Pak Joko langsung mencabut sumpalan kain di mulutku. Suaraku yang habis karena teriakan yang ketahan pun sekarang berubah menjadi serak.
"Rendy, hentikan rendy kumohon." Lirihku dengan suara parau. Sementara dildo makin mengganas memutar di dalam liangku, hingga tubuhku tersentak-sentak.
"Bu Maya, saya pentokin sampai rahim ibu, Boleh?" kata Rendy yang seolah tidak puas menyiksaku. Pak Joko hanya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Bagus rendy. Siksa dia tanpa ampun."
"Rendy, kumohon." Entah airmata ke berapa puluh kali yang jatuh, mengiba belas kasihannya. Tapi itu sama sekali tidak membangunkan rasa kemanusiannya.
"Kok enggak mau? bukannya ibu senang dimasukan seperti ini." ujarnya sambil memaju-mundurkan dildonya hingga membuatku kepayahan. Kurasakan cairanku mengalir di pahaku dengan derasnya. Tidak terhitung lagi berapa kali aku squirt.
"Banyak banget Bu Maya." Seru Rendy kegirangan. Aku hanya tertunduk lemas. Tenagaku sudah terkuras terhabis.
"Pasti kalau di pentokin, semakin banyak yang keluar." Gumamnya.
"Iya tunggu apa lagi Rendy! Ayo lakukan!" sahut Pak Joko mengompori.
"Siap Pak!"
Aku menggeleng-geleng pelan sambil memandang Rendy dengan pandangan iba. Tapi mau bagaimana lagi Iblis sudah terlanjur menguasai anak itu.
"ARRRRGGGHHHHHH!" aku mendongak sambil berteriak histeris. Rasanya seperti ribuan tombak yang menghujam kemaluan ini. Duh Gusti, Mungkin lebih baik mati daripada aku disiksa terus-terusan seperti ini.
"Pak Joko! Liang Bu Maya mengeluarkan darah Pak!" seru Rendy panik. Pak Joko yang semula tertawa penuh kemenangan berubah panik.
"Cabut sekarang Rendy!" perintah Pak Joko. Rendy pun mengangguk dan mencabut dildo yang sudah terlanjur masuk. Di saat yang bersamaan, cairan kental bercampur darah keluar deras dari liangku.
"Aduh bagaimana ini Pak? cairannya semakin banyak keluar."
"Sumpal pake kain ini Ren." Pak Joko memberikan kain yang digunakan untuk menyumpal mulutku kepada Rendy yang kemudian dia gunakan untuk menyumbat cairan yang keluar dari liang ke wanitaanku.
"Haduh sama saja Pak! darahnya tidak bisa berhenti." Kata Rendy. Terlihat kedua pria itu kebingungan melakukan apa.
Brak!!!
Pintu terbanting, dan masuklah Mas Udin tukang kebun sekolahan bersama dengan beberapa polisi. Mereka terhenyak melihat pemandangan yang tidak manusiawi di hadapannya. Lantas para polisi itu langsung meringkus Bapak dan Anak itu. sementara yang lain di bantu Mas Udin melepas ikatan yang membelengguku. Mas Udin tampak keluar sebentar untuk mencari kain panjang dan menyelimuti tubuhku. Mereka mengendong tubuhku keluar dari ruangan yang pengap itu.
***
Setelah memeriksaku, seorang dokter yang dibantu suster pun keluar dari ruangan itu dan berbicara dengan Mas Udin, sepertinya mereka membicarakan tentang keadaanku.
Dokter dan suster itu berlalu, Mas Udin lantas masuk untuk melihatku.
"Bu Maya baik-baik saja 'kan?" tanyanya dengan nada yang prihatin. Aku membalasnya dengan senyum tipis, mengisyarakatkan bahwa aku tidak apa-apa di luar, tapi sangat hancur di dalam.
"Saya turut prihatin dengan musibah yang menimpa Bu Maya. Memang Pak Joko dan Rendy itu keterlaluan, mereka memang binatang." Rutuknya yang semakin mengiris hati ini. Aku hanya tersenyum kecil meski tatapan mata ini kosong dan berair. Seketika air mata pun berlinang begitu deras.
"Bu Maya, jangan menangis. Aduh, apa perkataanku tadi ada yang menyinggungnya ya." Gumamnya polos. seharusnya aku tertawa melihat tingkah lucunya itu, tapu hati ini sudah terlanjur mati rasa.
"Bu Maya, mohon maaf saya harus pulang. Istri saya bawel di rumah. oh iya barang-barang ibu yang kutemukan di gudang tadi sudah ku taruh di sana." dia menunjuk ke atas nakas. "Saya pamit dulu ya Bu." Ucapnya sambil berlalu di hadapanku.
Kini tinggal aku sendiri. Tidak ada seorang pun yang sudi untuk menemaniku. Nala, Bik Yem, bahkan mas Benny sekalipun tidak akan peduli dengan keadaanku. Mereka sudah menjauh dariku.
Tatapan mataku tertuju ke langit-langit ruangan.seketika aku langsung memejamkan mata tatkala mengingat kejadian di gudang itu. Kejadian tidak terduga yang sulit untuk di percaya. Betapa rasa sakit hati membuat orang gelap mata untuk melakukan sesuatu di luar dari batas rasio.
Ini kesalahanku karena aku terlalu mengumbar nafsu yang brlebihan, sehingga wajar jika banyak buaya diluar sana yang senantiasa mengintaiku, menjerumuskanku ke lubang nista hanya demi hasrat sesaat.
Sekarang yang tersisa hanyalah rasa trauma. Rasa Trauma yang mungkin tidak akan hilang sampai kapanpun.
***
Sudah beberapa hari aku di rawat di rumah sakit. Liangku belum pulih dengan sempurna. Masih ada bekas robek akibat Dildo raksasa itu. Sesekali dokter datang untuk memeriksaku. Juga suster yang selalu datang tepat waktu untuk memberikanku makan dan meminum obat. Oh iya, akibat lubang pipisku yang rusak, dokter juga memasangkan tabung yang terhubung dengan dengan kantung kemih. Sungguh keadaanku itu sangat memprihatinkan.
Hanya televisi saja yang menemani kesepianku di ruang itu, meskipun acaranya sama sekali tidak menarik bagiku. Terlalu membosankan, sehingga aku beralih ke acara berita. Seketika aku terkesiap
Aku menutup wajahku sendiri. Rasanya malu sekali. Bagaimana tidak! Berita tentang diriku sekarang menjadi headline di beberapa berita.
Aku melihat gudang sekolah yang menjadi sorotan media. Tersangka Bapak dan anak yang biadap itu juga terekpos wajahnya. Hanya aku sebagai korban yang di sensor.
Kenapa beritanya cepat merebak? Padahal tidak ada wartawan atau polisi yang datang ke sini untuk sekedar mewawancaraiku walaupun sebenernya aku sama sekali tidak mau untuk di wawancarai . Mungkin Pihak kepolisian menimbang keadaanku yang belum pulih sehingga melarang wartawan untuk meliputku untuk beberapa hari ini.
Duh, Gusti. Kenapa harus berakhir seperti ini. apakah ini bentuk teguran darimu akibat perbuatanku yang melampaui batas? Aku mohon ampun. Aku tidak sanggup jika harus tertimpa cobaan seberat ini.
Aku menampar-nampar wajahku sendiri. Ini bukan mimpi! ini nyata!. Tangisku langsung meledak memenuhi isi ruangan itu. apakah Tuhan begitu benci denganku sampai menghukumku seperti ini? sampai aku tertimpa musibah berkali-kali.
Bram.
Pria yang selalu bisa menenangkanku dengan pelukannya yang hangat. Aku sangat membutuhkannya sekarang. Tapi itu hal yang sangat mustahil, mengingat Bram masih sangat kecewa denganku. Akibat aku yang terlalu mengumbar nafsu.
Tiba-tiba, seseorang masuk ke dalam ruangan itu. mataku berbinar saat melihat Pria perkasa itu berjalan mendekatiku.
"Bram!" pekikku. Raut wajah pria itu tanpa ekspresi. Sejurus kemudian dia sudah berdiri tepat di sampingku. Aku langsung membenamkan diriku di perutnya yang keras karena posisiku duduk waktu itu, memeluknya dengan sangat erat.
"Maafin aku Bram, aku telah mengecewakanmu. Aku sudah menjadi istri barumu yang tidak baik." Aku pun mendongak."Kamu maafin aku 'kan Bram sayang! kamu cinta sama aku 'kan?"
Tetapi dia tidak bergeming. Aku kembali membenamkan kepalaku di perutnya. "Bram maafin aku, aku sangat membutuhkanmu Bram, aku tidak sanggup menerima musibah ini Bram... hu..hu..hu..." ujarku mengadu kepadanya.