Bab 6. Kamar Mandi

1218 Kata
Terlihat semua orang sedang berkumpul di ruang tamu, hanya ada kedua keluarga besar. Para tamu undangan sudah pulang, tak lama setelah Luna membuat keributan. “Jadi apa ini, Luna?” tanya Adam, meminta penjelasan dari Luna. Karena Luna nama keluarga besar mereka tercoreng, tak hanya sekali bahkan hari ini sudah dua kali keluarga Estell membuat mereka malu. Di depan sana, Amala sangat geram saat melihat Luna duduk dengan santai tampa rasa bersalah. Sedangkan dirinya dimarahi habis-habisan, disalahkan oleh Rizki. “Ayo jawab, Luna. Apa semua ini, kamu berbohong kan?” Amala ingin menerjang Luna, namun segera ditahan oleh Rizki yang siap siaga terjadi sesuatu yang tidak-tidak antara Luna dan istrinya. Luna hanya diam saja tak mengatakan apa-apa, ia duduk tepat di sopa single bersebrangan dengan Arkan. Ia menatap kosong ke depan seperti seseorang yang tak memiliki kehidupan, seperti mayat hidup. Matanya masih sembab, tangannya terlihat terperban dengan rapi. Siapapun bisa tau kalau Luna tak baik-baik saja, wanita itu sedang berada di fase terpuruknya. “Jawab, Luna!” bentak Rizki saat melihat Luna tak bereaksi apa-apa, melihat anaknya hanya diam tak menghargai mereka. Emely merasa iba melihat Luna yang ditekan dari berbagai sisi, ia tau anak itu tak bersalah. Luna hanyalah korban keegoisan mereka, ia tak menyalahkan Luna atas apa yang terjadi hari ini. Mungkin itu suatu bentuk perlawanan Luna terhadap mereka. “Sudah, sudah, tak usah membentak Luna. Bagaimana dia mau berbicara jika kalian membentaknya,” kata Emely, berdiri lalu duduk di sisi Luna, mengusap punggung wanita itu dengan pelan, menyalurkan kehangatan di sana. Ia tak tega melihat Luna yang selalu saja disalahkan. Arkan juga melihat itu semua, rencananya ia ingin berdiri melindungi Luna, namun Emely terlebih dahulu melakukan hal itu untuknya. “Syukurlah, Mama nggak marah,” batin Arkan, ia takut kalau sampai Luna juga ikut berkonflik dengan keluarganya. “Jawab saja sayang, kami tak akan menyalahkanmu,” kata Emely dengan nada lembut sangat lembut siapapun bisa tenang mendengarkan ucapan Emely. Luna tersadar dari lamunan panjangnya, ia pun melirik ke samping di mana Emely berada. Ia cukup kaget namun ia segera menghilangkan rasa keterkejutannya. Lalu memfokuskan pandangan ke depan. “Ya, aku berbohong. Anggap saja balasan untuk kalian yang telah merusak masa depanku, terutama ayah ….” Luna menghentikan ucapannya, lalu menatap ke arah Rizki yang duduk tepat di sebelah Amala. Mereka berdua terlihat tegang, takut dan marah secara bersamaan, takut kalau sampai Luna benar-benar hamil dan tentu saja pernikahan Arkan dan Luna tak bisa dilanjutkan. “Bagaimana Ayah, malu memiliki anak sepertiku?” tanya Luna dengan wajah datar, ia bahkan tak malu saat ada keluarga Arkan di rumahnya. Yang penting sekarang ia bisa membalas perbuatan orangtuanya. “Anak yang kalian buang, lalu kalian jadikan tumbal untuk hidup mewah kalian?” tanya Luna dengan nada sinis, ia bahkan tertawa di akhir kalimatnya. Luna sangat muak dengan keluarganya yang selalu saja berlaku tak adil padanya, membuangnya, lalu memungutnya kembali jika dibutuhkan seperti sekarang. Rizki maupun Amala terdiam mendengar ucapan Luna. Ia ingin menghentikan Luna bisa bahaya kalau sampai Luna membeberkan semuanya di hadapan keluarga Arkan. Mereka akan dicap buruk oleh keluarga Arkan. “Hei sayang, apa maksudmu. Tidak ada yang membuangmu,” kata Amala berusaha tersenyum di saat yang tak seharusnya, ia berusaha menghentikan Luna untuk tak meneruskan ucapannya. Luna menatap sinis ke arah keluarganya terutama rizki yang ikut menyalahkannya. Mulutnya terkunci tak sepatah katapun terucap dari mulutnya. Ia terlampau marah, kesal terhadap semua orang terutama keluarganya. “Aku sebagai suami Luna meminta maaf atas kekacauan ini,” kata Arkan menengahi perdebatan mereka. Ia cukup lelah hari ini, tak memiliki tenaga untuk berdebat lebih baik ia yang mengakhiri semuanya. “Jadi sudah ya, semuanya selesai,” tambah Emely tak ingin memperpanjang masalah ini dan membuat Luna semakin tertekan. Ia yakin Luna punya alasan kuat sampai membuat mereka malu seperti tadi. Mungkin lain waktu ia akan menanyakan hal itu. *** Mobil melaju membelah jalanan yang sepi, hanya ada beberapa mobil saja yang berlalu lalang. Wajar saja, karena Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam sudah saatnya orang-orang beristirahat di rumah mereka masing-masing. Sedangkan Luna, wanita itu bersandar sambil melirik jalanan kota yang gemerlap. Lama kelamaan cahaya itu hilang, digantikan dengan pepohanan yang rimbun, Luna sempat kaget melihat hal itu, namun ia segera menghilangkan wajah kagetnya. Beberapa menit kemudian sampailah mereka di sebauh rumah yang sangat mewah, mungkin bukan rumah bisa dikatakan mansion sangat besar dan megah ada banyak pelayan serta pengawal yang menyambut mereka. “Selamat datang Nyonya,” sapa mereka secara bersamaan. Luna hanya bisa melonggo melihat pelayan dan pengawal yang berbaris dengan rapi menyambut mereka. “Pantas pelakor itu menumbalku, ternyata keluarga Mahesa memberikan mereka banyak uang,” batin Luna tau alasan kenapa Amala tak ingin pernikahan itu gagal. “Ayo sayang masuk,” ajak Emely menuntun Luna untuk masuk ke dalam rumah mereka, ia ingin Luna hidup nyaman di sini tanpa memikirkan apapun. Sudah sewajarnya Emely memperlakukan Luna seperti anaknya sendiri. Sedangkan Arkan, pria itu terlrbih dahulu berjalan di depan meninggalkan Luna dengan rasa kagumnya. “Aku lelah sekali, rasanya kepalaku mau pecah,” batin Arkan berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Ia ingin berendam air hangat merileks-kan tubuh. Dengan kasar Arkan membuka satu persatu kancing kemejanya lalu membuang kemeja itu asal. Ia melirik melalui ekor matanya. Tampak Luna sudah masuk ke dalam kamar mereka. “Aku harap kamu tak membuat masalah lagi.” Arkan berbalik, menatap lekat ke arah Luna yang berdiri tak jauh darinya. Luna masih memakai dress putih, sangat seksi menurut Arkan ia risih ingin sekali merobek dress itu. “Iya,” balas Luna dengan nada kesal. Kekesalannya masih ada, namun ia mencoba untuk menerima semuanya. Menerima hidup baru yang entah seperti apa. Arkan langsung saja masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Luna sendiri di kamar yang sangat luas. Luna terkesima melihat kamar Arkan yang begitu luas, mungkin tiga kali lipat lebih besar dari kamarnya. Ia menjelajahi setiap sudut, ada banyak ornament-ornamen yang menarik perhatiannya. vas mewah, bunga besar berada di atas meja, bisa ia tebak kamar ini telah diubah karena Rena juga akan tinggal di sini, begitu pikir Luna. “Semuanya hanya tentang Rena,” batin Luna berkecil hati, sedari kecil tak ada yang benar-beanr peduli padanya. Rena, Rena dan Rena. Tak habis sampai di situ saja, Luna memasuki satu persatu ruangan yang ada di kamar Arkan. Dari ruang kerja, perpustakaan mini yang ada di sana dan terakhir wardrobe. Ada begitu banyak baju Arkan, koleksi jas mahal, sepatu mahal bahkan jam mahal tertatata rapi di sana. Lalu Luna beralih ke salah satu pintu yang ada di situ. Perlahan ia membuka pintu itu, rasa penasarannya semakin besar saat melihat ada sopa yang begitu mewah berada di tengah ruangan. Luna masuk lebih dalam lagi. “Arghh! Kenapa kamu ada di sini?” tanya Luna, melihat kesekitaran, betapa kagetnya Luna menyadari di mana mereka berada sekarang. Di depan sana ada Arkan yang sedang berendam di dalam bathup. Karena terlalu mengagumi interior kamar mandi Luna tak menyadari ada Arkan yang sedari tadi memperhatikannya. “Mau mandi bersamaku?” tanya Arkan, lalu meneguk wine favoritnya. Ia tak masalah Luna mandi bersamanya, lagipula Luna adalah istrinya sah-sah saja mereka mandi bersama. “Tidak-tidak, aku tak sengaja masuk ke sini.” Dengan kecepatan kilat Luna berlari menjauh dari kamar mandi, namun suara pintu terkunci membuatnya kaget. “Apa ini tuhan!” batin Luna, terdiam tepat di depan pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN