Kadang satu-satunya alasan terbaik untuk sesuatu yang disembunyikan adalah berusaha mengatakannya.
Sulit memang, namun, kelegaan akan terbayang setelahnya.
Bianca tahu ini sulit, perasaan ini, dan keadaan yang ada didekatnya. Tadi, Bianca dibuat lumpuh dah kehilangan akal sehat pada apa yang Titan lakukan. Berandalan itu, dia benar-benar membiarkan Bianca berada dalam situasi yang semakin kacau.
Bianca tahu ini sudah benar-benar tidak terkendali, namun niatnya untuk menghindari itu semua sudah Bianca rencanakan, tapi bodohnya Titan malah membuat segala yang Bianca usahakan menjadi semakin runyam.
Setelah memberi tamparan keras pada Titan, Bianca langsung melangkah pergi. Dengan semua omong kosong dan juga debaran yang menggila didadanya. Bianca tidak tahu kenapa beberapa detik itu ia terbuai, tapi setelah kesadarannya pulih total yang Bianca ingat adalah ia harus melangkah pergi secepatnya.
Bianca bersumpah ia harus menghindari Titan, tidak peduli dengan tugas kelompok itu. Bohong memang jika Bianca bilang ia baik-baik saja, karena kepalanya masih terisi oleh semua perlakuan Titan akhir-akhir ini. Ia memang terus memikirkan apa yang Titan lakukan meskipun berusaha untuk menepisnya, namun Bianca juga tidak bisa mengabaikan Alana bukan? Apa yang ia lakukan, meskipun hanya sekedar hal-hal kecil itu, Bianca malah merasa mengkhianati sahabatnya. Padahal tidak ada yang berlebihan, ia dan Titan hanya bersama karena tugas kelompok itu, tapi Titan lah yang mempersulit segala hal itu.
Jadi kini, setelah membuat keputusan panjang selama pelajaran yang dilengkapi dengan hening, Bianca harus mengatakan ini paling tidak pada Tata.
Bianca berharap supaya Titan tidak datang dipelajaran terakhir kali ini, supaya Bianca mampu mengatur detak jantungnya. Lantas, ketika menemukan Alana memasuki kelas bersama Arkan, Bianca menegang. Kondisi alami untuk kekacauan yang baru saja terjadi.
Bianca menyeringai, berpura-pura tidak terjadi apa-apa bermenit-menit yang lalu, menghempas gambaran itu disaat kepalanya terasa pecah setiap kali mengingatnya, hingga tangannya hampir meraih pergelangan tangan Alana, Bianca menyadari bahwa sahabatnya itu baru saja menangis. Kentara sekali dengan matanya yang sedikit bengkak, Alana juga hanya melewatinya begitu saja.
Cepat Bianca menoleh, menyenggol Tata yang masih sibuk dengan ponselnya, sementara Bianca tidak menyadari bahwa sahabatnya yang itu juga berusaha mengabaikannya.
"Ana??" tegur Bianca pelan. Ia menatap Arkan yang masih duduk disebelah sahabatnya tersebut. Menaikkan sebelah alisnya untuk meminta jawaban. Namun Arkan hanya mengedikkan bahu. Menggeleng pelan agar Bianca mengerti. "Lo kenapa? Ada yang gangguin lo??" tanya Bianca lagi. Suasana kelas yang riuh berhasil membuat keadaan Alana tidak memicu tanya bagi banyak orang. Barulah setelah pertanyaan itu terus Bianca ucapkan Tata ikut menoleh.
"Ana? Kenapa? Siapa yang ganggu lo?" ujar Tata kemudian. Mengerjap-ngerjap dengan bingung. Karena ia baru melihat mata Alana yang bengkak. "Kenapa? Lo baik-baik aja? Siapa yang buat lo nangis?!"
"Gu--"
Alana belum sempat menyelesaikan omongannya ketika Arkan lebih dulu memotong pembicaraan Bianca dan Tata. "Jatuh dibelakang. Kesenggol daon."
Alana membulatkan mata, lantas Arkan mendekat untuk membisikkan sesuatu. Menjelaskan secara singkat tentang situasi ini, hingga akhirnya Alana memilih untuk menghela napas panjang dan berat.
Sementara Bianca dan Tata mengerutkan dahi bingung. Detik demi detik berlalu dengan hening, ketika kedatangan Titan, Gavin, Aiden dan Zidan membuat suasana semakin kacau. Bianca merasa sesak, tanpa tahu ada apa dengan dirinya.
Saat yang lain sudah duduk diposisinya, Titan berhenti tepat disamping Bianca. Menatap gadis itu dalam diam, dengan semua pandangan yang jelas-jelas menjelajah mata hazel Bianca. Membiarkan Bianca meringis, lalu ia berpaling untuk menatap Alana kembali.
"Gue mau duduk sama lo aja, Kan." pinta Alana. Yang langsung diberi anggukan mengerti dari Arkan. Satu senggolan keras bahwa apa yang Titan lakukan sama Bianca tadi, masih terekam dikepalanya.
Titan menyeringai sebelum maju selangkah kebelakang. "Ana?" Tegurnya ketika ia baru saja berdiri disamping bangkunya. Memberi arahan agar Arkan berpindah. Namun, tatapan Arkan membuat Titan ikut menaikkan sebelah alisnya, bingung.
"Gue ada urusan sama Ana, jadi, lo bisa duduk sama Gavin dulu." jelas Arkan kembali. Memberi pelototan agar Titan cepat menuruti, karena Arkan tidak yakin Alana baik-baik saja setelah apa yang dilihatnya, setelah apa yang mereka lihat.
"Ana?" ulang Titan lagi. Namun gadis itu benar-benar mengabaikannya. Membiarkan Titan menoleh untuk meminta penjelasan, entah kepada Arkan atau siapapun, tapi percuma, karena Arkan terus mendesak Titan untuk segera duduk dan tidak bertanya terlebih dahulu.
"Eh, eh, gue enggak salah lihat??" Zidan mengerjap tidak percaya. Menatap Titan dengan kekehan geli. "Sejak kapan posisi lo diambil Arkan??"
"Tumben??" Aiden menambahkan, menekankan pernyataan itu lebih nyaring dan lama. "Ana kesambet apa??"
Gavin terkekeh. Mengelus punggung sahabatnya itu, lalu menambahkan. "See bro, sekiranya lo masih mau bertele-tele, ikhlaskan Alana buat Arkan aja."
Titan menepis tangan Gavin kuat, menatap tajam sahabatnya itu, lalu mendengus. Titan harus mencari tahu, setidaknya mengetahui kenapa Alana bertingkah seperti ini kepadanya. "Shut up!" ujar Titan galak. Membuat yang lain malah semakin gencar menggodanya.
Membiarkan Bianca mendengarkan dan memahami semua itu. Pada apa yang berusaha diterkanya, lalu Bianca memejamkan mata sebelum menatap Tata yang masih menoleh kepada Alana.
"Ta?" kata Bianca akhirnya. Sementara Tata hanya berdeham sebagai jawaban. "Gue mau ngomong sama lo." Barulah Tata menoleh, menatap Bianca malas. "Pulang sekolah, gue mau cerita. Kita berdua aja. Oke?" Bianca mengingatkan pelan-pelan. Lalu Tata mengangguk menyetujui. Melihat keadaan Alana, Bianca memutuskan untuk tidak menceritakan itu pada sahabatnya yang satu itu. Nanti saja pikir Bianca, sampai semuanya siap dan dirinya mampu.
"Ana kenapa ya??" tanya Tata lagi. Masih melirik untuk menatap sahabatnya itu. "Tadi dia baik-baik aja."
Bianca menggigit bibirnya pelan. Takut dan juga bingung. Bagaimana riuhan kelas yang menyeruak masih membuatnya merasa hening. Lalu Bianca menoleh untuk melihat Titan sesaat, pelan dan hati-hati, namun sialan karena si songong itu juga sedang memperhatikannya.
Cepat-cepat Bianca berpaling, lalu menyimpan tangan didadanya. Merasakan debaran konyol itu lagi, Bianca tahu ini salah. Sejak awal ia tahu, maka biarkan Bianca merasakannya barang sebentar.
Bianca masih menoleh untuk menatap Alana, bertanya sesekali, namun percuma karena sahabatnya itu hanya terus menatap luar jendela. Membiarkan Arkan yang berbicara seperti perwakilan yang Alana tunjuk, nanti saja, Bianca pikir Alana memang butuh sendiri.
"Apa Ana lagi berantem sama Titan??" duga Tata kemudian. Menggeser kursinya agar suaranya hanya didengar diantara ia dan Bianca. "Ana enggak pernah sekacau ini kan? Apalagi coba penyebabnya kalo bukan karena Titan?"
"Apa Ana marah sama kita?" tanya Bianca takut-takut. "T-tapi kenapa...?"
Tata tahu, dia sangat tahu setelah apa yang dilihat mereka semalam. Namun, memilih untuk membungkam itu, Tata menggeleng sebagai jawaban. "Biar Ana yang jelasin nanti."
"Ta?" tegur Bianca kembali. Menoleh, Tata menaikkan kedua alisnya. "Enggak jadi, nanti aja."
"Bitch." erang Tata. Yang dibalas Bianca dengan kekehan geli.
Bianca memilih membuka ponselnya, menemukan banyak sekali pesan dari nomor yang tidak dikenal, dari nomor yang sudah sering menerornya dengan semua omong kosong. Bianca bersumpah, untuk yang pertama kalinya ia menegang membaca pesan itu.
***
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, semuanya sudah berhamburan keluar kelas. Bianca tidak sempat menanyakan keadaan Alana karena sahabatnya itu sudah lebih dulu meninggalkan kelas. Meninggalkan mereka tanpa sepatah kata.
Mungkin Tata tidak menyadari Bianca memucat, atau mungkin tidak akan pernah ada yang menyadarinya, tapi untuk yang pertama kalinya, Bianca tahu ini sudah tidak benar. Peneror itu, atau siapapun yang sering memberinya coklat dan pesan-pesan sialan itu, menyadarkan bahwa ia selalu mengawasi Bianca dari jangkauannya. Bianca tidak pernah takut pada apapun, apapun yang mungkin menjadi kekhawatiran banyak orang, karena ia sudah diajarkan untuk melewati banyak hal seorang diri.
Namun pesan itu, apa yang dikatakannya, sejauh apa dia melihat dan mendengarkan, membuat Bianca menggigit bibirnya kuat.
Orang Gila
Bianca...
Orang Gila
Apa yang lo lakukan di taman belakang tadi dengan Titan?
Orang Gila
Ciuman dengan orang yang lo benci?
Orang Gila
Lo tahu gimana perasaan Alana kalau dia tahu pemandangan itu?
Orang Gila
Lo berlebihan Bianca.
Orang Gila
Kalian berlebihan.
Bianca mengacak rambutnya frustasi, tidak menyadari bahwa untuk yang pertama kalinya peneror itu memanggilnya dengan namanya.
Bahkan kehadiran Gavin dan Titan yang masih didalam kelas membuat Bianca tidak menyadarinya, karena ia terlalu fokus dengan pesan mengusik itu. Yang artinya hanya Ia, Tata, Gavin dan Titan yang masih bertahan dikelas.
Tapi si peneror dan Bianca tidak ada yang menyadari bahwa apa yang terjadi antara Titan dan Bianca ditaman tadi, Alana melihat itu semua.
Bianca tersentak saat Titan kembali berdiri dihadapannya. Duduk diatas meja, sementara tangannya bertopang pada kedua kakinya yang ada diatas kursi. "Lo sakit??"
Mungkin pertanyaan itu terdengar manis dan penuh kekhawatiran jika saja bukan Titan yang menanyakannya. Mungkin, Bianca akan senang hati menjawabnya dengan semua kekalutan yang tengah menghampirinya. Tapi percuma karena kemarahan tengah menguasainya. Bukan marah karena ciuman itu, melainkan karena si peneror itu melihat Bianca dan Titan.
"Ta, pulang sama gue yuk?" tawar Gavin kemudian, menatap gadis yang masih sibuk membereskan perlengkapannya disana.
Tata menyunggingkan senyumnya sebelum menatap Bianca. "Gue tunggu lo dirumah." katanya dan berlalu bersama Gavin. Mengedipkan sebelah mata, dan menghilang dari balik pintu. Bahkan disaat Bianca belum sempat mengajukan protesnya, Tata sudah bergelanyut manja dilengan kekar milih Gavin. Sementara Gavin hanya menepuk punggung Titan dan ikut berlalu.
Sialan, Bianca setengah mati menghindari si songong ini, ketika Tata malah terang-terangan membiarkannya berada disana.
"Kenapa muka lo pucat?" tanya Titan kembali. Matanya tidak lepas dari pandangan Bianca, sementara gadis itu masih terdiam dengan ponsel yang digenggam erat.
Bianca ingin sekali mengatakan bahwa ia risih. Bahwa ia membenci orang yang terus mengusiknya ini, bahwa ia ingin Titan membunuh atau apapun yang bisa si songong itu lakukan untuk menghentikannya. Untuk membuat si pengirim coklat dan pesan ini berhenti. "Bukan urusan lo." akhirnya, hanya itu yang Bianca katakan.
"Gimana kalau itu sekarang jadi urusan gue?" sahut Titan cepat. Memperjelas maksud dan keinginannya lebih dalam lagi. Titan mendekat, meletakkan tangannya didahi Bianca yang dalam hitungan detik langsung ditepis oleh gadis itu. "Gue terlanjur tahu kalau lo kenapa-kenapa, dan gue enggak bisa pergi setelah tahu itu."
"Lo apa-apaan sih!" geram Bianca kemudian. "Belum cukup gue gampar muka sialan lo ini?!"
"Ayo pulang, gue antar." ajak Titan akhirnya. Menatap Bianca dengan semua keinginan dan juga keraguan. Dalam tanya dan juga kebingungan, pada apa yang tengah ia rasakan. Sebulan, sebentar lagi, Titan harus lebih keras untuk mendapatkan gadis ini. Setelah itu, setelah semuanya dalam titik terang, Titan hanya perlu melepaskannya, mengabaikannya seperti mereka biasa.
"Gue, bisa, sendiri!" jawab Bianca cepat. "Jadi, mending lo pergi!"
Titan menggeleng. "Gue antar lo kerumah Tata. Enggak ada penolakan, atau--"
"Atau apa hah? Atau apa?!" geram Bianca lagi. Menatap Titan tidak percaya, karena rasanya benar-benar sekacau ini. Bianca marah, tidak tahu atas kemarahan apa, entah karena pengirim pesan sialan itu, atau karena perasaan yang bergejolak dihatinya? Tapi ia marah, marah yang hanya butuh pelampiasan. Marah yang terus meledak-ledak dihatinya, tanpa tahu sebenarnya ada apa.
"Lo kenapa sih?" sentak Titan, kesal sendiri dengan tingkah Bianca yang hampir membuatnya hilang kesabaran.
"Lo yang kenapa! Lo enggak liat Ana tadi?? Lo enggak paham sama situasi yang lagi terjadi?? Lo enggak sadar Ana ngehindar dari lo? Lo enggak ngerti kalau Ana butuh lo???" gerutu Bianca, mengatakan segala kekesalan itu agar Titan mengerti. Supaya Titan memahami bahwa Bianca hanya tidak ingin ini semakin mengacau mereka. Mengecoh banyak orang.
Titan menghela napas. Tatapan tajam yang mengintimidasi. "Terserah!" geramnya gusar. "Sedikitpun lo enggak pernah coba pahami apa yang lagi gue lakuin. Apa yang lagi gue korbanin. Egois, keras kepala. Lo cuma mikirin perasaan sahabat lo, tapi sedikitpun lo enggak memahami gue. Lo benar-benar keterlaluan, Bian!" racau Titan asal. "Perasaan gue--" jedanya lagi. "Apa lo anggap main-main perasaan gue??" Ia menatap Bianca yang terlonjak dengan apa yang ia katakan, memenjarakan pandangan mereka dalam beberapa detik sebelum berlalu dan meninggalkan Bianca sendirian. Jauh dibelakang sana.
Bianca tersentak, hingga kebingungan mulai merayap diatas kepalanya. Hingga rasanya semua pesan sialan itu hilang dari kepalanya, terganti dengan perkataan Titan yang mengejutkannya.
Seharusnya Bianca menghentikan langkah yang menjauh itu, seharusnya Bianca menariknya, mengatakan semuanya, menceritakan bahwa perasaannya terbagi-bagi, mengatakan bahwa Titan harus mengerti. Mengatakan ada apa dengan mereka yang sebenarnya. Menceritakan bagaimana mereka harus bertindak kedepannya. Seharusnya Bianca memahami apa yang Titan lakukan, namun Bianca hanya menepisnya. Padahal ia menyadari ada kehangatan yang terpancar dimata Titan, ada ketulusan dari setiap tatapannya, hingga sentuhan itu kembali terbayang, Bianca tahu panas berdesit diseluruh pembuluh darahnya. Perasaan hangat yang menjalari tubuhnya.
Tapi terlambat, karena Bianca terlalu takut untuk mengakuinya. Karena keengganan itu dan perasaan bersalah memenuhi seluruh kekhawatirannya.
Pikiran keji untuk seorang gadis yang selama hidupnya baru merasakaan bahwa seperti ini rasanya debaran itu. Bertahan dengan lama, apalagi setiap tatap dan sentuhan semakin memperjelasnya.
***