Kadang, pada banyak hal yang tak bisa diterima dengan nalar, beberapa memilih berhenti.
Namun, pada bahagia yang datang tanpa dikira, sebuah perasaan tenang mulai menggema sekenanya.
Membuat tanya tidak hanya butuh jawabnya, tapi juga harus berakhir seperti apa.
Basecamp Carswell. Para petinggi utama sudah berkumpul disana seperti biasa. Aiden masih sibuk dengan game ditangannya, Gavin yang tidak berhenti menggoda banyak gadis dari ponselnya, juga Zidan yang masih bertengger manis dengan rokok dijemarinya. Sementara Arkan dan Titan masih duduk berhadapan. Sama-sama sudah tersimpul rokok dibibir keduanya, mereka saling pandang, hingga Arkan menajamkan pandangannya pada wajah Titan. Harus Arkan beritahukan kekacauan apa saja yang terjadi.
"Gue tahu, sekarang udah hampir dua minggu sejak permainan ini dimulai." kata Arkan pertama. Sementara Titan hanya manggut-manggut mengerti, karena Arkan yang memulai pembicaraan. "Lo g****k??" katanya kembali. Hingga membuat Titan tersentak dengan apa yang Arkan katakan.
"Kissing with this girl? U seriously?" tanya Arkan tidak percaya. Sontak, perkataan Arkan membuat Gavin, Zidan dan Aiden menghentikan aktifitas mereka, lalu ikut menyahut heboh.
"Ciuman dengan siapa?" Aiden menyahut pertama. Mengerutkan kening.
"Anjir! Siapa-siapa????" Gavin tambah bersemangat.
"Titan, Bianca??" tebak Zidan kemudian. Lalu Arkan mengangguk. Membuat Aiden, Zidan dan Gavin membulatkan mata tidak percaya. Namun Titan masih santai ditempatnya, sementara hisapan demi hisapan rokok dibibirnya masih terus dilakukannya.
"Lo tahu, apa yang paling parah?" sambung Arkan lagi. Titan hanya mengedikkan bahu. Tidak juga ingin tahu, walaupun ia bingung dari mana Arkan mengetahui itu, karena Titan hanya ingin membuktikkan bahwa ia bisa. Bahwa perkara menakluklan Bianca bukan hal yang sulit. "ALANA NGELIAT LO." eja Arkan, tegas dan juga penuh penekanan. "Dan dia nangis."
"Gila! Yang bener lo??" imbuh Gavin cepat. "Ana benar ngeliat?"
"Perang nih, pasti perang!" Zidan berujar memanasi.
"Pasti! Siapa coba yang kagak tahu kalau Alana suka sama nih setan?" jelas Aiden juga. Menggeleng tidak mengerti, karena drama ini semakin tidak terkondisi. "Terus, ngeliat nih curut cipok sama cewek lain??"
"Dan, lo sama sekali kagak jelasin apa-apa ke Alana? Lo tahu? Setiap hari dia curhat ke gue." kata Arkan lagi. "Semenjak lo mulai beraksi sama Bianca. Semenjak lo ngomong kalau lo mau main-main kayak begini."
Jika semua temannya sudah berseru tidak percaya. Titan hanya terdiam ditempatnya. Seharusnya Titan langsung pergi, menemui Alana, menjelaskan semua yang terjadi pada sahabatnya itu. Atau mengatakan kepada Alana bahwa semua yang ia lakukan hanya semata-mata karena taruhan ini. Tidak ada yang spesial, Titan tahu kemana hatinya terarah. Tidak lebih dari itu, Bianca hanya secuil kesulitan yang harus cepat dipermudahnya.
"Lo enggak benaran suka sama Bian kan?" Aiden bertanya hati-hati.
Lalu hening. Titan masih tidak memberi respon sejak tadi. Ia hanya tengah memikirkan apa yang sedang ia lakukan.
"Temui Alana. Minta maaf." kata Arkan kemudian.
"Iya t*i! Kasian..." Aiden menambahkan.
"Lo kagak liat sehancur apa mukanya waktu liat lo tadi..." decak Arkan kembali. "Atau lo emang sebajingan ini buat mainin perasaan dua cewek sekaligus?"
Kadang Titan bingung, pada sisi lain beberapa sahabatnya itu senang menggodanya dengan Alana. Namun mereka juga paling bersemangat setiap kali Titan melampaui Bianca.
Dan tidak butuh banyak waktu hingga Titan berdiri dan berlalu meninggalkan basecamp. Titan harus mengatakan pada Alana, menjijikan memang tentang ciuman itu, tapi Titan hanya ingin Bianca benar-benar bertekuk dikakinya. Tidak lebih dari pada itu, sehingga setelah selesai, Titan hanya perlu menendangnya seperti biasa. Alana harus mengerti, jadi Titan menderu motornya laju, agar Alana tidak perlu mengkhawatirkan apa yang dilihatnya, tidak ada yang lebih berarti selain gadis itu--sahabatnya.
"Lo serius Titan nyium Bianca??" tanya Gavin tidak percaya.
Arkan mengangguk. "Gila tuh setan, benar-benar kagak masuk akal."
Semuanya langsung mendekat, membuat posisi mereka saling melingkar. Terkekeh karena gosip itu membuat keempatnya semakin menggebu-gebu ingin tahu. Memperjelas bahkan lelaki pun senang dengan gosip-gosip murahan tersebut.
"Gimana ceritanya anjir??" Aiden masih mengungkapkan keterkejutannya.
"Bianca, diam aja???" Zidan menambahkan keingintahuannya.
"Gimana kalau gue bilang, Bianca menikmati itu?" kekeh Arkan geli. Mengingat, mengulang pada apa yang dilihatnya ditaman tadi. "Cuma kiss beberapa detik aja sih." kekehnya.
"Jadi, kita bakal kalah dalam taruhan ini??" protes Gavin. "Kagak mau t*i!"
"Kalem. Masih ada dua minggu." jawab Arkan santai. Kemudian, ia melanjutkan. "Gue yakin lo pada bakal merosot saking kagak percayanya." jelas Arkan kemudian. "Masalahnya bukan Alana, gimana, kalau Titan suka benaran sama Bianca??"
Hening, mereka saling pandang untuk menukarkan pikiran melalui ikatan batin mereka.
Dan ketiganya hanya tertawa setelah itu. Ketidakmungkinan yang benar-benar kentara sekali. Padahal mereka tidak tahu, saat Arkan menatap pemandangan itu, kekhawatirannya bukan lagi soal taruhan ini, melainkan sesuatu yang lain. Suatu perasaan terkutuk jika mereka sudah bermain-main dengan hati.
Dan Arkan bersumpah, ada sorot lain yang Titan perlihatkan, yang Titan berikan pada sosok Bianca. Meskipun Titan tidak mengakuinya, Arkan akan menunggu untuk itu. Maka ia hanya mengatakan, "Kita lihat aja siapa yang menangin taruhan ini." katanya, dan semuanya hanya mengangguk seraya menyeringai.
Pembicaraan mereka pula berlanjut, segala hal dan dugaan-dugaan yang takutnya benar terjadi.
Sementara itu Titan sudah memasuki rumah Alana seperti biasanya, menyapa beberapa orang pekerja lalu melewatinya begitu saja. Titan tahu Tante Alice dan Om Sean belum pulang, itu sebabnya ia langsung memasuki kamar Alana.
Membuka pintu itu tanpa permisi seperti biasanya, Titan mengulum senyumnya saat menemukan Alana masih tertidur pulas. Titan tahu beberapa hari ini ia sering mengabaikan Alana, sadar betul bahwa ketika ia mengejar Bianca, Alana menjadi sering terlupakan. Hingga penjelasan dari Arkan tadi menamparnya, membuat Titan paham bahwa ia sudah melangkah sejauh ini. Bahwa ia tahu Alana mungkin marah karena itu. Karena waktu yang biasa ia bagi untuk gadis ini, menjadi lebih dikit dari biasanya.
Titan mendekat, duduk pada sisi ranjang sementara tangannya menepis anak rambut yang berkeliaran diwajah sahabatnya tersebut. Hingga erangan Alana terdengar, Titan tersenyum sementara gadis itu membuka mata dan menatapnya--dalam.
"Pergi lo! Jangan dekat-dekat gue!" geramnya marah. Alana sudah mendorong b****g Titan dengan kakinya, memaksa lelaki itu untuk segera angkat dari ranjangnya. "Urusin Bianca sana, jangan kesini lagi! Lo jahat! Lo jahat tau enggak!"
Titan terkekeh, menahan kaki Alana yang terus mendepak-depak, ia menatap gadis itu lembut sebelum mengacak rambut Alana. "Dengerin dulu, jangan ngamuk kayak ayam sabung gini..."
"Nyebelin lo! Sana! Gue enggak mau deket lo lagi!" geram Alana. Ia benar-benar sudah mengumpulkan seluruh nyawanya ketika menemukan Titan disana.
"Yakin??" kekeh Titan menggoda. "Ada apa? Jelasin dulu, baru marah-marah, supaya gue tahu."
"Enggak! Enggak mau! Pergi aja sana, gue capek, mau tidur!" kata Alana lagi, lalu memilih untuk berbalik badan. Mengabaikan Titan lagi-lagi.
Titan masih terkekeh, ikut menghampiri dimana Alana membalikkan tubuhnya, lalu ia kembali duduk. "Gue minta maaf."
"Itu lagi, itu terus. Selalu aja, setiap saat, setiap waktu." erang Alana frustasi.
"Gue udah dengar dari Arkan." jelas Titan kemudian. "Gue cuma mau permainan ini cepat selesai, sampai Bianca pikir gue benar-benar, gue bakal udahin semuanya." kata Titan lagi. "Ciuman itu--" ejanya. "Enggak ada apa-apanya. Gue spontan, itu ancaman, ancaman supaya dia lebih percaya kalo gue benar-benar sama dia."
Alana masih mendengarkan, menatap sosok itu dengan penuh pertimbangan. Tidak bisakah Titan melihat perasaannya? Menerobos dinding pertahanannya? Alana ingin Titan bukan sebagai sahabatnya, tapi lebih dari pada itu.
"Sebentar lagi, kalau gue yakin perasaan dia ke gue udah oke. Gue bakal menangin ini, gue bakal buktiin keanak-anak, kalau hal kayak gini bukan masalah besar, untuk seorang Titan." yakin Titan kembali. "Bianca enggak punya apa-apa yang bisa buat gue suka sama tuh cewek. Jadi--lo bisa nyimpulin semuanya, Ana."
"Lo serius??" tanya Alana tidak percaya. Meneliti Titan dengan semua keresahannya.
Titan mengangguk. "Lo percaya sama gue?"
Alana mempertimbangkan. Menatap Titan dengan penuh keinginan, sebelum tidak punya pilihan selain mengangguk.
"So," ucap Titan. Membelai punggung tangan Alana, sebelum mengedipkan mata menggoda. "Biar gue selesaikan rencana ini, biar gue dekatin Bianca gila-gilaan, sampai gue rasa udah waktunya, gue bakal selesaikan semuanya."
"T-tapi lo bohongin gue.." kata Alana, mengerang.
"Selalu ada kebohongan untuk semua pengorbanan." sahut Titan cepat. "Bianca lagi dalam keadaan kacau setelah apa yang gue lakuin. Tapi gue yakin, dia bakal terus mikirin itu."
"Apa lo enggak??" sela Alana.
Titan menggeleng cepat. Seperti tidak perlu berpikir untuk jawaban yang akan ia katakan. "Bianca, enggak akan pernah bisa ngalahin posisi lo dihidup gue, Ana. Lo sahabat gue, sampai kapanpun." terangnya. "Gue hanya perlu beberapa minggu lagi buat naklukin tuh cewek, jadi, jangan pernah khawatirin itu lagi, oke??"
"Bianca belum cerita sampai sekarang, tentang kalian, tentang lo yang coba-coba dekatin dia..." kata Alana lagi. Itu pula kekhawatiran yang sampai ini masih terus ia pikirkan.
"Itu bagus. Gue bakal lebih buat dia bimbang, sampai gue yakinin kalau gue enggak main-main. Tapi u know right? Hanya sampai Bianca bertekuk sama gue."
Alana terdiam. Seharusnya ia marah, Bianca sahabatnya, tapi, setelah apa yang disaksikannya tadi, bagaimana Bianca menerima semua sentuhan Titan tanpa menyangkalnya, Alana tidak tahu pikiran jahat itu mulai menggerogotinya, sehingga tanpa sadar ia mengepalkan tangan kuat dan sudut bibirnya terangkat. Setidaknya sampai Alana mulai mengingat bahwa apa yang Titan lakukan, tidak sungguh-sungguh. Dan ia senang, jika akhirnya Bianca terluka. Karena Bianca sudah mengacaukan segalanya sejak awal.
"Jangan nyium dia lagi. Gue enggak suka." tegas Alana. Dan Titan mengangguk sebagai jawaban.
***
Bianca tidak tahu kenapa ia mengatakan itu semua, selain ia percaya bahwa Tata berhak tahu. Bahwa Tata dapat dipercaya, bahwa Tata mungkin harus mengerti. Bahwa Tata bisa menjadi satu-satunya yang memahami.
Hingga wajah kebingungan dari Tata membuat Bianca menghela napas panjang. Bianca sudah mengatakan semuanya, segala hal yang belakangan ini mulai mengusiknya, juga beberapa perlakuan Titan dan apa yang si songong itu katakan kepadanya.
Beberapa menit terlewati, ketika Bianca ingin mengatakan apa kekhawatirannya, tawa pecah menyeruak di hadapannya. Seolah-olah Tata tidak mempercayai itu, sebut saja begitu.
"A-apa? Ti-tan bilang dia suka sama lo??" kekeh Tata kembali. Lebih seperti meremehkan siapa Bianca sebenarnya.
Mengendus, Bianca menatap galak sahabatnya itu. "b***h. Gue serius t*i!"
"Tunggu-tunggu," henti Tata. Tangannya sudah dicondongkan dihadapan Bianca, membiarkan sahabatnya itu bungkam sementara dirinya sendiri memilah apa yang baru saja Bianca katakan. "Ini lagi ngomongin Titan kan? Titan yang setiap hari berantem sama lo?? Yang setiap hari ngerecokin lo? Ngebuat lo terus-terusan adu mulut sama tuh cowok? Titan teman sekelas kita? Titan sahabatnya Gavin? Titannya Alana? Titan sang pemimpin Carswell? Titan Deimos Kennedy?"
'Titannya Alana?' Kekeh Bianca dalam hati. Seperti perkataan itu menamparnya telak. Namun detik selanjutnya ia mengangguk. "Gue enggak tahu harus kayak gimana."
"s**t. K-kok bisa? T-tiba-tiba banget anjir! Gila yang bener ajaa??" tanya Tata tidak percaya. Ia tahu Bianca membohonginya kemaren, ia tahu Bianca pergi dengan Titan, tapi Tata pikir apa yang dilihatnya murni hanya karena tugas kelompok antara sahabatnya itu dengan Titan. Lantas, perkataan dan penjelasan dari Bianca membuatnya terlonjak. "Bi--" erang Tata akhirnya. "Lo tahu kan Ana suka sama Titan??" jelas Tata kemudian. Meraih tangan sahabatnya itu untuk mendapati penjelasan. Untuk menemukan sedikit kebenaran, atau harapan yang mungkin Tata takutkan.
Bianca kembali mengangguk. Perasaan itu, Bianca tahu bagaimana perlakuan Alana terhadap Titan, bagaimana pandangan Alana terhadap laki-laki itu, dan bagaimana Alana memperjelas hubungannya dengan Titan dihadapan mereka semua, Bianca sadar, Bianca bahkan tahu, lantas, salahkah jika perlakuan Titan akhir-akhir ini membuat Bianca meringis setiap kali debaran itu kadang kala menempatkan diri hingga Bianca dalam kesulitan yang kacau?? Hingga Bianca sendiri tidak bisa menyimpulkan apa sebenarnya perasaan kosong ini. "Gue enggak bisa kayak begini, Ta. Gue enggak mau ini semakin kacau lagi, gue enggak mau Ana benci gue hanya karena omongan sialan Titan."
"Tapi dia memperjelas omongannya buat lo. Siapa yang tahu, kalau ternyata selama ini Titan memang senang merhati-in lo? Titan memang suka sama lo sejak dulu, karena cuma lo satu-satunya cewek yang berani ngelawan dan ngebentak dia? Enggak ada yang tahu Bi, gimana kalau inilah alasannya kenapa Titan enggak pernah ngajak atau maju selangkah buat jadian sama Alana??"
Bianca tersentak tentu saja. Kemungkinan-kemungkinan itu, pikiran yang kini mulai memenuhi isi kepalanya, sekelabat perkataan yang terasa benar, hingga tanpa sadar membuat Bianca merasa mual.
"Apa lo juga suka sama Titan??" tanya Tata akhirnya. Sementara Bianca mulai mengangkat kepalanya, menatap sahabatnya itu--lama, sebelum mengedikkan bahu. Bukan. Bianca bukan tidak tahu, Bianca hanya tidak ingin memperjelas itu. "Bi--" decak Tata lagi. "Gue bahkan tahu jawabannya dari mata lo."
"Gue enggak mau memperkeruh ini Ta. Lo tahu gue sayang sama lo, sama Ana. Sama persahabatan kita."
"Tapi, enggak ada yang bisa maksain perasaan kita sendiri, Bi. Gue tahu ini omongan klasik dari cewek yang enggak juga paham-paham banget soal cinta, tapi--jatuh cinta itu kebahagiaan."
Bianca terdiam mendengarkan, membayangkan perasaannya, membiarkan kekonyolan itu mengisi hari-harinya, 'jatuh cinta?' geleng Bianca keras. Bulshit, tidak pernah ada cinta di dunia ini. Omong kosong, karena jika memang cinta itu ada, Bianca tidak akan seperti ini. Ditemani dengan kekosongan, karena cinta itu sendiri menghancurkan kedua orang tuanya.
"Gue tahu lo enggak pernah suka sama orang, gue tahu lo selalu lebih galak sama orang yang coba dekatin lo, gue tahu lo selalu jaga jarak, tapi--selalu ada alasan untuk kita coba ngerasain apa itu jatuh cinta." Tata menjelaskan dengan sabar.
"Gue lagi enggak jatuh cinta, Tata. Gue cuma jelasin sama lo, jadi, suatu waktu ada yang enggak beres, lo bisa ngerti." kata Bianca beralasan.
"Enggak jatuh cinta kata lo?" ledek Tata kemudian. "Tapi, gue ngerasa lo bahagia belakangan ini. Apa bukan karena lo lagi jatuh cinta??"
"Tata!" decak Bianca. "Gue enggak jatuh cinta, gue cuma mau nyelesain tugas kerkel gue."
Tata mengangguk, sementara sudut bibirnya tertarik keatas. "Selamat Bi, akhirnya, setelah sekian lama."
"Enggak-enggak. Ta, apaan sih!" geleng Bianca.
"Gue bakal rahasia-in ini dari Ana. Gue ngerti, gue paham perasaan lo. Gue tahu lo pasti ngerasa bersalah, tapi itu enggak perlu Bi. Cukup merhatiin orang-orang didekat lo, lo harus lebih tegas sama diri lo sendiri." pesan Tata, karena ia tahu Bianca seperti apa.
"Ta, lo enggak akan paham posisi gue." geleng Bianca. Mengerang.
"Gue paham, gue sama sekali tahu, maka dari itu, stop mikirin orang. Elo juga berhak bahagia, Bi." ucap Tata tulus.
Bibir Bianca terasa kelu, Bianca tidak dapat memikirkan apapun selain bagaimana perasaan yang ia miliki saat ini. Benarkah? Bolehkah Bianca merasakan itu? Bianca menggeleng cepat, karena ia lebih memilih merebahkan tubuhnya diranjang Tata. Setidaknya, Bianca lega karena berhasil mengatakan kekhawatirannya. Membagi kekalutannya itu pada salah satu sahabatnya.
Walaupun Bianca masih tidak yakin sampai kapan ia akan menyembunyikan ini dari Alana.
***