Lura memarkirkan motornya di parkiran motor fakultas. Helm full face yang tadi melindungi kepalanya kini ia simpan di atas tangki motor. Sebelum mulai melangkah menuju ruang kelas mata kuliah bioteknologi, Lura merapikan rambutnya. Ia membungkukkan badannya menghadap spion dengan jari-jari tangan sibuk menyugar surai rambutnya. Gel rambut membuat tatanan rambutnya tak begitu berantakan.
"Terima kasih pada pabrik yang telah memproduksi gel rambut. Karenamu rambutku menjadi aman terkendali," gumam Lura.
Lura bersiul sambil berjalan dengan memutar gantungan kunci motornya di telunjuk kanannya. Ia melengkungkan bibir tipis saat beberapa rekan dan adik tingkat menyapanya. Senyum yang Lura torehkan bahkan tampak tak ikhlas.
Lura masuk ke dalam ruang kelas dengan tenang. Melangkah membelah ruang kelas dengan santai. Didudukkannya tubuhnya di salah satu jajaran kursi paling depan. Jajaran kursi yang paling dibenci mahasiswa. Namun berbeda dengan Lura yang selalu menyukai barisan kursi itu.
Mengabaikan kebisingan teman-temannya yang entah membicarakan apa. Lura menyumpalkan ear phone pada telinganya. Memutar salah satu lagu rock yang dibawakan oleh band dari Inggris.
Ia pejamkan matanya. Menikmati ketukan keras dari lagu yang terputar. Kakinya tak tinggal diam. Diketukkannya mengikuti irama lagu. Lebih baik seperti ini daripada mendengarkan ocehan teman-temannya yang terkadang lebih sering tak bermutu.
Seseorang menarik kursi yang ada di sebelah Lura. Lura mendengar decitan yang berasal dari perpindahan kursi itu tapi ia masih enggan membuka matanya. Dosen pengampu mata kuliah Bioteknologi biasanya akan masuk terlambat lima menit dari jadwal perkuliahan. Jadi ia memanfaatkan waktu dengan menyegarkan pikiran melalui lagu yang terputar di ear phone-nya.
Suara ketukan pertemuan antara sepatu dengan lantai masuk di indra pendengaran Lura. Ia membuka matanya pelan lalu mematikan musik yang masih terputar. Disimpannya handphone-nya di saku ranselnya lalu menggantinya dengan buku catatan dan sebuah bulpen.
"Selamat pagi. Assalamu'alaikum warah matullahi wa barakatuh," salam seorang dosen wanita senior pengampu Mata Kuliah Bioteknologi.
Mahasiswa muslim menjawab serempak salam tersebut. Menggema memenuhi ruang kelas.
"Saya suka dengan semangat kalian yang luar biasa. Pagi yang cerah memang menjadikan semangat seseorang ikut bergelora, ya?"
Di balik kacamatanya, dosen tersebut mengamati setiap mahasiswanya. Terutama mimik wajah. Apakah ada wajah mahasiswa yang tegang? Bila ada, ia siap menangkap mahasiswa tersebut dengan pertanyaan darinya.
"Berhubung cuaca pagi ini cerah dan semangat saya juga sedang tinggi-tingginya, saya ingin menambah keceriaan kalian dengan hal yang luar biasa. Tolong nanti penanggung jawab mata kuliah mengamati jalannya perkuliahan pagi ini, ya. Lalu seperti biasanya silakan didata nama-nama mahasiswa yang aktif dalam pembelajaran. Dan di akhir perkuliahan jangan lupa memberikan daftar nama tersebut pada mbak co-ass yang duduk di belakang sana," jelas Sang Dosen. "Oke, baik. Silakan siapkan mental kalian, ya. Petualangan akan segera dimulai."
Dosen tersebut membuka laptopnya. Penanggung jawab Mata Kuliah Bioteknologi segera berjalan mendekat ke arah dosen untuk membantu mempersiapkan materi.
"Sambil menunggu laptop tersambung dengan proyektor, saya ingin berbincang santai dengan mbak-mbak yang memakai kerudung army dan tidak memakai kaca mata." Dosen tersebut berkata tanpa memandang wajah Sang Mahasiswa. Mahasiswi itu telah menjadi incarannya sejak pertama ia memasuki kelas dan duduk di kursinya. Wajah tampak pucat dan tegang. Membuatnya dengan semangat ingin menerkam mahasiswi itu dengan pertanyaan-pertanyaan.
Mahasiswi yang disebut Sang Dosen seketika menegapkan duduknya. Wajahnya tampak pucat. Tangannya saling bertaut. Dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Di punggungnya pun terasa keringat mengalir.
"Saya hanya ingin menguji kamu, Mbak. Apakah kamu benar-benar memahami praktikum yang dilakukan tiga minggu yang lalu atau tidak? Juga apakah kamu memang benar mengerjakan laporan itu sendiri atau copy paste dari teman kamu."
Senyum culas tiba-tiba terbit di bibirnya. Sebuah ide cemerlang hadir dalam benaknya. "Untuk penanggung jawab Mata Kuliah Bioteknologi, silakan koordinir pengumpulan laporan praktikum anther," pintanya dengan tegas.
"Mohon maaf, Bu. Sekarang atau selepas perkuliahan berakhir?" Wajah penanggung jawab mata kuliah itu tampak tegang. Ia mengedarkan pandangan pada seluruh teman kelasnya. Berharap mendapatkan pertolongan.
"Tentu saja sekarang. Buat apa menunggu nanti jika batas waktu pengumpulan adalah tanggal sekarang," jawab dosen tersebut galak.
Mahasiswa seketika pucat. Keringat dingin mulai keluar dari kulit. Suara bising mahasiswa yang belum mencetak laporan memenuhi ruang kelas.
Kebiasaan mahasiswa biologi adalah mereka akan mencetak laporan setelah perkuliahan berakhir. Menganggap bahwa batas pengumpulan adalah sore hari. Tidak siaga bila terjadi hal seperti sekarang.
Lura yang sejak tadi hanya diam, kini melengkungkan senyum puas. Ia mengapresiasi pada dirinya karena selalu mengerjakan sesuatu secara cepat dan tepat. Tak pernah mengundur-undur waktu dan membiarkan tugas menumpuk.
Dikeluarkannya laporan praktikum anther yang telah dijilid dengan rapi. Ia menjilidnya sendiri. Mamanya adalah seseorang yang menyiapkan segala keperluannya dengan detail dan lengkap, salah satunya adalah alat dan bahan yang biasanya banyak terdapat di warung foto kopi dan penjilidan.
Lura menenteng laporannya dengan bangga. Lalu berjalan menuju rekannya dan menyerahkan laporan miliknya dengan wajah datar. Dalam hatinya ia tertawa senang melihat wajah menderita teman-temannya.
'Salah siapa suka sekali menjadi mahasiswa yang mengulur-ulur waktu dan mengentengkan batas pengumpulan tugas?' oloknya. Namun itu hanya dalam batin. Masih ada dosen, ia harus selalu menjaga sikap dan kepribadiannya. Lura di hadapan para dosen adalah mahasiswa aktif, rajin, dan sopan. Mereka tidak tahu bagaimana ambisinya dalam mencapai sesuatu. Kecurangan terkadang ia lakukan hanya demi apa yang ia kerjakan terlihat sempurna di hadapan banyak orang, baik dosen atau rekan-rekannya.
"Kenapa jadi ramai sekali?" Dosen tersebut bertanya dengan teriakan menggema dan tatapan tajam. Kacamatanya bahkan telah merosot ke tulang hidung.
Wajah pucat dan pias mahasiswa semakin tak dapat ditutupi lagi. Menimbulkan kerutan yang tercetak jelas di dahi Sang Dosen Pengampu yang sudah mulai menampakkan keriput.
Dosen tersebut mengangguk paham kala asisten dosen memberikan kode padanya. "Jadi laporannya belum selesai dikerjakan? Atau belum dicetak? Atau belum dijilid? Atau belum meng-copy dari teman-teman?" Pertanyaan beruntun itu terlontar lancar dari mulutnya. Bagaikan laju kereta api ekspress yang cepat dan tanpa hambatan. Nada bicaranya tenang tetapi di dalamnya mengandung amarah yang terpendam.
"Mbak." Dosen tersebut memanggil asisten dosennya. "Dan kamu Mbak," panggilnya pada mahasiswa penanggung jawab mata kuliah.
Asisten dosen berjalan dengan tenang tetapi matanya melirik tajam pada setiap mahasiswa yang wajahnya pucat dan pias. Sedangkan penanggung jawab mata kuliah melangkah dengan kepala yang tertunduk dalam. Tangannya saling bertaut tak tenang.
"Hal seperti ini sering terjadi? Atau hanya hari ini saja?" tanya dosen dengan dingin dan dalam.
Atmosfer kelas yang semula penuh semangat kini menjadi dingin. Seperti berada dalam freezer yang sisi-sisinya mulai terbentuk bunga-bunga es. Tak ada yang berani membuka mulut. Bernapas pun rasanya antara hidup dan mati. Semua menunduk dalam. Kecuali Lura yang ikut menunduk tetapi hanya sebagai formalitas. Laki-laki itu sering seperti itu. Selagi ia tak salah ia tak akan pernah bersedia mengemis atau menunduk. Namun, bukan berarti ia selalu mendongak menyombongkan diri.
"Yudinia.. jawab!!" bentak dosen kepada asistennya. Geram ia pada mahasiswa yang sok melindungi lainnya. Jika yang dilindungi melakukan hal terpuji tak mengapa, tetapi ini hal tak baik. Yang dapat tubuh menyebar dengan cepat dan menancap kuat hingga akar terdalam. Seperti jamur yang cepat tumbuh dan menyebar. Ia tak ingin mahasiswanya memiliki sifat tak baik yang terus dipelihara hingga mendarah daging.
“Saya yang memberi waktu kepada adik-adik untuk mengumpulkan hingga pukul tiga sore, Bu,” jawab Yudinia dengan kepala menghadap bawah. Tak berani menatap Sang Dosen. Suaranya pun sangat lirih.
Dosen Bioteknologi tersebut mengembuskan napas pelan. “Tolong didata nama-nama siswa yang hari ini mengumpulkan laporan tepat saat ini,” pintanya dengan nada lelah.
“Baik, Bu,” jawab Yudinia dan penanggung jawab mata kuliah hampir bersamaan. Lalu mereka berdua kembali ke tempat duduk masing-masing dengan bahu yang meluruh.
“Saya tunggu lima menit untuk daftar nama mahasiswa yang sudah mengumpulkan laporan. Tolong dibawakan ke saya lembar nama mahasiswa kelas ini sekalian,” pinta Sang Dosen.
Yudinia dan penanggung jawab mata kuliah sibuk dengan lembar kertas dan laporan yang telah terkumpul. Sedangkan mahasiswa lain masih tetap sibuk menunduk. Tak berani melakukan banyak gerakan. Lebih baik diam daripada mendapatkan amukan dosen. Memegang alat tulis saja tak ada yang berani. Paling mentok memainkan jari-jari tangan di bawah meja yang menyatu dengan kursi.
Tepat empat menit 49 detik lembar daftar nama mahasiswa dan nama mahasiswa yang telah mengumpulkan laporan berada di meja dosen. Tanpa menunggu lama, Sang Dosen segera mengamati daftar nama-nama mahasiswa yang telah mengumpulkan laporan. Decakan terdengar keras memenuhi ruang kelas. Gelengan kepala tak habis pikir dengan tingkah laku mahasiswanya. Ia salah mengira. Perkiraannya selama ini, mahasiswa akan selalu mengumpulkan laporan didetik ia keluar dari ruangan setelah memberikan materi. Nyatanya dugaannya salah besar.
“Bawa sini laporannya!!” desisnya tajam. Amarah sudah tak dapat ia tahan. Mood mengajarnya hancur.
Mungkin ini hanya masalah kecil, laporan. Namun baginya tidak. Ini masalah besar. Bisa saja ia hanya menyampaikan materi, tanpa peduli dengan pemahaman mahasiswanya. Namun ia tak bisa seperti itu. Tidak bisa. Ia tidak hanya mengejar laporan praktikum telah dikumpulkan, tetapi ia juga membutuhkan pemahaman mahasiswa selama praktikum. Teori bisa saja dibaca di mana saja, tapi kesempatan untuk praktikum tentu susah untuk diulangi.
“Saya ingin bertanya. Pertanyaan mendasar saja.” Diembuskannya napas pelan. Demi menetralisir amarah yang semakin lama semakin tak terkendali. “Sebenarnya apa tujuan praktikum? Dan untuk apa kalian mengerjakan laporan? Untuk nilai? Atau untuk apa?”
Semua diam. Hening merajai. Menunduk semua mahasiswa yang berada dalam kelas.
“Jawab!!” teriak dosen wanita yang usianya akan menginjak 50 tahun itu.
Sebuah lengan terangkat. Bola mata dosen yang melebar itu seketika mulai berelaksasi, kembali ke ukuran normal.
“Iya, Lura.” Ia mengenal Lura. Salah satu mahasiswa yang selalu aktif dalam perkuliahan. Aktif membantu. Aktif menjawab pertanyaan yang ia lontarkan. Meskipun jawabannya sesekali kurang tepat, ia mampu memberikan alasan yang logis di setiap jawabannya.
Lura mengangguk singkat. Juga melengkungkan senyum kecil. “Ibaratnya dulu para ilmuwan menemukan adanya bakteri atau objek biologi lainnya, mereka awalnya tak pernah memiliki teori itu. Mereka awalnya menemukan penemuan. Dari penemuan itu lalu dilakukan sebuah pengamatan secara berkala. Tidak hanya sekali saja, tetapi berulang. Untuk apa hal itu dilakukan? Agar memperoleh hasil yang valid. Agar data tersebut bisa dijadikan sebagai ilmu, hukum, atau teori. Maka, ketika kami melakukan praktikum saat ini adalah sebagai langkah kami untuk menguji teori tersebut. Apakah teori tersebut benar, atau ada hal lain yang bisa kami temukan. Kurang lebih seperti itu,” kata Lura tegas. “Ehm.. dan untuk laporan yang kami buat itu merupakan sebuah pemaparan atau hasil dari yang kami peroleh. Singkatnya sebagai bukti apakah teori yang ada itu benar dan sesuai atau tidak,” tambahnya.
Dosen tersebut tersenyum lebar. Senyum yang merekah setelah emosi yang menguasai. Para teman-teman Lura mengembuskan napas dengan lega. Mereka merasa diselamatkan. Di satu sisi Lura memberikan dampak positif bagi mereka, tetapi terkadang juga suka membuat mereka kesal dengan kelakuan Lura.
“Good, Lura. Perhatikan apa yang Lura sampaikan!! Dan untuk mahasiswa yang belum mengumpulkan laporan, silakan mengumpulkan laporan ditambah dengan resume minimal lima jurnal internasional tentang anther,” tandasnya.
Napas para mahasiswa kembali sesak. Kebahagiaan mereka hanya sesaat. Tidak sampai satu menit. Benar-benar dosen yang mengantarkan mahasiswanya pada gua gelap gulita yang tak berujung.
“Ah.. Yudinia, tolong dikoordinir untuk pengumpulan laporan dan resume jurnal tepat pukul tiga sore. Saya akan terus memantau kamu. Jangan pernah berani membela dan melindungi adik tingkat kamu!!” ancamnya.
Tidak hanya sesak, para mahasiswa rasanya hanya mampu bernapas sesekali dalam semenit. Sakit tapi tak berdarah. Emosi tapi tak tahu harus dilampiaskan pada siapa. Hari yang benar-benar melelahkan.
Mereka juga kejang-kejang ketika Sang Dosen dengan entengnya tak membubarkan kelas, tetapi melanjutkan kelas karena waktu perkuliahan yang masih tersisa satu jam. Mahasiswa benar-benar dibuatnya stress. Tak hanya stress tapi mungkin sudah mendekati gila.
Catatan:
Anther atau kepala sari merupakan bagian dari benang sari (organ reproduksi jantan pada bunga). Seperti yang diketahui bahwa pada bunga terdapat organ reproduksi jantan berupa benang sari, sedangkan betina berupa putik.
Mata kuliah bioteknologi adalah salah satu mata kuliah di Jurusan Biologi yang di dalamnya mencakup tentang teknologi yang memanfaatkan mikroorganisme atau bahan kajian lain dalam biologi.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, baik typo atau penjelasan yang kurang tepat. Silakan tinggalkan komen.
Terima kasih telah membaca cerita ini. Semoga bermanfaat. Dan jangan lupa follow Bilbul17 juga tap love cerita ini.