Udara terasa segar dan sejuk. Embun pun masih ada yang betah berdiam diri di atas permukaan daun. Kabut juga masih menyelimuti padatnya jajaran pohon yang menjulang tinggi. Matahari di langit telah menyingsing tinggi. Namun, kerapatan dedaunan membuat sinarnya cukup sulit menembus pasukan daun yang berbaris rapi. Membuat hutan menjadi lebih gelap. Menciptakan suasana yang mencekam.
Mnium masih bertahan di posisinya berdiri. Tersadarkan dari ingatan akan kenangannya, sekitar 10 tahun lalu. Masa-masa di mana ia masih duduk di bangku perkuliahan.
Ia merasakan punggung tangannya sedikit basah. Netra yang semula memandang kosong kabut tebal di depannya pun beralih pada punggung tangannya.
“Shat…,” umpatnya kesal.
Ia ambil daun bersih dengan tetesan embun yang menempel di atasnya. Lalu diusapnya kotoran burung yang mendarat di punggung tangannya itu dengan daun itu. Sekali lagi ia mengumpat karena ketidaksopanan kelakuan Si Burung. Ia juga kesal karena kelakuan burung itu, membuatnya harus kembali disadarkannya pada dunianya saat ini.
Beginilah bila hidup di alam bebas. Menyatu dengan berbagai fauna dan flora. Dan tidak perlu kaget bila tiba-tiba ada burung kurang ajar yang mendaratkan kotoran di bagian tubuh manusia atau makhluk hidup lainnya yang berada di bawahnya.
Mnium menghela napas panjang. Kenangan masa perkuliahannya memang menyenangkan, tapi juga meninggalkan beberapa kenangan yang membuatnya enggan mengembalikan kilas balik peristiwa itu dalam benaknya.
Mnium membuang patahan tumbuhan paku ke sembarang tempat. Hal yang sering ia lakukan sejak ia memilih bersahabat dengan alam bebas. Baginya tak masalah. Itu lebih baik daripada membuang sambah anorganik ke sembarang tempat. Sampah organik masih dapat diuraikan oleh dekomposer, entah cacing, jamur, atau makhluk kecil lain yang hidup di tanah. Berbeda dengan sampah anorganik yang sangat sulit untuk hancurnya. Bahkan ada sampah anorganik yang membutuhkan waktu ratusan tahun agar dapat terurai.
Langkahnya kembali terayun. Pandangannya fokus ke depan. Tidak ada lagi netra yang kagum dengan indahnya alam. Ia telah lama memandang pemandangan yang sama setiap harinya. Kini tujuannya adalah melangkah ke perbatasan. Entah mengapa, ia ingin sekali mengamati dunia manusia. Dunia yang kadang kala ia rindukan. Mungkin sering kali dirundakannya. Namun porsinya cukup kecil. Ia benci dengan manusia. Mungkin juga membenci dirinya sendiri karena ia juga termasuk dalam kelompok manusia.
Mnium menembus tebalnya kabut. Kabut-kabut itu mulai menepi ketika ia lewat, seakan memberikan penghormatan padanya dengan membentuk pagar. Ah, tentu saja tidak seperti itu. Itu terlalu berlebihan. Nyatanya itu semua hanya ilusi optik. Dari jauh memang kabut akan tampak tebal dan tak mudah dijangkau. Namun, bila kabut itu telah dilewati, maka kabut itu tampak hanya seperti udara biasa. Berbeda dengan asap. Karena dua hal tersebut adalah sesuatu yang berbeda partikelnya atau materi zat penyusunnya.
Hutan mulai tampak lengang, tak sepadat sebelumnya. Kabut pun tak begitu tebal. Sinar matahari juga mulai dapat dirasakan kulit Mnium. Cukup hangat. Tubuh Mnium menjadi lebih hangat karena sinar matahari itu.
“Berapa lama aku tidak berkunjung ke sini?” tanyanya pada diri sendiri.
Tes.
Setitik cairan menetes di atas permukaan tanah. Menciptakan sesuatu yang mungkin bagi orang awam adalah hal menyeramkan.
Mnium tak menoleh sedikit pun. Ia tetap melangkah ke depan.
Senyumnya sedikit merekah kala akhirnya ia menemukan sebuah batas antara hutan bebas dengan sebuah hutan yang masuk dalam kawasan kebun raya.
Tampak berbeda. Begitu gumam batin Mnium.
Telah lama ia tak berkunjung ke perbatasan. Mungkin sudah beberapa tahun yang lalu? Ah entahlah. Tak perlu diingat-ingat.
Lalu ia mulai membuka sesuatu yang bentuknya seperti pintu kecil. Pintu itu bahannya sama dengan pagar pembatas, tumbuhan-tumbuhan liar yang sengaja dipilin dan disatukan satu dengan lainnya agar terbentuk sebuah ikatan.
Mnium menghirup udara dalam. Diembuskannya perlahan dan panjang.
“Ehm… udaranya sedikit berbeda,” ucap Mnium lirih.
Mnium mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Kawasan kebun raya tampak tertata rapi. Sudah tidak rungsep lagi seperti dulu. (Rungsep.. Bahasa Jawa – berantakan, tak tertata, tak sedap dipandang)
Mnium kembali melanjutkan langkah. Senyumnya merekah lebar kala melihat lumut memenuhi tebing di kanan dan kiri jalan setapak yang sedang ia pijak.
Ia lanjutkan langkahnya untuk lebih masuk ke dalam kawasan kebun raya. Dan senyumnya bertengger nyaman di bibirnya kala ia kembali melihat talus lumut yang memenuhi tebing, permukaan pohon, dan tanah-tanah di sekitarnya. Talus adalah bantalan atau lembaran lumut yang membentang luas. Dalam artian, talus juga dapat dikategorikan sebagai organ daun.
“Bagus,” gumamnya pelan.
Ia cabut, lebih tepatnya ia tarik sedikit bantalan lumut dari permukaan batang pohon besar. Netranya menatap tajam lumut itu. Seakan berperan sebagai mesin pemindai yang ingin memindai, men-scan, dan mengamati lumut itu dengan detail. Seakan ia ingin melihat lumut itu hingga ke bagian terkecilnya.
“Segar dan bersih,” gumamnya senang. Senyumnya kembali merekah. Lalu, didekatkannya lumut itu ke indra pembaunya. Ia menghirup dalam aroma lumut, sedikit aneh. Butuh waktu lama bagi Mnium untuk menghirup aroma lumut itu. Ia terus menarik napas dalam dengan ujung hidung yang mulai menyentuh permukaan talus lumut.
“Aroma lumutnya khas,” ucapnya pelan. “Kamu harus bertahan di sini para lumut. Tempat ini masih baik, belum tercemar oleh berbagai zat cemar. Mineral untuk kalian juga masih terpenuhi. Maka tumbuhlah dengan baik, lalu penuhilah tempat ini dengan lumut yang membentang luas,” kata Mnium sembari meletakkan kembali lumut yang sebelumnya ia cabut.
Tes.
Sebuah cairan kembali menetes di permukaan. Kali ini di permukaan tebing yang masih kosong. Dan setelahnya Mnium tak menoleh, ia terus melangkah maju ke depan untuk menuju tempat yang ingin ia awasi.
“Masih sama,” ujarnya lirih sembari mengangguk-angguk kala tiba pada tempat yang diinginkannya.
Namun, seketika matanya membelalak saat mendengar suara langkah kaki. ‘Siapa? Apa ada orang di sekitar ini?’ batinnya bertanya-tanya. ‘Ini adalah tempat yang cukup jauh dari kawasan kebun raya utama. Tidak mungkin ada orang kecuali petugas kebun raya atau Perhutani,’ lanjut batinnya.
“Ahh.. syukurlah. Akhirnya aku sampai juga di sini,” ucap suara seorang laki-laki.
Mnium segera mencari tempat persembunyian sebelum keberadaannya diketahui oleh orang tersebut. Ia memilih bersembunyi di balik pohon besar dengan semak-semak rapat yang mengelilinginya.
Ia mengawasi seorang laki-laki muda tersebut. Entah mengapa kala ia melihat laki-laki itu, ia seakan teringat masa kala menjadi mahasiswa. Bedanya, tampilan laki-laki itu lebih modis daripada dirinya dulu. Dilihat dari pakaian, celana, jam tangan, dan juga sepatunya. Semuanya tampak bagus dan menyilaukan.
“Ah,, benar adanya bahwa jaman sekarang memang semuanya semakin canggih. Ya seperti peralatan yang kumiliki,” gumamnya sangat pelan. Ia tak ingin keberadaannya diketahui.
Diawasinya pemuda itu yang tampak sibuk dengan handphone-nya. Lalu sibuk memotret segala sisi tumbuhan lumut yang tumbuh memenuhi area di sekitarnya.
Matanya tak berkedip sedetik pun. Ia tak ingin tertinggal untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu. Hingga dilihatnya pemuda itu yang tampak mengedarkan pandangan, seperti memastikan bahwa tak ada siapa pun yang melihat tindakannya. Mata Mnium kembali melebar kala ia melihat pemuda itu meletakkan sebuah tabung di dalam semak-semak yang tak jauh darinya.
“Kamu baik-baik di sini, ya. Sampai bertemu minggu depan,” ucap pemuda itu sembari memandang ke sekitarnya.
Mnium segera menyembunyikan kepalanya. Pemuda itu tak boleh tahu bahwa ada dirinya yang sedang memantau segala aktivitasnya itu.
Mnium kembali menyembulkan kepalanya ketika dirasa pemuda itu mulai menghentikan aktivitasnya memindai sekitarnya. Benar saja. Pemuda itu sedang sibuk menyimpan handphone-nya.
Saraf pusat Mnium mulai bekerja maksimal. ‘Apa yang diletakkan oleh pemuda itu?’ tanya batinnya.
Ting.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. Kemudian senyum sinis tersungging di bibirnya.
Netra Mnium menatap punggung pemuda itu dengan tajam. Sengaja. Ia ingin membuat pemuda itu lekas pergi agar ia dapat melihat larutan apa yang diletakkan mahasiswa itu.
Senyum puas terpatri di wajahnya saat melihat pemuda itu tampak tak tenang dalam langkahnya. Namun senyum itu seketika hilang kala pemuda itu tetap melangkah dengan langkah yang konstan juga masih sempat menengok ke belakang. Mnium segera bersembunyi cepat.
Setelahnya ia pun segera mengakomodasikan matanya secara maksimal. Ia juga mengeluarkan aura menakutkan yang ada dalam dirinya. Pemuda itu masih sempat menengok ke belakang. Seperti memastikan bahwa ada sesuatu yang tampak mengawasinya. Mnium tak kalah cepat dalam menurunkan kepalanya untuk bersembunyi di balik semak. Beruntungnya, aura menakutkannya masih dapat menembus semak. Sehingga berhasil membuat pemuda itu berlari terbirit karena takut. Senyum puas terpatri lebar di wajah Mnium.
“Bagus,” gumam Mnium puas.
Ia mulai melangkah menuju semak di mana pemuda yang baru saja berlari itu meletakkan larutan dalam botol tabung. Ia ambil botol itu. Diputarnya botol itu. Ia amati lamat-lamat larutan dalam botol itu.
Ia hirup dalam aroma larutan yang menguar dari larutan itu. “Ah, formalin,”gumamnya sembari mengangguk. “Kenapa ditaruh di sini? Apa untuk praktikum?” Mnium bertanya pada dirinya sendiri.
Netranya lalu memandang sekitarnya. Mencoba menganalisis keterkaitan antara formalin dengan lingkungan sekitarnya.
“Apa pemuda tadi akan melakukan tindakan berbahaya?” Ia kembali bertanya pada dirinya sendiri.
Cling.
“Apa mungkin dia salah satu mahasiswa yang akan mengawetkan lumut? Atau mengawetkan sesuatu lain yang ada di sini?”
Mnium masih terus mencoba menebak. “Tapi.. tadi dia memotret lumut. Pasti objeknya adalah lumut. Sama seperti aku dulu kala melakukan praktikum,” gumamnya yakin. “Ah.. jadi dia akan melakukan praktikum lapangan satu minggu lagi,” gumamnya kembali berbicara.
Plap.
“Aha.. ini pasti menyenangkan,” serunya senang.
Diamatinya botol itu. Lalu ia mengambil alat tulis yang selalu ia simpan di saku jaket buluknya. Kemudian dengan cepat, ia menukar botol yang tadi dipegangnya dengan botol yang selalu tersimpan dalam saku jaketnya.
“Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba,” ucapnya dengan aura menyeramkan yang menguar dari tubuhnya.
Sebelum ia kembali masuk ke dalam hutan. Ia amati baik-baik tiap hamparan lumut yang menutupi tanah, tebing, dan permukaan batang pohon. Dalam hati ia berharap agar apa yang selama ini direncanakan dapat berjalan lancar. Melihat apa yang terjadi dengan lingkungan yang baru saja didatanginya sesuai dengan keinginannya pun membuatnya bersorak bahagia. Kemudian dengan cepat ia melesat jauh memasuki hutan. Tak sabar untuk mengeksekusi larutan yang baru saja ia dapatkan.