Bab 7. Suatu Harapan

1105 Kata
Iris mata Arkan menatap lekat ke arah Luna, mengabsen setiap jengkal tubuh wanita itu dari atas sampai bawah. Pikiran liar pun muncul di benaknya. Luna berada di pangkuannya lalu ia merengkuh mesra pinggang wanita itu, Arkan menyeringai membayangakn itu semua. Rasanya ia ingin menerkam Luna saat ini juga. “Apa yang kau lihat!” bentak Luna menyadari tatapan Arkan yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Apalagi seringainya itu membuat Luna takut terlebih mereka berada di kamar mandi apapun bisa terjadi. “Tidak ada, hanya memandang wajah cantik istriku memangnya tak boleh?” tanya Arkan mengambil handuk, tanpa rasa malu dengan santai berdiri mengikat handuk itu di pinggangnnya. “Apa yang kau lakukan!” Luna kaget bukan main Arkan secara tiba-tiba berdiri dengan posisi tanpa memakai apapun. Repleks ia menutup mata, lalu membalikkan badan tak ingin matanya yang suci dirusak oleh Arkan. “Tak tau malu.” Ia terus saja mengomel mengumpat tak jelas dengan keberanian Arkan. Bisa-bisanya pria itu berdiri tanpa memakai busana. Beruntung itu Luna, yang tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Arkan tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Luna, ada rasa nyaman di hatinya seperti ia sedang dikelilingi oleh kupu-kupu yang sangat indah. Menenangkan dan memanjakan mata melihatnya. Begitu juga dengan Luna, ada rasa aneh yang tiba-tiba saja muncul yang tak bisa ia cegah. Tanpa rasa malu, perlahan Arkan mendekat ke arah Luna. Pria itu menyeringai melihat Luna yang berusaha membuka pintu kamar mandi. Tapi tak berhasil, ia sudah mengunci pintu itu menggunakan remot control, kebetulan juga Luna belum mendapatkan akses apapun di rumahnya. Berbeda dari Luna, wanita itu panik bukan main saat Arkan semakin mendekat ke arahnya. Ia mencoba menekan tombol untuk membuka pintu. Namun, nihil tak ada yang berhasil. Rasanya ia sedang terjebak di sebuah ruangan yang sangat gelap tempat tinggal monster, lalu monster itu berjalan ke arahnya dan ingin menerkamnya. Ketakutan semakin melanda, jantungnya berdegup begitu kencang bukan pertanda cinta namun ketakutan yang semakin menusuk ke relung jiwa. Sesekali Luna melirik ke arah Arkan yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Tatapan mengoda itu membuat ia merinding, tiba-tiba saja buluk kuduknya berdiri. Ini sangat menyeramkan terlampau menyeramkan untuk wanita muda seperti Luna. “Buka pintunya, Arkan!” panik Luna sambil menekan tombol apapun yang bisa membawanya keluar dari tempat itu. “Kenapa memangnya, hmm?” Ia meletakkan tangan di sisi Luna, mengunci pergerakan wanita itu agar tak kabur darinya. Arkan mengangkat tangan lalu mengelus pipi mulus Luna dengan sangat lembut lalu menaikkan dagu wanita itu untuk menatap ke arahnya, dengan seringai jahat ia berhasil membuat Luna takut. Ya, wanita itu terlihat takut. Ia tertawa di dalam hatinya, terlihat lucu dan mengemaskan. Sepertinya Arkan memiliki hobi baru yaitu mengoda Luna. “Apa ini,” batin Luna, suaranya tercekat mulutnya terkunci rapat tak ada satu katapun terucap dari mulutnya semuanya tertahan di dalam hati. Arkan semakin gencar mendekati Luna, memepetkan tubuh mereka hingga tak ada jarak yang tersisa. Dengan seringai jahatnya pria itu berkata, “Kenapa kamu tegang sekali sayang.” Arkan menatap kedua bola mata Luna dengan tatapan mengoda, ia sangat senang melihat Luna ketakutan. “Bu-buka pin-pintunya,” ujar Luna dengan nada terbata-bata, lagi dan lagi ia menekan beberapa tombol yang sekiranya bisa membawanya keluar dari kamar mandi. “Buka? Bukankah kamu yang masuk sendiri,” kata Arkan membungkam mulut Luna. Arkan tak meminta Luna masuk ke dalam kamar mandi justru wanita itu sendiri masuk dan melihatnya sedang mandi Luna menggelengkan kepala saat mendengar perkataan Arkan, jujur ia tak berniat masuk ke dalam kamar mandi. Ia hanya penasaran lalu tak sengaja masuk ke dalam kamar mandi, bukan maksudnya untuk melihat Arkan apalagi mengoda Arkan. “Jangan malu-malu, mau melakukannya di sini?” tanya Arkan dengan nada serius, ia tak main-main dengan ucapannya. Memang tadi ia sedang mengoda Luna, namun kali ini tak lagi. Ia benar-benar serius meminta haknya terhadap Luna. Bukankah sudah sewajarnya ia meminta hak sebagai suami. Luna kaget bukan main saat mendengar perkataan Arkan, bak disambar petir di siang bolong yang cerah. Wajahnya berubah tegang, matanya melotot sempurna menatap ke arah Arkan yang juga sedang menatap ke arahnya.Tatapan mereka bertemu beberapa saat. Arkan menaikkan sebelah alis menunggu jawaban dari Luna, tak ada nada mengoda, tak ada becandaan. Arkan benar-benar serius dengan ucapannya. Lama Arkan menunggu, berharap Luna mau. Ia tak ingin memaksa Luna melakukan satu hal yang tak diinginkan wanita itu. “Baiklah, kalau kamu belum siap,” ujar Arkan pada akhirnya. Ia tak mau membebani Luna dengan hasrat liarnya itu. Kita sama-sama tau, pernikahan mereka didasarkan dengan keterpaksaan. Pernikahan mendadak yang tak ada di rencana mereka berdua. Benar kata Luna mereka hanya orang asing yang disatukan dalam ikatan sakral yaitu pernikahan. “Kamu pakai saja kamar mandinya aku sudah selesai,” kata Arkan tak sedikitpun melirik ke arah Luna. Pria itu langsung keluar, melewati Luna tanpa senyuman. Luna memejamkan mata menarik napas dalam mencari ketenangan, ia telah melakukan kesalahan besar karena menolak suaminya sendiri. Tapi apa boleh buat, Luna belum siap melakukan hal itu. Tidak untuk sekarang, jangankan berhubungan menikah saja ia belum siap. “Maaf,” kata Luna, lalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat tak ingin Arkan masuk dan kejadian seperti tadi terulang kembali. *** Matahari bersinar terang dari ufuk timur menerangi bumi beserta isinya. Banyak kendaraan yang berlalu lalang, walaupun masih pagi namun sudah banyak orang yang sedang mengejar waktu. Dan disinilah Luna sekarang di dalam taksi yang akan mengantarnya ke kampus tempat ia berkuliah. Ya Luna masih berkuliah, ada beberapa sks yang belum selesai dan juga skiripsi yang tiada ujungnya. Luna sengaja berangkat pagi-pagi buta karena engan bertemu para penghuni rumah keluarga Mahesa, ia hanya menitip pesan singkat ke kepala pelayan untuk memberitahu Arkan bahwa ia berada di kampus. “Apa hidupku akan terus begini?” batin Luna sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang dari kaca mobil. “Aku tak tau cobaan apalagi yang akan kau berikan tuhan …,” batin Luna menghapus air mata yang sempat menetes. Ia pun memilih turun di perempatan jalan. Pandangannya terfokus ke depan di mana banyak sekali mahasiswa yang berlalu lalang, ada yang menaiki motor, jalan kaki maupun diantar sopir. Di kampus tak ada yang tau siapa Luna mereka hanya tau Luna adalah anak miskin yang bercita-cita tinggi menjadi milyader. Luna selalu saja diejek, dibully bahkan dijauhkan oleh beberapa orang. Bukan ia sombong atau sesuatu yang buruk, namun karena Luna sagatlah cantik, banyak sekali pria-pria di kampus mengejar Luna. Hal itu menimbulkan kecemburan bagi beberapa orang. Tapi Luna tak terlalu mengindahkan hal itu, sekali lagi ia hanya ingin lulus dengan tenang tanpa hambatan dan mencari pekerjaan layak agar bisa pergi dari rumah keluarganya. “Halo sayang.” Tiba-tiba saja ada seorang pria memeluk Luna dari belakang, pria itu merengkuh mesra pinggang Luna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN