Bab 1 | Firasat
Senyum secerah mentari pagi itu mengembang begitu indah dari bibir seorang wanita yang baru saja membuka matanya, senyumnya semakin cerah saat menatap wajah tampan suaminya yang masih begitu lelap dalam tidurnya. Wanita itu –Kasih-, kembali mengeratkan pelukannya, mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya, membuat Sakha, sang suami pelan-pelan tersadar dari tidur panjangnya, walau dengan mata terpejam, pria itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dia mengeratkan pelukannya seperti keinginan istrinya, sang kekasih hatinya.
“Mas, kamu sudah bangun?’ Bisik Kasih di d**a bidang Sakha, membuat Sakha hanya menggumam dan mengecup lembut puncak kepala kasih.
“Malas sekali rasanya hari ini, aku ingin memelukmu sepanjang hari.” Bisik Sakha sambil mengeratkan pelukannya, membuat Kasih mendecak kesal dan memukul pelan d**a Sakha, berusaha lepas dari pelukan suaminya.
“Jadwalmu cukup padat hari ini, jangan lupa kita juga memiliki janji makan malam dengan Mama dan Papa.” Ucapan Kasih membuat Sakha mendecak malas dan melepaskan pelukannya, menatap Kasih dengan bibir mengerucut kesal.
“Mandilah, aku akan menyiapkan sarapan dan bajumu.” Kasih sudah akan beranjak, namun Sakha kembali menariknya dan memeluknya erat.
“Mas!!” Teriak Kasih reflek, paginya dengan Sakha selalu seperti ini, Sakha yang begitu malas beranjak dari ranjang dan Kasih yang harus ekstra membujuknya.
“Kiss me first.” Ucap Sakha dengan mata terpejam, membuat Kasih mendecak namun tetap memberikan yang Sakha inginkan.
Tentu saja, Sakha tidak akan melepaskan hanya pada ciuman saja, pria itu dengan liciknya menahan Kasih dan memperdalam ciuman mereka.
“Mas!! Sudah siang!!” Kesal Kasih berusaha menghentikan ciuman Sakha yang semakin menjalar ke mana-mana.
“Hahaha. Maaf sayang, denganmu tidak pernah cukup hanya dengan sebuah ciuman.” Sakha sudah akan kembali mencium Kasih, namun wanita itu langsung melempar Sakha dengan bantal dan beranjak dari ranjang.
“Cepat mandi sana!” Ucap Kasih lagi dengan galaknya, membuat Sakha tidak lagi memiliki pembelaan untuk membantah.
“Baiklah baiklah, istriku sayang.” Sakha akhirnya beranjak menuju kamar mandi, Kasih lalu melanjutkan kegiatannya merapikan ranjang, namun gerakannya terhenti dan senyumnya mengembang saat memandang potret hari paling membahagiakannya bersama Sakha tiga tahun lalu. Sebuah potret pernikahan yang menjadi hari paling bersejarah dan paling membahagikan untuknya.
Dirinya dan Sakha adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Dulu Kasih mengenal Sakha yang baru saja merintis bisnis coffee shop-nya, pria muda yang tampan dan penuh semangat dalam menggapai mimpinya, dia adalah pelanggan setia coffee shop milik Sakha, dia yang telah jatuh hati dengan Sakha berusaha mendekati pria itu, dan nyatanya Sakha bukanlah pria yang sulit untuk didekati, pria itu mudah bergaul, menerimanya sebagai teman dengan tangan terbuka.
Waktu berlalu, bisnis pria itu berkembang dan berhasil menjadikan coffee shop itu sebagai bisnis waralaba dan semakin memiliki banyak cabang dari waktu ke waktu, dia menjabat sebagai CEO dari perusahaan yang dirintisnya dari 0, menjadi perusahaan di bisnis industri perkopian terbaik ke dua di Indonesia dan menjadi pilihan favorite anak muda merupakan perjalanan yang panjang. Dari sana juga, hubungannya dengan Kasih berkembang, namun Kasih juga harus menelan pil pahit saat mengetahui jika Sakha masih mencintai mantan kekasihnya, Olivia.
Namun, Kasih bukan orang yang akan menyerah, dia tidak akan kalah dengan wanita masa lalu pria itu, lima tahun sejak mengenalnya dan berusaha menyingkirkan Olivia dari hati Sakha, akhirnya semua berbuah manis saat pria itu melamarnya dengan begitu romantis.
Kecupan lembut itu menyadarkan Kasih dari nostalgia masa lalu, dia melihat Sakha yang sudah selesai mandi, pria itu hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.
“Ck ck ck… Lihat ini, istri siapa yang suka sekali melamun di pagi hari hingga mengabaikan suaminya yang begitu tampan.” Sakha mendecak dengan tatapan dibuat-buat kecewa, membuat Kasih hanya meringis dengan raut bersalah, lalu memberikan kecupan kilat di pipi dan beranjak menuju walk in closet untuk menyiapkan baju kerja Sakha.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Kasih untuk kembali dengan membawakan baju Sakha. “Bergegaslah, aku akan membuatkan sarapan untuk kita.” Kasih lalu beranjak dari kamar menuju dapur.
Sekali lagi Sakha mendapati Kasih yang melamun, wanita itu bahkan tidak menyadari jika telur yang digorengnya sudah setengah gosong. Membuatnya menggeleng dan mengembuskan napas panjang.
“Sayang, ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Sakha membuat Kasih terkesiap dan tersenyum kikuk, entah kenapa kini pikirannya dipenuhi dengan satu nama, Olivia, wanita masa lalu suaminya, yang hingga saat ini terkadang masih membuatnya resah dan takut, walau dia tau, Sakha telah mencintainya sepenuhnya, namun dia juga tau, hati manusia juga tidak selalu sama.
“Bukan apa-apa, aku hanya teringat dengan pernikahan kita, dan .. dan …” Kasih tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia merasa gagal menjadi seorang istri yang tidak bisa menyempurnakan kehidupannya pernikahannya.
Mengetahui apa yang dipikirkan oleh Kasih membuat Sakha menghela napas panjang tersenyum, membawa Kasih dalam dekapannya dan mengusap lembut puncak kepala wanita itu.
“Bukankah sudah kukatakan, anak bukanlah masalah untukku, dirimu sudah lebih dari cukup sayang, kau telah menyempurnakan hidupku.” Ucapan Sakha yang selalu menenangkan justru membuat Kasih semakin tersiksa dengan rasa bersalah.
Kasih adalah wanita sebatang kara yang berhasil berjuang untuk hidupnya, keluarganya kacau, ayahnya melakukan pembunuhan dan sering menyiksanya juga ibunya, ayahnya berakhir di penjara dan ibunya mengalami depresi dan melampiaskan sakit hatinya kepadanya, masa kecilnya begitu kelam, penuh dengan pukulan dan siksaan, membuatnya memiliki trauma mendalam, apalagi setelah ibunya memutuskan untuk bunuh diri, dia harus berjuang untuk hidupnya dengan segala sakit yang dimilikinya.
Bisa menjalani hidupnya dan bertemu Sakha adalah kado terindah dari Tuhan, namun memiliki seorang anak, dia merasa itu sangat menakutkan, dia takut, dia tidak bisa menjadi orang tua yang baik, dia takut anaknya hanya akan menderita bersamanya, walau sisi hatinya yang lain mengatakan dia tidak mungkin melakukan itu, ada Sakha yang akan menjaga dan melindunginya, namun ketakutan itu begitu besar, menjadi ibu adalah hal paling sulit dan menakutkan untuknya. Beruntung Sakha mengerti dirinya dan mau menemaninya berdamai dengan trauma masa kecilnya.