Beberapa hari setelah aku dinyatakan sembuh.
Aku menyelesaikan tugas-tugas akhirku sebagai guru sebelum pengajuan resign. Iya, semenjak aku pulang dari rumah sakit, aku langsung mengajuan Resign kepada kepala sekolah. Permintaanku di kabulkan asalkan aku harus mengerjakan tugas-tugasku terakhir dulu. Jadi aku harus betah mendengar bisikan pedas dari pada rekan guru dan murid berhari-hari.
Imej-ku sebagai guru sudah kacau balau. Kejadian tragis kemarin yang seharusnya salah Pak Joko dan Rendy justru menjadi salahku. Menurut pandangan mereka, aku adalah wanita kecentilan sehingga mengundang hasrat para lelaki. Jadi akar permasalahannya ada di aku!
Jadi untuk apa aku bertahan di lingkungan yang membenciku? Lebih baik aku pergi dari sini dan memulai kehidupan baru.
"Ini Pak, semua berkas-berkas yang bapak minta, saya sudah membereskan kewajiban saya sebagai guru." ujarku sambil memberikan berkas-berkas itu kepada kepala sekolah.
"Akhirnya ibu mengundurkan diri juga. Walau kasus ini menyatakan Pak Joko dan Rendy yang bersalah, tapi ibulah sumber masalah sebenernya. Asal ibu tahu nama baik sekolah favorit ini tercoreng gara-gara ibu tau?" bentak kepala sekolah dengan tersungut-sungut. Aku hanya menghela nafas. Iya, aku harus diterima diperlakukan seperti ini. Untung saja ini hari terakhir sekolah, jadi aku tidak perlu mendengarkan ocehan pedas kepala sekolah bersama jajaran di bawahnya. Sangat memuakkan.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu Pak." sahutku singkat sambil meninggalkannya. Tidak menggubrisnya yang terdengar mengoceh tidak karuan.
***
Sebuah mobil online berhenti tepat di depan rumahku, aku lekas keluar dari mobil itu setelah membayar ongkosnya. Semenjak pulang ke rumah sakit, aku memilih menginap di hotel untuk menenangkan diri. Iya setidaknya beberapa hari saja sambil menyelesaikan kewajibanku sebagai guru sebelum resign.
Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Tapi aku mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu dan melangkah ke rumah.
Begitu sampai ke ambang pintu, aku terhenyak saat melihat Mas Benny bersama istri barunya di ruang tamu. Terlihat mereka sedang bermesraan. seketika darahku mendidih.
"Oh w************n sudah pulang!" ujarnya sambil bersandar santai di sofa. tangannya sengaja di rentangkan untuk sandaran wanita itu.
"Mas kenapa kamu bawa dia kemari?" tandasku sambil menujuk ke arahnya.
"Iya jelas 'kan kita sudah menikah resmi. Jadi enggak apa-apa dong kalau saya bawa dia ke sini." Sahutnya santai tanpa menganggap perasaaanku
"Enggak bisa gitu dong Mas. Ini rumah kita Mas. Aku dan kamu saja. aku tidak mau seatap dengannya. lebih baik dia pindah ke rumah lain."
"Kok kamu yang ngatur-ngatur? Ini rumah siapa? Rumah aku, keringat aku. Jerih payahku selama bertahun-tahun. Sementara kamu adalah perawan tua yang kupungut dari desa dan beruntung mendapatkan kemewahan ini! tapi kamunya tidak tahu diri, seperti p*****r yang bermain dengan banyak Pria." Cerocosnya yang membuatku diam sesaat . Meski diam-diam, hati ini berdarah-darah mendengar ucapannya. Siapa istri yang enggak sakit hati mendengar hinaan perawan tua dan p*****r dari suaminya sendiri.
Ketika akan menyahutinya, tiba-tiba datang seorang wanita paru baya yang membawa nampan berisi dua gelas jus dan meletakkannya di atas meja.
"Makasih ya Bik Yem." Ucap Mas Benny
"kenapa kamu ke sini?" tanyaku gusar.
"Saya 'kan bekerja untuk Pak Benny, bukan untuk ibu. Makanya ketika ibu mengusir saya. Saya langsung cepat-cepat telpon Pak Benny..." kata-katanya menggantung.
"Dan dia membeberkan semua kebejatan yang kamu lakukan termasuk dengan Pria penghuni kos yang baru itu." sambar Mas Benny menimpali.
"Mas. Kamu itu tidak tahu yang sebenernya kalau Bik Yem itu...."
"Membawa laki-laki ke rumah gitu? Iya wajarlah 'kan dia sudah janda. Selama dia bermain rapi. Saya rasa tidak masalah. Iya 'kan Bi?" tukasnya kepada Bik Yem. Wanita parubaya itu mengangguk. Jadi selama ini Mas Benny sudah tahu tentang kebusukan Bik Yem dan memakluminya. Majikan macam apa yang rela rumahnya diinjak-injak oleh hal buruk seperti itu.
"Yang jadi masalah itu kamu. sudah punya suami tapi masih gatel pengen selingkuh. Mungkin kamu pengen gara-gara lihat Bik Yem, Makanya kamu main gila dengan joko dan penghuhi kos baru itu, siapa dia namanya?" Mas Benny terlihat mengetuk-ketuk kepalanya.
"Bram." sahut Bik Yem.
"Iya, itulah pokoknya."
"Mas, aku begini gara-gara kamu jarang kasih aku nafkah batin Mas. Bertahun-tahun aku tetap setia dengan kamu meski kamu jauh diluar kota. Aku sangat tersiksa Mas. Tapi sekarang terbukti kalau kamu diluar kota itu sudah lebih dahulu selingkuh dengan w************n ini."
Mas Benny langsung berdiri dan beringsut mendekatiku. kedua tangannya mencengkeram pundakku dan membantingku ke tembok. Dengan tatapan nyalang dia menuding-nudingku,
"Kamu ingin tahu kenapa aku selingkuh hah? KARENA AKU BOSAN DENGAN KAMU!" katanya sambil menekan kalimat terakhirnya.
"Tapi, apa yang membuat Mas memilih w************n itu dibandingkan aku!" balasku.
Buk.buk.buk.
Mas Benny mengayunkan tubuhku hingga kepalaku belakangku kejedok tembok berkali-kali. Apalagi tubuhku tenagaku yang tidak sebanding dengannya, membuatnya makin mudah untuk mengayunkannya. Lalu dengan sangat kasar dia membantingku ke lantai hingga aku tersungkur.
"Sekali lagi kau sebut Naili wanita seperti itu! maka aku bisa melakukan lebih dari ini!" Ancamnya. Ternyata w************n itu bernama Naili. Wanita itu berdiri sambil menyedekapkan tangan. Pandangannya terlihat sangat arogan sekali. Sementara Bik Yem cekikikan melihatku diperlakukan seperti itu.
"Baik kalau begitu aku yang keluar dari rumah ini!" ujarku sambil beringsut ke kamar tapi ditahan oleh Mas Benny.
"Tidak usah repot-repot. Bik, Ayo ambilkan barang-barangnya sekarang." titahnya kepada Bik Yem. Wanita itu dengan sigap naik ke kamar. Tidak berapa lama dia turun sambil meneteng koper yang besar.
"Lempar koper itu kepadanya." Bik Yem pun dengan senang hati melempar koper itu begitu saja ke lantai tepat di hadapanku. Aku merasa sangat terhina sekali.
"Kalau kamu memaksa ingin pergi dari rumah ini pergilah. Lagipula kamu mau pergi kemana? Pulang ke kampung pun kamu akan menjadi bahan cemoohan warga di sana. Orang tuamu pasti sangat malu sekali. hehehe...." ujarnya santai tapi terkesan mengejek sekali. Perkataannya membuatku merenung sesaat.
"Jadi lebih baik, kamu tinggal di tempat yang telah kusediakan." Imbuhnya.
"Enggak, aku enggak mau." jawabku tegas.
"Oh, jadi kamu enggak mau ya? Ok kalau begitu aku akan sebar video kamu yang ada di laptopnya Nala."
Aku terhenyak. Rupanya Mas Benny sudah mengetahui tentang video itu dan menjadikannya alat untuk mengatur hidupku. Kini, aku tidak berkutik. Dengan terpaksa aku menuruti keinginannya.
"Sekarang bawa kopermu dan ikut aku sekarang." titahnya.
Aku pun terpaksa mengikutinya ke mobil. Entah kemana dia akan membawaku. Saat akan keluar dari pintu masuk perumahan, sekilas aku melihat Bram. Ingin sekali aku berhenti untuk bicara dengannya, tapi aku sadar kalau Mas Benny tidak akan mengizinkannya. Aku memperhatikan Bram lamat-lamat.
Ada sebuah mobil Mewah yang sedang mendekatinya, tidak berapa lama, keluarlah seseorang seperti supir yang menggunakan seragam rapi. Supir itu mendekati Bram dan memberikannya hormat. Lalu, dia membuka pintu belakang untuk mempersilakan Bram Masuk, sudah seperti Bos Besar saja. Sangat mengherankan sekali, sebenernya siapa sih Bram ini?