Bu Maya, Wanitaku (Tamat)

1214 Kata
Sekarang aku berada di dalam sebuah ruangan pribadi di Mansion itu. Ruangan itu sangat megah dan mewah. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagumku. Pemilik Mansion ini jelas orang yang sangat kaya raya. Mungkin selain bisnis hotel, dia juga memiliki bisnis-bisnis lain. Pria yang membawaku tadi menyuruhku untuk tinggal di dalamnya. Menunggu sampai Bosnya datang. Entah apa alasannya. Apa aku akan dijadikan sebagai pembantu atau gimana? Tapi justru di dalam ruangan pribadi itu ada pelayan Pribadi yang dengan sigap melayaniku. Aku benar-benar dalam kebingungan. Sampai tidak terasa dua bulan sudah aku berada di dalam mansion itu. Dalam kebingunganku, beberapa kali pria berbadan besar dan tampan datang ke dalam ruangan itu. Mereka seperti berusaha untuk menarik perhatianku. Tanpa ragu mereka terang-terangan memintaku untuk melayani mereka. Tapi tunggu dulu, kenapa pria-pria itu diizinkan untuk masuk ke ruangan ini? apa memang tugasku disini untuk melayani mereka? Meskipun aku sangat berhasrat sekali, aku tetap dalam pendirianku. Suamiku Mas Benny, baru saja meninggal dan aku masih dalam masa berkabung. Jadi tidak sepantasnya aku langsung menerima laki-laki meski mereka adalah kriteriaku. Aku masih punya Nala, anak gadisku yang paling aku sayangi. Oh, iya bagaimana kabarnya sekarang? apakah dia masih terbaring lemah di rumah sakit atau sudah sembuh? aku benar-benar sangat merindukannya. Ingin sekali aku menjenguknya ke rumah sakit, Tapi peraturat ketat disini bahwa aku tidak boleh keluar dari rumah ini sampai waktu yang tidak ditentukan. Sementara wajah dari bos besar itu juga masih menjadi misteri. selama aku tinggal di dalam mansion itu, aku tidak mendapati foto dari sang Bos tersebut. Bahkan foto keluarga pun tidak ada. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukan tentang identitas dari pemilik mansion mewah ini. Di dalam benakku, pastilah dia sudah tua, botak beruban, dengan perut buncit. Tidak menarik lagi. Tapi untung saja, aku tidak disuruh menikah dengannya. "Permisi Bu Maya," ucap seorang Pria yang menemui di rumah sakit tempo hari. Dia menggunakan pakaian serba hitam sebagai ciri khasnya. "Pak, bagaimana? Apa saya sudah boleh bebas dari tempat ini?" "Maaf, Ibu tidak diizinkan untuk pergi dari sini. Karena Bos saya mau menikahi dengan ibu." Aku terhenyak mendengar perkataannya itu. Menikah? Bertemu saja aku tidak pernah. Apa alasan sang Bos itu mau menikahiku? "Menikah Pak? tapi 'kan..." "Bos saya sudah memutuskan sebagai ganti atas uang yang telah digelapkan oleh almarhum suami ibu. Maka ibu harus mau menikah dengan Bos saya." *** Lelehan air mata mengalir di pipiku tatkala wajahku sedang dirias. Bagaimana tidak, aku dipaksa menikah dengan orang yang tidak dikenal. Meskipun dia orang kaya, tapi itu bukan segalanya. Yang penting bagiku adalah sebuah kecocokan. "Haduh ibu, jangan nangis terus dong Bu. Masa mau menikah dengan Bos Prakarsa sedih. Dia kan salah satu orang terkaya di negeri ini." ujar penata Rias yang ngondek itu. "Bos Prakasa memangnya orangnya seperti apa kalau boleh tahu?" tanyaku penasaran. "Enggak tahu juga sih, Mungkin orangnya sudah tua kali." selorohnya yang membuatku semakin sesegukan. "Sudah Bu, jangan menangis lagi. Nanti ajudannya datang. ibu yang dimarahin." Ujarnya lagi. Seketika aku segera menghapus air mataku dengan cepat. Iya, aku harus bisa menerima kenyataan ini. Ruangan pribadi itu sudah dirias dengan sangat cantik dan menawan. Begitupun kamar pengantin tempat aku dan pria itu beradu kasih nanti malam. Acara pernikahan sudah berlangsung, tapi aku sama sekali tidak diizinkan untuk keluar dari ruangan ini. Padahal sebagai mempelai Pria harusnya aku berada di samping suamiku sekarang, tapi anehnya aku malah dikurung disini. Dengan menggunakan gaun pengantin, aku berjalan mondar-mandir di ruang tamu. entah kenapa perasaanku gelisah sekali. sesekali pandanganku tertuju ke pintu besi setinggi tiga meter itu. Jantungku berdegup kencang menanti kedatangan suamiku yang belum jelas wajahnya itu. Dan benar saja, pintu itu terbuka. Cepat-cepat aku melangkah ke kamar. Aku duduk di pinggir ranjang dan bersikap setenang mungkin. Iya, hanya itu yang bisa aku lakukan. Terdengar suara sepatu fantovel yang menapak di lantai, pertanda orang itu akan datang. Aku memejamkan mataku dan berusaha menahan debaran di d**a ini sampai suara sepatu itu semakin mendekat. "Selamat malam." sapa seseorang dengan suara yang sedikit serak. seketika aku menoleh. Terlihat Pria bertubuh tambun, berkepala bagian atas yang plontos, dan rambut beruban di bagian belakang, tengah berdiri di dekatku dengan senyum mengembang. Aku lantas beranjak untuk menyalaminya. "Selamat malam Pak." "Perkenalkan Nama saya Bambang Prakasa. Ternyata kamu sangat cantik sekali ya, Pantas saja anak semata wayangku ngotot untuk menikah denganmu." Sebentar. Anaknya? jadi dia bukan suamiku, melainkan mertuaku, terus mana suamiku? Batinku bertanya-tanya. Belum sirna rasa penasaranku, tiba-tiba seorang Pria berbadan tegap masuk ke dalam ruangan itu. dia terlihat gagah dengan kemeja warna putih dan dipadu dengan jas warna biru dongker. Wajahnya tampannya sangat bersih dan terawat sehingga tidak jemu mata ini untuk memandangnya. Dia tampak tersenyum manis kepadaku. "Bram, kau kah itu?" aku berkata lirih. Iya, Pria itu adalah Bram. orang yang selama ini aku kagumi sekaligus aku cintai. "Hay Bu Maya, apa kabar?" dia tertawa cekikikan, sepertinya dia menertawakan wajahku yang seperti orang bego. "Bu Maya, saya punya kejutan buat ibu." tukasnya. lalu seorang gadis cantik dengan menggenakan gaun warna pink masuk ke dalam kamar. seketika aku membekap mulutku tidak percaya. "Nala!" gadis itu berhamburan memelukku. "Nala kamu sudah sehat sayang. Mama senang sekali." pekikku sembari memeluknya erat. "Om Bram yang selama ini merawat Nala sampai sembuh Ma. Lalu dia membawa Nala tinggal disini." jelasnya. Oh jadi selama ini Nala tinggal di mansion yang sama denganku tapi beda ruangan. Ini benar-benar kejutan. Nala melepas pelukannya, "Sekarang Nala manggilnya bukan Om Bram lagi. Tapi Papa Bram." telingaku rasanya tergelitik mendengar sebutan itu. Papa Bram? aku tersenyum-senyum sendiri. "Nala, ayo kita makan pancake yuk, kamu suka pancake 'kan?" ajak Pak Bambang. "Asyik yuk kek!" Sahut Nala antusias. Lalu mereka berdua keluar dari ruangan itu. Sepertinya mereka sengaja membiarkan kami berdua. Kini aku terjebak dengan rasa kikukku terhadap Bram. Pria yang kukagumi sekaligus yang paling aku rindukan itu sekarang berada di hadapanku. "Kamu ingin berbicara sesuatu Bu Maya?" ujarnya dengan menekan kata terakhirnya. "Kamu selama ini menyamar? Kenapa kamu ngekos ditempatku padahal kamu adalah orang paling kaya raya?" Dia bergerak duduk ditepi ranjang. Sementara aku masih berdiri sambil menunggu jawabannya. "Aku suka denganmu makanya aku ngekos ditempatmu untuk mengenalmu lebih dekat." Seketika wajahku merona. Aku mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan rona wajah ini. "Dan sekarang aku sangat mencintaimu karena perubahan yang ada di dalam dirimu." Kini aku mengernyit dahi. Apa maksudnya. "Yang tidak kamu tahu, kalau selama ini aku mengetesmu. Kamu masih ingat Rizal? dia adalah orang yang kusewa untuk menggodamu. tidak hanya dia tapi beberapa Pria yang sengaja kukirim di mansion ini. Dan ternyata kamu bukan Bu Maya yang dulu. Bu Maya yang sekarang sungguh jauh lebih bermartabat." jelasnya. "Ih, Bram! kamu kok tega sekali sih!" tangan mungilku memukul-mukul dadanya yang keras, walaupun mungkin itu Cuma berefek geli padanya. Lalu aku bersedekap sambil membuang muka yang manyun. "Bukan Bram namanya enggak Tega, Kasar dan beringas." tandasnya dengan suara barintonnya. Lalu secara tiba-tiba dia mengangkat tubuhku yang ramping ke aras meja rias. Membalikkan badanku sehingga kami saling berhadapan. "Sekarang kita lihat apakah Bu Maya bisa tahan dengan godaanku!" ujarnya dengan sorot mata yang menantang. "Ah, Bram pekikku." Saat dia mulai mencumbuiku dengan sangat kasar tapi aku suka. Ketika dia mau melepas celananya, terlebih dahulu Dia mengeluarkan sebuah dildo. Dildo yang sama yang tergantung di gerbang rumah Mas Benny saat kebakaran berlangsung. Tamat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN