Bab 8. Kehidupan Luna

1018 Kata
Luna kaget bukan main melihat tangan kekar itu sudah bertengker manis di pinggangnya. Ia pun melirik ke samping, seperti dugaannya itu adalah pacarnya Nicolas. Sudah setahun lebih berpacaran dengan Nicolas. Nicolas adalah orang yang selalu ada untuknya, mendukung apa yang Luna lakukan, selalu membela Luna saat Luna dijahati orang lain. “Hai,” sapa balik Luna dengan senyum merekah membalas balik pelukan dari Nicolas. Ia sangat merindukan pria itu, rasanya sudah berhari-hari ia tak bertemu Nicolas. “Lama tak terlihat, kamu ke mana saja?” tanya Nicolas, dua hari ini Nicolas selalu saja mencari Luna, menelpon Luna namun tak ada balasan dari perempuan itu. “Astaga, aku lupa,” batin Luna melupakan statusnya saat ini. Ia bahkan hampir lupa bahwa ia sudah memiliki suami. Luna menatap sendu ke arah Nicolas, air matanya hampir saja menetes mengingat bahwa mungkin setelah ini ia tak bisa bersama Nicolas lagi. Padahal ia dan Nicolas memiliki mimpi yang sama membangun keluarga yang bahagia, tinggal di rumah yang penuh kehangatan. Nicolas juga berasal dari keluarga sederhana, mereka berdua bermimpi membangun rumah tangga yang harmonis dengan finansial yang mumpuni. Apakah mereka juga melupakan mimpi itu? “Kemana?” Nicolas kembali bertanya, sedari tadi ia menunggu namun tak ada jawaban dari Luna. Luna kelabakan sendiri, mencari jawaban yang pas untuk diucapakan ke Nicolas. “Ada acara keluarga,” jawab Luna dengan cepat, ia berusaha setenang mungkin agar Nicolas tak curiga. “Owh begitu, ayo masuk kelas. Sebentar lagi kelas dimulai,” ajak Nicolas menautkan tangan mereka berdua, berjalan bersisihan menuju ke kelas yang berada di lantai dua. Mereka memang terkenal pasangan yang serasi yang sangat romantis. Pikiran Luna kacau, ia tak tau apa yang sedang ia lakukan sekarang. Di sisi lain ia memiliki pacar di sisi lain pula ia sudah bersuami. Ia sangat mencintai Nicolas lebih dari apapun mana mungkin ia meninggalkan Nicolas demi suami yang baru saja ia kenal. Entahlah Luna tak tau apakah yang ia lakukan sekarang adalah sebuah kebenaran atau kesalahan yang akan menimbulkan masalah yang benar nantinya. “Sudahlah, nikmati saja dulu. Aku juga butuh Nicolas,” batin Luna, tersenyum senang di dalam hatinya. Entah kenapa saat melihat wajah Nicolas beban berat yang ia pikul terasa ringan setidaknya mengurangi masalahnya. *** Di lain sisi, Arkan terbangun dari tidur indahnya. Perlahan ia duduk dengan benar, mengucek mata, menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melalui retinanya. Ia melihat ke sekeliling ya benar saja ia tertidur di ruang kerja. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, ia harap malam tadi hanya sebuah mimpi yang sewaktu ia bangun mimpi itu hilang. Namun, kenyataannya berbeda, saat ingatannya tentang pernikahannya muncul lagi. “Mana wanita itu,” batin Arkan berjalan keluar ruangan lalu kembali ke kamar memastikan keadaan Luna. “Lu-“ Betapa kagetnya Arkan tak melihat Luna berada di kamar mereka. Ranjang sudah bersih, semua tertata pada tempatnya. Seperti tak terjamah. “Mana dia?” Arkan bertanya-tanya sambil mencari ke sana kamari mencari keberadaan Luna. Pertama ia membuka pintu kamar mandi, lalu wardrobe. Tapi, Nihil Luna tak ada di manapun. Arkan mendongak melihat jam besar yang tertempel di dinding. Baru jam tujuh dan Luna sudah tak ada, Arkan khawatir terjadi sesuatu terhadap Luna. “Luna! Pelayan!” teriak Arkan keluar kamar mencari keberadaan Luna. Ia berlari menuruni satu persatu anak tangga mencari keberadan Luna, beberapa orang juga panik mendengar teriakan Arkan. Mereka berlari ke arah Arkan mencari tau apa yang terjadi. Tak terkecuali Emely dan Rizki yang sedang sarapan pagi bersama beberapa anggota keluarga anggota lainnya. “Ada apa, Arkan?” tanya Emely ikut panik mendengar teriakan Arkan. “Luna nggak ada, Ma. Kemana perempuan itu.” Resah semakin melanda Arkan, ia berjalan kesana kemari sambil memijit kening menghubungi asistennya mencari tau keberadaan Luna. Emely ikut panik, pikiran buruk muncul di benaknya tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. “Cepat cari Luna, mama khawatir,” ujar Emely memanggil beberapa pengawal menugaskan mereka mencari Luna. “Maaf Nyonya, Tuan. Nyonya Luna sudah berangkat ke kampus pagi-pagi buta tadi Nyonya,” kata kepala pelayan yang dititipkan pesan oleh Luna. “Ke kampus?” Arkan menaikkan alis bingung dengan perkataan pelayan. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya, Luna masih berkuliah? Di mana Luna berkuliah? Dan kenapa tak meminta izinnya? Tak ada satupun pertanyaan yang bisa Arkan jawab. “Iya Tuan,” balas pelayan itu merasa lega karena telah menyampaikan amanat Luna. “Cari tau Arkan. Jangan sampai Luna hilang dari pengawasanmu,” ujar Emely tak ingin terjadi sesuatu terhadap Luna. Emely sudah menganggap Luna anaknya sendiri, walaupun hanya bertemu sekali tapi entah kenapa ia merasa cocok bersama Luna daripada Luna. Luna sangatlah polos dan apa adanya. “Wanita itu memang merepotkan!” Arkan merenggut kesal, berjalan dengan ogah-ogahan menuju kamarnya. Baru dua hari mereka bertemu Luna sudah menimbulkan banyak masalah, apa tak bisa wanita itu membiarkan Arkan tidur dengan tenang. Sepertinya tak ada lagi ketenangan setelah pernikahan mereka. Di lain sisi Luna sedang berada di kantin bersama Nicolas, Zoya Wibowo dan Eva Belvina. Zoya dan Eva adalah sahabat Luna, hanya mereka yang berteman tulus dengan Luna tak mengejek Luna maupun tak menghakimi Luna yang terlahir dari keluarga miskin. “Hari yang melelahkan,” keluh Zoya karena banyaknya tugas yang diberikan dosen ditambahkan lagi skiripsinya yang sudah berdebu tak tersentuh sama sekali. Tak jauh berada dari Luna. “Kau benar,” jawab Luna lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nicolas dengan tenang. Menenangkan bila bersama orang yang kita cintai. Sejenak Luna melupakan masalahnya, melupakan hal-hal yang menyakitinya. Dunia memang tak adil bagi orang seperti Luna entah kapan kebahagiaan akan datang. Nicolas melihat ke samping lalu mengusap pucuk kepala Luna dengan lembut, beberapa kali ia mencium sebagai bentu kasih sayang yang tak terhingga. “Kamu kenapa ada masalah?” tanya Nicolas merasakan hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Luna. Luna mengelengkan kepala, wajahnya kembali datar mengingat kejadian semalam. Entah apa yang terjadi setelah ini, yang pasti hari ini ia hanya ingin bersama Nicolas saja. Tak jauh dari tempat Luna berada, ada seseorang yang berdiri tegak memperhatikan itu semua. “Wah, itu Luna Estell? Aku tak menyangka,” gumamnya mengelengkan kepala, lalu berjalan dengan gagah menuju ke tempat yang sudah disediakan untuknya di kantin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN