Ada sekelabat keraguan yang berusaha diterima, hingga akhirnya keyakinan datang, cara tercepat untuk percaya adalah dengan melihatnya.
Bianca tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, lantas memikirkan semua perkataan Tata, Bianca tahu bahwa akhirnya ia tidak bisa mengontrol perasaan itu. Mengabaikan semua kemarahan yang ia beri untuk Titan, Bianca malah dengan bodohnya memikirkan bahwa ia harus menang dari ketakutannya sendiri. Bahwa sesekali tidak apa memikirkan dirinya.
Sudah berjam-jam Bianca memikirkan itu, terbaring diranjang dengan ogah-ogahan sementara isi kepalanya terus berganti pada satu titik, ketitik yang lain. Pada satu tubrukan keras yang beberapa hari ini atau bahkan seminggu ini mulai mengacaukan semua pertahanannya.
Dimulai dari tabrakan kecil antara dirinya dan Titan didepan Danirian, juga segala hal yang mendadak bergantian mengelilinginya.
Mengenai perlakuan Titan, semua pengakuan yang si songong itu katakan, juga sebentuk kegilaan yang terus terjadi diantara mereka. Hingga kehadiran Basir didepan pintu kamarnya, tidak membuat Bianca menyadari itu.
"Mikirin apa sih anak ayah yang satu ini??" goda Basir pertama, masih menatap putrinya dengan kekehan geli. "Ada masalah?" sambungnya hati-hati.
Suara itu langsung membuat Bianca meringis. Cepat ia menepis pikirannya sebelum berlari dalam pelukan Basir. Terlalu merindukan ayahnya tersebut, karena sejak tadi Bianca belum melihat wajah Ayahnya itu. "Ngagetin aja." rutuk Bianca kesal, sementara tangannya sudah bergelanyut dilengan Ayahnya. "Ayah baru pulang?"
Basir mengangguk sebagai jawaban. "Hari ini kacau."
Bianca membulatkan mata, menunggu penjelasan. Paham betul dengan yang dimaksud ayahnya, karena itu Bianca tahu ada yang tidak beres dengan pekerjaannya. "Ayah enggak apa-apa?"
"Tentu. Seharusnya kamu tanya, yang berurusan sama Ayah gimana nasibnya." kekeh Basir geli. Membuat Bianca langsung memukul d**a Ayahnya tersebut. "Bian belum jawab pertanyaan Ayah. Ngapain tadi didalam kamar? Uring-uringan kayak begitu?" tanya Basir lagi sementara keduanya sudah menuju ruang depan.
Bianca tidak langsung menjawab. Ia terdiam untuk memikirkan apakah harus mengatakan semua kekalutannya, atau juga tetap diam seperti tidak ada apa-apa. Namun Bianca memilih untuk mengedikkan bahu sebagai jawaban. Ayahnya sudah cukup lelah dengan pekerjaannya, Bianca tidak seharusnya menambah beban itu apalagi hanya dengan pikirannya yang kacau balau seperti ini.
"Jadi, mau sembunyi-sembunyi dari Ayah sekarang??" goda Basir kembali.
Bianca hanya mengerucutkan bibirnya masam, sebelum berujar. "Ayah, enggak ada apa-apa. Kenapa sih? Nyebelin banget!"
"Nah, kalau kayak begini, Ayah makin yakin, ini pasti ada apa-apa." kekeh Basir kembali.
Bianca hanya memukul lengan Ayahnya tersebut. "Apa Ayah pernah suka sama orang yang sama dengan sahabat Ayah?" celetuk Bianca tiba-tiba. Selalu, ia tidak bisa membiarkan kekalutan ini sendirian, karena selama hidupnya pula Bianca sudah sering membagi dan mengatakan segala keredahan itu kepada Ayahnya.
Basir mengerutkan dahi bingung. Menatap putrinya sesaat sebelum menggeleng. "Apa yang Ayah suka, enggak akan ada yang berani dekatin."
"Yaiyalah, Ayah kayak preman soalnya." sahut Bianca cepat. Membuat Basir terkekeh disampingnya.
"Kenapa? Kenapa pertanyaannya tiba-tiba menyimpang kayak begini??" ledek Basir kembali, paham betul maksud putrinya tersebut.
Bianca menggeleng cepat. "Enggak apa-apa kok, nanya aja." sahutnya beralasan.
Namun Basir baru saja hendak menyahut kembali ketika gedoran dari pintu utama menghentikannya. Ia menatap putrinya lembut dan berujar. "Apa itu Titan?"
Bianca tidak langsung menyahut ketika yang dilakukannya malah berlari keras menuju pintu utama. Bianca terdiam ketika sampai di ambang pintu, merutuki dirinya sendiri karena ia bingung kenapa ia berlari sangat cepat? Kenapa ia begitu antusias, dan kenapa ia segila ini hanya karena berharap bahwa seseorang yang berada didepan pintu tersebut adalah benar orang yang sudah ditunggunya sejak tadi.
Bianca paham, bagaimana pun kemarahan yang sering ia lontarkan, apapun perkataan kasar yang sering ia katakan, tidak akan pernah membuat Titan berhenti mengusiknya. Lantas, saat Bianca mengatakan bahwa ia berharap bahwa yang mengetuk pintunya adalah Titan, seperti yang ayahnya katakan salahkah? Salahkah Bianca berharap setelah pertengkaran mereka sepulang sekolah tadi membuat Bianca terus memikirkan apa yang Titan katakan?
Hingga pintu perlahan dibukanya, Bianca menahan senyum yang hampir tersungging diantara bibirnya karena sosok yang berdiri tegap disana sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Titan menyeringai, sebelum berjalan melewati Bianca. Menghampiri Basir yang sudah tersenyum kearahnya, Titan meletakkan beberapa makanan yang ia beli, sebelum menyalami Ayah Bianca dan berbincang ringan kepadanya. Mengabaikan Bianca begitu saja.
"Elo, ngapain kesini??" rutuk Bianca kesal. Menatap Titan galak karena si songong itu hanya berjalan melewatinya. Tapi Bianca mengatakan itu hanya untuk menenangkan perasaannya.
"Mau nyamperin lo." jawab Titan terang-terangan. Membalas tatapan Bianca dengan senyum mengejek.
"Gue enggak minta disamperin lo!" sahut Bianca cepat, walaupun apa yang dikatakannya berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan.
"Ya enggak papa, emang salah kalau guenya yang mau?" jawab Titan lagi. Masih tetap tenang, sementara Basir sudah menggeleng menatap kedua anak itu bergantian.
"Sudah-sudah, malah berantem." sela Basir geli. "Bian, Titan udah minta izin sama Ayah mau menyelesaikan Pr kalian, jadi, berhenti ngomel. Tamu kok bukannya dikasi minum, malah diomelin."
"Ogah, takutnya kebablasan dan Bian kasi racun!" geramnya.
Membuat Titan dan Basir terkekeh. Namun, tidak lama Basir memilih untuk meninggalkan Bianca dan Titan berdua saja.
Bianca masih mengerucutkan bibirnya masam, sementara Titan sedang menyiapkan tugas kelompok mereka. Dua hari lagi sudah harus dikumpul, sementara punya mereka masih jauh dari kata tuntas. Titan pula sengaja menjadikan itu sebagai alasan, walaupun ia harus berjuang keras untuk menyiapkan semua perlengkapan itu.
"Gue enggak peduli sekalipun lo sekarang mau ngusir gue. Mau ngamuk dan ngelarang gue buat datang. Gue cuma mau kerkel kita selesai tepat waktu." ucap Titan kemudian.
Bianca terkekeh mendengar celotehan Titan, menyeringai karena itu bukan Titan disekolah yang merupakan sumber masalah. "Sejak kapan, berandalan ini mikirin tugas sekolah?"
"Sejak tugasnya barengan sama lo. Gue enggak mau turun dari lima besar." sahut Titan cepat. Membiarkan Bianca mendengus mendengarkan semua omong kosong si songong itu. Namun Bianca senang, setidaknya itu bagian terpenting dari pertemuan mereka malam ini. "Maaf soal disekolah tadi." kata Titan akhirnya.
Bianca mengangkat kedua alisnya. "Yang mana??"
Titan menatap gadis itu, memenjarakan tatapan mereka. Karena Bianca memberinya sebuah tantangan. Sebuah keinginan untuk apa yang ingin didengarnya. "Soal dua-duanya." jawab Titan lagi. "Soal di Taman, dan soal ngebentak lo dikelas. Gue enggak ada maksud."
Hening, Bianca membalas tatapan Titan. Masih tidak menyangka bahwa sosok itu akan menjadi selembut ini. "Masih aneh sama perubahan diri lo."
"Enggak ada yang berubah. Gue cuma mau buktiin kalau apa yang gue kasi tau, enggak main-main." kata Titan lagi, entah sebanyak apa ia mengulang itu.
"Kenapa? Kenapa harus gue? Kenapa dengan gue?" sela Bianca cepat, membalas tatapan Titan sama lekatnya.
"Karena lo adalah lo. Lo beda Bian. Lo benar-benar menakjubkan dengan cara lo." sahut Titan, menjabarkan itu hanya untuk membuat gadis itu puas.
"Terimakasih untuk pujiannya. Tapi gue butuh jawaban." kata Bianca, itu saja tidak cukup.
"Karena lo satu-satunya cewek yang berani ngebantah gue. Lo satu-satunya cewek yang sama sekali enggak pernah noleh kearah gue. Lo satu-satu--"
"Cukup." henti Bianca. "Gue masih harus nerima situasi ini. Jadi mending, lanjutin tugas kita sekarang."
"Lo enggak marah lagi??" tanya Titan akhirnya. Lama Bianca terdiam, sebelum akhirnya mengangguk mantap. Membiarkan Titan menyunggingkan senyumnya, senyum yang tidak Bianca tahu akan menjadi sebajingan itu.
Sementara Bianca mendengarkan suara hatinya. Mengizinkan Titan untuk memasukinya pada lorong-lorong panjang yang penuh kekosongan. Setidaknya memaku perkataan Tata, bahwa ia juga berhak bahagia. Bahwa Bianca juga harus merasakan itu paling tidak sekali dalam hidupnya.
Bahkan, saat Titan sudah fokus dengan tugas kelompok mereka, Bianca hanya memusatkan perhatiannya pada pahatan sempurna wajah Titan. Rahangnya yang runcing, juga helaan napas yang beberapa kali mendengus dari hidungnya. Bibir Titan yang naik turun, hingga tanpa sadar membuat Bianca menggigit bibir membayangkannya.
"Jangan ngeliat gue terus, takutnya lo naksir. Makin runyam entar."
Dan perkataan Titan benar-benar membuat Bianca terbelalak. Cepat Bianca menyadarkan dirinya, dasar Titan sialan!
***
Orang Gila
Gue lihat, Titan makin sering main kerumah lo.
Orang Gila
Apa itu karena tugas kelompok kalian? Atau karena sesuatu yang lain?
Orang Gila
My Athena...
Orang Gila
Gue harap, lo lebih bijak dalam mahami situasi ini.
Bianca langsung berlari kebalik jendela, mengintip kehalaman depan rumahnya, mencari-cari sosok sialan si pengirim pesan, karena ia yakin ini sudah melewati batas privasi Bianca.
Bianca menggeram sementara tangannya masih meremas ponselnya kuat. Membiarkan Titan menatapnya heran, Bianca benar-benar dibuat gusar. Hingga kemarahan itu membuat Bianca membalas pesan tersebut.
Bianca Dialova
Gue bukan My Athena lo!
Bianca Dialova
Dan stop bacotin hidup gue!
Bianca Dialova
Lo mau apa?
Bianca Dialova
Lo bikin gue risih t*i!
Bianca langsung melempar ponselnya diatas sofa. Kesal sendiri karena sudah seharian ini, peneror itu masih mengusiknya. Bianca tidak ingin ini terus berlanjut, Bianca harus mencari tahu, karena diamnya selama ini terlalu disepelekan.
"Ada apa?" tanya Titan akhirnya. Setelah sejak tadi memperhatikan gerak gerik Bianca, Titan buka suara. Ada kebingungan yang merembet dalam dirinya. Kekhawatiran yang tidak jelas berasal dari mana.
Bianca masih diam, kembali diliputi pada perasaan bimbang. Diam atau menjelaskan pada Titan, sementara diantara mereka masih belum sejauh apa yang Bianca pikirkan. Lantas, Bianca mengatakan sesuatu yang lain. "Apa lo pernah punya secret admirer? Atau apapun sebutannya. Pengikut? Penguntit? Peneror?"
Titan menggeleng sebagai jawaban. "Ada yang gangguin lo?"
Bianca menggeleng cepat. Sangat cepat, karena tidak ingin Titan menebak-nebak itu. "Gue nanya aja." katanya malas. Lalu Titan tidak lagi bertanya, membiarkan Bianca dengan pikirannya, walaupun ada perasaan ingin tahu yang mendalam, Titan berusaha mengurungkannya.
A-ah Titan memang pernah mendengar mengenai seseorang yang sering memberikan Bianca banyak barang, namun ia memilih untuk mengabaikan itu karena Bianca pula sepertinya tidak ingin menceritakannya.
Bianca kembali fokus dengan pekerjaan mereka, memberi terpaan bayang-bayang pada gambaran yang sudah Titan sempurnakan, Bianca menggiring tangannya pada beberapa celah yang membutuhkan warna untuk membuat gambarannya hidup.
Bianca tahu, menggambar, mewarnai ataupun melukis bukan salah satu keahliannya, jika diberi pilihan maka Bianca akan menjunjung tinggi balapan yang sering ia ikuti, daripada harus berkutat dengan semua tugas konyol ini. Sejak kapan kelas dua belas masih diberikan tugas tidak masuk akal ini?
Hingga tanpa sadar, Bianca sudah menyerocos sejak tadi, mengerucutkan bibirnya masam, lalu menoleh ketika Titan sudah terkekeh disebelahnya.
Tawa renyah yang berhasil Bianca rangkum dari wajah tajam itu, tawa yang tanpa sadar begitu menggema diseluruh ruangan, dan kekehan geli yang berhasil membuat Bianca meringis.
"Omelan lo, enggak bakal ngerubah tugas ini." ledek Titan pertama. Jika sebelumnya ia duduk diatas sofa, Titan mendekat kearah Bianca. Membuat tubuhnya membungkuk pada gadis itu, sangat dekat hingga helaan napasnya berpusat diantara telinga dan juga leher Bianca. Membiarkan Bianca tercekat, apalagi saat tangan Titan melewati lehernya, merangkulnya sementara tangannya tersimpan diatas jemari Bianca. "Begini caranya." katanya, lalu membawa tangan Bianca menari-nari diatas kertas karton besar disana.
Bianca terdiam, memperhatikan semua gerakan tangannya dan tangan Titan, sementara si songong itu masih memberi beberapa warna dan juga garis yang mempertegas gambaran tersebut. Membiarkan Bianca menahan gejolak didadanya, karena posisi mereka benar-benar melumpuhkan Bianca.
"Ada beberapa celah yang enggak ketutup sama warna yang lo kasi." jelas Titan lagi. "Ini harus diwarna dengan posisi miring, supaya gambaran lo tetap jelas." sambungnya, membiarkan Bianca terhipnotis oleh perlakuan itu.
Titan berhenti untuk mencari tahu apakah gadis bodoh itu mengerti, hingga ia menoleh, Bianca melakukan hal yang sama. Membuat hidung mereka hampir bertabrakan, lalu keduanya terdiam. Saling tatap, dalam hening yang menguasai pikiran mereka. Membiarkan napas mereka beradu ditengah sana, Bianca terbuai.
Membiarkan pikiran-pikiran kotor menghempas kepalanya, melawan semua keinginan yang berserakan didasarnya, cepat Bianca menyadarkan dirinya, mendorong Titan menjauh, lalu pura-pura memahami semua penjelasan tersebut. "Males gue! Elo aja!" rajuk Bianca akhirnya. Ia kembali duduk diatas sofa, menatap Titan galak, lalu memutuskan untuk memalingkan muka dari wajah menyebalkan Titan.
"See, enggak ada cewek segalak ini." rutuk Titan kemudian. Namun Bianca memilih memberikan jari tengahnya. Membuat Titan kembali terkekeh, lalu ia ikut duduk disamping Bianca. "Ada banyak pertanyaan yang harus gue tahu jawabnya."
"Enggak! Pertanyaan lo selalu ngejebak!" sahut Bianca cepat. Menggeleng, karena ia tahu hanya ada perdebatan setiap kali mereka memulai pembicaraan.
Titan kembali terkekeh. Tidak terhitung sebanyak apa tawanya datang hanya karena gadis gila ini. "Lo sadar nggak?"
"Sadar apa?" gerutu Bianca. Kesal sendiri karena Titan tidak benar-benar menyelesaikan omongannya.
"Kalau lo udah berhasil bikin gue suka sama lo?" ucap Titan. Kelewat santai, hingga membuat Bianca tersedak.
Bianca membulatkan mata. "Serah!" katanya malas. "Itu bukan pertanyaan!" geram Bianca lagi.
Titan terkekeh kembali. "Itu ungkapan." jawabnya geli. "Dan, senang bisa satu langkah dekat sama lo."
"Tan--please," erang Bianca. "Lo buat situasi gue makin sulit..."
Titan mengedikkan bahu. Menyeringai sebelum mengacak rambut Bianca asal. "Gue bisa perbaiki situasi kapanpun gue mau."
"Ish! Rambut gue t*i!" geram Bianca lagi. Berusaha untuk mengabaikan semua omong kosong Titan.
Tapi Titan terlanjur tidak peduli. Ia menatap Bianca kembali. "Coba terima gue ya, Bi." katanya pertama. "Liat gue dari sisi yang lain. Liat semua kesungguhan gue."
"Ih setan, lo paan sih!" gerutu Bianca. Bodoh, karena hatinya benar-benar berdebar tidak karuan.
"Gue serius, Bian. Coba terima gue sekali ini." tegasnya. Tidak sedikitpun Titan memalingkan wajah dari Bianca, menatap gadis itu dengan semua omong kosong yang menggelikan. "Gue tahu ini terlalu cepat untuk bilang sama lo, tapi gue serius."
Bianca tidak menjawab, ia hanya menarik tangan Titan untuk melanjutkan tugas mereka. Mengabaikan semua omongan Titan yang mulai tidak masuk akal. Bahkan, saat Titan menggerutu, Bianca hanya mengulum senyumnya dan berujar. "Gue bakal coba."
Titan hampir tersentak, sebuah senyum kemenangan mulai tersungging dibibirnya. Menoleh untuk menatap Bianca, Titan tahu alis yang bertaut diwajah gadis itu sedikit memberinya harapan.
Sebentar lagi, Titan akan memenangkan ini.
***