Bab 3 | Mimpi Buruk Yang Menyakitkan

1517 Kata
Kasih rasanya sudah tidak memiliki kata-kata sejak keluar dari rumah mertuanya, hatinya semakin gelisah, terlebih Sakha juga lebih banyak diam sejak tadi. Dia melirik sekilas pada Sakha yang fokus menyetir, lalu menghela napas panjang dan memilih menatap ke arah jendela. Memejamkan matanya dan berharap terlelap dalam perjalanan kali ini. Nyatanya firasat buruk yang sejak tadi pagi ia rasakan membuatnya lelah batin secara tidak sadar, hingga membuatnya dengan begitu mudah terlelap kali ini. Sakha menghela napasnya sekali lagi, melihat ke arah Kasih dan mendapati istrinya itu telah terlelap, dia tersenyum tipis dan membelai puncak kepala Kasih. ”Aku mencintaimu, sayang.” Bisik Sakha dan menggenggam tangan Kasih, lalu mengecup punggung tangan sang istri dengan perasaan yang campur aduk. Dia tau, Olivia masih memiliki pengaruh untuk hatinya, namun dia tau wanita itu hanyalah masa lalunya dan saat ini bukan lagi apa-apa. Kasih adalah kebahagiaannya dan masa depannya, dia tidak boleh memikirkan yang lain. Sakha memilih untuk kembali fokus menyetir, tanpa tau jika Kasih terlihat gelisah dalam tidurnya, kening wanita itu mengernyit dan dahinya mulai berkeringat. Kasih hanya bisa mencengkram erat ujung dress-nya melihat bagaimana Olivia dan Sakha berjalan dengan berangkulan menuju ke arahnya. ”Mas? A... Apa yang kamu lakukan?” Tanya Kasih menahan air mata dan sesak di dadanya. Sedangkan Sakha menatapnya remeh dan Olivia justru tertawa bahagia melihat wajahnya yang begitu menderita. ”Apa yang kulakukan? Kau bisa melihatnya sendiri. Olivia adalah pemilik hatiku yang sesungguhnya. Kau pikir selama ini aku bahagia bersamamu? Bodoh. Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu sembari menunggu Olivia kembali, bagaimana pun, kau sangat mirip dengan Olivia, wajahmu dan kebiasaanmu, membuatku selalu teringat Olivia, sehingga dengan menjadikanmu kekasihku, tentu akan mengobati sedikit rinduku pada Olivia.” Sakha mengatakannya dengan begitu ringan, lalu mengecup pipi Olivia setelah mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Sedangkan Kasih sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Olivia yang melihat itu semakin senang dan membalas ciuman Sakha. ”Kamu jahat, Mas!” Kasih berteriak dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya dan berlari dari hadapan mereka. Kasih tersentak dan langsung membuka matanya, mimpi yang begitu singkat namun terasa sangat menyakitkan, bahkan dia juga masih merasakan wajahnya basah karena air mata. Sakha yang tiba-tiba melihat kasih tersentak dari tidurnya dan mendengar napas yang kasar dari istrinya langsung menepi dan menghentikan mobilnya. ”Sayang, ada apa? Kamu bermimpi buruk?” Tanya Sakha begitu lekat dan penuh perhatian. Membuat Kasih bisa begitu jelas melihat wajah Sakha dari dekat. Entah mengapa air matanya kembali jatuh tanpa dikomando, wanita itu membelai wajah Sakha dengan perasaan yang campur aduk. ”Kasih, ada apa, sayang? Katakan padaku apa yang baru saja kamu mimpikan?” Tanya Sakha dengan nada khawatir, namun Kasih hanya menggeleng, lidahnya kelu dengan perasaan sesak yang semakin menjadi, dia hanya memeluk Sakha dan kembali menangis sesenggukan, membuat Sakha membalas pelukan sang istri dan mengusap lembut punggung Kasih penuh sayang. ”Kamu khawatir dengan Olivia? Sayang, dengarkan aku...” Sakha melepaskan pelukannya dan menangkup wajah kasih. ”Olivia bukan siapa-siapa, sayang. Dia hanya masa lalu yang sudah terlupakan, kehadirannya tidak akan memberikan pengaruh apapun untukku, untukmu dan kehidupan rumah tangga kita. Jika kmu khawatir dengan kehadirannya, sama saja kamu meragukan perasaanku, kan?” Sakha menatapnya sedih, membuat Kasih menggeleng keras dan menghapus air matanya. ”Bu..bukan begitu, Mas. Aku ... aku tidak tau... kenapa ... kenapa hatiku gelisah... hiks...hiks.” Kasih kembali menangis, membuat Sakha kembali membawa wanita itu ke dalam dekapannya. ”Ssstt... Tidak apa-apa, aku tidak menyalahkanmu, aku hanya akan membuktikannya padamu, sayang. Tenang yaa, semua akan baik-baik saja.” Bisik Sakha begitu lembut dan penuh keyakinan pada Kasih, namun tetap saja, jauh di dalam lubuk hatinya, semua itu tetap tidak menenangkan Kasih. Tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya tiba di rumah, Sakha dan Kasih langsung bergegas untuk membersihkan tubuh mereka dan beristirahat. Sebuah pesan masuk ke ponsel Sakha, pesan yang membuat lidah pria itu kelu dan menghela napas panjang. -Mas, ini aku Olivia. Aku harap kita bisa menjadi partner kerja yang baik, aku pasti membutuhkan banyak bantuanmu. Bagaimana jika besok siang aku traktir makan siang? Anggap saja bayar dimuka sebelum aku merepotkanmu terlalu banyak nanti hahaha.- -Peace, aku senang kita bisa bertemu lagi bahkan menjadi rekan kerja. Sampai bertemu besok.- Sakha memilih mengabaikan pesan itu dan tersenyum saat Kasih baru saja keluar dari toilet. ”Kemari, aku ingin tidur sambil memelukmu.” Ucap Sakha dengan menunjukkan raut baby face-nya, pria itu merentangkan tangannya meminta Kasih menyambut pelukannya, membuat Kasih tertawa dan langsung berlari, menyambut pelukan Sakha hingga keduanya sampai terjatuh di ranjang. ”Jika kepalamu ini masih memikirkan tentang Olivia. Aku mengatakan dengan jujur sayang, jika aku juga baru mengetahui posisi Manager Keuangan yang baru Olivia. Aku hanya belum sempat menceritakannya padamu. Bukan apa-apa. Jadi berhenti berpikiran macam-macam yang akan membuat kepalamu sakit.” Sakha tersenyum menenangkan lalu mengecup kening Kasih sebanyak tiga kali dan mencubit hidung wanita itu gemas, Kasih mendengus dan memukul tangan Sakha yang masih mencubit hidungnya, namun dia senang, Sakha menjelaskannya tanpa dia perlu bertanya. ”Tidur yang nyenyak istriku sayang, pelukanku akan mengantarkanmu dalam mimpi paling indah.” Ucap Sakha begitu manis dan mengecup kening istrinya penuh kasih, membuat Kasih tersenyum lebar dengan perasaan yang jauh lebih baik, wanita itu mengeratkan pelukannya dan menyandar dengan nyaman di d**a Sakha. *** ”Sakha.” Panggilan itu terdengar begitu Sakha memasuki lobi kantor. Olivia dengan raut ceria menghampirinya, wanita itu juga terlihat baru tiba pagi ini. Sakha hanya tersenyum tipis dan mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya. Membuat Olivia mendengus dan lebih mempercepat langkahnya untuk mengejar Sakha. ”Kamu jahat sekali tidak membalas pesanku tadi malam.” Olivia menatapnya dengan wajah merengut kesal, namun sekali lagi Sakha mengabaikannya. ”Sakha.” Olivia langsung meraih lengan Sakha dan menunjukkan wajah sedihnya, membuat Sakha menahan napasnya dan menatap wanita itu dalam penuh makna. ”Olivia, Kuharap kamu bisa bersikap profesional dan mengerti posisimu. Aku adalah atasanmu dan tidak sewajarnya kamu berteriak dan merengek padaku atas hal-hal yang diluar pekerjaan. Ini hari pertamamu bekerja, jangan sampai kamu menjadi bahan gosip di kantor.” Sakha mengucapkannya dengan tegas dan tak terbantahkan, membuat Olivia terkejut dan terdiam di tempatnya. Menatap punggung Sakha dengan tangan yang mengepal kuat, hatinya terasa sakit saat Sakha dengan tega memarahinya di depan umum seperti tadi. ”Lihat saja, sayang. Aku tau kamu masih mencintaiku dan aku akan membuat kamu semakin mencintaiku dari hari ke hari, sayang.” Olivia menggumam begitu pelan, lalu melanjutkan langkahnya berlawanan arah dengan Sakha. Sakha tiba di ruangannya dan merasa begitu lelah padahal hari belum di mulai, dia melirik foto pernikahannya dan tersenyum tipis. Pertengkaran kecilnya dengan Olivia tadi benar-benar mengganggunya, bahkan kehadiran Olivia pun sangat mengganggunya. Wajah terkejut wanita itu saat Sakha berkata dengan nada yang sedikit keras tadi membuat pria itu sekali lagi menghela napasnya panjang. Dia tidak mungkin tiba-tiba memecat Olivia di saat wanita itu bahkan belum menunjukkan kinerjanya, pun memindahkannya ke cabang sangat tidak mungkin. Mau tidak mau dia harus bertahan setidaknya selama tiga bulan untuk menilai kinerja wanita itu. Jika nyatanya Olivia bisa menunjukkan performance yang bagus tentu dia tidak bisa memecat apalagi memindahkan wanita itu ke cabang di kota lain. Bekal makan siang berwarna biru langit yang tadi pagi disiapkan Kasih membuat Sakha tersenyum, Kasih selalu manis dan memperlakukannya begitu romantis. Wanita itu sangat perhatian dan memanjakannya, semenjak menikah, Sakha tau dia jadi ketergantungan dengan Kasih, semua yang dilakukan wanita itu selalu berhasil membuatnya nyaman dan bahagia. Termasuk bekal makan siang yang dibuatkan oleh Kasih setiap harinya. Sakha selalu senang dan tidak sabar untuk membuka bekal apa yang dibuat oleh Kasih, dan setiap menunya pasti tidak akan pernah mengecewakan, termasuk juga rasanya. Pekerjaan selalu membuat Sakha lupa dengan waktu, dia tidak menyadari jika jam makan siang telah tiba jika Laras tidak mengetuk pintu untuk mengingatkannya. Saudaranya itu seperti biasa, hanya membuka pintu dan berteriak kepada Sakha lalu meninggalkan ruangan Sakha dengan pintu yang terbuka. ”Ck, Ras!!” Sakha mengumpat dan beranjak untuk menutup pintu, dari luar ruangannya terlihat cukup ramai, sebagian karyawan tampak baru akan beranjak dari kubikelnya. Dia lalu menutup pintunya dan bersiap menikmati makan siang buatan Kasih. Namun teriakan di luar yang cukup nyaring membuat Sakha mengernyit dan kembali membuka pintunya. Dia melihat kerumunan di depan ruangannya, membuatnya mendekat dan sebagian karyawan langsung menyingkir. ”Astaga, maaf Nona. Saya yang salah, berjalan sambil mengobrol sehingga tidak berhati-hati. Astaga, ini panas sekali. Mari saya antar ke klinik.” Ucap seorang pria muda yang telah menumpahkan kopi panas pada Olivia, hingga mengenai lengan wanita itu dan sebagian bajunya. Olivia langsung menangkis uluran tangan pria itu, Sakha hanya terdiam melihatnya, lebih fokus pada kulit Olivia yang memerah, memang kulit wanita itu cukup sensitif. ”Silahkan lanjutkan urusan kalian, saya memanggil Olivia untuk membicarakan beberapa hal.” Ucap Sakha membuat mereka perlahan-lahan meninggalkan sesuai instruksi Sakha. Olivia yang melihat itu pelan-pelan tersenyum bahagia, walau tangannya masih terasa sakit dan perih karena tumpahan kopi panas tadi. Nyatanya kecelakaan kecil tadi mungkin akan membawa keberuntungan untuknya. Sakha yang berjalan mendahuluinya membuat Olivia mengikutinya dari belakang. Seperti yang dikatakan Sakha tadi kan, jika Sakha memiliki urusan dengan Olivia, tentu saja dia tidak perlu bertanya pada Sakha, apakah dia diijinkan masuk ke ruangan pria itu atau tidak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN