"Bram." desahku sembari memegang d**a yang terasa sesak. Pria idamanku datang bersama tiga wanita sexy ke rumah. Sepertinya Bram sengaja ingin membakar hatiku, sebuah pembalasan telak atas pengkhianatanku tadi.
Lengan kanan Pria itu yang kekar itu tampak merangkul seorang wanita yang kutahu adalah Ayu. Sedangkan lengan lainnya merangkul kedua wanita asing yang tidak kalah sexy dari Ayu. Mereka yang dalam keadaan mabuk itu bercengkrama begitu riang, seolah sedang menertawakan diriku yang sedang berlelehan air mata.
Sekilas Bram melirik ke arah jendela sembari tersenyum miring, seakan dia tahu kalau aku sedang mengawasinya dari sini. Secara refleks aku membuang muka. Meski kacanya tidak bisa tembus dari luar. Tapi sorot matanya bagaikan belati yang menikam hati ini berkali-kali.
Mereka pun lanjut ke kamar kosnya Bram. Hati ini hancur, tapi entah kenapa aku ingin tahu sekali tentang apa yang akan mereka lakukan di atas sana. aku berjalan ke teras dan melongok dari samping. Terlihat ketiganya berjalan terhuyung-huyung menuju kamar. begitu mereka masuk, pintu pun ditutup rapat-rapat.
Dengan segera aku melangkah ke atas. Aneh, hatiku sangat sakit, tapi aku justru mendekati sumber sakit itu. Entahlah, aku belum bisa menerima kenyataan jika Bram bersama dengan wanita lain. tidak hanya satu bahkan sekarang tiga sekaligus.
Saat aku sampai di depan kamarnya, dia membuka jendelanya lebar-lebar. Seketika aku langsung menempelkan diri ke tembok. Terdengar ketiga wanita kecentilan itu berbicara dengan desahan manja, seolah ingin memancing-mancing Bram.
"Buka pakaian kalian, lalu berjejer di atas ranjang sambil nungging." titah Bram layaknya seorang Pangeran yang memerintah dayang-dayangnya. Para wanita yang kecentilan itu pun segera melepas baju mereka dan menuruti perintah sang Pangeran.
"Wah, montok-montok ya kalian?" ujar Bram yang b*******h. Para wanita manja itu membalasnya dengan desisan manja yang menjijikan. Terbayang ekspresi wajah mereka yang seperti orang hutan yang kepedesan.
"Goyangin p****t kalian." titah Bram lagi. Meski tanpa disuruh sekalipun, aku yakin ketiga wanita malam kegatelan itu sudah bergoyang dengan sangat erotis apalagi di hadapan Pria segagah Bram. Dasar wanita malam! Murahan! Rutukku dalam hati.
PLAK! PLAK!PLAK!
Suara tangan yang mengenai sesuatu yang sintal di iringi suara erangan ketiga wanita itu bergantia.
"Jangan malas dong Goyangin pantatnya! Masa harus di tampar dulu!"
"Ah, Iya Bram. kami suka ditampar Bram! kami suka di kasarin." Sahut Ayu di tengah desahannya yang membuatku ingin meludahinya saat itu juga.
"kalau begitu. Rasakan Nih!" seru Bram sambil melakukan tamparan ke bulatan indah itu berkali-kali diiringi suara desahan mereka yang seperti tersentak. Semakin b*******h mereka, semakin hancur lebur hati ini.
"Ayo p*****r murahan! Tunjukan kebinalan kalian hahaha!" Bram terkekeh nakal. Bram sekarang menjelma menjadi seekor serigala yang buas yang siap menyantap ketiga domba di depannya. Pesonanya yang memikat membuat semua wanita yang bertekuk lutut, bahkan tidak ragu untuk kehilangan harga dirinya. Wanita yang seharusnya di hormati dan di sayang harus takluk dengan keperkasaan yang dia tawarkan.
Jadi aku p*****r murahan? Aku bertanya dalam hati. di sisi lain, aku merasa begitu karena menyukai lelaki lain selain suamiku, tapi disisi lainnya yang lebih kuat. Bram adalah sosok suami baru yang membuatku merasa seperti wanita seutuhnya. Cara dia memperlakukanku berbeda dengan mereka para p*****r itu, bahkan dia menganggapku sebagai istri barunya, memperlakukanku dengan kelembutan dan kasih sayang.
Tapi apakah dia masih menganggapku sebagai istri barunya.
"Bram Ayo Bram! aku sudah enggak tahan!" kata seorang wanita yang lain.
"Enggak tahan apa, Yuanita?" tanya Bram yang cuek sambil terus menampar benda kenyal itu. Sebentar, Yuanita? Kayaknya nama itu tidak asing. Oh ya baru ingat, dia adalah yang tertera di barisan chat di ponsel Bram, saat aku mengeceknya malam itu di mobil. Ternyata, dia wanita gatal itu.
"Ah, enggak tahan buat di tusuk Bram." imbuhnya lagi.
"Bentar aku belum puas menampar p****t kalian yang montok ini, setelah ini kumasuki liang dubur kalian. Mau?" ujar Bram dengan suara barintonnnya.
"Mau Bram!" sahut mereka serempak. Memamng wanita jalang. Desisku.
Selang beberapa menit, terdengar suara becek yang sangat berisik. Agaknya Bram sedang mengobok-obok liang dubur mereka sebelum memasukinya. Tubuhku merinding seketika. seumur-umur aku pernah merasakan liang duburku di masuki. Pasti liang yang sempit itu akan sangat ke sakitan. Seperti apa yang di rasakan oleh ketiga p*****r itu saat ini. Mereka mendesah keras bahkan hampir berteriak saat Bram mengerjai dubur mereka, padahal itu masih menggunakan tangan belum dengan Rudal Bram yang raksasa.
Rintihan wanita silih berganti. Semakin keras rintihan mereka, semakin nakal Bram memainkan perannya. Bahkan suara terdengar keras sampai luar. Yang aku takutkan adalah ketika anak-anak kos mendengarnya dan beramai-ramai memergoki mereka!
"Ah, Kalian membuatku senang malam ini! aku sampai bisa lupa dengan wanita yang tidak tahu diri itu." ujarnya bagaikan pelecut kuda yang mencambuk hati ini.
Deg!
Wanita tidak tahu diri! apa yang dia maksud adalah aku. Duh Bram, Maafkan istri barumu itu yang terlalu mengumbar nafsu, maafkan istri barumu ini yang telah mengecewakanmu, mengkhianatimu. Tapi rasa ini hanya untukmu Bram, percayalah. Jangan siksa aku dengan persenggamaanmu dengan wanita lain! Jangan!
Ketakutanku akhirnya terjadi. Saking kerasnya teriakan Ayu itu, sampai membuat para anak kos bangun. Hal itu terlihat suara pintu mereka yang terbuka. Aku pun lantas turun ke tangga, supaya mereka tidak memergokiku juga, tapi aku berhenti di tengah-tengah tangga untuk mendengar apa yang terjadi.
Tok...Tok...Tok...!! suara pintu diketok secara keras. Terdengar suara erangan manja itu terhenti. Lalu tidak berapa lama, terdengar suara Bram yang cool.
"Iya, ada apa ini?"
"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu? kenapa ada suara cewek teriak-teriak?" sergah salah satu penghuni kosku yang kukenal sebagai Prasojo, seorang mahasiswa fakultas kedokteran.
"Oh, itu suara wanita bayaranku. Kenapa?" sahut Bram yang seperti menantang
"Kamu punya etika enggak sih? malam-malam begini bikin cewek teriak-teriak seperti itu! ganggu orang tidur saja." seloroh penghuni kos yang lain.
"Iya nih, lagipula kos ini kan dilarang bawa cewek!" timpal yang lain.
"Terus kalian mau apa?" Bram mulai melunjak tanpa rasa takut sama kali.
"Usir para wanita itu! atau kami adukan ke Bu kos dan warga perumahan ini untuk mengeroyokmu." Ancam Prasojo. Walau tubuhnya ceking, tapi nyalinya besar juga melawan Bram.
"Ok. Kalau itu mau kalian, tapi sebelum itu BUKKKK!" sebuah bogem tepat melayang ke salah satu penghuni kos sampai terdengar suara mengaduh. Agaknya Bram mulai menghajar mereka. Tubuh para penghuni kos yang rata-rata bertubuh sedang tidak sebanding dengan Bram yang berperawakan kekar. Tinggal menunggu beberapa saat saja membuat mereka babak belur.
Note:
Pengen up-nya cepet.
langsung saja ditambahkan ke rak, vote.