50. Akhirnya Terbebas

1491 Kata
Lima pemuda—putra dan putri, berjalan menjauhi sisa gua. Membiarkan Mnium kesakitan sendiri. Sudah cukup mereka dikurung, saatnya mereka kembali ke dunia mereka. Mereka berjalan menuju jalan yang sudah sangat sering mereka lewati kala Mnium meminta mereka untuk mengambil berbagai bahan untuk percobaannya. Dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk dapat segera keluar dari hutan gelap yang dipenuhi lumut itu. “Rek.. tapi kalian ingat nggak sih dengan anak-anak muda yang ada di gua tadi,” celetuk salah satu perempuan. “Yang kita berusaha melawan mereka itu?” sahut perempuan satunya. “Benar! Apa mereka sekarang baik-baik saja, ya? Aku rasa mereka tersesat,” kata perempuan yang berbicara pertama tadi. “Benar. Sepertinya begitu. Sejujurnya aku kasihan dengan mereka. Apa kita menyelamatkan mereka saja?” sahut seorang laki-laki yang dulu mendorong motor mogoknya. “Aku ada ide!” seru laki-laki lain yang membantu temannya mendorong motor kala itu. “Bukankah kita selama ini telah mengenal dekat dengan burung-burung di hutan ini? Kita minta tolong saja pada mereka,” sarannya. “Wah boleh juga itu. Tapi, biasanya burung-burung itu kan ada di dekat gua.” “Tenang. Aku mengenal dekat salah satu diantara mereka. Aku akan memanggilnya dengan siulanku.” Laki-laki itu segera bersiul lirih dan penuh kasih. Tak berapa lama, hinggaplah seekor burung di dahan dekat dengan posisi lima pemuda itu. Laki-laki itu menjelaskan niatnya pada burung cantik itu, dengan bahasanya yang khas. Entah mendapat kemampuan dari mana sehingga membuatnya dapat berbicara dengan burung itu. Burung itu mengangguk-angguk, pertanda mengerti akan ucapan yang disampaikan oleh Si Laki-laki itu. Lalu ia segera terbang kembali ke habitatnya bersama teman-temannya. “Kamu keren banget. Bisa ngobrol sama hewan,” puji salah satu perempuan. Laki-laki itu mengedik, pertanda bahwa ia tidak tahu. “Aku nggak tahu. Mungkin karena telah lama hidup di hutan ini, membuatku menjadi mulai terbiasa dengan segala kehidupannya. Dengan kehidupan kita yang berdampingan dengan berbagai flora juga fauna,” jelasnya. “Untungnya burung itu mengerti. Aku hanya berharap semoga para anak-anak muda itu dapat selamat,” harap perempuan satunya. Empat temannya meng-aamiin-kan harapan itu. Mereka tidak ingin nasib yang mereka alami selama ini, akan dirasakan oleh para mahasiswa itu. Cukup mereka saja yang menjadi korban, jangan para mahasiswa itu. Mereka kembali melanjutkan langkah. Dalam langkah itu benak mereka dipenuhi dengan berbagai pikiran. Apa keluarga mereka akan menerima mereka kembali? Bersedia mendengarkan cerita mereka? Atau mereka harus terbuang dan telah dianggap pergi untuk selamanya? “Kalian yakin bahwa kalian akan diterima kembali di keluarga kalian masing-masing. Entah mengapa aku merasa takut bila harus pulang ke rumah,” ucap salah satu perempuan. “Kita coba saja. Jika tidak, mungkin kita bisa berkumpul bersama. Membentuk suatu usaha atau apa,” sahut salah satu laki-laki. “Tapi.. bagaimana cara kita pulang? Kita tidak punya kendaraan.” “Entah.. mungkin kita bisa minta tolong pada petugas kebun raya. Tapi jika mereka tidak dapat menolong kita, mungkin kita bisa ikut nebeng truk atau apalah,” sahut laki-laki lain. Ya mereka tidak perlu ambil pusing. Mereka hanya rindu rumah. Entah urusan transportasi dapat mereka pikirkan nanti, yang terpenting mereka bisa segera keluar dari hutan ini. *** Penna dan Funa terus berlari mengikuti arah terbang burung cantik itu. Mereka sudah membicarakan itu dalam pelarian mereka, jikalau burung itu menyesatkan, mereka akan segera kembalo dan menyusuri jalan satunya. Begitu pikir mereka. Lura dan Bratra juga sama-sama berlari kencang. Melupakan rasa sesak di d**a akibat berlari. Dalam pikir mereka hanya tentang lari, lari, dan lari. Hingga tak terasa Lura dan Bratra berada di depan jalan percabangan. Menimbulkan bimbang untuk memilih salah satu jalan yang terbaik, yang tidak menyesatkan mereka. “Ini kita mesti ke mana, Tra?” tanya Lura sembari menoleh pada Bratra. Wajah Bratra juga tampak bingung. Ia tidak pernah lewat jalan itu, sama dengan Lura. Dan ketika Lura menanyakan hal itu, tentu saja ia tak tahu. Bratra mengedik. “Aku juga nggak tahu, Tra. Kita kan sama-sama nggak tahu daerah sini,” ungkapnya. Bratra melihat ke belakang. Mnium sudah terlihat jelas di belakang mereka. “Kanan atau kiri ini enaknya, Tra?” Lura dilanda kegugupan dan ketakutan. Mnium semakin mendekat. Fokus mereka teralihkan dengan suara siulan dan cuitan burung di atas mereka. Dua burung berterbangan indah. Mereka terbang memutar di atas Lura dan Bratra. Cuitan burung itu saling bersahutan. Lalu dua burung itu terbang menuju jalur kanan. “Apa kita mengikuti burung itu saja?” tanya Lura meminta saran. Bratra mengangguk setuju. “Mungkin burung itu burung penunjuk. Kalau nggak salah kayak burung-burung yang di jalur pendakian itu. Kamu pernah denger nggak?” “Kayaknya pernah. Tapi aku lupa gunung apa,” jawab Lura. Mereka terus berlari. Tidak peduli dengan gelapnya hutan di kanan dan kiri. Fokus mereka adalah terus berlari. “KALIAN SALAH JALAN. JANGAN PERCAYA DENGAN BURUNG ITU. BURUNG ITU AKAN MENYESATKAN KALIAN!!” Mnium berteriak kencang. Membuat burung-burung yang asyik bertengger di balik padatnya dedaunan mulai berterbangan. “Kita salah jalan, Lur?” tanya Bratra khawatir. “Jangan pedulikan dia. Kalau kita salah jalan ya sudah. Kalau kita mesti putar balik, yang ada kita ketangkap sama dia kan?” balas Lura mencoba tenang. Bibir boleh saja berkata tenang. Namun jantung sedang berdegup kencang. Napas pun saling bekerjaran. Seperti dirinya yang sedang dikejar oleh manusia bernama Mnium itu. Bratra mengangguk membenarkan. Mendengar langkah kaki yang semakin mendekatinya, membuatnya berlari lebih kencang. Bagai motor yang hendak menyalip kendaraan lain, Bratra menambah kecepatan larinya hingga ia mendahului Lura. “Lur.. orang itu ada di belakang kita. Sangat dekat. Tambah kecepatanmu,” teriak Bratra dengan kata yang tak begitu jelas. Lura pun menambah kecepatan larinya. Sungguh, saat ini adalah babak penentuan baginya. Apakah ia mampu menghindari manusia yang penuh obsesi itu atau ia harus tertangkap dan dijadikan bulan-bulanannya? Mereka terus berlari. Tak terasa mereka telah melewati setengah perjalanan. Hutan pun semakin padat dan gelap. Kabut tebal menutupi lapang pandang. Namun Lura dan Bratra tidak terlalu mempedulikan hal itu. Selagi mata mereka masih mampu untuk menangkap objek di depannya, mereka akan terus berlari. “Lura!!! Bratra!!” Teriakan dua orang perempuan, yang jelas Funa dan Penna menggema ke seluruh penjuru hutan. “Funa dan Penna?” gumam Bratra. “Sepertinya mereka di jalan yang sama dengan kita. Dan dapat dipastikan bahwa kita telah mengambil jalan yang benar,” ucap Lura yakin. Bratra mengangguk. “Funa!! Penna!!” balasnya dengan teriakan yang tak kalah kuat pula. Suaranya menggema dan menggaung memenuhi penjuru hutan yang semakin ditutupi kabut itu. Hawa dingin mulai menusuk kulit. “KALIAN.. TIDAK.. AKAN.. PERNAH.. BISA LOLOS DARIKU!” amuk Mnium dengan lantang. “Cepat lari,” teriak Funa kencang. Lura dan Bratra berlari semakin kencang. Banyak akar pohon yang melintang di tengah jalan membuat mereka berulang kali terjatuh. Tempurung lutut terasa nyeri. Tampaknya ada lecet yang terbentuk. Ditambah dengan benturan ujung batu, semakin membuat kaki sakit ketika dibuat berlari. “Lura!!! Come on. Lupakan rasa sakit itu dulu!!” teriak Penna dari kejauhan. Lura mengangguk. Benar. Ia harus memodifikasi pikirannya. Pikirannya tidak boleh dipenuhi dengan rasa sakit. Ia harus mensugesti diri bahwa ia baik-baik saja. Kakinya baik-baik saja. Tidak ada luka atau pun lecet. Benar. Langkah Lura semakin lebar dan cepat. Tidak ada rasa sakit yang dirasakannya. Bratra pun tersenyum puas. Setidaknya Lura baik-baik saja. Tadi, posisinya kembali di belakang Lura. Melihat Lura jatuh berulang kali, membuatnya mengantisipasi terhadap segala halangan yang melintang di jalan. Dan dirinya berhasil. Ia mampu menghindari akar atau pun batu yang ada di jalanan itu. Jalan itu hanya jalan kecil setapak. Tak begitu jelas permukaannya karena kabut benar-benar tebal. Kabut itu seakan muncul diiringi dengan amarah Mnium yang besar. Lura dan Bratra tersenyum senang kala melihat Funa dan Penna ada di depan mereka. Tidak jauh posisinya dari mereka saat ini. Namun, senyum merekah mereka berubah menjadi muka bersalah saat mereka juga melihat tidak hanya Funa dan Penna yang berada di sana. Ada orang lain. ‘Aku telah mengecewakannya. Aku telah menghancurkan nama baikku. Obsesiku ternyata membawa dampak buruk bagiku,’ gumam Lura dalam batin. Ia terus berlari. Hanya saja, semangatnya seakan meredup, merosot hingga titik terendah. Perasaan bersalah, mengecewakan menyelimuti hatinya. Saat ini ia masih dihadapkan dengan kakak tingkatnya itu. Bagaimana bila ia berhadapan dengan para dosen? Pasti tatapan mereka menunjukkan kekecewaan yang begitu besar. Lura menyadari bahwa ia pada akhirnya melakukan suatu hal yang salah. Ia salah karena mengagungkan obsesi. Ia bodoh karena mengagungkan nama baik dengan segala kecurangan yang ia lakukan. Ia bodoh. ‘BODOH!’ umpatnya. “Lura!! Kamu jangan lembek. Manusia itu sudah ada di belakang kamu!!” teriak Bratra kencang. Bratra kembali mendahului Lura saat ia melihat Lura yang tampak tak bersemangat. Hingga ia tak menyadari bila Mnium telah berada tepat di belakang Lura. Pria dewasa itu sudah hampir menarik tubuh Lura. Sayangnya tubuh Lura lebih cepat ditarik oleh laki-laki lain. Membuat Mnium mengamuk marah. Wajahnya memerah. Rahangnya mengetat. Dan netranya membola. “KALIAN PASTI AKAN MENDAPATKAN PEMBALASAN DARIKU!!” ucap Mnium marah sembari memukul-mukulkan tangannya ke udara. “TUNGGU SAJA!!” Matanya membola lebar. Hidungnya juga kembang kempis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN