Batang pepohonan yang sengaja dipotong dan diikat rapat sebagai batas pembatas antara Kebun Raya Pididi dengan hutan dalam itu tampak rimbun. Berbagai jenis batang pohon itu tumbuh dengan subur. Suburnya tanah negeri ini membuat apa pun jenis tumbuhan yang ditancapkan akan tumbuh dengan subur. Seperti salah satu lirik lagu ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’.
Lima orang yang bersedia masuk cukup jauh ke kawasan Kebun Raya Pididi itu tampak berhenti di dekat pagar perbatasan. Radula membalikkan badannya. Ia hadapkan tubuhnya pada dua petugas yang ikut bersamanya.
“Pak, apa selama ini sudah pernah ada petugas yang masuk ke hutan itu?” tanya Radula.
“Setahu kami, tidak ada, Mas. Namun, seperti yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa ada salah satu petugas keamanan hutan yang hilang. Kami telah mencoba menyusuri hingga kurang lebih 30 km masuk ke dalam hutan, tetapi kami tidak menemukan jejaknya sama sekali. Yang tertinggal hanya sepeda motornya di sekitar sini,” jelas salah satu petugas.
Radula mengangguk. Ia memejam sebentar. Ia mendapat sedikit petunjuk, bahwa benar pria yang dilihat dalam bayangannya adalah pria yang meninggalkan motornya di tempat mereka saat ini berkumpul.
“Jika kami memutuskan untuk masuk ke hutan, terutama di dekat air terjun apa bisa?”
“Kami sejujurnya tidak dapat memastikan, Mas. Namun, ketika kami mengingat kembali pencarian rekan kami kala itu, semuanya aman dan baik-baik saja.”
Radula kembali mengangguk. Kini netranya ia fokuskan pada Bu Axilia dan Mazila. “Saya berencana masuk ke dalam hutan, Bu. Adik-adik sedang berlari ke sini. Namun saya ingin mengurung pria yang bapak tadi jelaskan,” kata Radula.
“Saya harus ikut, Radula! Saya tidak mau bila hanya menunggu di sini!’ tegas Bu Axilia.
Mazila mengangguk setuju dengan ucapan Bu Axilia. Ia tidak mau bila diminta memunggu.
Radula menghela napas panjang. “Baik jika seperti itu. Mohon maaf, saya berharap Bu Axilia akan tetap tenang. Begitu pula dengan kamu Mazila,” pesannya tajam.
Bu Axilia dan Mazila mengangguk mantap, seraya meyakinkan diri bahwa mereka akan tetap tenang dan tidak banyak mengeluh.
“Saya tidak tahu kenapa pagar ini bisa membentuk seperti pintu. Namun, kemungkinan saya, rekan-rekan kalian lewat sini. Padahal jika mereka lebih awas, sudah jelas ada papan larangan untuk masuk ke dalam hutan,” ucap petugas.
Radula mengangguk membenarkan. Ia pun menyayangkan tindakan adik tingkatnya.
Namun, kala didengarnya suara gemericik air, ia seakan disadarkan oleh sesuatu. “Sepertinya memang ada sesuatu hal yang memancing mereka untuk masuk ke dalam hutan, Pak,” ujarnya.
Kedua petugas itu memandang Radula dengan tatapan penuh tanya. Begitu pula dengan Bu Axilia dan Mazila.
“Kita bisa lebih tenang dan diam. Dan tolong, fokuskan telinga pada suara gemericik air. Jika saya tidak berpresepsi, itu adalah air terjun,” jelas Radula.
Empat orang tersebut diam. Menajamkan pendengaran pada apa yang Radula sampaikan. Sunyi membuat mereka mampu mendengar dengan jelas, suara hembusan angin, kicau burung, suara hewan-hewan lain di hutan, dan suara air yang menetes.
“Benar. Seperti ada suara air yang terjun,” sahut Bu Axilia.
“Saya menduga bahwa mereka mulanya menuju ke sana. Tapi untuk saat ini, mereka sedang menuju ke sini. Saya ingin masuk untuk segera menjemput mereka,” pungkas Radula dengan tatapan setengah sadar.
Empat orang tersebut mengangguk. Lalu Radula mulai melangkah memasuki hutan.
Ia dapat merasakan bila aura antara hutan dengan Kebun Raya Pididi berbeda. Lebih gelap dan suram. Didukung dengan tatanan pohon yang juga rapat. Membuat hutan itu lebih gelap.
Semakin mereka masuk, kabut putih semakin tebal. Menghalangi sedikit pandangan.
Mazila dan Bu Axilia mengedarkan pandangan. Seram, satu kata yang dapat mereka berikan terhadap kondisi hutan itu.
“Jalan kecil itu yang mengantarkan mereka ke air terjun,” gumam Radula pelan. Namun, gumaman itu masih dapat didengar oleh empat orang di sekitarnya. Radula tidak menunjuk jalan itu dengan jemariny, tetapi dengan dagunya.
Jalan menuju air terjun itu lebih kecil. Sama, jalan setapak juga, hanya saja lebih sempot. Di sekitar jalan itu dipenuhi dengan semak-semak yang menjulur panjang menutupi jalan, sedikit menghalangi bagi siapa pun yang ingin menuju ke air terjun.
Dari posisi mereka saat ini, suara gemericik air terdengar lebih keras. Hawa segar air yang terbawa oleh angin membuat sekitar mereka lebih dingin.
Radula kembali memimpin melangkah. Dapat didengarnya suara langkah kaki yang bekerjaran.
Radula mengangguk. Benar bahwa para adik tingkatnya sedang menuju kemari.
“Mas Radula!!” seru Funa dan Penna hampir bersamaan.
“Kalian cepat berlindung di belakangku!!” pintanya tegas.
Funa dan Penna segera melakukan hal itu. Mereka berlari cepat menuju Radula. Lalu memposisikan diri di belakang tubuh tegap kakak tingkatnya itu. Tubuh Radula tidak kekar, bahkan cenderung kurus. Didukung dengan badan yang tinggi menunjangnya tampak lebih tegap. Punggungnya pun lebar. Tidak terlalu kecil.
“Di mana Lura dan Bratra?” tanyanya.
“Di belakang kita, Kak. Tadi mereka meminta kita untuk lari dulu saat mereka mengecoh manusia itu,” jelas Funa dengan napas yang masih ngos-ngosan.
“Teriaklah untuk memanggil Lura dan Bratra. Beri tahu pada mereka bahwa kalian sudah hampir tiba di perbatasan,” perintah Radula tegas.
Funa dan Penna pun segera membagi tugas. Suara mereka yang sama-sama bisa berteriak kencang, membuat hutan tampak lebih ramai. Mengganggu beberapa hewan yang menyukai kesunyian. Namun ketidaktenangan itu tidak sampai membuat para hewan menyerang rombongan Radula.
Radula pun berulang kali membisikkan beberapa kata yang harus Funa dan Penna ucapkan. Dan kembalilah teriakan menggema memenuhi penjuru hutan.
Lura dan Bratra masuk dalam tangkapan netra Radula. Ia dapat melihat wajah terkejut Lura. Hingga tatapan itu berganti dengan wajah tak enak hati dan merasa bersalah.
Radula tetap mempertahankan wajah dinginnya. Dipandanginya dua adik tingkatnya itu dengan tatapan tajam seperti biasanya. Ia memang marah. Sangat marah. Namun, marah pun sudah tidak ada arti lagi. Ia hanya perlu memperingatkan mereka semua untuk tidak bertindak gegabah lagi. Memperingatkan dengan tegas.
“Lura!! Bratra!! Cepet ke sini!!” teriak Funa.
“Lura!! Kamu jangan melamun!!” bentak Penna tak sabar.
Lura seakan kembali tersadar. Ia segera berlari cepat menuju Radula, Funa, dan Penna. Bratra pun telah menunggunya.
Napasnya tersengal. Ia mengatur deru napasnya saat di belakang Radula.
Radula segera menjalankan aksinya. Ia usapkan tangannya ke udara, bermaksud membentuk sebuah perlindungan. Ia sedikit takut karena Mnium sudah berjalan dekat ke arahnya. Dan secepat kilat diambilnya botol yang selalu ia simpan dalam saku celananya. Disemprotkannya cairan yang ada dalam botol itu, lalu terbentuklah sebuah lapisan pelindung.
Trap.
Mnium terjebak. Ia tidak dapat masuk ke sisi di mana Radula, Lura, dan rombongan berada. Mnium tak dapat menembusnya. Amarah semakin menguasainya.
“KALIAN MANUSIA KURANG AJAR!!” teriaknya dari dalam.
Meskipun suaranya teredam oleh lapisan itu, Radula, Lura, dan rombongan masih dapat mendengarnya.
“Kita harus segera pergi. Dan saya minta tolong pada Bapak-bapak untuk bisa menghubungi pihak berwajib. Kemungkinan Bapak tersebut akan melukai banyak orang, maka harus ada perlindungan yang lebih. Bisa juga ditambahkan dengan sebuah jebakan. Saya rasa dia manusia seperti kita. Bukankah Bapak itu adalah Bapak Mnium?”
Kedua bapak petugas keamanan itu memandang wajah Mnium dengan jelas. Dan mata mereka membelalak kala menyadari bahwa benar adanya pria itu adalah Mnium.
Bu Axilia pun tak kalah terkejut. Matanya membola. Dan ia hampir saja pingsang bila para mahasiswanya tidak sigap menolong.