Hari ini aku pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk menjahit. Saking banyaknya permintaan, sehingga bahan-bahan itu ludes dengan sendirinya.
Aku membelinya dengan terburu-buru. Tidak mau meninggalkan Nala lama-lama. Intinya setelah membeli bahan-bahan itu, aku akan segera pulang dan tidak mampir-mampir lagi.
Setelah membeli bahan-bahannya, aku segera ke halte untuk menunggu angkutan. Saat sedang asik menunggu, pandanganku tertuju kepada sebuah mobil mewah yang berhenti di seberang jalan. Dari kacanya yang terbuka, terlihat Pria tampan yang kutemui dirumah sakit itu sedang memandangiku di balik kacamatanya yang hitam.
Aku memalingkan wajah, berpura-pura tidak melihatnya. Pria di seberang sana malah tersenyum melihatku yang salah tingkah. jangan Maya, kamu jangan sampai kepincut dengannya. Tahan hasratmu Maya tahan. Bisikku di dalam hati.
Tidak berselang lama, angkutan berwarna orange pun datang. aku melambaikan tangan sebagai isyarat untuk berhenti. Begitu angkutan itu berhenti, aku langsung masuk ke dalamnya dan mulai jalan. Aku mengintip dari kaca jendela angkot. Rupanya Pria itu menjalankan mobilnya dan sepertinya mengikutiku!
Jantungku berdegup dengan sangat Riang. Tapi aku mencoba menghilangkan pikiran yang tidak-tidak. Ah, mungkin kebetulan saja dia menjalankan mobilnya satu arah denganku. Jangan ke GR an deh.
Dugaanku meleset dia mengutitku sampai angkutan itu berhenti tepat di depan gang menuju perkampungan kumuhku. setelah membayar angkot, aku lantas turun dan berjalan dengan langkah cepat.
"Tunggu."
Aku berhenti lalu menoleh ke sumber suara. Terlihat Pria itu memarkirkan mobilnya dan beringsut mendekatiku.
"Halo, Mbak." Sapanya setelah di depanku. Kutelisik penampilanya. Masih sama dengan yang kemaren hanya saja sekarang dia menggunakan setelan kemeja putih yang dipadu dengan blazernya warna abu-abu, sangat cocok dengan kulitnya yang putih terang.
Aku tidak bergeming. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi dari sana. Tapi Pria ini tampaknya pantang menyerah. sepertinya Dia akan mengikutiku kemanapun aku pergi.
"Perkenalkan nama saya Rizal." Dia mengulurkan tangannya kepadaku sama persis dengan kemaren. sepertinya dia memang bersikeras pengen tahu namaku.
"Saya Maya." Aku menjabat tangannya.
"Maya, Nama yang bagus. Ngomong-ngomong Mbak tinggal di sekitar sini ya?"
"Iya, Pak."
"Sama anaknya yang kemaren ya?"
"Iya, kebetulan saya Cuma tinggal sama anak saya."
"Oh," sahutnya pendek."Tapi Jangan panggil saya Pak. Panggil Mas saja biar lebih akrab."
"I-iya Mas," jawabku kikuk. Sekarang aku menjadi irit bicara supaya pembicaraan tidak melebar kemana-mana.
"Boleh enggak aku mampir ke rumah Mbak?"
Kini aku gelagapan. Bukannya aku tidak mau membawanya ke rumah, mengingat rumahku yang kecil dan kumuh. Tapi aku lebih mempertimbangkan apa pandangan orang kalau ada seorang Pria masuk ke dalam rumahku. Pasti mereka berpikir yang tidak-tidak. Terutama Nala yang sudah mulai mempercayaiku kembali. Aku tidak mau menghancurkan kepercayaannya lagi.
"Maaf Pak, rumah saya berantakan. Ada banyak pakaian yang harus saya garap."
"Jadi ibu penjahit ya? Wah kebetulan sekali Bu. Boleh saya minta nomor ibu. Supaya nanti kalau butuh menjahit aku ke rumah Ibu saja." tukasnya sambil mengeluarkan ponsel. Sepertinya dia tidak kehabisan akal untuk mendekatiku. Lagian aneh sekali, seorang pemilik rumah sakit dengan harta yang melimpah, masak menjahitkan baju di tempatku yang kumuh. Hello!
"Sudah ya Pak, kalau begitu saya permisi dulu. Anak saya sudah menunggu di rumah." pungkasku setelah memberitahukan nomor ponselku. Aku berlalu dari hadapannya tanpa menunggu tanggapannya lagi.
***
Aku sedang dilanda keresahan. Bagaimana tidak selama tiga bulan berturut-turut, Mas Benny seakan lupa dengan kewajibannya. Dia sama sekali tidak mengirimkan uang bulanan. Aku sangat membutuhkannya untuk kontrol kesehatan Nala, supaya Nala bisa cepet sembuh tapi sekarang..
Nomornya juga tidak aktif. Sepertinya dia memang sengaja lepas dari tanggung jawab. Pantang bagiku untuk meminta belas kasihan darinya. Tidak ada pilihan lain selain mengandalkan diri sendiri.
Tapi darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?
Penghasilanku sebagai penjahit pun tidak cukup menutupi biaya berobat Nala. Meski permintaan ramai setiap hari, tapi itu masih jauh dari biaya di rumah sakit.
Aku berpikir keras bagaimana caranya supaya mendapatkan uang tambahan, dengan begitu aku bisa membawa Nala ke dokter.
Tiba-tiba ponselku berdering. Dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo."
"Halo Mbak Maya. masih ingat denganku?"
"Maaf, siapa ya Mas?"
"Rizal Bu."
"Oh, Pak Rizal, ada yang bisa dibantu Pak?"
"Mbak bisa datang ke apartemenku sekarang? Soalnya aku ingin membuat seragam untuk pegawai rumah sakit yang berjumlah lima ratus orang. Ibu bisa kan mendesainnya?" katanya membuatku terbelalak? Ya Ampun lima ratus orang? banyak sekali. dengan begini aku bisa mendapatkan uang untuk pengobatan Nala.
"Si..ap Pak." sahutku tergagap.
"Lha kok masih manggil Pak sih? panggil Mas saja." tukasnya.
"Eh, i..ya siap Mas. Saya akan segera ke sana."
"Bagus kalau begitu Bu, saya tunggu ya. Nanti saya chat alamat apartemen saya." Pungkasnya sebelum menutup telefon.
Syukurlah, Akhirnya aku mendapatkan penghasilan tambahan juga. walaupun, sebenernya aku tidak nyakin untuk mendesainnya. Tapi mumpung ada kesempatan, kenapa tidak mencobanya. Itung-itung menambah jam terbang.
Tapi, kenapa Rizal memintaku yang membuatnya? Biasanya 'kan instansi mempunyai penjahit yang sudah berlangganan lama? apakah Rizal sedang merencanakan sesuatu. Ah, tidak usah berpikir macam-macam yang penting aku bisa mendapatkan uang tambahan.
"Nala, Mama pergi dulu ya. Ada orang yang meminta untuk mendesain baju seragam."
"Iya, Ma. Jangan lupa nanti kalau pulang bawa empek-empek ya." Tukasnya.
"Siap sayang, sekarang Mama pergi dulu ya."
" Hati-hati di jalan ya Ma."
***
Sekarang aku berada di depan gedung yang sangat tinggi menjulang. Terik terasa membakar ubun-ubun ini.
Ketika akan melangkah masuk, terlihat seorang sekuriti yang menghampiriku.
"Permisi, Ibu mau bertemu dengan Pak Rizal? Boleh saya Antar?" ujarnya ramah. Aku mengangguk pelan. Lantas dia membimbingku menuju apartemen milik Rizal.
Sampailah di depan pintu yang terbuat dari kayu jati yang tinggi masih terlihat konvensional. Yang kupikirkan tadi adalah pintu dengan besi yang terdapat password untuk membukanya. Mungkin pikiranku tadi terkesan berlebihan.
Pintu itu sedikit terbuka. Sekuriti itu terlihat mengetuk pintu.
"Permisi Pak Rizal, Bu Maya sudah datang." katanya di celah itu sambil mengetuk pintunya. Tidak berapa lama terdengar sahutan dari dalam.
"Masuk."
Sekuriti itu mempersilahkanku masuk, lalu berlalu dari hadapanku. Aku menghela lafas sejenak lalu mulai membuka pintu itu.
"Permisi Mas Rizal." Aku masuk dengan langkah pelan dan mengendap-endap. Pandanganku mengitari sekitar. ruangan itu tidak terlalu besar. malah terkesan sederhana layaknya apartemen standart pada umumnya. Perasaan ragu mulai terbersit di benakku. ada sesuatu yang tidak beres.
"Ayo silakan masuk saja enggak usah malu-malu."