Hutang 1 Milyar

1024 Kata
Aku terisak di sisi Nala yang terbaring di brangkar rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa kondisi Nala semakin memburuk karena kepalanya yang terbentur lantai dengan sangat keras sehingga membuat tubuh bagian kanannya juga lumpuh. Itu artinya dia lumpuh total sekarang! Duh Gusti, kasihan sekali Nala. Seandainya aku tidak tergiur dengan tawaran palsu Rizal, tentu aku bisa menjaga Nala, sehingga musibah ini tidak sampai terjadi. Tapi apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Tiba-tiba seorang suster datang menghampiriku. "Permisi Bu, Ibu harus membayar biaya administrasi di kasir ya." "Biayanya kira-kira berapa ya Sus?" "Maaf, saya kurang tahu ibu. Silakan ibu datang ke kasir sekarang ya." Dia membalikkan badan untuk keluar dari rumah sakit. Dengan perasaan was-was, aku pun mendatangi kasir. Ikut mengantri di barisan antrian. Aku merogoh dompet dari tasku dan membukanya. Terlihat uang dua ribuan dan lima ribuan yang lusuh terikat dengan karet, jerih payahku hasil menjahit selama ini. Kini tiba giliranku, Kasir itu menanyakan nama pasien beserta ruang dimana dia dirawat. "Nala, ruang cempaka putih." Jawabku dengan bibir gemetar. "Sebentar ya, Bu." Dia mulai memeriksa layar komputernya. Aku berharap semoga biayanya tidak terlalu mahal. "Totalnya empat puluh juta,Bu." "Ha?" Dengan gugup aku mengeluarkan beberapa gepok uang lusuh tadi di meja kasir."Ini Mbak." "Maaf ibu, ini jumlahnya tidak cukup." Tukasnya. "Enggak kok Mbak, ini jumlahnya pas kok mbak. Coba dihitung saja." aku mendorong uang itu ke arahnya. aku tersenyum tapi air mataku menggenang. "Maaf ya Bu, uang segitu tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan anak ibu. Masih kurang banyak Bu." Tandas petugas kasir itu yang mulai jengah dengan sikapku. "Mbak, tolong Saya ingin anak saya cepet sembuh." aku memohon-mohon kepadanya karena saking aku tidak mempunyai jalan lain. aku benar-benar sudah frustasi. "Antrian, sudah panjang Bu. Lebih baik ibu cari uangnya dulu, lalu ke sini lagi. Jangan merusak ketertiban di rumah sakit ini." ucapnya tegas. Aku yang terisak pun mengambil uang gepokan itu dan segera menggeser dari antrian. Tidak ada jalan lain selain meminta kepada Mas Benny. Meski kecil kemungkinan dia untuk memberi. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba 'kan? Beberapa kali aku menghubungi nomernya tapi tidak aktif. Aku pun memutuskan untuk pergi ke rumah. Mungkin dia mau berbelas hati dengan Nala. Aku Membuang segala egoku demi mendapatkan setidaknya pinjaman uang. Atau apapun itu akan aku lakukan. Yang terpenting sekarang adalah Kesehatan Nala. Saat aku memasuki gang ke arah rumah Mas Benny. Aku terhenyak tatkala melihat kobaran api yang menyala begitu besar dan membakar sebuah rumah. Terlihat pemadam kebakaran sudah berkumpul di sana untuk memadamkan apinya. Aku pun membelah kerumunan warga yang memenuhi jalan untuk memastikan rumah siapa itu. Aku membekap mulutku dengan mata yang melotot. Ternyata rumah yang terbakar itu adalah Rumah Mas Benny. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku adalah, ada sebuah dildo yang tergantung tepat digerbang rumahku. Mungkin semua orang tidak memperdulikan benda itu dan hanya terfokus dengan kebakaran itu. "Syukurlah bu Maya selamat!" seru ibu Monik. Teman arisanku yang rumahnya bersebelahan dengan rumah ini. seketika semua orang mengalihkan pandangan ke arahku "Iya, Bu soalnya saya baru saja pulang kampung." Sahutku berbohong. "Bu Maya yang sabar ya Bu. Pak Benny, istri barunya, dan pembantunya terjebak di dalam rumah Bu. Nyawa mereka tidak bisa tertolong." Seloroh salah seorang warga."Cuma anak-anak kos yang selamat karena pas kejadian mereka sedang kuliah. Itu mereka." Dia menunjuk ke arah anak-anak kosku yang berdiri di sudut jauh menatap nanar ke arah kebakaran itu. Kemudian warga lainnya menimpali bahwa kebakaran di rumah itu disebabkan oleh tabung elpiji yang meledak. Karena terdengar suaranya yang terdengar sangat jelas. Aku ingat ada sekitar lima tabung elpiJi berukuran besar di rumah, Jadi bisa dibayangkan kalau semuanya meledak bersamaaan? Tak ayal api langsung merambat sehingga mengurung manusia-manusia yang ada di dalamnya. seolah tidak memberi kesempatan mereka untuk keluar dari kobaran api itu. Tapi walaupun begitu, aku merasa ada sesuatu yang hilang dari diriku. "Mas Benny enggak Mungkin meninggal Pak. Enggak Mungkin." Aku meremas hijabku sendiri. tidak percaya dengan kejadian ini. beberapa ibu-ibu langsung mendekapku dan mencoba menenangkanku. *** Kini, aku terdiam di bangku yang terletak di taman rumah sakit. tatapan mataku sayu dan kosong. Masih tidak percaya dengan apa yang menimpa Mas Benny. Meskipun dia sering berbuat jahat kepadaku tapi entah kenapa aku merasa sangat kehilangan. Ketika sedang asik melamun, tiba-tiba aku dikagetkan dengan kedatangan seorang Pria dengan stelan baju dan jas yang serba hitam, sudah seperti mafia saja. "Apa benar ini dengan saudara Ibu Maya, istri dari Pak Benny GM hotel perkasa?" ucapnya. Aku segara bangkit dari tempat dudukku. Dan memandangi wajahnya lamat-lamat "Iya, saya sendiri. Apa ada yang saya bisa bantu Pak?" tanyaku penasaran. Lalu dia memberikan sebuah map. Lantas, aku membuka isi map itu dan membacanya. "Saya mau menginformasikan bahwa almarhum Pak Benny telah menggelapkan uang perusahan sebesar 1 milyar. Jadi kami meminta kepada ibu sebagai istrinya untuk menggantikannya." "Apa Pak? 1 milyar?" bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Rasanya tubuhku melemas sehingga tidak kuat untuk menopang tubuhku. "Bu Maya enggak apa-apa?" ujarnya yang secara refleks menangkap tubuhku dan membimbingku untuk duduk di kursi taman. "Pak, saya tidak punya uang sebanyak itu Pak." lirihku yang tidak berdaya. "Maaf Bu, kami disini hanya menginformasikan tentang hutang bapak Benny semasa hidup. dan ibu sebagai ahli waris harus menggantinya dengan nominal yang sama. kalau tidak maka kami akan menempuh jalur hukum." Tandasnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sangat syok sekali waktu itu. "Pak, tolong bilang kepada Pemilik dari hotel dimana Almarhum suami saya bekerja. tolong bilang kepadanya, Apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini." "Baik Bu. Tunggu sebentar. Biar saya bicarakan dengan bos saya dulu." Dia pun bergerak menjauh untuk mengangkat telefon. Sejenak terjadi percakapan antara dia dan seseorang di seberang sana. "Saya sudah bicara dengan Bos saya, Bu. Dia bilang ibu harus tinggal di mansion milik Bos." "Tapi, bagaimana dengan anak saya Pak." "Soal anak ibu, biar kami yang mengurusnya. Kami yang menjamin bahwa anak ibu-ibu baik-baik saja selama ibu di mansion." Jelasnya. "Terus saya ngapain Pak ke sana?" tanyaku yang polos. "Saya kurang tahu Bu. Yang terpenting sekarang, mari saya antar ke mansion dulu. Soalnya Bos saya sudah menunggu di sana."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN