5. Artikel Oh Artikel

1817 Kata
Bismillah. Happy reading! Lingkaran mata hitam terbentuk. Wajah pucat. Bahkan make up tak dapat menutup pucat di wajah. Itulah penampakan wajah para mahasiswi yang telah duduk di Laboratorium Sistematika. Begitu pula dengan para mahasiswa. Wajah mereka sama pucatnya dengan mahasiswi. Biasanya kelas akan ramai dengan obrolan terutama oleh para perempuan. Kali ini hening. Kepala diletakkan di atas meja. Dengan lengan terlipat yang berfungsi sebagai alas kepala. Semua mahasiswa dipaksa lembur dan menerapkan cara kerja Bandung Bondowoso—Sistem Kebut Semalam. Tak ada angin tak ada hujan, mahasiswa yang mengampu Mata Kuliah Sistematika Tumbuhan diharuskan membuat artikel tentang tanaman yang selama ini mereka amati. Pemberitahuan baru disampaikan pukul empat sore kemarin. Format artikel harus sama dengan format PKM AI. Minimal empat lembar. Artikel berisi tentang morfologi tanaman dan taksonominya. Beruntungnya laporan berada di tangan masing-masing sehingga mahasiswa tak kelabakan. Namun tetap saja, mereka harus sampai lembur untuk menyelesaikan tugas tersebut. Sungguh siksaan yang tak terkira. Tak berperikemahasiswaan. Tidak hanya sekedar membuat artikelnya, mereka juga harus mencetak artikel tersebut lalu dikumpulkan tepat pukul tujuh. Beruntungnya banyak tempat fotocopy yang sudah buka sejak pukul enam pagi. Lura masuk kelas tenang. Ia amati para rekannya yang tampak lemas. Sedangkan wajahnya tampak bugar dan cerah. Tak ada tanda-tanda pucat. Tampaknya laki-laki itu tak perlu lembur hingga larut. Tentu saja tugas itu bukan tugas yang sulit. Ia salah satu mahasiswa yang aktif mengikuti PKM. Bukan masalah besar baginya untuk mengerjakan artikel. PKM yang ia ajukan bersama kelompoknya pun pernah lolos didanai, PKM Pengabdian Masyarakat dan PKM Gagasan Tertulis. Sayangnya PKM Pengabdian Masyarakat yang telah ia laksanakan tak sampai masuk dalam PIMNAS—Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. Ajang itu sangat bergengsi. Tak hanya mendapatkan medali saja, mahasiswa juga dapat meningkatkan prestasi universitas ke kancah nasional dan mengenalkan nama universitas pada mahasiswa lain. Tidak hanya itu, PIMNAS biasanya dilaksanakan secara bergiliran di kampus-kampus besar yang ada di Indonesia. Tak hanya Pulau Jawa saja tetapi juga pulau-pulau lainnya. Namun Lura tak mempermasalahkan hal itu, baginya itu sudah lebih baik. Lura duduk di kursi yang masih kosong setelah mengumpulkan artikel di meja belakang yang biasanya ditempati asisten dosen. Kali ini ia tak duduk di jajaran kursi paling depan, nomor dua. Tak masalah. Hal yang utama adalah kefokusannya dalam menerima materi. Tepat pukul tujuh dosen masuk ruangan. Dosen taksonomi sangat jarang masuk terlambat ke kelas kecuali jika ada urusan penting. Jikalau pun terlambat waktu, biasanya tak sampai 15 menit atau jika terjadi sesuatu hal selama perjalanan ke kampus. Dosen yang masuk kali ini adalah dosen yang paling muda diantara dosen pengampu mata kuliah Sistematika Tumbuhan. Meskipun begitu, aura yang dikeluarkan tak kalah gelapnya dengan dua dosen senior lainnya. “Artikelnya sudah dikumpulkan?” Baru saja mengucap salam dan menanyakan kabar, artikel sudah ditagih. Bahkan Bu Mmachilia—dosen muda tersebut, tanpa rasa bersalah bertanya akan alasan wajah para mahasiswanya yang tampak pucat dan kurang tidur. Mahasiswa hanya dapat beristighfar dan mengucapkan sabar dalam hati. Semoga mereka dapat dikuatkan mental dan fisiknya hingga semester lima ini berakhir. “Sudah, Bu,” jawab para mahasiswa serentak. Bu Mmachilia mengangguk puas. Akan tetapi jangan mengharapkan senyum terpatri di wajahnya. Para mahasiswa sering menjulukinya orang kaya karena ia begitu pelit senyum. Tak akan ada senyum yang terlengkung kecuali bila ada hal-hal lucu yang membuat hatinya tergugah. Jikalau tak tergugah yang disuguhkan hanyalah wajah datar dan dingin. Kadang pun menurut mahasiswa suatu topik itu lucu, dosen tak tersenyum sedikit pun. Wajahnya tetap datar dan dingin. Selera humornya memang berbeda dengan mahasiswa. “Radula!! Mazila!! Saya beri kalian waktu 15 menit untuk mendata nama mahasiswa yang mengerjakan artikel dengan benar,” pinta Bu Mmachilia tegas. Radula dan Mazila mengangguk patuh. Tak perlu menunggu waktu satu menit terbuang sia-sia, mereka berdua segera mengelompokkan tumpukan artikel itu dalam dua kelompok. Pertama kelompok artikel dengan format yang benar. Kedua adalah kelompok artikel dengan format yang salah. “Oke. Fokusnya hanya pada saya. Abaikan Radula dan Mazila,” tutur Bu Mmachilia dengan tatapan menghunus tajam. “Kita telah mempelajari tentang morfologi bunga. Baik tanaman purba atau pun tanaman maju.” Bu Mmachilia berdiri tegak tepat di depan kelas. Berdiri pada tengah ruangan. “Lura.. coba jelaskan apa itu tanaman purba?” Bu Mmachilia tiba-tiba menghadapkan badannya pada Lura. Lura dikenal oleh semua dosen Jurusan Biologi. Tak ada satu pun dosen yang tidak mengenal Lura. Beruntungnya ingatan Lura tajam. Jadi ia tak kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Tanaman purba adalah tanaman yang hidup sejak jaman dahulu, jaman evolusi dimulai. Contoh tanaman yang pernah kita gunakan sebagai objek dalam praktikum adalah sikas. Sedangkan contoh yang lain adalah tanduk rusa,” jawab Lura lugas. “Bagus.” Bu Mmachilia mengangguk. “Ini duduknya berdasarkan kelompok untuk praktikum dalam kelas atau kelompok praktikum lapangan?” tanyanya. “Kelompok dalam kelas, Bu,” jawab Lura. Bu Mmachilia kembali mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada Radula dan Mazila. “Sudah selesai Radula? Mazila?” tanya Bu Mmachilia. “Sudah, Bu.” Padahal 15 menit yang diberikan masih tersisa lima menit 11 detik tetapi Bu Mmachilia sudah menagih. Kerja cepat dan kerja tepat memang salah satu syarat mahasiswa agar bisa menjadi kandidat asisten dosen. Mazila berdiri dari duduknya dengan tumpukan hasil cetak artikel yang telah ia beri batas berupa lipatan kertas pada tiap-tiap kelompok berada dalam dekapannya. Lalu diserahkannya kertas itu pada Bu Mmachilia. Tak lupa Bu Mmachilia mengucapkan terima kasih. Segalak, sedingin, sedatar, se se yang lainnya yang melekat pada Bu Mmachilia, ia tahu terima kasih. Tak hanya pada orang yang lebih tua atau pun seumuran dengannya, ia juga tetap akan mengucapkan terima kasih pada mahasiswanya yang telah membantu. “Bryum Pennata!!” Panggilan Bu Mmachilia bagaikan panggilan seorang hakim yang akan menentukan selamat atau tidaknya seseorang. Membuat bulu kuduk Penna meremang. Degup jantungnya menggila. Meledak-ledak sehingga membuat dadanya sesak. Ia berusaha mengatur napasnya agar tak sampai kehabisan oksigen. Tidak lucu bila ia pingsan hanya karena namanya dipanggil oleh Bu Mmachilia. Reputasinya sebagai mahasiswa kaya, cantik, dan dikejar oleh banyak mahasiswa akan luntur dalam sekejap. “Saya, Bu,” jawab Penna setelah ia mampu mengatur napasnya. Ia angkat lengan kanannya. “Maju ke sini!!” panggilnya tajam. Jantung Penna tak hanya meledak dan berdebar kencang, tetapi sudah benar-benar berada dalam keadaan kerja yang menggila. Sebentar lagi akan pecah lalu menyatu dengan organ tubuhnya yang lain. Dengan berat ia mengangkat tubuhnya dari kursi. Sungguh berat rasanya. Namun ia harus memaksa kakinya sebelum ia benar-benar pingsan. “Apa ini?” tekan Bu Mmachilia. Ia menatap pada Penna yang sejak tadi menunduk. Sejak dari kursinya hingga berada di hadapannya. Penna menunduk dalam, tak berani mengangkat kepalanya. Ia merutuki kebodohannya. Ia memilih diam. Harus menjawab apa memangnya ia? Tangannya bertaut dengan jari jemari yang terus ia gerakkan. Sungguh ia tak tenang. Bagaikan berada dalam ruang sidang yang sedang menunggu putusan hakim. Bedanya saat ini hakimnya adalah Bu Mmachilia dan saksinya adalah teman-teman sekelasnya. “Jawab Bryum Pennata!!” desis Bu Mmachilia. “Artikel, Bu,” cicit Penna. “Artikel? Seperti ini yang kamu sebut sebagai artikel?” Teriakan Bu Mmachilia menghantarkan gelombang bunyi yang mampu menggetarkan jendela kaca. Jelas saja Bu Mmachilia marah. Hasil cetak yang Penna sebut sebagai artikel adalah sebuah baris kalimat berupa poin-poin mengenai ciri karakter tanaman. Semacam pada saat presentasi yang berisi poin-poin penting. Murka sudah Bu Mmachilia. Itu adalah hasil kerja yang paling buruk di antara yang salah. Napas Bu Mmachilia memburu. “Kamu punya handphone?” “Punya, Bu,” gumam Penna. “Lalu handphone kamu kamu gunakan untuk apa selama ini?” Penna diam sembari menunduk dalam. Hari ini adalah hari terberat dalam hidupnya selama kuliah. Hari terburuk baginya. Hancur sudah reputasinya. “Lura!!” Lura segera mengangkat tangannya cepat ketika Bu Mmachilia memanggilnya dengan tak sabar. “Ke sini!!” Lura tak tahu kesalahan apa yang ia perbuat. Artikelnya salah? Isi artikelnya salah? Formatnya salah? Atau apa? Ia tak tahu. Yang ia tahu dan harus lakukan adalah berjalan menuju Bu Mmachilia sebelum dosennya itu semakin berang. Lura telah berdiri tepat di samping Penna. Namun tentu ada jarak di antara mereka. Kurang lebih tujuh centi. “Lihat artikel yang Bryum buat,” pinta Bu Mmachilia tegas. Lura menerima hasil cetak yang diserahkan Bu Mmachilia. Ia ingin tertawa melihat hasil kerja Penna, tapi ia tahu bahwa Penna sedang dalam keadaan yang tak baik-baik saja. “Bagaimana?” tanya Bu Mmachilia. “Ehm.. mohon maaf, Bu. Juga Penna. Ini bukan artikel,” lirih Lura. Sangat bukan dirinya. Ia selalu bicara dengan nada tegas dan jelas. Namun entah, hati nuraninya sedang menguasai dirinya. Ia tak mampu untuk menjadi pribadi yang tegas seperti biasanya kali ini. “Dengarkan, Penna? Yang kamu kumpulan ini bukan artikel. Ya Tuhan, ini seperti kamu membuat poin-poin dalam presentasi,” sesal Bu Mmachilia. “Untuk yang lain, jangan pernah merasa bangga karena nama kalian saat ini tidak saya panggil!!” tajamnya. “Namun tunggu saja. Giliran kalian pasti akan datang!!” Hawa dingin seperti berada dalam ruangan es terasa menusuk kulit. Bulu kuduk meremang. Tak ada yang berani menyela. “Radula! Mazila! Silakan kalian urus mahasiswa yang tidak saya panggil. Dan untuk Penna, silakan kamu meminta tolong pada Lura untuk membimbing kamu dalam membuat artikel yang benar!” pungkasnya tegas. Lura menghela napas pasrah. Ia benci dengan proses bimbing membimbing. Membuat kesal karena kebanyakan teman-temannya yang selama ini ia bimbing selalu membuatnya muak dan ingin marah. Catatan: PKM adalah Program Kreativitas Mahasiswa. Salah satu program yang diselenggarakan oleh Dikti untuk mengasah kreativitas mahasiswa. PKM dalam satu tahun diadakan selama dua kali dengan bidang yang berbeda. Yaitu PKM lima bidang dan dua bidang. PKM lima bidang terdiri atas Penelitian, Kewirausahaan, Pengabdian Masyarakat, Teknologi, dan Karsa Cipta. PKM dua bidang atau PKM karya tulis berupa Gagasan Tertulis dan Artikel Ilmiah. Untuk PKM lima bidang, tim mahasiswa pengusul yang dinyatakan lolos seleksi atau lolos didanai akan melaksanakan kegiatan kemudian akan dilakukan monitoring dan evaluasi. Ending-nya ikut dalam ajang PIMNAS, tetapi tak semua kelompok yang lolos didanai masuk dalam PIMNAS. Untuk PKM karya tulis, tim pengusul yang dinyatakan lolos dapat langsung mendapatkan dana hibah tanpa melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi. Kurang lebih seperti itu, jika kurang jelas silakan mencari di google, ya. Sedikit bercerita, ikut aktif dalam PKM sangat menyenangkan. Bukan hanya tentang dana hibahnya tapi dampaknya, terutama dalam aspek sosialnya. Kita dapat bertemu dengan orang-orang baru, mendapatkan pengalaman baru, dan ilmu baru. Selagi jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang aktif, yang bermanfaat. Sikas dikenal masyarakat umum dengan sebutan mawar jambe. Tanduk rusa adalah salah satu tumbuhan dalam Kingdom Plantae. Tanduk rusa adalah jenis tumbuhan paku-pakuan. Tanduk rusa sering ditanam pada batang pepohonan di tepi jalan atau di taman. Seperti namanya, bentuknya menyerupai tanduk rusa. Tumbuhan ini menjulur panjang. Biasanya, daun tua yang telah gugur akan membentuk tanah atau media baginya menempel pada pepohonan. Tanaman maju adalah tanaman yang saat ini kita ketahui sebagai tanaman hias. Contohnya, mawar, bunga sepatu, anggrek, dan bunga lainnya. Terima kasih telah membaca cerita ini. Bahkan hingga chapter ini. Sehat selalu, ya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN