Dildo Raksasa

1078 Kata
Aku tidak mungkin tinggal diam saja melihat pertengkaran itu. Kalau sampai ada yang tahu, urusannya akan menjadi sangat panjang. Aku pun segera menaiki tangga dan kudapati tiga anak kuliahan itu sudah terkapar tidak berdaya, lantas aku segera melerai mereka. "Hentikan Bram!" seruku sambil menahan tubuh Bram. Bram yang masih emosi pun tidak sengaja menyikutku sampai aku terjatuh ke lantai. Pria itu lantas menoleh ke arahku dengan tatapan nanar. "Tolong hentikan Bram." lirihku sambil memegangi perut, bekas sikutannya. Bram hanya terdiam. pundaknya naik turun. tatapannya masih tajam ke arahku. "Lihat Bu! Mas Bram sedang berzina dengan tiga wanita itu! usir dia Bu!" kata Prasojo yang sudah babak belur tapi memiliki nyali yang besar itu. Bram menoleh ke arahnya, dan berancang-ancang memukulnya lagi. "Jangan!" seketika aku berhamburan untuk melindungi Prasojo sampai bogem mentah itu tepat mengenai punggungku. seketika aku langsung terjatuh, tapi para anak kos itu dengan sigap menangkapku. "Bu Maya tidak apa-apa?" tanya salah satu anak kosku. Untuk sekarang ketiga anak kosku itu aman dari hantaman pukulan Bram, karena mereka sedang memegangi tubuhku yang terkulai lemas. Sekilas aku melirik ke arah Bram. Sorot matanya tidak seperti tadi yang penuh amarah, justru sekarang dia seperti menyesal atas perbuatannya barusan. Apalagi melihatku yang merintih kesakitan. "Kamu memang keterlaluan!" ujar Prasojo yang tidak berhenti menyulut Emosi Bram. Diluar dugaan, dia hanya terdiam lalu dia beringsut ke ambang pintu dan berkata sesuatu kepada ketiga wanita yang ada di dalamnya. Tidak berapa lama, ketiga wanita itu sudah menggunakna pakaiaannya dan beranjak pergi dari kos itu. Di sela rintihanku, aku tersenyum. Rupanya Bram tidak mengedepankan egonya, dia lebih memilih mengalah supaya situasinya tidak runyam. Meski aku tahu kalau dia dalam keadaan mabuk berat, tapi dia sangat bisa mengontrol emosinya. Dengan susah payah aku berdiri meski agak membungkuk, ketiga anak kos itu terlihat khawatir. "Bu Maya, saya antar ke rumah sakit ya?" tukas anak kos yang lain. Mereka semua dalam kondisi babak belur tapi sempat-sempatnya mereka memperdulikanku. "Sudah enggak apa-apa. Saya baik-baik saja kok. lebih baik kalian masuk ke dalam kamar saja. besok 'kan kalian harus kuliah." "Tapi, Bu?" sela prasojo. "Sudah Pras, Masalah sudah selesai. Ketiga wanita itu pun juga pergi. Jangan diperpanjang lagi." Tuturku lembut keibuan. Mereka berdecak kesal . Sekilas, mereka melirik tajam ke arah Bram, sebelum masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Kini, hanya Bram yang mematung. Raut wajahnya memancarkan penyesalan yang dalam. Terlihat teduh sekali. "Bram." panggilku. Pria itu memalingkan wajahnya, tidak berani menatapku. "Maaf." Ujarnya singkat. Lalu masuk kembali ke kamar dan menguncinya. Aku hanya tersenyum kecut. Lalu menuruti tangga dengan tertatih. **" Lembar jawaban siswa sudah kukoreksi semua. Tinggal memberikan remidial (Ulangan lagi) kepada para siswa yang nilainya di bawah standar dan mengumpulnya di dalam satu kelas. Dari sekian banyak siswa yang ikut remidial, tidak kujumpai sosok Rendy. Padahal sudah bagus aku memberikan les tambahan kepada Rendy supaya bisa mendongkrak nilainya. Tapi, dia malah menyalah gunakannya dengan berkomplot untuk melecehkanku. Ingin aku mengadukan perbuatannya dengan Pak Joko yang amoral kemaren, supaya Rendy di keluarkan dari sekolah tapi sayang aku tidak memiliki bukti kuat. Untung saja tidak ada yang tahu tentang aibku ini. Dosa-dosa yang kulakukan tersamar dengan pakaianku yang tertutup. Ya setidaknya tidak ada rekan-rekan guru ataupun siswa yang tahu tentang aibku. Jadi untuk sementara aku bisa merasa aman. Meski, rasa was-was kadang menghampiri. Setelah remidial selesai, semua siswa pun pulang. Kini, hanya tinggal aku yang ada di dalam kelas untuk mengoreksi hasil kerja mereka. Ketika sedang asik mengoreksi, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri didepanku. Lantas aku mendongak dan kudapati sosok Rendy yang tersenyum miring. Dia langsung membekapku dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. *** Aku terbangun. Mataku mengerjap-erjap. Dengan kepala yang masih pusing, aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Aku berada di ruangan yang pengap dimana terdapat bangku-bangku yang sudah rusak dan buku-buku yang terikat rapi dengan debu di sekitarnya. Sepertinya ini adalah gudang sekolahan. "Dimana ini?" Aku terhenyak tatkala merasakan mulutku yang tersumpal oleh kain. kedua tanganku yang membentang terikat dengan rantai di kedua sisinya. Yang lebih membuatku terkejut, tubuhku yang tanpa menggunakan pakaian sehelai pun dan kaki yang terikat oleh rantai yang lebih besar. Aku berteriak meskipun teriakanku tertahan oleh gumpalan kain itu. Aduh, siapa yang melakukan hal biadap seperti ini? Tidak berselang lama pintu terbuka, terlihat Bapak dan anak itu masuk ke dalam ruangan itu. siapa lagi kalau bukan Rendy dan Pak Joko. "Hmmm...hmmmm...." teriakku sembari melotot ke arah mereka. bisa-bisanya mereka melakukanku layaknya binatang. Plak! "Itu hukuman buat kamu jalang! Karena kemaren kamu telah membuat kita babak belur di hajar oleh pria itu!" Bentak Pak Joko setelah melayangkan tamparan ke wajahku. "Bu Maya memang Munafik! Padahal kemarin dia juga menikmati bersetubuh dengan kita. Tapi ketika Pria itu masuk, Bu Maya Caper kalau sedang diperkosa." Timpal Rendy yang berada di sampingnya. Aku hanya menangis ketakutan. Tidak pernah terbayangkan dalam benakku mereka akan melakukan sesuatu diluar batas seperti ini. Mereka sakit hati atas tingkahku kemaren yang berpura-pura diperkosa di hadapan Bram, sehingga mereka menjadi babak belur. "Sebaiknya kita apakan dia Ren? Tanya Pak Joko." "Beri dia hukuman biar dia kapok, Pak." "Enaknya hukuman apa Ren?" "Sebentar Pak." Rendy sejenek merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah sebuah dildo bergerigi yang berukuran besar. ukurannya sangat tidak wajar, kira-kira sebesar tongkat baseball. "Ini Pak, kita masukan dildo ini ke dalam lubangnya supaya dia o*****e terus." "Hahaha. Ya sudah ayo lakukanlah!" Aku berusaha meronta. Tapi posisiku yang terikat membuatku tidak berdaya. Rendy mulai jongkok di depan liangku dan Tanpa basa-basi dia memasukannya benda raksasa itu ke dalam liangku itu. "Hrmmm...erhmmm..." erangku tertahan. Benda itu besar sekali sampai tertahan di bibir liangku. Rendy lantas menjauhkannya dan mulai memainkan liang senggamaku. "Uhhhh...hmmmm..." Rendy sangat lihai sekali memainkannya hingga aku merasakan liangku yang basah kuyup. Tidak berlama-lama lagi, dia pun mencoba memasukan dildo raksasa itu ke lubang yang elastis dan berair itu. Baru masuk saja, aku merasakan rasa nyeri yang luar biasa. Tubuhku bergetar. Air mata mulai bercucuran. Tapi itu tidak membuat Rendy iba, justru dia semakin memasukkannya. "HRMMMM..ERMMM..."jeritku yang kesakitam. "Hahahaha.. Mampus kamu l***e murahan! Ini hukuman yang pantas untuk kamu." Pak Joko tertawa puas melihatku menderita. Sementara, rasa sakit semakin menderaku tatkala benda itu sudah masuk lebih dalam. "Bu Maya siap-siap ya Bu." Ujar Rendy. Aku sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraannya. Tapi sesuatu yang lebih menyakitkan terjadi, Rendy menyalakan mesinnya sehingga dildo itu bergetar menimbulkan rasa nyeri yang teramat sangat. Note: Gimana pendapat kalian soal Bu Maya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN