Kesibukan Membawa Berkah

1030 Kata
Kesibukan baruku membuka jalan rezeki bagiku. Terlihat dari beberapa tetangga yang mulai berdatangan untuk meminta di jahitkan. Ada yang sekedar memperbaiki pakaian yang sobek, mengecilkan baju, bahkan ada yang meminta untuk mendesain pakaian baru. Semua kulakukan dengan senang hati tanpa menargetkan penghasilan, karena memang aku suka melakukannya. Lebih dari itu, aku merasa hidupku benar-benar berubah. Tidak lagi memikirkan kehidupan masa lalu yang pahit. Sekarang aku merasa lebih bahagia bersama Nala dengan kesibukanku menjahit. Semua itu lebih dari cukup. Meski tanpa kehadiran lelaki dewasa atau kemewahan yang sering aku dapatkan. Ternyata di perumahan yang kumuh ini aku mendapatkan kebahagiaan. Kondisi Nala juga mengalami perkembangan yang cukup baik. Bahkan dia sekarang sudah mau untuk berbicara dan mulai tersenyum. Mungkin dia melihat keseharianku yang bersemangat, sehingga semangat itu tertular kepadanya. Menunjukan bahwa aku yang sekarang berbeda jauh dengan aku yang dulu. Sepertinya dia sudah mulai memaafka kekhilafanku yang telah lalu. "Nala sudah semakin membaik Bu, kalau begini terus tidak menutup kemungkinan dia akan kembali Normal seperti semula." Jelas Dokter yang biasanya memeriksa Nala saat aku membawanya untuk kontrol rutin. "Syukurlah, saya senang sekali mendengarnya Pak." Lalu aku jongkok sehingga tubuhku setara dengan Nala yang dikursi roda, aku menggenggam tangannya erat."Sayang, kamu dengar 'kan kata Pak Dokter, kemungkinan kamu sembuh sangat besar. Makanya kamu yang semangat ya sayang." Nala dengan mulutnya yang miring pun terlihat tersenyum walau hanya pipi kirinya saja yang mengembang. Mata kirinya tampak berkaca-kaca, sehingga aku seolah terpengaruh untuk ikut menangis. Dengan susah payah, dia berkata lirih. "Mama.." Langsung aku memeluknya dengan erat. Menumpahkan tangis haru di sana. Tangis kebahagiaan karena Nala sebentar lagi akan sembuh. Duh Tuhan, begitu Engkau telah menunjukan kuasamu terhadap hidup kami. Setelah terpaan badai yang begitu kencang, kini sudah berganti dengan langit yang mulai cerah, walaupun belum ada pelangi yang menghiasi. Aku melepas pelukanku terhadap Nala dan menoleh ke arah dokter. "Terima Kasih ya Pak. Berkat Bapak Anak saya akan kembali Normal." "Sama-sama Bu. Tapi semua yang ku lakukan tidak ada artinya tanpa dorongan moril dari ibu, karena itulah yang sangat berarti bagi hidup Nala." tutur Dokter itu. Selepas kontrol, Aku dan Nala pamit undur diri. ketika melewatin koridor rumah sakit, aku sedang asiknya mengobrol dengan Nala sehingga tidak terlalu memperhatikan depan. Tiba-tiba kursi roda Nala menabrak tubuh seseorang. "Aduh." Pekik pria itu kesakitan. aku yang terhenyak pun langsung menghampiri Pria itu. "Maaf Pak, ini kesalahan saya. Saya tidak memperhatikan jalan." Aku membungkuk supaya setara dengan tubuhnya. "Iya, Enggak apa-apa." sahutnya sambil telapak tangan kiri yang mengarah kepadaku, seolah mengisyaratkan bahwa dia tidak apa-apa dan tidak perlu di bantu. Pria itu mendongak. Seketika aku terperangah dengan penampilan pria itu. Pria berbalut stelan jas yang tampak sesak oleh tubuhnya yang berisi. Cukup tampan walau tubuhnya tidak terlalu besar. degup jantungku mulai berdetak. Ya Ampun, perasaan apakah ini. "Bu." Panggilnya sambil mengibas-ibaskan tangannya kepadaku. Seketika aku tersadar. "Saya enggak apa-apa kok, Bu. Tenang saja. Oh ya perkenalkan Namaku Rizal. Pemilik dari rumah sakit ini." dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah. Aku meneguk ludah dan menyambut tangannya. Seperti aliran listrik, genggaman tangannya seolah mengalirkan getaran ke seluruh tubuhku. Cukup menyentak jantungku, sehingga berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku melepaskan genggaman tangannya dan menggeleng-gelengkan kepala. sekilas aku melirik ke arah Nala. Lalu tanpa Permisi, aku mendorong kursi roda Nala dan berlalu dari Pria tampan itu. *** Pekerjaan yang banyak membuatku harus lembur sampai tengah malam. rasanya tubuh ini capek sekali. Tapi kunikmati saja. Semoga rasa capek ini menjadi berkah buatku dan juga Nala. Tiba-tiba bayangan wajah tampan itu menggelayuti benakku. tapi buru-buru, aku mengenyahkannya dari pikiranku dan fokus bekerja. Tapi semakin aku ingin menghilangkan bayangan itu semakin jelas wajahnya terpampang. Seolah pria tampan yang kutemui di rumah sakit itu sudah merajai isi pikiranku. Rizal, Pria tampan dengan segala kesempurnaannya. Penampilan yang goodlooking ditambah statusnya sebagai Pemilik sebuah rumah sakit ternama. Jadi tidak perlu ditanyakan lagi kekayaannya. Siapa wanita yang gak akan kepincut dengannya? Munafik sekali kalau sampai ada yang menolaknya. Tapi, masalahnya aku masih berstatus istri orang. aku tidak mau kejadian masa lalu terulang lagi. Akibat hasrat sesaat hidupku menjadi hancur. "Enggak, aku hanya kagum saja. enggak mungkin 'kan aku bernafsu dengannya?' tanyaku kepada diriku sendiri seolah menyakinkan pendirianku. Aku tahu untuk wanita yang hyper sepertiku sangat sulit untuk mengendalikan rasa ini. Tapi, aku harus bisa. Aku tidak ingin mengecewakan Nala lagi. Nala-lah sumber kebahagiaanku saat ini. Tapi hasrat seolah meronta-ronta di dalam diri ini, seolah sedang berperang dengan logikaku. Aku meremas kepalaku sendiri. betatapun aku harus bisa mengendalikan hasrat ini. "Mama." Panggil lembut Nala dari belakangku. Dia menggunakan tangan kirinya untuk menggerakkan rodanya. Ya Ampun, aku sampai lupa untuk membaringkannya di kasur. Apalagi sekarang dia memiliki hobbi baru yaitu membaca Novel. Dia suka Novel karya Lazuarrdi yang sedang viral berjudul Karantina di rumah kosong sehingga dia membacanya sampai larut malam. "Mama Nangis ya? " imbuhnya dengan suara yang terbata-bata. Aku kasihan melihat mulutnya yang susah payah untuk berkata-kata. Segera aku menghampirinya, memberikannya pengertian. "Enggak kok sayang. Mama tidak apa-apa kok. Mama hanya menangis bahagia saja karena kondisi kamu yang membaik." Ujarku sambil memegang kedua pipinya. Terlihat kerlingan matanya yang manis, meski mata sebelahnya terpejam. "Ya sudah, kalau begitu Mama baringkan kamu ke tempat tidur ya Nak." Aku pun mengambil alih kursi rodanya dan mendorongnya ke dalam kamar. "Mama." Panggilnya yang membuatku terhenti mendorongnya. Lalu aku menurunkan tubuhku, mendekatkan kepalaku kepadanya. "Iya, Anak Mama yang Manis." "Kangen Om Bram. Mama masih berhubungan dengannya?" ucapnya lirih. Aku terhenyak. Dari sekian banyak pria di muka bumi ini, kenapa hanya bram yang ada di benak anak gadisku ini. Segitu berartikah buatnya. Apa dia tidak ingat kalau Bram telah menolaknya mentah-mentah? Tapi yang namanya cinta, semakin ditolak, semakin rasa itu akan menggebu-gebu. "Mama sudah tidak ada hubungan lagi dengannya Nak. Mama sudah tidak punya rasa lagi sekarang sama dia." jawabku berbohong supaya dia tidak berpikir macam-macam lagi dengannya. "Nala sayang sama Om Bram, Ma. Huhuhu." Kini gadis itu mulai menangis. Aku pun mengelus-elus pundaknya, mencoba menenangkannya. "Sayang yang sabar ya. Nanti kapan-kapan, Mama pertemukan kamu dengan Om Bram." "Janji ya Ma." "Iya, Mama janji. Sekarang kamu tidur dulu ya, sudah malam ini." "Baik, Ma."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN