XLI. Berusaha Menerima

2033 Kata
Sengaja memberi luka padahal tahu sakit itu akan membekas selamanya. Senang mengacaukan perasaan, padahal sendirinya merasakan hal yang sama. Basecamp Carswell. Seperti biasa, kelima petinggi utama sudah berkumpul disana. Berleha-leha dengan kesibukan masing-masing seraya membicarakan banyak hal tidak penting, hingga suara Arkan memecah keheningan pertama. "Soal Alana?" kata Arkan pertama. Ia sudah menatap Titan lekat, karena Arkan dan Alana yang berada disana saat pemandangan Titan dan Bianca mengejutkan mereka semua. "Udah lo urus?" Titan mengangguk sebagai jawaban. "Khawatirin harga diri kalian. Sebentar lagi, gue bakal dapetin Bianca." kekehnya bangga. Mengedarkan seluruh pandangan dengan puas, apalagi setiap kali tatapan meringis keluar dari seluruh teman-temannya membuat Titan merasa semakin dekat untuk memenangkan ini. "Lo kagak perlu mikirin Alana, gue udah jelasin sama dia." "Cih, belom. Kagak usah senang dulu!" Arkan menyahut lagi. Gedek sendiri setiap kali Titan menjadi sesongong itu. "Masih dua minggu. Bianca bisa berubah pikiran dalam waktu dekat." "Oh ya?" sahut Titan cepat. "Sayangnya, gue liat kagak ada sama sekali penolakan." kekehnya. "Dan tu cewek bodoh terlalu gampangan." Aiden menggeleng tidak percaya. "Mulut lo, Tan." selanya cepat. Tapi tentu Titan tidak akan memusingkan itu. "Lo bakal ngasi tahu Bianca akhirnya??" Aiden menyambung kemudian. Menghentikan tangannya yang masih sibuk memainkan ponselnya, ia menaikkan kedua alis--menunggu jawaban. Titan kembali terkekeh, lalu mengedipkan sebelah mata menggoda. "Gimana--kalau lo yang ngasi tahu, wakilin gue??" "Bastard!" pekik Gavin kemudian. Menyambung saat mendengar pembicaraan itu. "Lo benar-benar minta dilempar ke got!" "Enggak beda jauh lah sama lo." sahut Titan tidak mau kalah. "Playboy paling akut disini tuh cuma lo!" "Enak aja, Zidan lebih dari gue t*i!" protes Gavin tidak mau kalah. Menatap Zidan lekat. "Sorry, gue main aman bro." sahut Zidan tidak terima. Membuat Titan, Arkan dan Aiden terkekeh ditempatnya. "Tapi gue serius, apa yang bakal lo lakuin--kalau seandainya Bianca udah terjebak sama permainan kita ini??" Arkan bertanya lagi. Menunggu jawaban yang tidak tahu harus direspon bagaimana. Karena mereka senang bermain-main. Karena mereka hobi mempermainkan hal-hal konyol ini. "Maksud gue, gimana kalau Bianca terjebak terlalu dalam. Sementara lo hanya mainin perasaan dia?" Titan menyeringai. Menyunggingkan senyumnya, lalu berujar. "Gue enggak harus peduli dengan itu kan?" kekehnya. "t*i! Lo emang bastard sialan!" Aiden mengumpat lebih dulu. "Kasian neng Bian gue..." "Lagian gue kagak yakin tuh cewek gila semudah itu luluh dari si songong ini!" Zidan berujar lagi. Masih santai menanggapi permainan ini. "Secara, dia Bianca men? Bianca? Cewek paling anti cowok di Danirian!" "Agree." Arkan menyetujui. "Kita lihat akhirnya." Arkan membenahi posisi duduknya. Membiarkan tubuhnya langsung menghadap Titan sebelum berujar. "Sumpah. Gue orang pertama yang bakal ngakak didepan muka lo, kalau akhirnya lo yang naksir Bianca." "Gue juga! Gue bakal ketawa pakai toa keliling Jakarta." Zidan menambahkan. Senang sendiri membuat pertahanan Titan runtuh. "Gue bakal ngelakuin itu kalo nanti gue tahu lo yang terjebak dalam permainan ini." Gavin mengangguk, membenarkan. "Gue, juga--" "Enggak akan." potong Titan cepat. Tidak membiarkan Gavin ikut menghakiminya. "Gue enggak akan pernah suka sama cewek bar-bar kayak begitu." sambungnya penuh keyakinan. "Gue enggak akan jatuh cinta sama cewek modelan Bianca." "Tan--" Aiden menyahut geli. "Lo enggak gay kan?" "Kenapa? Kaget kalau gue bilang gue suka lo?" ledek Titan. Dengan Aiden yang langsung menggeleng, lalu menjauh. "Najis! Gue gampar lo!" teriak Aiden. Membuat ke-empatnya lagi-lagi tertawa disana. "Jangan sampai cinta benaran lo Tan." Aiden kembali menimpali. Sementara Titan sudah menggeleng percaya diri. "Btw, lo sama Tata begimane Vin?" Zidan membuka pertanyaan lain. Tidak mengerti juga dengan perasaan sahabatnya yang satu itu. "Kasian Tata, nyimpan semua harapan sama cowok modelan lo!" Gavin mendengus, mengacak rambutnya frustasi dan berujar malas. "Kagak tau dah." "Gue aja yang ngurus Tata, gimana?" tawar Zidan lagi. "Cantik banget gila tuh cewek..." "Percuma Dan, Tata cinta mati sama Gavin. Lo kagak bakal ditoleh." Aiden memotong cepat. Membiarkan Gavin mengangguk menyetujui. "Tai." geram Zidan kemudian. "Yang berjuang ntuh bakal kalah sama yang kagak ngasi kepastian. Gue yakin, Tata bakal noleh ke gue, kalau gue bergerak lebih intens dari nih curut." ledeknya pada Gavin. Membuat Gavin menyikut d**a sahabatnya itu, dan berujar garang. "Gue gampar lo berani coba-coba dekatin Tata." "Ye curut. Diambil orang lo ngamuk. Tapi tuh cewek kagak lo kasi kepastian." Arkan menyinggung Gavin. "Kurang lebih dah lo sama Titan." "Kenapa jadi gue?" rutuk Titan malas. "Yaiyalah, elo ke Alana juga gitu." kekeh Arkan kemudian. "Lo seharusnya tahu Ana cinta mati sama lo." "Alana sahabat gue." tegas Titan sekali lagi. "Dan gue enggak ngelarang siapapun dari kalian mau dekatin dia, kagak masalah. Asal jangan pernah bikin dia nangis." sambungnya memperjelas. Titan tahu, mungkin kentara sekali bahwa ia sengaja mengabaikan perasaan Alana. Tapi Titan tidak ingin persahabatan mereka kandas hanya karena perasaan konyol itu. Maka sebut saja, Titan sengaja mengabaikannya hanya karena ia terlanjur tidak ingin kehilangan Alana. Itu saja, tidak lebih. "Dahal lo sendiri yang buat dia nangis." sahut Arkan, menyinggung. "Pikirin coba perasaan Alana." "Musnahin gih kata-kata sahabatan didunia ini. Enek gue." geram Aiden akhirnya. Titan mengulum senyumnya dan berujar. "Kalau lo mau nyuruh gue berhenti menangin Bianca, sorry, kagak mempan. Gue dah setengah jalan." yakin Titan kembali. Paham betul bahwa Arkan ingin ia menyerah dan mengaku kekalahannya. "So, sekali lagi gue ingatin, jangan lupa nyiapin diri buat pakai boxer keliling lapangan." "t*i!" erang Gavin pertama. "Najis!" Aiden menambahkan. "Ogah, sumpah!" Arkan ikut menimpali. "Lo kagak bakal menang!" yakin Zidan kembali. Titan terkekeh mendengar rutukan dari ke empat sahabatnya itu. Menatap satu persatu sahabatnya dengan seringai geli, sebelum memilih membahas masalah lain. "Enggak ada pergerakan dari anak Ocean?" tanya Titan akhirnya. Akhir-akhir ini, mereka terlalu tenang. Kelewat tenang hingga membuat Titan bingung, tidak seperti biasanya. "Nyerah? Setelah dihabisin terakhir kali?" "Mungkin." Arkan menyahut kemudian. "Enggak ada pergerakan ataupun perlawanan." jelasnya kemudian. "Beberapa mata-mata gue juga enggak ngabarin apa-apa." "Balapan? Belum ada tanda-tanda ada pertandingan?" tanya Titan lagi. Terlalu bosan dengan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini. "Apa ngejar Bianca membosankan??" ledek Zidan kemudian. "Capek?" godanya lagi. Lalu Titan menepuk kedua tangannya. Membalas kekehan sahabatnya itu, dan berujar. "Apa gue keliatan mau nyerah?" Kemudian, tidak ada lagi yang menyahut. Paham betul bahwa Titan tidak akan kalah setiap kali memperdebatkan sesuatu. Kelimanya memutuskan untuk membahas permasalahan lain. Hal-hal tidak berguna yang selalu mereka bicarakan setiap kali berkumpul. Dan keberadaan mereka memang berdampak bagi SMA Danirian. Kelima petinggi utama yang menjabat dan bertugas dengan gelar masing-masing. Para pembuat onar yang sering menghakimi dan senang dalam bermain-main. *** Titan tidak mungkin menyerah begitu saja setelah semua yang ia perjuangkan. Ia tidak akan kalah hanya karena pikiran-pikiran kuno itu mulai menyerangnya dengan semua andai-andai yang Titan takutkan. Namun persetan dengan itu semua, Titan hanya perlu menyelesaikannya dan kembali dengan keadaan sebelumnya. Bermain-main adalah keahliannya. Bersenang-senang adalah jalan pilihannya, lantas, mempermainkan perasaan gadis bodoh seperti Bianca juga bukan permasalahan yang sulit. Titan sudah merebahkan diri disofa panjang apartemennya. Setelah membahas banyak hal dan memutuskan untuk meninggalkan Basecamp, Titan kembali ke apartemen dengan malas. Melewati rutinitas seperti biasa sebelum keesokannya melanjutkan kegiatan hari-harinya. Membuka ponselnya, Titan menemukan banyak sekali pesan dari Alana. Menekan gambaran diatas kanan ponselnya, Titan melakukan panggilan dengan gadis itu. "Tadi gue dijalan pulang habis dari basecamp. Kenapa Ana?" katanya lembut. Terlalu lembut hingga membuat Alana mendengus karena suara menyebalkan itu. "Papa sama Mama belum pulang, bete banget gue dirumah sendirian. Sini dong Tedi..." ujar Alana manja, tidak pernah kalut harus bereaksi seperti apa dengan sahabatnya itu. Seharusnya Titan langsung pergi seperti biasa. Tidak ada yang harus ia pikirkan selain menemani Alana dan bertemu sahabatnya itu. Menghabiskan banyak waktu dan menceritakan hal-hal konyol yang terjadi diantara mereka. Namun ada rencana lain yang ingin Titan lakukan. Rencana yang harus dengan matang ia selesaikan hanya untuk membuat permainan ini selesai sebagaimanamestinya. "Besok aja ya Ana. Gue ngantuk, benar-benar baru pulang dari basecamp. Lo telat ngabarin." jelas Titan lembut. Berusaha tetap tenang agar Alana mengerti. Suara dehaman terdengar dari sebrang sana. Alana mengerucutkan bibirnya masam, sebelum mengangguk malas. "Yaudah sih gapapa, lo tidur aja kalau gitu. Gue matiin deh," Titan mengangguk. "Goodnight, Ana." "Hmm.." sahut Alana dan langsung memutuskan sambungan. Membiarkan Titan menyeringai, sebelum kembali mencari kontak lain untuk ia senangi. Karena entah bagaimana menggoda Bianca merupakan hobinya saat ini. Hobi yang menjadikannya kesenangan untuk permainan yang tengah berlangsung kini. Lalu tidak butuh banyak waktu ketika Titan mulai masuk kedunia yang ia buat untuk dirinya dan Bianca. Titan Deimos Kennedy Babi Titan Deimos Kennedy Eh Bi-an, sorry keypad gue eror tadi Titan menyeringai karena tidak lama hingga pesan itu terbalas. Ia terkekeh, sebelum membenarkan posisi tubuhnya, dan berkutat dengan ponselnya. Tidak tahu entah bagaimana, semua jawaban Bianca yang menyebalkan kadang membuatnya mengulum senyum. Sementara itu Bianca sendiri sudah menggerutu, tidak mengerti dengan Titan yang seperti itu. A-ah, ia pula harus mengatakan bahwa nama Titan dikontaknya sudah Bianca ganti, hanya untuk memudahkan dirinya sendiri karena sebelumnya hanya u*****n yang cocok Bianca beri untuk Titan dikontaknya. Tapi kini Bianca tahu itu terlalu berlebihan. Walaupun kekesalannya tidak berhenti. Bianca Dialova Bacot lo sumpah. Titan Deimos Kennedy Galak banget sih neng. Kayak ibu-ibu lagi nagih utang aja. Bianca Dialova Apasih, gk jelas! Titan Deimos Kennedy Kangen. Gimana? Tanggung jawab. Bianca Dialova Lo ngechat gue cuma mau bilang itu?? Titan Deimos Kennedy Iya, soalnya gue benaran kangen. Bianca Dialova Sumpah, sekali lagi lo ngomong, gue gampar! Titan Deimos Kennedy Gue ngetik loh ini, bukan ngomong. Masih gajelas ya typing gue? Bianca Dialova Apasih Tan? Lo tahu gak? Gue benar-benar mau gampar lo saat ini juga Titan Deimos Kennedy Yakin? Masa lo tega sih gampar muka cakep gue. Kasian lo diamukin fans gue entar. Bianca Dialova Dih, kagak ada orang yang ngefans sama lo. Pedee Titan Deimos Kennedy Ada. Lo aja yang kagak pernah tau Bianca Dialova Lagian gue juga kagak mau tau, gak penting. Titan Deimos Kennedy Mulai sekarang jadi kepentingan lo. Emang lo gak marah kalau dedek-dedek gemes entar godain gue? Bianca Dialova Dengan sukarela gue bakal nyerahin lo ke mereka. Mau lo dijilat-jilat kek, dicelupin ke lumpur kek. Gue gak peduli. Titan Deimos Kennedy Buset, udah kayak oreo gue jadinya. Bianca Dialova Serah. Mau apa lo chat gue malem-malem? Titan Deimos Kennedy Udah dibilangin gue kangen. Bianca Dialova Ini masih efek lo jatuh dari motor gasih? Kayaknya kepala lo kebentur Titan Deimos Kennedy Iya ya? Soalnya isi kepala gue lo mulu deh kayaknya Bianca meringis dari ranjangnya. Memilih untuk tidak menggubris itu, karena setelah kepulangan Titan tadi, Bianca memutuskan hal gila sepanjang hidupnya. Keputusan yang berjam-jam sudah dipikirnya mateng, dan keputusan yang didorong oleh semua perkataan Tata. Keputusan dan pikiran yang mengatakan ia berhak bahagia, Bianca membuat keputusan konyol itu. Sebuah keputusan yang berdampak bodoh nantinya, tapi Bianca tidak peduli selain ia ingin mencoba. Karena setelah kepergian Titan dan semua tatapan yang sering Bianca tuju diam-diam pada sosok songong itu, Bianca memilih membuka hatinya. Hingga pesan dari Titan tadi memenuhi layarnya. Bianca tahu senyumnya masih mengembang dari kedua sudut bibirnya. Kangen? Sialan! Titan benar-benar mengguncang hatinya. Titan Deimos Kennedy Di read doang? Tega. Titan Deimos Kennedy Babi? Titan Deimos Kennedy Bi? Babi? Titan Deimos Kennedy Astaga, keypad gue kenapa sih? Gue mau ngetik cantik. Jadinya Babi. Titan Deimos Kennedy Biancaaa Bianca Dialova Setan lo! Bawel! Titan Deimos Kennedy Nah gitu dong. Hampir aja gue kirim paket satu truk kerumah lo. Kirain kuota lo habis Bianca Dialova Serah lo serah Titan Deimos Kennedy Udah ngantuk lo? Bianca Dialova Belom. Titan Deimos Kennedy Jalan yuk? Gue jemput. Bianca Dialova Lo buta atau gimana sih? Lo kagak liat udah jam 12? Titan Deimos Kennedy Gak liat. Soalnya mata gue dari tadi cuma fokus ke profil lo. Lucu soalnya. Bianca Dialova Basi gombalan lo. Titan Deimos Kennedy Gue enggak gombal, gue serius tau Bianca Dialova Males bgt Titan Deimos Kennedy Mau jalan nggak? Keliling Jakarta, seru tau jalan jam segini. Bianca Dialova Enggak ah, mls dah dibilangin. Titan menyudahinya, memutuskan untuk melakukan panggilan video, Titan terkekeh saat wajah menyebalkan Bianca mulai menghiasi layarnya. Gerutuan gadis itu dan semua rutukan yang dikatakannya, malah membuat mereka menghabiskan waktu dengan menceritakan banyak hal. Hingga tidak ada yang sadar bahwa panggilan itu sudah berlangsung sampai pukul dua dini hari. Jika Bianca merasakan debaran dijantungnya yang menggila. Titan mengulum senyumnya dengan penuh kemenangan. Dua objek pada perasaan yang saling berkesinambungan. Yang satu mempermainkan, yang satu dengan tulus merelakan hatinya. Padahal Titan tidak tahu, untuk yang pertama kalinya, Bianca jatuh pada seseorang. Jatuh yang tak pernah ia bayangkan akan berakhir sekonyol ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN