Chapter 3

831 Kata
Bakso, kuah, dan sambal, menyatu dengan hebat dalam satu adukan. Rasa lezat yang menyapa tenggorokan, membuat siapa saja yang menyantapnya seolah enggan untuk meninggalkannya. "Behhh, mantap.. " Ucap Ayana seraya mengacungkan dua ibu jarinya . "Ken, Lo gak ngumpul sama Warrior? " Tanya Ayana sambil menyantap bakso miliknya "Ngumpul sama Warrior mah gampang, yang penting lihat Ayla makan dulu" Jawab Ken sambil melirik ke arahku. Uhukk.. uhuk.. Aku merasa tersedak saat mendengar ucapan Ken. "Minum, minum.. " Ken memberikanku segelas es teh . "Pelan pelan makannya" Tambah Ken Ayana tersenyum padaku, ia pasti tahu betul bagaimana perlakuan Ken setiap hari padaku. " Ayla selalu jadi prioritas ya" Goda Ayana "Apaan sih Ayana.. " Ucapku malu-malu Ken menatapku lekat. Mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku menutup mataku saat wajah pria itu semakin dekat. "Kamu gak cemburu sama Dira kan?" Bisik Pria itu Aku membuka mataku perlahan. Aku pikir ia akan melakukan hal gila, ternyata itu hanya pikiran negatifku saja. Aku mendorong jauh wajahnya dengan pelan. "Gak cemburu kan?" Tanya Ken mengulang pertanyaannya Sebenarnya aku merasa kesal saat melihat perlakuan Dira tadi, tapi aku tidak bisa jujur pada Ken. Pria itu bisa besar kepala nanti. "Cemburu? Ya enggak lah" Ucapku berbohong "Yakin ?" "Iya lah" Ken menakupkan wajahku dengan telapak tangannya. Menatap kedua mataku tanpa berkedip. "Coba kamu bilang gak cemburu sambil lihat mata aku" Ucapnya dengan terus menatapku Lagi-lagi, pria itu membuatku seolah terkena serangan jantung mendadak. Aku memegang ujung rokku dengan kuat. Aku berharap ini adalah mimpi, karena aku pernah melihat scene seperti ini di serial drama yang pernah aku tonton. Aku pernah membayangkan menjadi tokoh utama dalam drama tersebut, tapi aku sadar, bahwa saat itu aku sedang berhalusinasi, namun sekarang, aku merasakan hal itu dengan nyata. "Gak cemburu kok" Aku mengedarkan pandanganku. Aku enggan untuk menatap pria itu, aku tidak bisa berbohong saat menatap kedua matanya. "Kalian tuh ya, bikin gue iri aja" Ucap Ayana Aku dan Ken melihat ke arah gadis itu. "Mangkanya kalau didekatin Karan jangan cuek" Ucap Ken padanya Ayana Ken melepaskan telapak tangannya dari wajahku dan bangkit dari duduknya. "Aku ngumpul sama Warrior dulu ya" Ken menggacak -ngacak rambutku pelan. Aku menganggukkan kepalaku pelan "Ayana duluan ya.. " Ucap Ken pada gadis yang duduk di depanku. Beberapa gadis yang berada di kantin sempat melihat perlakuan manis Ken padaku. Mereka saling berbisik, dan saling mengghibah satu sama lain. Namun, aku sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Jika ditanya sedih atau tidak? Jawabanku adalah sedih, aku merasa seperti gadis paling buruk diantara mereka. Walaupun aku tahu , yang membuat aku dan mereka berbeda adalah make up. "Ayla kira-kira pakai susuk merk apa ya bisa bikin Ken luluh gitu? " Bisik salah satu siswi "Dukunnya Ayla kuat tuh" Timpal siswi lain "Heran ya, kok ada sih, cowok keren, tampan, pintar, kayak Ken, bisa mau sama cewek yang biasa aja" Ucap Dira dengan keras. Seisi kantin melihat ke arahku, mereka semua tahu siapa gadis yang dimaksud oleh Dira. Aku hanya bisa diam dan menundukkan kepalaku saat aku mulai merasa dihakimi. "Iya ya, aneh, secara gitu kan, Ken itu salah satu dari Warrior" Tambah siswi lain, yang tidak lain adalah Indy, teman Dira . "Cewek biasa aja kok di dekatin" Timpal siswi lain Aku semakin merasa dipojokkan oleh omongan mereka. Aku tahu, Ken pintar, tampan, keren, dan juga bagian dari Warrior, tapi apa aku salah jika dekat dengannya?. "Kalau biasa saja sudah bisa menarik perhatian , kenapa harus jadi yang luar biasa? " Ucap Ayana dengan keras Aku melihat kearah gadis yang duduk didepanku. Gadis itu mengembangkan kedua sudut bibirnya sambil menaikkan alisnya. "Setiap orang punya sisi kelebihannya masing-masing, gak mungkin sama rata. Hidup ini ada minus dan plus" Tambah Ayana lagi Ayana membuatku takjub dengan ucapannya. Gadis itu membelaku di depan banyak orang. "Lo udah merasa cantik banget ya?" Tanya Ayana dengan sedikit ketus. "Iyalah gue cantik" Jawab Dira tak mau kalah "Yakin? Kalau cantik kenapa kalah sama gue pas pemilihan Puteri sekolah? " Ayana seolah tak ingin menghentikan ucapannya sampai disitu saja. Gadis itu berdiri, membuat seisi kantin melihat ke arahnya. "Susah sih ya, kalau punya sifat iri dari lahir, jadi kebawa terus sampai besar" Ucap Ayana dengan senyum yang terbentang dibibir berwarna pink Jlebbb! Ucapan Ayana terdengar ketus. Aku melihat wajah Dira dan teman-temannya tampak kesal dengan Ayana, namun mereka hanya diam. "Ayo Ay, kita balik ke kelas, disini banyak yang cantik wajah, tapi hatinya buruk" Ayana mengajakku keluar dari tempat yang suasananya sedikit memanas Mereka melihat kami yang perlahan berjalan keluar dari kantin. "Ayana the best" Teriak salah satu siswa memuji Ayana. "Wow, Ayana hebat" Tambah siswa lain Suara riuh tepuk tangan terdengar jelas di telingaku. Ayana menggandeng tanganku sampai kami keluar dari kantin Aku lupa menjelaskan, Ayana juga salah satu gadis yang dikagumi oleh beberapa siswa karena parasnya yang cantik, dan dia terpilih menjadi Puteri Sekolah mengalahkan beberapa siswi lainnya yang menjadi peserta pada saat itu. Termasuk mengalahkan Dira pada ajang tersebut. Ayana sama seperti Ken, tidak sombong, dan tidak memilih dalam berteman. Aku bersyukur memiliki mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN