Pria itu terus saja berjalan, sesekali melirik ke arah Luna, ia tak menghindar ataupun bersembunyi ia sengaja menunjukkan diri bahkan menyapa salah satu teman Luna yang ia kenal.
“Apa dia tak mengenalku?” batin Glen bertanya-tanya, lalu berjalan dengan cepat menuju meja dosen yang sudah disiapkan.
“Jadi dia bersama pria lain di saat semua orang di rumah mencarinya? Memang keluarga Estell sangat problematik,” batin Glen mengelengkan kepala, tak menyangka apa yang ia lihat adalah sebuah kenyataan yang mungkin membuat Arkan murka.
Kembali ke meja Luna dan teman-temannya.
“Seperti biasa Pak Glen selalu terlihat ganteng,” puji Eva menilai ketampanan Glen yang setiap hari selalu saja tampan dan mempesona di saat yang bersamaan. Glen masih muda, namun sudah menjabat menjadi rektor di kampus mereka. Itu karena kepintaran dak kecakapan Glen dan mengelola kampus, tentu saja kampus itu milik keluarga Glen wajar saja Glen yang memimpin.
“Kau benar,” jawab Zoya mengiyakan ucapan Eva.
“Kalian tak berniat mencari pria yang bisa membiayai kehidupan kalian?” tanya Luna, pertanyaan itu selalu terlontar dari mulutnya. Kadang Luna kesal melihat Zoya maupun Eva selalu mengikuti ia dan Nicolas untuk berpacaran, mereka jarang sekali punya waktu berdua.
“Aku sih iya, tapi belum ada yang cocok,” ungkap Zoya memandangi ponselnya menunggu balasan pesan dari salah satu kenalannya malam tadi.
“Gimana sama Pak Glen saja? Aku lihat-lihat Pak Glen liatin kamu terus Zoya,” seloroh Nicolas, sedari tadi ia melihat Glen yang selalu saja menatap ke mejanya tepatnya ke arah Zoya yang tepat duduk di sebelah Luna. Bisa ia tebak, Glen tertarik dengan Zoya.
“Pak Glen? Hahhahaha.” Zoya tertawa sumbang mendengar penuturan itu. Suatu hal yang tak mungkin terjadi, pria friendly yang selalu memberikan senyuman ke semua orang di setiap kesempatan.
“Hahahaha.” Mereka semua kompak tertawa mendengar ocehan Zoya, Zoya selalu saja menjadi mood booster yang selalu menghibur mereka. Contohnya Luna, Luna terlihat tertawa terbahak-bahak ikut menertawakan Zoya. Sejenak ia melupakan masalahnya.
“Ayo sayang makan dulu.” Nicolas menyuapi Luna nasi goreng yang baru saja datang. Sangat mesra dan menjadi impian semua orang. Mereka berdua terkenal dengan keromantisan dan kesederhanaan dalam berhubungan. Contohnya saat ini, momen kecil yang membuat semua orang iri.
“Makasih sayang,” balas Luna menerima suapan dari Nicolas dengan senang hati. Ia tak tau setelah ini kapan lagi bisa bermesraan dengan Nicolas, ia hanya ingin memanfaatkan waktu bersama Nicolas sebaik mungkin.
Hal itu tak luput dari perhatian Eva dan Zoya. Zoya ikut senang melihat sahabatnya bahagia, ia bahkan bersiul mengejek mereka. Berbeda dari Zoya, Eva memaksa senyumannya rasa iri menghampirinya ia tak suka melihat Luna bahagia bersama pasangannya. Luna dikelilingi oang baik, Luna memiliki teman yang baik seperti mereka, pasangan yang pengertian seperti Nicolas, walaupun berasal dari keluarga miskin Luna terlihat bahagia, hal itu membut Eva iri. Sedangkan Eva, memiliki harta berlimpah namun tak mendapatkan kebahagiaan sedikitpun dari keluarganya. Ia dituntut menjadi anak yang berbakti, pintar dan bisa meneruskan usaha keluarga. Hidup Eva tak sebebas itu, setiap gerak-geriknya dikontrol oleh orangtua.
“Luna terlihat bahagia, kapan aku bisa seperti Luna,” batin Eva tersenyum kecut menatap Luna yang sedang bermesraan dengan Nicolas. Mereka berda bahkan tak segan-segan menunjukkan kemesraan di hadapan banyak orang.
“Eva hei!” Luna menjentikkan jari tepat di hadapan Eva. Perempuan itu terlihat melamun sampai tak mendengarkan ucapannnya.
“Ehh? Ya, ada apa?” tanya Eva tersadar dari lamunan panjangnya, saking asiknya melamun ia sampai tak mendengar ada yang memanggil namanya.
“Aku pergi dulu ya, mau jalan -jalan sama Nicolas dulu,” kata Luna dengan nada riang, ia tak sabar berduaan dengan Nicolas. Kalau tidak hari ini kapan lagi bisa bersama Nicolas, lagipula ia juga merindukan pria itu. Pria yang selalu ada untuknya, yang selalu mendukungnya.
“Kamu tidak bekerja hari ini, Luna?” tany Eva mengingatkan Luna, wanita itu memiliki pekerjaan yang harus dijalankan.
“Sepertinya izin dulu,” jawab Luna mengadeng mesra tangan Nicolas.
Kedua temannya mengangguk tanda mengerti, mereka mengerti orang seperti Luna membutuhkan waktu untuk bersantai setelah bekerja setiap hari. Kulia, lalu bekerja, itu membuat waktu istrirahat Luna berkurang.
“Ayo sayang,” ajak Nicolas, berjalan bersisihan dengan Luna. Mereka berdua terlihat seperti pasangan pada umumnya sangat cocok.
Tak lama mereka berdua sudah sampai di salah satu mall yang ada di ibukota. Luna maupun Nicolas berjalan dengan santai melirik ke sana ke mari mana tau ada barang yang cocok untuk mereka. Mata Luna terfokus ke salah satu tas yang ada di sebuah toko, ia pun berjalan melihat lebih dekat tas itu.
“Kamu mau beli itu?” tanya Nicolas sambil mengecek harga. Matanya membola melihat harga yang terpanpang di sana.
“Iya, bagus kan?” tanya Luna meraih tas itu mengecek detail-detail dari tas itu. Rasanya ia ingin membawa pulang sekarang.
“Apa uang kamu cukup sayang? Bulan ini aku belum gajian, jadi mau minjam uang kamu dulu buat bayar kontrakanku.” Nicolas berbisik, agar tak didengar oleh para pembeli yang juga sedang melihat tas.
Bukan apa-apa, ia dan Luna bukanlah pasangan kaya raya yang menghabiskan uang untuk berfoya-foya, mereka memulai semuanya dari nol. Luna bekerja ia juga bekerja, namun pekerjaan Luna lebih menjanjikan dari dirinya.
“Kamu belum gajian lagi? Sudah tiga bulan,” balas Luna memicingkan mata bingung dengan sistim kerja di kantor Nicolas. Yang Luna tau Nicolas bekerja di sebuah kantor yang tentu gajinya lebih banyak dari Luna yang hanya bekerja part time di sebuah café. Namun, setelah ia lihat Nicolas sering meminjam uang ke dirinya.
“Iya nih, belum katanya bulan depan. Jadi bulan ini aku pinjam uang kamu dulu ya, bisa kan sayang?” tanya Nicolas dengan nada lembut. Ia sangat berharap Luna mau meminjamkan uang kalau tidak dengan Luna dengan siapa lagi.
Luna mengerucutkan bibir, ia sedih karena lagi dan lagi tak bisa membeli barang yang ia inginkan dan itu semua demi kebutuhan Nicolas. Ingin sekali Luna protes tapi tak enak hati, Nicolas bekerja untuk menghidupi adiknya yang masih SD dan orangtua Nicolas hanyalah pekerja buruh biasa.
“Baiklah bulan depan saja.” Akhirnya Luna mengalah dan membiarkan Nicolas meminjamkan uangnya, setidaknya ia berkontribusi di dalam hidup Nicolas. Luna takut suatu saat Nicolas tak mau menerimanya karena tau Luna sangat merepotkan.
Nicolas tersenyum senang mendengar ucapan Luna, tak salah ia memilih pasangan. Luna memang bisa diandalkan di saat yang genting.
“Makasih sayang,” ujar Nicolas mengecup mesra kening Luna dengan lembut.
Luna memejamkan mata merasakan kelembutan itu, kelembutan yang sangat ia rindukan yang membuat ia tak bisa jauh dari Nicolas. Nicolas selalu meratukan dirinya, selalu ada waktu ia butuhkan.
Tiba-tiba saja ada suara ponsel berdering, terdengar begitu nyaring. “Bentar aku angkat dulu, dari bos ini,” kata Nicolas meraih ponselnya lalu melihat penelpon. Ia menyungingkan senyum aaat tau siapa yang menelpon.
Luna mengangguk, membiarkan Nicolas mengurus pekerjaanya sebentar. Ia memilih berkeliling toko saja, memanjakan mata walaupun tak membeli.
Kembali ke Nicolas. Nicolas terlihat senang menerima panggilan dari seseorang yang sedari tadi ia tunggu. “Ada apa sayang?” tanya Nicolas melalui ponselnya.