"Selamat datang, Mbak Maya." sambut Rizal dengan hanya menggunakan pakaian kimono saja. Mataku tertuju ke bulu tipis yang memenuhi dadanya yang lumayan bidang. Balutan kimono juga memperlihatkan kakinya yang tampak berotot.
"Kok bengong Mbak?"
Aku tersentak dari lamunanku. Bisa dibilang Pria di depanku atletis dengan otot yang tidak terlalu besar. Tapi cukup membuat debaran kencang di dalam d**a ini.
"Eh, Iya. Maaf Pak, Eh Mas." Ucapku tergagap. Aku menghela nafas sejenak. berusaha mengontrol diriku sendiri.
"Silakan duduk." Pintanya.
Aku pun beringsut duduk bersamaan dengannya. Tapi Pria itu terlihat mengendurkan tali handuk kimono itu sehingga sekilas aku tidak sengaja aku melihat pakaian dalamnya yang berwarna hitam. Tapi Pria itu sama sekali tidak merasa risih dalam kondisi setengah telanjang di depan seorang wanita sepertiku.
"Ini Mas pola desain yang sudah saya persiapkan untuk seragam rumah sakit yang sebelah kanan laki-laki dan sebelah kiri perempuan. Apakah sudah sesuai dengan keinginan Mas? " Aku menyerahkan kedua kertas yang sudah berisi pola desain seragam. Sebenernya jauh-jauh hari aku sudah sering mengambar berbagai macam seragam instansi termasuk rumah sakit. sehingga kalau ada orang yang memesan tinggal ditunjukan saja.
Rizal tampak bersandar di sofa sambil melihat kedua gambar itu. dia menekuk kaki kanannya di atas kaki kiri celana dalam yang berwarna hitam itu kembali terekspos. Entah sengaja atau tidak hal itu membuatku Grrr.
"Mohon maaf sebelumnya Mas, apa enggak sebaiknya Mas ganti baju dulu. Takutnya masuk angin nanti kalau pake handuk seperti itu." ujarku sok polos dan berusaha menghilangkan rasa kikuk. Sejenak dia melirik ke arahku sambil menaikan alisnya sebelah.
"Memangnya kenapa Mbak?'
"Enggak apa-apa Mas, Enggak nyaman saja dilihatnya." Ujarku langsung ke intinya.
"Oh, Maaf kalau begitu. Saya ganti baju dulu ya Mbak." Dia bangkit dari tempat duduknya dan meletakan kedua kertas tadi di meja. Dia langsung berjalan menuju kamarnya.
Aku bisa bernafas lega. Setidaknya dengan begini bisa meminimalisir hasratku. Sudah lima bulan semenjak aku keluar dari rumah sakit, aku sama sekali tidak disentuh oleh Pria. Dan sekarang Rizal hadir di hidupku, mencoba menarik perhatianku.
"Aduh sakit!"
Tiba-tiba terdengar teriakan Rizal dari dalam, aku pun beranjak dari sofa dan berlari menuju sumber suara. Terlihat Rizal yang terduduk dilantai sambil memeganggi kakinya kesakitan. handuk kimono itu terlepas dari tubuhnya.
"Mas Rizal kenapa?"
"Tolong Mbak! Kaki saya tiba-tiba sakit!" pekiknya aku lantas jongkok di dekatnya. Pria itu menujukan kakinya yang terasa sakit.
"Saya panggil ambulan saja ya Mas?" kataku panik. Tapi Pria itu menggeleng.
"Tolong, pijat kakiku Mbak."
"Tapi aku tidak bisa mijit Mas?"
"dicoba dulu saja Mbak." Pintanya sambil terus mengerang.
Aku pun mencoba untuk memijit betisnya dengan kedua tanganku. Berpura-pura menjadi pemijat handal yang dadakan. Rizal hanya bisa mengerang.
"Iya terus Mbak, terus seperti itu." tukasnya. Namun suaranya berbeda, aku menoleh ke arahnya dan mendapati wajahnya yang merem melek keenakan. Seketika aku melepas pijatanku.
"Lho kok berhenti Mbak!"
"Mas Rizal ini menipu saya. Tapi kesakitan malah keenakan." Ketusku, tapi pria itu hanya tersenyum miring sambil kedua tangannya yang tertumpu di belakang. lalu,Secepat tidak terduga, dia menyikap rokku. Seketika aku langsung menahannya supaya tidak terbuka.
"Ayolah Maya, kita bersenang-senang malam ini. sebentar saja."
"Mas, jangan kurang ajar ya Mas. kita ini sebenernya jadi membicarakan soal seragam enggak sih?"
"Sudahlah hal itu bisa dipikira nanti, yang penting ayo kita senang-senang dulu."
Dasar Bos Gila. Dari sikapnya, dia sama sekali tidak menunjukan orang yang berwibawa. Tapi terkesan sangat urakan layaknya preman. Aku jadi ragu kalau dia adalah pemilik dari rumah sakit itu.
Aku berbalik arah beranjak dari ruangan itu. Tapi tiba-tiba, tanganku dicekal.
"Mau kemana kamu!"
Dengan kasar aku melepas pegangan tangannya dan melirik tajam ke arahnya.
"Mohon maaf Mas. Saya ini masih berstatus istri orang. tolong hargai saya."
"Tapi yakin Kamu enggak suka ini." ujarnya sambil melepas kasar celana dalam hitamnya itu. seketika pandanganku tertuju ke arah batang yang menjuntai itu. aku menelan ludah. Nafasku menderu.
Pria itu semakin mendekat,"Yakin kamu enggak mau?" tanyanya sekali lagi setelah jarak antara tubuh kami hanya berkisar sepuluh centimeter saja. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat setengah mendesah.
"Aku tahu suami kamu jauh dan kamu jarang disentuh 'kan?" bisiknya membuat gejolak dihati ini kian membara.
Plak!
Tamparan keras melayang dipipinya. Pria itu menoleh ke arahku sembari memegang pipinya seolah tidak percaya.
"Maaf Mas, saya ini masih istri orang. Meskipun suami saya jauh, tapi saya masih tetap menjaga harga diri keluarga dengan kesetiaan. Jadi tolong jangan kurang ajar sama saya."
Dia masih menatapku. Seolah tidak menyangka jika aku akan melakukan itu.
"Tidak pernah sekalipun dalam hidupku menerima penolakan seperti ini. hampir semua wanita tergila-gila kepadaku dan suka rela menyerahkan tubuhnya."
"Jangan anggap semua wanita itu seperti itu Mas. Ingat kalau Mas sudah menjadi Bapak nanti! bagaimana perasaan Mas kalau melihat anak perempuannya di perlakukan murahan orang laki-laki lain?" cecarku yang membuatku tidak berkutik. Dia terdiam seolah sedang mencerna maksud dari perkataanku.
"Kalau tidak ada yang perlu dibahas lagi saya permisi dulu Mas." aku berlalu di hadapannya. Dua netraku menghangat.
***
Tidak mengira kalau aku akan diperlakuan seperti tadi. untung saja aku tidak terbujuk dengan rayuan setannya. Aku sudah berniat dalam hati untuk menjadi pribadi yang baik. Wanita yang menjaga kehormatan. Semua demi orang yang kusayang Nala dan...
Bram, gimana kabarnya dia sekarang?
Rindu menyusup di dalam hati ini. Pujaan hatiku entah dimana sekarang rimbanya. Menjauh dengan memendam kekecewaan yang sangat mendalam atas peristiwa malam itu. sampai sekarang masih menjadi misteri tentang perasaannya yang sebenernya terhadapku.
Tapi, hidup terus berlanjut dan aku harus move on dari masa lalu. Tidak mungkin mengharapkan sesuatu yang telah pergi. Biarlah masa lalu berlalu, sekarang fokus ke masa depan.
Aku pulang dengan tangan kosong. Harapan yang tinggi atas penghasilan tambahan pun pupus sudah, yang aku dapat justru pelecehan seperti tadi. untung saja aku masih bisa mempertahankan harga diriku. Sekarang, aku bingung harus mendapatkan uang darimana untuk pengobatan Nala.
Sesampainya dirumah, aku dikejutkan dengan Nala yang tergeletak di lantai dengan posisi tengkurap. Sementara kursi rodanya terjengkang. Sepertinya dia ingin menggapai sesuatu tapi terjatuh.
"Nala!" jeritku. Aku pun bergegas menegakan kursi rodanya dan memapah tubuhnya ke kursi roda itu.
"Sayang! bangun sayang!" aku menepuk-nepuk pipinya, tapi dia tidak kunjung sadar. Segara aku membawanya ke rumah sakit.