunduk dalam. Benar-benar tak mampu berkata. Bagai berada di ruang sidang penentuan.
“Tidak ada yang menjawab lagi, ya?”
Semua diam. Kepala semakin menunduk dalam.
“Baiklah. Siapa nama kamu, Mas?”
“Mnium, Bu,” jawab mahasiswa itu lirih.
“Siapa?” tanya Sang Dosen.
“Mnium, Bu,” ulangnya dengan suara sedikit keras.
“Terima kasih karena kamu bersedia menjawab meskipun menjawabnya butuh waktu yang lama,” ucapnya dingin.
Batin para mahasiswa bergejolak dan ingin meluapkan amarah pada Sang Dosen. Terutama mahasiswa bernama Mnium.
‘Masih untung ada yang mau menjawab,’ gerutu batin para mahasiswa.
‘Ya ampun, Bu. Masih mending saya tadi mengangkat tangan,’ batin Mnium.
“Pasti batin kalian menggerutu kan? Ya bukan salah saya bila saya marah-marah,” ucap Sang Dosen. Membuat wajah para mahasiswanya semakin pucat.
‘Bagaimana bisa tahu?’
“Kalian kami pinjami buku itu. Boleh dibawa pulang. Gratis. Tidak membayar. Begitu kalian masih saja tidak membacanya, sibuk apa kalian di kos atau di rumah?”
“Mengerjakan laporan, Bu,” jawab seorang mahasiswa lirih.
Dosen tersebut mendengus kesal. “Laporan? Bukankah waktu pengerjaan laporan itu biasanya satu minggu. Lalu kalian baru mengerjakannya semalam? Menggunakan sistem kebut semalam?”
Skak mat.
Semua diam. Tak ada yang mengucapkan apa pun. Menunduk dan diam lebih baik daripada harus menjawab pertanyaan Sang Dosen yang berakhir dengan segala sindiran keras.
“Jangan-jangan bukunya hanya dibawa untuk memenuhi ruang kamar kalian?” Dosen tersebut tetap melanjutkan serangan sindirannya.
“Ah.. buat apa saya marah-marah. Buang-buang energi. Sia-sia saja,” ucapnya setelah sadar. “Ucapkan terima kasih pada Mnium karena jasanyalah kalian masih bisa selamat. Tanpanya, kalian tidak akan mendapatkan perkuliahan TTR ini sampai dua pertemuan ke depan,” lanjutnya.
Deg.
Jantung mereka berdetak kencang. Masih ada tujuh kali pertemuan kuliah di mata kuliah TTR hingga menuju pelaksanaan Ujian Akhir Semester. Bila Sang Dosen tidak bersedia memberikan perkuliahan, bisa buta arah mereka. Selain itu, mereka juga akan dicap sebagai kelas pembuat masalah dan onar.
“Jadi jawaban Mnium benar. Ukuran tersebut berkaitan dengan organ penyusun batang. Karena tumbuhan paku sudah termasuk dalam tumbuhan yang berpembuluh, sudah memilih pembuluh angkut, maka tentunya pada organ akar, daun, dan batang, paku sudah memiliki xilem dan floem,” jelas Sang Dosen. “Hanya saja, masih begitu sederhana. Berbeda dengan struktur jaringan angkut pada tumbuhan tingkat tinggi,” lanjutnya.
Sang Dosen mengambil gulungan kain yang sejak tadi masih tergulung di atas mejanya. Diambilnya gulungan kertas itu lalu ia bentangkan di depan kelas.
Satu tumbuhan paku yang dikeringkan tertempel di kain putih yang mulai memudar warnanya itu. Tampak cantik dan tertata rapi. Meskipun telah mengering, tidak ada sedikit bagian pun yang tergulung. Yang membuat herbarium itu pasti sangatlah ahli. Para mahasiswa tak henti-hentinya berdecak kagum.
“Sebelum saya melanjutkan penjelasan ini, saya ingin menanyakan satu pertanyaan mendasar. Jika kalian tidak dapat menjawab pertanyaan saya, saya tak akan segan mengembalikan kalian ke semester dua,” ucapnya horor. Matanya memandang tajam para mahasiswa yang sejak tadi memandang sebentang kain dengan tumbuhan paku yang tertempel rapi itu.
“Apa fungsi xilem dan floem?”
Banyak tangan yang terangkat. Mencetakkan senyum puas samar di bibir Sang Dosen.
“Silakan, Mbak,” ucapnya mempersilakan salah satu mahasiswinya yang memakai kaca mata oval.
“Xilem untuk mengangkut unsur hara dan air, dari akar menuju daun. Sedangkan floem berfungsi untuk mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan. Terutama pada bagian di mana tumbuhan itu menyimpan cadangan makanannya. Misalnya mangga, maka akan disimpan di buahnya, tebu akan disimpannya pada batang, ubi kayu akan menyimpan cadangan makanannya pada akar,” jelasnya dengan nada yang usahakan tetap tenang. Meskipun detak jantungnya benar-benar menggila tak karuan.
“Bagus. Saya suka dengan cara kamu menjelaskan. Mendetail dan memudahkan dalam pengertian. Kalau seperti ini kan bagus. Suasana kelas menjadi lebih hidup,” ucapnya bangga. “Jadi, untuk lebih memudahkan dalam memahami fungsi dua jaringan pengangkut tersebut dapat melalui huruf pertama jaringan floem. Huruf pertamanya adalah f, berarti berkaitan dengan fotosintesis. Sejajar dan sama kan hurufnya. Sehingga untuk xilem dapat mengikuti setelah floem diketahui fungsinya,” lanjutnya.
Setelah itu, Sang Dosen mulai menjelaskan mengenai ciri morfologi paku. Mulai dari akar hingga daun. Tidak lupa juga tentang spora.
Catatan:
Biasanya dalam perkuliahan, herbarium atau awetan kering akan disimpan dan ditempel pada kertas putih yang telah ditempel pada kertas linen putih. Dan herbarium tersebut disertai dengan kunci identifikasi atau data mengenai ciri morfologi tumbuhan yang dibuat awetan.