XLII. First Date

2017 Kata
Pada tatap yang terus terarah dan objek yang searah, akhir dari masalah hanya karena kita terlalu lemah dan mudah mengalah. Bianca tidak tahu kalau akhirnya berangkat sekolah bersama Titan adalah keseharian yang akan terus ia lakukan. Setelah berminggu-minggu sebelumnya, hingga hari ini keberangkatan yang melewati gerbang belakang sekolah adalah kebiasaan yang mulai terasa menyenangkan. Bianca tahu perasaan yang ia sembunyikan lambat laun akan diketahui semua orang. Namun biarlah Bianca bertahan sekuat yang ia bisa, karena lagi-lagi perkataan Tata menari dikepalanya bahwa ia juga berhak bahagia. Bianca tidak tahu sejak kapan itu bermula, tidak pandai menimalisirkan kapan perasaan itu ada atau tumbuh, tapi segala yang ia rasakan seperti memberi bukti nyata walaupun Bianca tahu ia takut dan juga tidak ingin pada mulanya. Kepergiaan mereka tanpa ingin diketahui banyak orang pula seperti menjadi bukti bahwa ada sesuatu diantara mereka. Ada sesuatu yang dapat ditebak meskipun hanya dengan melihat keduanya. Tapi tidak ada yang salah kan? Bianca hanya tidak tahu bagaimana menaruh perasaannya. Tapi Bianca pula tidak bisa mengingkari itu, mengabaikan, berpura-pura tidak ada apa-apa karena ia tahu itu malah semakin menyulitkannya. Kini, setelah Titan memarkirkan ninjanya disamping ninja-ninja lain yang sudah bertengger disana, Bianca tahu itu milik para petinggi Carswell. Namun, malas memusingkan itu, Bianca merekatkan tali sepatunya yang terlihat berantakan, menengadahkan kepalanya untuk menatap Titan, Ia berujar. "Pelajaran pertama bu Dyta. Bisa gawat ini." Menyimpan kedua tangan disakunya, Titan mengedikkan bahu. Paham betul bahwa bu Dyta pun bukan masalah bagi sang pembuat onar itu. "Siapa suruh lo telat bangun." goda Titan kemudian. Ia harus mengatakan itu walaupun Titan tahu pembicaraan merekalah yang membuat keduanya terlambat pagi ini. Panggilan yang dipenuhi oleh gombalan, tawa dan raut menyebalkan itu berlangsung begitu lama hingga Bianca dan Titan lupa bahwa tadi malam mereka sudah menghabiskan banyak waktu berdua. Konyol memang, namun jika tidak ada perasaan yang mendalam bagaimana pembicaraan itu malah terdengar menyenangkan? Menenangkan? Mengerucutkan bibirnya, Bianca berdiri seraya mendengus malas. "Lo lah. Siapa coba yang ngajak telfonan sampe jam 2 subuh!" katanya merutuki Titan. Tentu semua keterlambatan pagi ini karena cowok itu. Manggut-manggut, Titan terkekeh setelahnya. "Oh, jadi gue nih yang salah?" tantangnya, menatap Bianca dengan kekehan geli. "Iya deh, enggak papa, gue aja yang salah." "Ya emang lo." putus Bianca telak. "Mana ninggalin gue tidur lagi." protesnya. "Lo tidur ileran sama ngorok." "Enak aja." sela Titan tidak terima. "Gue yakin lo terpesona sama tidur gue." Seandainya Bianca tidak malu untuk mengakuinya. Seandainya ia bisa mengatakan semua kebenaran itu. Terbuai dengan cara tidur Titan dan terhipnotis oleh betapa sempurnanya Titan dengan mata terpejamnya. Namun lagi-lagi itu hanya seandainya Bianca bisa mengakuinya. Semalam, setelah pembicaraan mereka semakin kacau balau Bianca tahu Titanlah yang pertama tertidur, cowok itu yang meninggalkannya untuk terlelap lebih dulu, hingga yang Bianca lakukan hanya memantau Titan untuk waktu yang lama. Terdiam dan terbuai karena sosok itu mampu membuatnya meneguk ludah, hingga Bianca sendiri tidak tahu kenapa ia tidak memutuskan sambungan video itu tapi malah memperhatikan Titan yang tertidur disana tanpa cowok itu tahu. "Lo mana tahu, kan gue yang denger suara ngorok lo." timpal Bianca lagi. Beralasan. Berbanding terbalik dengan suara hatinya. Tapi ia juga senang menggoda Titan. Menghela napas malas, Titan memilih untuk menatap Bianca. Memusatkan seluruh perhatiannya pada gadis itu, dan berujar lagi. "Tapi lo suka enggak?" "Enggak. Langsung gue matiin. Suara ngorok lo ribut soalnya. Kayak suara bebek kelaperan." desis Bianca cepat. Menjulurkan lidahnya pada Titan, hingga membuat si songong itu meringis dihadapannya. "Serah." sahut Titan malas. "Mau lompat enggak? Udah jam delapan ini kalau lo mau tahu." Cepat Bianca menoleh pada pergelangan tangannya, meringis saat melihat menit dan detik yang terus melaju disana. Bianca menggigit bibirnya, menatap Titan kalut dan juga bingung. Sudah satu jam sejak bel masuk berbunyi. Melompati gerbang belakang diwaktu seperti ini pula bukan hal yang baik karena mereka sudah benar-benar terlambat. "Gimana dong? Kita pasti masuk buku hitam lagi." "Sejak kapan seorang Bianca takut? Lagian, buku hitam emang ditakdirkan untuk kita berdua kayaknya." kekeh Titan kembali. Membuat Bianca terdiam, lalu mengangguk. "Cabut aja, mau?" Dan penawaran Titan membuat Bianca langsung mengangguk menyetujui. Lagi pula, bolos bukan masalah bagi kedua siswa doyan terlambat itu. Titan mengacak rambut Bianca pelan, terkekeh sebelum mempersiapkan ninjanya kembali. "Yaudah naik." ajaknya ketika ia sudah berada dimotornya. "Stop ngacakin rambut gue." protes Bianca pertama. "Capek nyisirnya," gerutunya malas. "Jadi, kita mau bolos kemana?" "Menurut lo? Kita harus kemana?" tanya Titan balik. Berusaha untuk menyetujui apapun yang Bianca inginkan. Agar semuanya berhasil. Agar permainan ini secepatnya berakhir. Seperti siklus yang diperlukan. Dekati-pacari-sudahi. Selesai itu, Titan menang. Tidak ada lagi yang harus ia buktikan bahwa sebagai titisan dewa, ia bisa segalanya. Bianca menggigit bibirnya sementara tangannya sudah menerima helm yang Titan ulurkan. Bianca tidak tahu harus mengatakannya atau tidak, namun Bianca ingin kepergian mereka ini berbeda. Bianca ingin Titan mengingatnya dengan apa adanya ia. Hingga dengan penuh pertimbangan, Bianca berujar dengan berani. "Ajak gue ketempat yang belum pernah lo datangin sama Alana." kata Bianca takut-takut. Tapi detik selanjutnya ia merutuki ucapannya. Bodoh, kenapa bisa ia mengatakan itu? Diam. Titan terlonjak mendengar pernyataan itu. Tidak pernah menyangka bahwa akhirnya Bianca akan mengatakannya. Jadi, benarkah? Benarkah gadis itu sudah menerima kehadirannya? Titan mengulum senyumnya sebelum mengedipkan mata menggoda. "Jadi, Bianca yang galak ini mulai nerima gue?" "Kesempatan. Dan lo tahu itu enggak datang dua kali." tegas Bianca kemudian. Lalu mulai menaiki ninja Titan. Menyimpan kedua tangannya pada pinggang Titan, Bianca tersenyum tulus sementara Titan mulai melajukan ninjanya. Titan tahu kemana ia harus membawa Bianca pergi. Dan Titan akan menggunakan kesempatan itu baik-baik. Sebentar saja, kurang lebih dua minggu lagi. Titan akan merekam teman-temannya dengan boxer dilapangan. Karena sekali lagi ia, Titan. Seharusnya semua orang tahu itu. "Tan," kata Bianca pertama ketika mereka sudah keluar dari pekarangan Danirian. Titan pula sudah melajukan ninjanya lebih pelan dari sebelumnya. "Hm?" sahut Titan kemudian. Ia sudah memundurkan sedikit tubuhnya agar Bianca lebih mudah berbicara kepadanya. "Apa?" sambungnya lagi. "Gue masih aneh sama kita yang kayak begini." cerita Bianca kemudian. Mencurahkan segala keresahannya diperjalanan mereka kali ini. "Lo tahu kita berdua enggak akur." Titan terkekeh, memperhatikan wajah Bianca dari spionnya, ia tahu menggoda gadis itu kini harus lebih hati-hati agar ia dapat memenangkan semua ini. "Biasa aja." sahut Titan cepat. "Bukannya seru ya?" sambungnya menggoda. "Seru pala lo!" sergah Bianca, menghela napas panjang. "Ini aneh tahu gak?" gerutunya lagi. Dan tawa Titan benar-benar lepas disana. Bianca, gadis itu selalu punya cara untuk membuatnya merasa tertantang. "Enggak aneh menurut gue selagi kita berdua fine-fine aja." 'Fine-fine aja katanya?' omel Bianca dalam hati. Menggeleng, Bianca akhirnya tidak lagi membahas itu. Terserah saja, sebab setiap Bianca mengatakan itu Titan terlihat tidak peduli pada sekitarnya, yang terpenting bagi cowok itu hanya 'mereka'. Melihat Bianca yang terdiam, Titan menyeringai dari balik helm fullfacenya. Meraih tangan Bianca, Titan membawa tangan gadis itu lebih dekat agar melingkar dipinggangnya, mengabaikan pelototan dari Bianca, Titan terkekeh seraya menahan tangan mereka agar bertautan disana. "Bi..." pekik Titan. "Apa?" sahut Bianca cepat. Ia tidak tahu harus bagaimana menyembunyikan wajah memerahnya karena perlakuan Titan barusan. Apalagi kini punggung Titan sudah hampir dipeluknya secara menyeluruh. Titan menggeleng cepat, terkekeh dan berdecak. "Gapapa, lo cantik aja." "Jatuh aja yuk kita ini?" sahut Bianca kesal. Titan tidak pernah berhenti membuatnya merasakan perasaan itu. "Jangan dong, kasian motor cakep gue." kekeh Titan geli. "Gue aja yang jatuh, lo sama motornya tetep aman." "Dih," sela Bianca. "Gajelas lo." Titan menghentikan ninjanya dihalaman sebuah museum. Membiarkan Bianca turun terlebih dahulu, Titan menyusul setelahnya. Ia menatap gadis itu, menyimpan helm mereka sebelum meraih tangan Bianca cepat. Membiarkan jemari mereka saling bertaut, Titan membawa gadis itu dengan senyum penuh kemenangan, sementara Bianca yakin wajahnya sudah memanas. Terbukti dari bagaimana kini jantungnya sudah berpacu gila karena perlakuan yang Titan berikan. "First date. Museum." kata Titan kemudian. "Ini pertama kalinya gue kesini. Kepikiran aja buat ngajak lo." jelasnya. Masih memperketat rangkulan tangan mereka. "Dan tempat ini yang enggak pernah gue datangin sama Alana." "Dan lo berhasil. Untuk yang ini, gue juga baru pertama kesini." sahut Bianca cepat. Tanpa sadar senyumnya mengembang, seperti memberi tahu Titan bahwa ia tengah memenangkan first date mereka kali ini. "Gue udah lama banget pengen ke museum. Tapi gak pernah jadi. Terus lebih ke enggak ada yang mau sih, Tata sama Alana selalu nolak setiap gue ajak kesini." "Lo bisa pergi sama gue kapanpun lo mau." sahut Titan meyakinkan. "Lo bisa ajak gue kesemua tempat yang pengen lo kunjungin. Gue bakal ngabulin itu." "Titan," erang Bianca. Suaranya bergetar, Bianca masih sulit pada situasi ini. Tapi ia tidak bisa berbohong bahwa apa yang Titan katakan membuatnya bahagia. "Makasih ya." "Untuk apa?" sahut Titan cepat, ia sudah mengerutkan keningnya. Menatap Bianca lebih dalam tepat dimanik gadis itu. Bianca ingin sekali mengatakan bahwa ia berterimakasih karena Titan membuat mereka seperti ini. Bianca ingin berterimakasih karena segala yang Titan lakukan mampu membuatnya mengulum senyum berhari-hari. Berterimakasih karena cara Titan berhasil membuatnya melihat banyak hal lain. Berterimakasih karena Titan membuatnya merasakan perasaan itu lagi dan lagi. Tapi Bianca terlalu malu untuk mengakuinya, jadi ia hanya berdecak. "Makasih aja untuk semuanya." Mengacak rambut gadis itu lagi, Titan mengangguk tulus. "Semoga suka, Bian." kata Titan lembut. Dan Bianca benar-benar geli mendengar suara manis itu. Tapi Bianca tetap mengangguk dan masih membiarkan jemarinya saling bertautan dengan milik Titan. Mengabaikan desiran hangat diseluruh pembuluh darahnya, mereka memasuki museum yang sepi. Mengingat ini jam sekolah dan tidak ada orang disana selain mereka. Well, dan pejaga museum tentunya. "Gue suka." ucap Bianca. Ada banyak pernyataan atas apa yang baru saja dikatakannya. Dan Bianca tahu Titan pasti sudah siap untuk menggodanya. "Gue juga suka lo." kata Titan. Benar, Bianca sudah menduga dan menebak itu. Lalu meledek Titan, Bianca berdecak. "Gue suka lukisannya, bukan suka lo." kekehnya. Tapi Titan mengedikkan bahu santai seraya berujar. "Nanti juga lo suka gue." katanya membanggakan diri. "Sok tahu deh lo." sela Bianca cepat, tentu ia tidak akan mengakui itu walaupun kini perasaan itu sudah hampir terlihat begitu nyata. "Emang gue tahu kok." imbuh Titan tidak mau kalah. "Gue nih bisa menerawang masa depan." sambungnya bangga. Bianca sudah menggeleng. "Ngaco." Lalu keduanya saling tatap sebelum terkekeh. Titan membawa Bianca pada semua lukisan-lukisan menakjubkan disana. Membiarkan gadis itu terpana, sementara ia mengulum senyum sejak tadi. Berhasil, setidaknya Titan terus mengatakan itu dalam hatinya. "Gue pengen pandai gambar." ujar Bianca pelan. Mengamati sebuah lukisan abstrak dihadapannya. Walaupun Bianca tidak mengerti tapi gambaran dihadapannya berhasil membuat Bianca merasa tenang. "Lukisan abstrak ini, buat gue nyaman." "Ada banyak arti untuk semua lukisan yang dipajang disini." jelas Titan kemudian. "Dan punya banyak jawaban buat sekedar pertanyaan yang bergantung dikepala kita." katanya lagi. "Lo juga kayak lukisan." Menoleh, Bianca mengerutkan dahi atas ketidakjelasan yang Titan katakan padanya. Ikut bingung dengan lontaran si songong itu, sebelum mengedikkan bahu. "Lo mempersulit semuanya." Titan terkekeh. Lalu merangkul pundak Bianca, membawa gadis itu dalam dekapannya, dan berujar lagi. "Lo itu lukisan tersulit yang pernah gue temui. Keberadaan lo selama ini, buat gue bertanya-tanya. Ada apa dengan kita?" Melepaskan rangkulan Titan dipundaknya, Bianca berujar galak. "Udah deh, basi banget gombalan lo." Gerutunya malas. Bianca memilih mengeluarkan ponselnya, melihat sebuah cermin besar dihadapannya, ia menarik Titan mendekat dan terkekeh. "Foto yuk?" Mengedipkan sebelah mata, Titan semakin mendekat. Membiarkan Bianca mengambil foto mereka didepan cermin tersebut,Titan kembali merangkul gadis itu. Walaupun gerutuan Bianca mulai terdengar, Titan tetap melakukannya. Ada perasaan bahagia yang tiba-tiba menyergapnya dan membuatnya merasa tenang. "Udah. Satu aja, jangan banyak-banyak. Menuhin memo gue aja." sindir Bianca ketika ia selesai dengan potret mereka. Tapi Titan masih berpose disampingnya. Titan menjitak kepala gadis itu pelan, sebelum menarik Bianca untuk melihat hasilnya. "Enggak keliatan, lo pakai siluet?" Bianca mengangguk. "Biar orang-orang enggak tahu itu lo." kekehnya. "Dan supaya gue bisa ngawur kalo di foto ini si Hermes." "Dewa paling tampan di dunia??" kekeh Titan geli. Dan Bianca terlonjak karena si songong ini mengetahuinya. Jika sebelumnya ia berhasil menipu Arkan dan yang lainnya, pengetahuan Titan membuatnya specheless. "Kok lo tau?" "Taulah. Gue hapal nama-nama dewa." Kekehnya geli. "Makasi udah bilang gue tampan mirip Hermes. Lagian semua orang tahu." "Dih-dih. Pede lo!" rutuk Bianca. Namun Titan tetap terkekeh disebelahnya. Melanjutkan perjalanan mereka dimuseum, Bianca bahkan tidak menyadari saat Titan mengeluarkan ponselnya, dan mengambil beberapa foto gadis itu tanpa Bianca tahu. Dan Titan tersenyum untuk itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN