Prolog
Namaku Diandra Ayla, lebih akrab disapa Ayla. Terkadang aku merasa, bahwa aku lebih banyak memiliki kekurangan dibandingkan teman-temanku yang lainnya. Aku tidak cantik seperti mereka, aku juga tidak pintar, dan aku pun bukan siswi yang populer disekolah. Aku hanyalah siswi biasa yang bersikap baik dengan siapa saja yang berada disekelilingku.
Saat itu, aku berdiri di depan cermin, aku melihat diriku disana, aku nampak baik-baik saja, bahkan aku bersyukur atas diriku saat ini. Namun pada suatu hari, perkataan mereka membuatku berpikir bahwa aku tidak bisa seperti ini terus.
Aku melihat mereka yang selalu jadi pusat perhatian, selalu diperhatikan oleh orang yang berada didekatnya, bahkan memiliki teman yang jauh lebih banyak dariku. Tentunya sangat berbeda denganku. Aku selalu diasingkan, selalu di nomor sekian, bahkan temanku hanya beberapa orang saja.
Aku tidak akan bertanya kenapa mereka bisa seperti itu, karena aku sudah tahu jawabannya adalah CANTIK !
Yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah, “Apa harus jadi cantik agar bisa diperhatikan?“
°°°°°
Pria dengan setelan seragam putih abu-abu, serta senyum yang mengembang lebar itu duduk di kursi panjang yang berada di koridor sekolah. Pria itu adalah Ken. Lengkapnya Kenzo Alfadito Gibran. Ia adalah salah satu siswa populer di sekolah. Tidak seperti anak populer lainnya, yang cenderung sombong dan pemilih dalam hal berteman, Ken justru baik hati, lembut, dan tidak membeda-bedakan teman, boleh dibilang dia setia kawan.
Walaupun Ken menjadi salah satu siswa populer yang banyak dikagumi oleh para gadis, tidak membuat pria itu enggan dan malu untuk berteman denganku. Bahkan, aku dan dia banyak menghabiskan waktu bersama. Mulai dari berangkat sekolah bersama, pulang bersama, makan bersama, duduk pun aku dan dia bersama, tapi, kalau urusan ke toilet, tentunya aku dan dia berbeda.
Mungkin kalian bertanya, “Apa yang membuat Ken menjadi salah satu siswa populer di sekolah?"
Aku akan memberi tahu kalian jawabannya. Pertama, Ken memiliki wajah yang tampan. Kedua, lesung pipi yang berada dikedua pipinya membuat pria itu semakin mempesona. Ketiga, Ken termasuk siswa yang pintar, ia sudah beberapa kali mengikuti olimpiade dan berhasil memenangkannya. Yang terakhir, tubuh tinggi dan berisi, yang dimiliki pria itu, membuatnya patut untuk dikategorikan sebagai pria idaman.
Jadi, kurang apa lagi Ken? Punya wajah tampan, tubuh ideal, baik, dan pintar. Mungkin yang kurang darinya hanyalah Kekasih.
“Ay, kok berangkat duluan sih?" Tanya Pria itu
“Hehe.. gak enak bareng kamu terus“ Jawabku dengan tertawa sambil duduk disebelah Ken.
“Santai aja“ Ucap Ken
“Pokoknya nanti pulang sekolah, kamu harus bareng aku“ Tambah pria itu
“Iya.. iya..“ Aku menganggukkan kepalaku seraya menurut
“Udah sarapan?“ Tanya Ken
“Udah, kamu?“ Tanyaku balik pada Ken
“Belum nih, mau temanin aku sarapan gak?“
“Gak enak sama cewek-cewek lain kalau aku temanin kamu sarapan“
Ken menarik napasnya panjang, lalu tersenyum padaku “Aku gak peduli sama mereka, aku maunya kamu temanin aku sarapan“ Ucapnya seraya mencolek hidungku
Tanpa aku sadari, kedua sudut bibirku mengembang. “Ayo“ Pria itu langsung menarik tanganku.
Aku melihat tanganku yang begitu erat dengannya, dia melakukan ini bukan untuk pertama kali, melainkan kesekian kalinya. Aku selalu merasa senang dan selalu merasa ada sesuatu yang berbeda saat kedua telapak tangan kami menempel dengan erat.
•••••
Pria itu membawa satu mangkok bakso dengan warna kuah yang berubah merah, aku yakin dia memakai banyak sambal dalam baksonya . Ia juga mengeluarkan satu s**u kotak dari dalam sakunya. “Nih minum“ Ucapnya memberikan s**u kotak itu padaku
“Terima kasih“
“Sama – sama“
Aku melihatnya sangat lahap menyantap bakso itu. Satu bakso berukuran besar, serta beberapa bakso kecil disekelilingnya yang ditambahkan sayuran, membuat bakso itu terlihat lezat.
“Mau gak?“
“Enggak“
“Yakin?“
“Iya yakin“
Ken mengambil satu bakso kecil dengan kuah disendoknya yang diarahkan padaku “Nih makan, buka mulut“ Ucapnya
Aku terdiam sejenak
“Nih, aaa.. pesawatnya mau masuk“ Ucapnya seraya menjadikan sendok sebagai pesawat
“Ayo aaaaa.. pesawatnya semakin dekat“ Tambahnya lagi semakin mendekatkan sendoknya pada mulutku
Aku membuka mulutku, membiarkan pesawat itu masuk. “Akhirnya pesawat masuk“ Ucap Ken tersenyum
Akhirnya aku merasakan betapa nikmatnya bakso itu. Ken seolah tahu isi hatiku yang ingin mencoba bakso miliknya. “Mau lagi gak?“ Tanya Ken
Aku menganggukkan kepalaku pelan
“Mau disuapin lagi?“ Tanya Ken lagi
Aku segera mengambil bakso miliknya dan ku makan sendiri “Gak usah , makan sendiri aja“
“Pelan – pelan makannya“ Ucapnya Ken dengan sedikit tertawa
Aku sadar, pada saat itu banyak sekali yang melihat ke arahku dan Ken, aku mencoba membiarkan mereka menghibahiku sesuka hatinya.
“Kok Ken mau ya sama Ayla, padahal Ayla biasa aja orangnya“ Bisik salah satu siswi
“Iya ya, mendingan juga kita, cantik, tinggi, pintar, gak kayak Ayla“ Sahut siswi lain
°°°°°
“Selamat pagi anak – anak“ Ucap Bu Silvi yang baru memasuki ruang kelas
“Pagi Bu ..“
“Silahkan masukkan buku kalian, dan sisahkan alat tulis di atas meja, hari ini kita ulangan“ Ucap Silvi seraya mengambil beberapa kertas dari dalam tasnya
Mataku terbelalak, mulutku hampir terbuka sempurna. “Mampus! Aku belum belajar“ Ucapku berbisik pada Ken , yang duduk disebelahku
“Santai, jangan panik, ada aku“ Sahut Ken dengan senyum yang selalu ia tunjukkan padaku
Lagi – lagi kedua sudut bibirku mengembang tanpa aku sadari. Entah ini nyata atau tidak, tapi selalu muncul di dalam benakku pertanyaan, “Mengapa Ken mau bersamaku? Padahal aku kalah jauh dari gadis lainnya“
“Waktu mengerjakan, enam puluh menit dari sekarang“ Ucap Bu Silvi
Sesekali aku melirik ke arah Ken, pria itu nampak tenang, seolah tidak ada kesusahan pada dirinya saat mengerjakan soal ulangan yang diberikan.
Aku hanya mampu mengerjakan beberapa soal yang aku pahami saja, selebihnya aku menunggu jawaban dari Ken.
“Nih ..“ Ken mendekatkan lembar jawabannya padaku
Aku sedikit terkejut, dalam waktu kurang dari 45 menit, dia bisa menyelesaikan soal itu dengan tenang.
“Tenang aja, gak semua aku contek kok“ Ucapku
“Udah cepetan tulis, nanti keburu waktunya habis“ Sahutnya
Dengan cepat, aku menulis beberapa jawaban dari Ken. Sengaja hanya beberapa yang aku tulis, agar nilainya tidak sama dengan pria yang duduk disebelahku
“Nih udah, makasih“ Ucapku memberikan lembar jawaban milik Ken
“Sama – sama“ Sahutnya dengan senyum
“Ulangan selesai, silahkan tinggalkan lembar jawaban di atas meja, kalian boleh keluar“ Ucap Bu Silvi
“Baik Bu ..“ Sahut seluruh murid kompak
Satu per satu para murid mulai meninggalkan ruang kelas. Begitupun dengan Aku dan Ken. “Mau ke belakang sekolah gak?“ Tanyaku
“Ayuk“ Tangan pria itu langsung menarik tanganku menuju belakang sekolah
Aku merasa sangat bersyukur memiliki Ken. Selama aku dan dia berteman, dia tidak pernah menolak atau pun berkata tidak padaku, ia selalu menurut dan mengikuti keinginanku.
“Kenapa sih kamu selalu ikutin kemauan aku?“ Tanyaku padanya saat kami berjalan menuju belakang sekolah
“Apa aku harus nolak? Aku ikutin apa yang aku suka, aku senang melakukan ini, dan yang terpenting, aku bersamamu“ Jawab Ken seraya menunjukan senyumnya padaku
Entah sengaja atau tidak, dia selalu tersenyum pada saat aku dan dia berbicara. Namun aku suka saat melihat senyum di bibirnya mengembang dengan lebar.
“Kenapa tempat ini selalu sepi ya?“ Aku melihat suasana belakang sekolah yang selalu sepi
“Karena tempat ini diciptakan khusus untuk kita“
“Oh iya, aku punya sesuatu untuk kamu“ Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
“Ini, namanya Poppo“ Pria itu memperkenalkanku pada sebuah gantungan tas berbentuk sapi yanh telah ia beri nama
“Buat aku?“
" Iya, simpan baik-baik ya“
Aku menganggukan kepalaku
Poppo. Nama yang lucu untuk seekor anak sapi, ya walaupun hanya gantung tas yang menyerupai anak sapi, tapi itu terlihat menggemaskan. Aku begitu senang dengan hadiah yang diberikan oleh Ken
“Kamu suka?“
“Suka banget, makasih Ken“
“Sama – sama“ Sahut Ken seraya mengacak-acak pucuk rambutku pelan