Tamu tidak diundang

1048 Kata
Keesokan harinya, aku mendapati pintu kamar Nala terbuka lebar. Aku yang terkejut langsung masuk ke dalam kamar untuk memeriksanya. Ada yang berbeda dengan kamar itu, terlihat begitu berantakan dengan lemari pakaian terbuka. Tapi semua pakaiannya tidak ada. Begitu juga kopernya yang terletak di atas lemari juga tidak ada. Dengan panik aku mengedarkan pandangan ke sekitar dan mendapati sebuah laptop terbuka yang terletak di atas kasur yang berantakan. Laptop itu dalam kondisi sleep, segera aku menekannya. Siapa tahu aku menemukan sesuatu. Ketika aku menyalan laptop itu, terdapat sebuah tulisan yang terpampang di aplikasi Ms Word. [Enggak ada gunanya lagi aku berada disini. Papa sama sekali tidak memperdulikanku. Mama tiriku yang awalnya sangat menyayangiku ternyata diam-diam menikamku dari belakang. sekarang aku tahu alasan kenapa dia selalu memarahiku ketika kau berdekatan dengan Om Bram, ternyata dia menyukai Om Bram. dan melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya di lakukan. Apa masih pantas dia kupanggil mama tiriku? lebih baik aku pergi dari sini sejauh-jauhnya] Perih rasanya hatiku melihat tulisan itu. bagai diiris sampai sekecil-kecilnya. Netraku menghangat menyesali apa yang telah terjadi. Harus kuakui apa yang dia tulis itu benar adanya. Tidak ada yang salah sedikit pun. Aku memang mama yang egois. Yang lebih mengedapankan perasaan sendiri daripada perasaan anakku sendiri. sekarang lihat dia pergi, pernyesalan datang bertubi-tubi. Aku harus segera mencarinya. Iya, siapa tahu dia belum jauh dari sini. Tapi kalau sudah ketemu, apakah dia sudi untuk pulang bersamaku. Terbayang kata-katanya yang kasar gadis itu dan mencampakanku begitu saja. Ketika akan beranjak dari ranjang, aku tercenung sesaat dengan icon video di taskbar. Penasaran, aku segera mengeklik icon itu. Refleks aku menutup mulutku tatkala menyaksian sebuah video itu. adegannya yang sama persis dengan yang ditunjukan oleh Novian tempo hari. Rupanya Dia menyimpannya di dalam dvd, lalu memberikannya kepada Nala. Jadi inilah pemicu kenapa Nala pergi dari rumah. Dengan perasaan marah, aku melangkah menuju kamar Novian. Ingin kulabrak dia. berani-beraninya dia membuat keluargaku kacau balau. Amarahku sudah tidak terbendung lagi. Begitu sampai di sana, aku dibuat tercenung saat mendapati pintu kamar Novian terbuka lebar. Aku mengernyitkan dahi. Jangan-jangan, aku pun langsung mengecek di dalam kamar dan benar kamar itu sudah kosong melompong sekarang. Sial ternyata Novian juga kabur. apakah dia pergi bersama Nala? Aku meremas rambutku sendiri yang tertutup dengan kerudung dengan frustasi. Perasaanku benar-benar kacau balau. Aku tidak masalah kalau dia mau kabur dari kos ini. Yang menjadi masalah dia mengetahui tentang aibku dan rekamannya. Kira-kira apa yang bakal dia lakukan dengan video itu di luar sana. Aku berjalan ke dalam rumah dengan kepala nyut-nyutan. Ini jam pergi ke sekolah, tapi rasanya enggan sekali aku berangkat ke sekolah. Ingin rasanya aku libur saja hari itu untuk menenangkan diri. aku pun lanjut jalan ke dapur untuk mengambil minuman yang menyegarkan. Begitu akan sampai di dapur aku dengar Bik Yem sedang berbicara dengan seseorang melalui telfon. "Pak, aku kangen sama bapak. Datang ke sini ya kutunggu. Jangan khawatir sama Bu Maya. dia sebentar lagi pergi kerja kok. Jadi kita aman." ujarnya dengan sangat santai. "Oh, Ini yang katanya diperkosa! Tapi ternyata kamu yang kegatelan sendiri dengan laki-laki. Dasar Murahan." Hardikku yang membuatnya terkejut sampai menjatuhkan ponselnya. Aku hanya bersedekap sambil menaikkan daguku. "Bu Maya jangan munafik Bu. Bu Maya juga kan keganjenan sama anak kos baru itu. saya lihat lho Bu. Diam-diam ibu ke kamar dia." "Terus kenapa? Ini rumah-rumah saya. Itu juga kos an saya. Jadi terserah saya dong mau berbuat apa." "Tapi ibu kegatelan menyukai pria lain padahal ibu sudah punya suami." Lantam sekali mulutnya. "Lancang sekali mulutmu Babu! Sekarang lebih baik kamu pergi dari rumah ini sekarang!" "Saya akan mengadu kepada Tuan Benny." "Ngadu sana! saya enggak takut! Sekarang kemasi barang-barang kamu dan pergi dari sini." Dia pun melipir menuju kamarnya dengan tersungut-sungut. Lirikan wanita paruh baya itu tajam sekali seakan berkata sesuatu yang aku tidak tahu. dengan berkacak pinggang aku mengikutinya dan mengawasinya mengemasi barang-barangnya. Aku sama sekali tidak perduli dengan Mas Benny mau marah atau tidak. "Sekarang kamu pergi jauh-jauh dari rumah ini dan jangan kembali!" bentakku sambil menunjuk ke pintu utama. "Saya tidak terima ibu perlakukan seperti ini, saya akan balas. Awas saja." ujarnya baru kemudian berlalu di hadapanku. *** Sekarang aku sendiri di rumah ini. Tidak ada Nala maupun Bik Yem yang biasanya lalu lalang di rumah ini. Kejadiannya begitu cepat sekali dan memaksaku untuk terlarut dalam pernyesalan yang tidak berkesudahan. Ingin ku membicarakannya dengan Mas Benny. Tapi pasti yang kudapat adalah cercaan dan hinaan yang membuatku sakit hati. Ah sudahlah, biarlah nanti kalau dia pulang, dia akan terkejut sendiri kalau anaknya sudah pergi dari rumah. Tiba-tiba bell berbunyi, langsung aku memeriksa ke depan. ternyata Rendy, anak badung itu datang. aku memberi isyarat untuk mendekat. Karena pintu gerbang tidak dikunci, dia pun menggeser gerbangnya dan masuk ke dalam rumah. aku cukup terkesima dengan penampilannya, sangat berbeda ketika menggunakan pakaian sekolah. Sekarang terlihat lebih casual dan maskulin. Bisa di bilang perawakannya hampir sama dengan Bram di masa mudanya. "Selamat sore Bu." Sapanya yang menyentakku dari lamunan. "Selamat sore Rendy. Ayo masuk." Ajakku. Kami pun duduk di sofa ruang tamu. aku berusaha mengembalikan kewibawaanku di depannya. "Sekarang kita mulai belajarnya, saya akan membahas tentang materi soal ujian dan menjelaskannya lagi kepadamu" Jelasku yang memulai untuk mengajarinya. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum tengil yang membuatku agak risih. Memang, dia badboy kecil yang badung sekali. Setelah cukup lama menjelaskan, dia mengelus-elus tenggorokannya. Sepertinya dia haus. "Kamu haus? Mau ibu ambilin minum?" tawarku perhatian. "Iya, Bu. Saya haus sekali nih." Sahutnya dengan meringis seakan menandakan bahwa dia sangat haus. "Baik, kalau begitu tunggu sebentar." Aku pun beranjak ke dapur untuk membuat orange jus. Beberapa saat kemudian, aku sudah kembali dengan membawa minuman itu lalu aku menyodorkan kepadanya. "Ini silakan diminum." Entah sengaja atau tidak, Rendy menyenggol minuman itu dengan sikunya sehingga minuman itu tumpah dan membasahi bajuku. Seketika lekuk tubuhku yang hanya menggunakan kemeja itu nyemplak di hadapannya. "Maaf Bu, saya tidak sengaja.' "Kamu itu yang bener dong!" ujarku sewot. Aku pun beranjak ke kamar dan menutup pintu tanpa menguncinya. Lalu aku melepas bajuku sampai tidak menggunakan apapun lagi. Tapi di saat bersamaan pintu kamar terbuka. Terlihat Pak Joko dan Rendy di ambang pintu. Note: Tuh 'kan cuma dibaca aja, Vote dong supaya authornya semakin semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN