"Bu Maya!" seorang Suster mengoyang-goyangkan tubuhku hingga aku tergeragap.
"Ibu mengigau ya." tanyanya sambil tersenyum. Penuh perhatian. Perlakuannya sangat ramah membuatku merasa di 'manusia"kan saat aku menganggap semua orang seperti jijik denganku dan menjauhiku. Atau mungkin ruang yang aku tempati adalah kelas yang elit, sehingga Pelayan Prima di tunjukan oleh suster itu. Untung saja, aku masih punya cukup uang sehingga kupilih ruang yang terbaik di rumah sakit ini.
"Iya Mbak, Maaf." Jawabku kepada suster muda yang mungkin usianya sekitar dua puluhan. sambil mengelus-elus kepalaku yang terasa pusing. Jadi kedatangannya Bram tadi itu cuma khayalanku Cuma mimpi. Ya Ampun, segitunya aku rindu dengan Bram sampai dia merasuk dalam mimpiku.
"Bagaimana kondisi ibu? Apa sudah mendingan?" tanyanya. Ingin sekali ku jawab kalau luka yang ada di liangku itu memang berangsur sembuh, tapi luka batin ini masih mengangga lebar.
"Sudah agak mendingan Mbak. Sudah tidak terasa perih lagi." Jawabku sambil menampilkan wajah yang senormal mungkin.
"Ya sudah, sekarang ibu sarapan dulu ya Bu. Setelah itu minum obat biar cepat sembuh." Tukasnya lagi sambil membuka nampan yang berisi bubur dan buah pisang dua yang tertutup oleh plastik wrap.
"Makasih ya suster."
Lalu, suster itu dengan telaten menyuapiku. Seandainya yang menyuapiku adalah orang terdekatku pasti aku sangat senang sekali.
"Syukurlah makanan ibu sudah habis Bu. Berarti kondisi ibu memang sudah membaik. Sekarang waktunya minum obat ya, Bu." Dia meletakan mangkuk bekas bubur di atas nampan dan mengambil obatnya. Dia membantuku untuk meminumnya.
"Sudah ya Bu, kalau begitu saya permisi dulu." Tukasnya seraya beranjak dari ruanganku.
"Sus," panggilku lirih. tapi suster itu sudah menghilang dari balik pintu. aku mendesah lesu. Entah kenapa aku tidak rela kalau suster baik itu pergi. sekarang aku jadi kesepian lagi di ruang mewah ini.
Seandainya ada yang datang entah siapapun itu, aku pasti akan sangat senang sekali. Mungkin mereka sudah jijik denganku. Anak-anak kosku, para siswa, atau para guru sepertinya enggan untuk datang ke sini. Buktinya mereka sama sekali tidak menujukan batang hidungnya ke sini.
Ingin sekali aku mengabarkan orang tuaku yang ada di kampung. Tapi aku tidak mau membebani mereka dengan keadaan burukku ini. Biarlah kusimpan kesedihanku sendiri.
Pintu terbuka. Seorang Pria bertubuh tambun masuk ke dalam. seketika raut wajahku berubah cerah.
"Mas Benny! Kamu datang Mas!" pekikku kegirangan. Rupanya Mas Benny masih peduli denganku. tapi dahiku berkerut saat mendapati seorang wanita muda di bawahku yang sedang mengandung.
Secara mengejutkan Mas Benny melemparkan sebuah amplop tepat di wajahku dan sebuah bolpoint
"Apa ini Mas?" tanyaku keheranan. Tapi Pria itu hanya bersedekap sambil mengangguk kecil, seolah isyarat supaya aku membuka isi dari amplop itu.
"Surat izin menikah lagi! Kamu mau menikah lagi Mas?" pekikku penuh ketidakpercayaan
"Kalau iya kenapa? Sudah jangan drama. Tinggal tanda tangan saja susah amat." Tandasnya cuek tanpa memikirkan perasaanku.
"Kamu apa-apan sih Mas? Kurang apa aku sama kamu selama ini?
"Kamu masih tanya tentang apa kurangmu! Kamu pikir aku enggak tahu hal menjijikan apa yang terjadi denganmu hah!" ujarnya dengan suara meninggi.
"Tapi 'kan aku Cuma korban Mas?"
"Cuma korban katamu! Kau pikir aku tidak tahu kalau sebelumnya kamu telah melakukannya beberapa kali dengan b******n bernama joko itu! dasar kamu wanita murahan."
Netraku menghangat. Sekarang kehancuran demi kehancuran datang silih berganti kepadaku, akibat diriku yang terlalu mengumbar nafsu. Sekarang aku berada di titik tertinggi penyesalan atas perbuatanku itu.
"Tolong maafkan aku Mas. Tolong Beri aku kesempatan. Jangan menikah lagi ya." Aku bangkit dari tempat tidur dengan posisi terduduk sambil mendekatinya, tapi dia malah menjauh.
"Heh! Sudah bagus ya aku tidak menceraikanmu. Aku masih mempertahankanmu karena aku masih ingin menjaga nama baik aku. Supaya orang-orang di luar sana termasuk di kampungmu, menganggapku sebagai Pria dengan imej yang baik. Sudah jangan banyak omong, cepat tanda tangani surat itu.
Sekilas aku melirik ke arah wanita muda itu yang tersenyum sinis. sepertinya dia puas karena telah berhasil memporak-porandakan rumah tanggaku.
"Jadi, Mas selama ini jarang pulang, karena tinggal bersama w************n ini!" tandasku sambil menuding ke arah wanita itu.
"Kamu itu yang w************n! Mandul lagi! Makanya aku lebih memilih tinggal sama dia. lihat sekarang dia mengandung anakku. Sesuatu yang tidak bisa kamu berikan selama ini!"
Deg.
Aku mandul! Apakah benar aku mandul? Ah tidak mungkin, terakhir aku memeriksanya kesuburanku baik-baik saja. Tapi bisa saja pemeriksaan itu juga keliru dan perkataan Mas Benny Benar. Selama ini berapa banyak Pria yang menyetubuhiku tapi aku tidak ada tanda-tanda kehamilan. Jadi Mas Bram selama ini bersikap dingin kepadaku karena aku Mandul?
"Tapi, Mas! Kalau kamu menikah lagi bagaimana dengan Nala?" ujarku mencari alasan yang kuat.
"Persetan dengan anak badung itu. Dia lebih nurut ke kamu daripada aku. Jadi lebih baik kau saja yang merawatnya. Biar aku memulai kehidupan baru dengan istri baruku yang tercinta ini." jawabnya sambil merangkul wanita muda yang tengah mengandung itu.
"Tega kamu Mas. Asal kamu tahu Mas! Nala sekarang kabur dari rumah?" Lirihku sambil melirik tajam kearahnya. Tangisku sudah begitu tumpah ruah.
"Dengar ya, aku sama sekali tidak perduli. Mau Nala mati mau enggak bodo amat. Dia menjadi tanggung jawabmu sekarang!"
"Tapi Mas, Nala itu anak kandungmu! Bisa-bisanya kamu..." mulutku tertahan oleh cengkeraman tangannya dimulutku. Sementara tangan yang lainnya mendorong punggungku "Dasar l***e kebanyakan omong, ayo cepat tanda tangan sekarang!"
Dengan tangan yang gemetaran, aku menuliskan tanda tangan tepat di materai yang dibawahnya sudah ditulis namaku. Sudah tidak tergambar lagi betapa perihnya hatiku kala itu.
"Nah gini 'kan enak." Dia merebut kertas yang baru saja ku tanda tangani dengan sangat cepat. Lalu memasukannya ke dalam amplop.
"Udah dulu ya, aku mau bersenang-senang dengan istri baruku ini. Kamu betah-betahin saja di sini SAMPAI MATI KALAU BISA. HAHAHA." Dia merangkul istri barunya itu dan berjalan keluar dari ruangku.
Aku hanya terisak. Air mataku seolah sudah terkuras habis. Lebih baik aku dicerai daripada aku harus dimadu, tapi bagaimana dengan nasib Nala yang entah dimana sekarang rimbanya. Aku tidak mau membuat hidupnya yang sudah hancur menjadi tambah hancur.
Tapi bagaimana dengan diriku yang sudah hancur ini? apakah ada orang diluar sana yang perduli denganku? seharusnya aku sudah gila tertimpa dengan masalah bertubi-tubi. Tapi entah kenapa hati kecilku seolah berteriak lantang supaya aku tetap tegar.
Note:
kira-kira apa yang bakal terjadi dengan Maya dan Bram ya? apa mungkin cinta mereka bersatu?