Ketakutan itu tidak pernah terlepas begitu saja.
Sebuah kata untuk menenangkan juga tidak ada gunanya.
Karena kemarahan dalam d**a adalah faktor utamanya.
Alana, Tata dan ke-empat petinggi Carswell sudah duduk berhadapan dimeja kantin. Bel istirahat sudah berbunyi, sementara yang masih mereka lakukan hanya mengalutkan ketidakhadiran Titan dan Bianca sejak tadi.
Dua objek bertolak belakang yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan dan tanya untuk beberapa orang. Oleh sebab itu, setelah jam pertama terlewati tanpa Bianca dan Titan membuat semuanya bertanya-tanya. Walaupun mereka tahu bahwa dua pembuat onar itu sering terlambat.
Jika Aiden, Arkan, Zidan, Gavin dan Tata berusaha mengerti, Alana sudah mengerucutkan bibirnya masam. Kesal sendiri karena lagi-lagi Titan tidak mengabarinya. Lagi-lagi Titan hilang tanpa kabar seperti ini.
Alana mengerti permainan ini, mungkin Tata tidak akan mengerti. Tapi Alana benci dengan fakta bahwa Titan memilih sahabatnya. Alana benci bahwa Bianca lah objek utama yang menjadi pemicu semua ini.
Untuk semua andai yang Alana takutkan, ia tidak ingin akhirnya ketakutan itu menjadi nyata. Menjadi benar bahwa sejak awal ini sebuah kesalahan.
"Benar-benar dah si Bian sama Titan. Mereka janjian bolos bareng lagi?" rutuk Alana pertama. Mengedarkan pandangan pada satu persatu teman-temannya. Ia mendengus lagi, "b**o banget sih. Udah kelas dua belas, senang banget nggak masuk sekolah."
Zidan terkekeh pertama, geli sendiri karena Alana terlihat begitu kesal. Namun paham betul pada si peringkat satu itu, karena bermain-main bukan salah satu motonya. "Udahlah Na, lo kayak kagak tahu aja Titan gimana. Ketiduran kalik ah."
"Oh ya?" ketus Alana malas. "Terus gimana dengan Bian? Ketiduran juga??"
"Ye mana gue tahu. Sahabat lo kan? Lo yang seharusnya lebih tahu." ujar Zidan kembali. "Atau, dia juga ketiduran sama Titan??" kekehnya geli, mengedipkan sebelah mata menggoda.
"Enggak jelas lo!" rutuk Alana kesal. Melempar kemarahan pada kata-kata Zidan.
"Dan--" potong Arkan menengahi. "Udahlah,"
"Lah, kenapa gue??" kekeh Zidan kemudian. Senang sendiri karena wajah masam Alana.
Tata masih diam, tidak tahu harus bereaksi bagaimana, karena ia mengerti apa yang Titan lakukan pada Bianca, sementara pada sisi lain Tata pikir Alana tidak mengetahui ini.
Pikiran masing-masing yang kini mulai mereka sembunyikan.
"Kenapa lo diam aja?" tegur Aiden pada Tata. "Galau lo? Habis diapain sama nih ondel-ondel?" Godanya pada Gavin.
Membuat Gavin menendang kaki sahabatnya itu. "Bacot lo Den, sumpah!"
"En-ggak." sahut Tata cepat. "Gue laper, lama banget lagi ini siomay datang." katanya beralasan.
"Ta, coba lo tanya Bianca dimana." titah Alana kemudian.
Tata mengangguk cepat, membuka ponselnya dan mulai mengetik rentetan pesan pada sahabatnya itu, yang sudah ditebak tidak akan dapat balasan dalam waktu singkat.
"Bener kali, mungkin Bian ketiduran. Lo tau sendiri sahabat lo yang itu juga doyan molor." jelas Tata kemudian. Namun, Alana terlanjur malas menanggapinya.
Membuat perdebatan dan ledekan terus bergantian dari mulut Zidan dan Alana. Bahkan hingga kedatangan Tessa, Megan dan Poppy, anak 12 IPs 1, yang selalu bertengkar dengan Bianca membuat Alana, Tata dan ke empat petinggi carswell mengerutkan dahi bingung.
"Tumben, Bianca sama Titan kagak gabung." kekeh Tessa pertama. Memberi ledekan untuk memanas-manasi Alana tentu saja.
"Eh, nenek lampir. Ngapain lo disini??" ujar Tata sinis. Selalu mengerti bahwa kehadiran Tessa Cs hanya memperburuk keadaan. "Pergi lo!"
"Diem deh lo. Gue bukan ngomong sama lo!" sahut Megan tidak mau kalah. "Alana-Alana." kekehnya pertama. "Lo jaga tuh sahabat cowok lo baik-baik. Entar, kalau udah diambil Bianca si penggoda, takutnya lo nangis."
"Diem lo! Sumpah, sekali lagi lo ngomong gue gampar lo!" sahut Tata galak.
Membuat Tessa meringis, lalu gadis itu berlalu. Namun ia kembali menghentikan langkahnya dan menoleh saat baru dua langkah, menyeringai geli sebelum berujar untuk Alana. "And, seandainya lo mau tahu ini, Bianca sama Titan setiap hari datang bareng lewat gerbang belakang."
"O-h satu lagi," Poppy menambahkan dengan senyum menjengkelkan. "Tadi ada yang gosip katanya sering liat Bianca sama Titan tuh jalan berduaan. Lo udah dibuang ya?"
"EH MULUT LO!" Tata berteriak lebih keras lagi. Sementara Alana hanya terdiam dan menahan sahabatnya itu.
"Benar-benar mulut medusa." Aiden berujar ngeri saat Poppy, Tessa dan Megan berlalu dari sana.
"Emang cewek kalau udah gosip, buset dah. Kalah bu-ibu lagi arisan." sambung Zidan lagi.
"Bu ibu juga cewek." potong Arkan cepat. Membuat semua yang disana langsung terkekeh geli, kecuali Alana tentu saja.
Dan satu-satunya yang mendengarkan Tessa hanya Alana. Perkataan Tessa, memberi pengaruh besar dengan semua pikiran Alana. Hingga membuat Alana angkat dari duduknya, dan berlalu. Mengabaikan teriakan Tata, Alana bergegas cepat.
Menyadarkan semua orang disana bahwa perang sebentar lagi dimulai.
***
Kadang, kita ragu pada pilihan kita saat memutuskan sesuatu. Namun, pada jarak dan tatap kita yang terus bersitemu, keraguan itu menghilang, berganti dengan kepercayaan yang mulai menenangkan.
Setelah pergi dari museum dan berjalan-jalan dengan ninjanya, Titan baru saja menghentikan motornya dihalaman depan rumah Bianca. Menunggu Bianca hingga kembali kerumahnya, Titan hanya tinggal berlalu dan mengatakan pada anak-anak, bahwa sedikit lagi ia akan menang.
Bianca menatap Titan hangat, tidak pernah merasakan bahwa seharian ini ia lebih banyak tersenyum karena ulah si songong itu. Tidak peduli pada semua tugas sekolah mereka, karena kebolosan hari ini, memberi banyak kebahagiaan bagi Bianca. Tidak peduli dengan semua pesan yang masuk dari Tata, Bianca pikir nanti saja menceritakan kebahagiaan ini pada sahabatnya tersebut. “Untuk yang pertama kalinya, makasih ya.” Kekeh Bianca geli. Kelu hanya karena mengatakan kalimat itu.
“As u wish. Gue suka kalau hari ini lo senang.” Sahut Titan kemudian. “Lo cantik kalau terus-terusan senyum. Lagian, mahal banget sih senyum lo itu. Bikin gue mau bayar.” godanya kembali.
Membiarkan Bianca memukul lengannya, Titan masih menyeringai. “Lo benar-benar b******n. Siapa sih ngajarin lo ngegombal? Kuno banget!”
“Gavin. Kuno ya? Yaudah gue gampar dulu tuh anak.” Kekeh Titan setelahnya. Ia masih menatap Bianca, membiarkan jarak mereka sangat dekat, seperti mengatakan bahwa seharian ini belum banyak waktu yang telah mereka lewati.
“Kebiasaan.” rutuk Bianca. “Segala hal mau dikelarin pakai pukulan. Sok jago banget sih lo ini!”
Mengedikkan bahu, Titan meledek. “Ya emang gue jago. Mau gimana lagi. Udah takdirnya begini.” sahut Titan cepat. “Jadi, lo beruntung dong disukain sama cowok paling jago di Danirian.”
“Dih-dih! Liat deh, tingkat kagak tahu malu lo tuh tinggi banget.” geram Bianca geli. Senang betul jika Titan sudah mendengus karena semua perlawanannya.
“Bawel.” Rutuk Titan malas. “Yaudah masuk sana. Apa perlu gue temanin lagi?”
Bianca menggeleng cepat. “Muak gue lama-lama kalau dengarin semua gombalan kuno lo itu.” decak Bianca. “Yaudah pulang sana, sekali lagi, makasih untuk hari ini.”
“Masuk dulu, baru gue pergi.” Sahut Titan cepat. Membiarkan Bianca menggeleng geli, lalu ia mulai melangkah memasuki rumahnya.
Tanpa pernah tahu, bahwa sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Masih dengan jaket hitam yang menutupi kepala, juga tangan yang sudah mengepal kuat. Memperhatikan Titan dengan penuh kebencian dan juga kemarahan yang memuncak karena tawa Bianca datang dari orang lain.
Titan baru saja menghidupkan mesin motornya dan berniat berlalu dari sana, ketika teriakan Bianca mulai terdengar semakin membabi buta. Terlonjak, Titan memarkirkan kembali ninjanya asal, dan berlari cepat memasuki rumah gadis itu.
“Bian? Hei-hei, kenapa?” katanya pelan, ia sudah meraih tubuh Bianca, membawa gadis itu dalam pelukannya. Lalu Titan membulatkan mata ketika menemukan rumah Bianca sudak berantakan. Sangat berantakan seperti habis dijajah seseorang. Kursi-kursi berserakan, pecahan vas bunga dimana-mana dan juga meja yang patahannya kemana-mana. “Astaga, kenapa? Siapa yang lakuin ini?”
Bianca menangis. Membiarkan Titan melihat kelemahannya kali ini. Bianca tidak tahu apa yang terjadi, ia juga tidak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi, tapi Bianca ingat pesan ayahnya semalam. Apa yang Basir katakan bahwa pekerjaannya tengah kacau, inikah? Inikah akibat semua kekacauan itu?
“Titan, ayah gue. Gu-gue harus hubungin ayah gue…” erang Bianca, tidak peduli tangisnya sudah pecah dalam pelukan Titan. Tidak apa, Bianca rela Titan melihat kehancurannya, Bianca tidak peduli apapun selain Ayahnya baik-baik saja. “Gue mau tahu keadaan ayah gue, Tan. Please…”
“Oke, biar gue yang hubungi ayah lo. Tenang, ayah lo bakal baik- baik aja.” Yakin Titan kembali. Ia sudah menangkup wajah Bianca, menepis air mata yang sudah bercucuran dari kelopak indahnya, Titan menatap gadis itu dalam. “Kita bakal cari tahu, oke? Jangan nangis kayak begini, ini bukan Bian yang gue kenal.” Katanya tulus. Titan bersumpah ia khawatir melihat keadaan Bianca saat ini.
Cepat Titan merogoh sakunya, membuka ponselnya dan terdiam saat menemukan salah satu pesan dari Ayah Bianca.
Om Basir
Om tahu ini sudah kelewatan, tapi tolong, untuk sementara jaga Bianca untuk Om. Om percaya sama Titan.
Titan langsung melakukan panggilan, mencoba meminta penjelasan karena pesan tersebut, namun berakhir nihil karena panggilannya terus dialihkan. Titan bahkan tidak menyadari ketika pesan itu sudah bertengger dikotak masuknya selama hampir lima jam yang lalu. Kemudian, menyimpan ponselnya kembali, Titan menatap Bianca lekat. “Ayo keapartemen gue. Bawa semua perlengkapan lo untuk beberapa hari kedepan, dan lo bakal tinggal sama gue untuk sementara waktu.”
Bianca menggeleng, masih dengan isak tangisnya ia berujar gamang. “Ayah gue, Tan. G-gue mau ketemu ayah gue.”
“Ayah lo baik-baik aja.” Yakin Titan kembali, “Ayo, buruan. Kemas semua baju-baju lo, dan ikut gue.” Tegasnya, Titan menyatukan kepala mereka, membiarkan Bianca merasakan helaan napasnya, lalu berujar dengan tulus. “Gue bakal jagain lo, Bian. Percaya sama gue.”
Untuk yang pertama kalinya, kelegaan itu terpancar nyata diwajah Bianca, dan ia membiarkan saat Titan menyeretnya memasuki kamarnya dan berkemas. Mungkin, pada akhirnya, Bianca memang membutuhkan cowok ini. Jadi, ia membiarkan hatinya ikut terbuai dengan semua perlakuan yang Titan berikan. Dan Bianca ingin mempercayai itu.
Pada akhirnya, kelegaan itu terpancar nyata. Mengubah ketakutan menjadi nyaman yang terus tumbuh.
"Gak usah nangis lagi." pesan Titan saat ia sudah membantu Bianca berkemas. "Ayah lo baik-baik aja. Lo tahu dia kuat." beo Titan kembali. Sengaja menekankan itu untuk membuat gadis tersebut lega.
Menggigit bibirnya kuat agar air matanya tertahan, Bianca mengangguk payau walaupun tidak bisa dipungkiri matanya sudah berair penuh.
Titan masih tidak berhenti memperhatikan Bianca, menelusuri mata gadis itu tepat ditengah sana, ia pula tidak mengerti apa yang terjadi, tapi satu yang terpatri bahwa Titan ingin melindungi gadis itu. Ia ingin memberi perlindungan terbaik yang ia bisa. Karena kekacauan diruang utama tadi benar-benar menghantam Titan.
Tidak tahu apa yang salah, tapi saat ini ia hanya ingin Bianca terus berada didekatnya. Sampai menit yang terus berlalu itu, dan waktu yang mereka habiskan untuk berkemas Titan benar-benar membantu Bianca dan membawa gadis itu pergi dari sana.
Bianca tahu ia akan selalu terpesona setiap kali memasuki apartemen Titan. Kemewahan yang ada disana, juga segala hal yang mampu membuat Bianca terdiam karena kekagumannya. Titan sudah menyimpan barang-barangnya disebuah kamar yang terletak dipojok kanan, sementara ia masih diduk di sofa panjang apartemen ini, menatap Titan yang sibuk kesana kemari, hingga sosok itu datang dengan satu buah botol minuman. Titan duduk tepat disamping Bianca. Membuka botol minuman itu dah menyerahkannya.
"Minum dulu, lo pasti kaget setelah apa yang terjadi dirumah lo." jelasnya pertama. Bianca menuruti, menatap Titan setelahnya dengan mata kembali berkaca-kaca. Membuat posisi mereka berhadapan, Titan menarik Bianca untuk menatapnya. Memenjarakan Bianca dalam dekatnya, Titan meraih tangan gadis itu, mengelus puncaknya lembut lalu berujar hangat. "Lo aman disini, lo bisa tinggal sampai kapanpun..."
"Titan, apa Ayah gue baik-baik aja?" tanya Bianca kalut. Menggeleng pelan karena ia hanya butuh tahu kabar Ayahnya. "I-itu pasti ulah orang-orang yang berurusan sama ayah gue..."
"Ayah lo cuma kirim pesan, supaya gue jaga lo. Itu aja, dan gue yakin dia bakal baik-baik aja." yakin Titan. Bohong jika ia tidak khawatir, karena perasaan takut itu bersarang di dirinya. "Kita bakal cari tahu, nanti. Sekarang, tenangin diri lo, Bian."
"Makasih sekali lagi." racau Bianca kemudian. "Udah nerima gue." jelasnya, menatap Titan hangat, tatapan yang mungkin tidak pernah ia perlihatkan pada lelaki itu. "Orang tua lo--enggak marah gue disini?"
Titan menggeleng cepat. "Mereka ngasi gue apart ini. Dan gue bebas bawa siapa aja. Jangan mikirin gue, Bi. Lo bebas lakuin apa aja disini."
Bianca mengangguk cepat. Tidak tahu sekacau apa dirinya hari ini, ia tidak peduli meskipun Titan sudah melihatnya.
Lalu hening, mereka saling bertatapan dalam diam, sibuk dengan semua pikiran yang mulai berkecampungan dikepala masing-masing. Jika Titan mendekat untuk memeluk gadis itu, Bianca terdiam membiarkannya.
Mungkin, keputusannya benar. Dan maaf untuk Alana, Bianca hanya ingin mencoba ini. Menerima bahagia yang mulai ia rasakan.
***