"Ngapain kalian ke sini?" bentakku yang menutupi sekujur tubuhku. Terlihat wajah mereka buas sekali seakan tidak sabar untuk melahapku.
"Saya 'kan kangen sama Bu Maya. Tadi saya sebenernya berangkat bareng dengan Rendy ke sini. Cuma Rendy kusuruh untuk melihat situasi apakah aman atau tidak. Sementara aku menunggu diluar. Ternyata rumah ibu sepi banget sehingga saya bisa masuk disini. hehe..."
"Keluar kalian atau ku telpon polisi." Ancamku. Mereka tidak takut dengan gertakanku malah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Aku berjalan mundur dengan menatap mereka bergantian. Kalau dilihat sekilas mereka seperti Bapak dan Anak yang sama-sama kelakuannya b***t.
Kini aku semakin terpojok. Pak joko langsung menarik tubuhku dan memeluknya dari belakang. dia menggesek-gesekkan k*********a tepat di pantatku yang semok.
"Bu Maya, tidak usah khawatir. Saya bawa Rendy. Meski masih muda, Dia juga pengalaman kalau soal memuaskan wanita. Iya 'kan Rendy.
"Iya Bu, saya janji akan memuaskan ibu." Tuturnya percaya diri. awalnya aku emosi dengan perkataannya yang sangat kurang ajar. Mungkin kalau Pria seusia atau di atasku, mungkin aku bisa menerimanya. Tetapi kalau lelaki yang umurnya jauh di bawahku. Itu sama saja dengan penghinaan. Karena setahuku anak seusia itu belum mampu untuk bermain dengan durasi yang lama.
Pak Joko semakin kuat menggeseknya sehingga membuatku terangsang. Dia lalu menarik tubuhku. Sampai ke ranjang. Dia duduk dan memangkuku dengan menciumi punggungku yang putih mulus. Tiba-tiba dia menarik kedua siku kakiku hingga pahaku terbuka lebar sehingga gumpalan indah itu terekspos.
"Ayo Rendy. Sekarang tunjukan kepada Bu Maya kehebatanmu." Titah Pak Joko. Rendy pun dengan sigap jongkok tepat di depan liang senggamaku. Dia melihatku sejenak dengan tatapan m***m, lalu menyerang liangku dengan gerakan tiba-tiba membuatku tersentak.
"Uh... enak sekali." gumamku keceplosan.
"Sudah kubilang 'kan Bu. Kalau Rendy itu kecil-kecil cabe rawit. Dia sudah banyak lho main dengan tante-tante." tutur Pak Joko di dekat telingaku.
Oh, iya? Jadi diam-diam Rendy itu adalah simpanan tante-tante. Pantes saja permainannya patut di acungi jempol. Itu bisa terlihat dari cara lidahnya bermain di liangku. Meski Bram tetap yang terbaik, tapi untuk ukuran remaja seperti dia, cukup baguslah. Batinku dalam hati.
Tidak berapa lama aku o*****e. Rendy menyedot cairan itu sampai habis. Ah pinter banget anak ini. Meski ulangan bahasa inggrisnya sangat jelek, tapi untuk ulangan memuaskan dia kukasih nilai sembilan puluh lah.
"Sekarang ibu nungguing di atas ranjang. Bu Maya sepong punyaku sementara Rendy akan menyodok dari belakang."
"Iya."desisku tanpa sadar. Sekarang aku bagai wanita yang binal yang menuruti siapapun yang akan memuaskanku.
Lalu, masing-masing dari kami mengambil posisi. Sebelumnya aku tidak pernah bersenggama dengan dengan dua lelaki seperti ini. aku seolah menemukan tantangan baru. walau awalnya aku menolak, tapi sekarang aku menikmati permainan mereka.
"Rasakan sodokanku Bu!" pekik Rendy dari belakang yang mulai menghentakku sampai aku membuka mulutku. Di saat bersamaan Pak Joko memasukan konaknya di dalam mulutku. Kini suara eranganku tersumbat oleh batangnya.
Rendy yang memegang tempo. Setiap sodokannya membuat tubuhku terayun, sehingga mulutku bisa maju mundur di batangnya Pak Joko. Sesekali, Rendy menampar p****t bulatku, seakan memintaku untuk ikut bergoyag. Tentu, aku tidak keberatan untuk menujukan goyanganku yang paling hot.
"Wah, ternyata Bu Maya pinter banget goyangnya."
"Nah 'kan sudah kubilang Ren, Bu Maya ini memang jago goyang. Aku saja sampe kuwalahan."
"Kalo gini, Rendy makin semangat untuk menghujam liang ibu." Ungkapnya sambil memegangi pantatku dan mempercepat tempo sodokannya. Bisa di bilang kejantanannya sama saja dengan milik anak-anak seusianya yang membedakan adalah Rendy lebih pengalamand dalam mengatur tempo, jadi dia bisa menjaga kekuatannya untuk bisa memuaskan pasangannya. Pantas saja kalau dia jadi simpanan tante-tante.
Tiba-tiba ketika sedang asik bersenggama, tiba-tiba pintu terbanting mengagetkan kami semua. terlihat Bram dengan mata nyalangnya melihat ke arah Pak Joko dan Rendy. Melihat hal itu, aku pun pura-pura teriak supaya kesannya saya diperkosa.
"Hmmm...hmmm..."pekik mulutku yang tersumbat. Baik Rendy dan Pak Joko begidik dan melepaskan rudalnya di kedua lubangku. Seketika Bram menghajar mereka satu persatu.
'Ampun Mas. Ampun." Pekik Rendy yang ke sakitan karene beberapa kali bogem mentah melayang di kepalanya. Sementara Pak Joko meringkuk lemas tatkala perutnya di hantam dengan sekali pukulan.
"Pergi kalian! Atau kubunuh kalian satu persatu!" bentakknya. Pasangan bapak dan anak c***l itu ketakutan dan beranjak pergi dari kamarku.
Bram menoleh ke arahku yang sudah terduduk dengan berbalut selimut sambil menangis air mata buaya.
"Siapa mereka Bu Maya?" Tanyanya penuh selidik.
"Mereka rekan kerja dan anak didikku Pak."
"Bu Maya kayaknya keenakan tadi threesome sama mereka." ujarnya dengann nada yang curiga.
"Enggak Pak, saya tidak suka dengan mereka. mereka tadi yang memperkosa Maya, Pak. huhuhuhu." Aku membenamkan wajahku di atas selimut. Untung aku sangat mudah menangis, sehingga aku bisa berakting seperti ini.
"f**k off!" dia berdecak kesal dan berlalu dari hadapanku. Gawat sepertinya Bram tidak pecaya denganku, dia menyangka aku menikmati persenggaman tadi. aku telah membuatnya kecewa.
Lantas aku yang masih berbalut selimut itu mengejarnya. Tapi langkahku tertahan di ruang tamu ketika melihat dia sudah keluar dari gerbang dan membantingnya dengan sangat keras. Mungkin sekarang dia pergi ke cafe.
Ya Ampun, aku sudah membuat Pria pujaanku kecewa. Harusnya kau menolak godaaan para lelaki buaya darat itu. Tapi emang aku yang gampang panas, sehingga tidak kuasa untuk menolak ajakan mereka.
Note:
aduh terus gimana ini kak kelanjutannya? review ya