XXXVII. Menghindari

2019 Kata
Salah satu bagian terbaik untuk menemukan ketenangan adalah menyendiri dan merenung sendiri. Nanti kita tahu apa yang membuat keresahan itu merajai isi hati. Bianca tahu bahwa melarikan diri seperti ini tidak membuat semuanya baik-baik saja. Namun perkataan Alana tadi masih terus terbayang jelas dikepalanya, masih terus bersuara ditelinganya hingga Bianca sendiri tidak tahu harus bagaimana. Sepanjang pelajaran pula Bianca resah, duduk tanpa tahu kemana arah pikirannya. Lucu, karena Tata pula tidak banyak bersuara seperti biasanya, hingga membuat kebingungan Bianca semakin berlipat ganda. Namun satu yang ia pikirkan sejak berjam-jam berlalu bahwa ia harus menghindari semua orang untuk membuatnya tenang. Jadi seperti biasa, menggunakan cara yang sudah terlalu sering ia lakukan, Bianca kembali menghilang dan memutuskan untuk menghindari Tata dan Alana, karena ia butuh memikirkan banyak hal. Sementara itu, para petinggi Carswell baru saja memasuki kantin. "Tumben bedua doang, Bianca mana?" tanya Aiden saat menemukan Tata dan Alana hanya berdua disana. Mereka sudah bergabung dimeja yang sama seperti biasa. Sementara Titan sudah duduk disamping Alana, Gavin juga sudah anteng disebelah Tata. Aiden, Arkan dan Zidan berada dimeja sebrangnya. Mencari-cari sosok gadis gila itu, dan nihil karena Bianca sama sekali tidak terlihat ada dimana-mana. "Udah kenyang katanya, terus enggak ikut, gatau kemana tuh anak." Tata yang menjelaskan, lagi pula ia tahu Bianca keras kepala, jadi, Tata tidak punya pilihan untuk tetap memaksa sahabatnya tersebut. Karena sebelum bel istirahat tadi ia pula sudah bertanya pada Bianca. "Masa babi bisa kenyang?" kekeh Titan kemudian. Meledek walaupun objek utama tidak ada disana. "Gue udah bayangin kalau Bian ada disini, lo bedua pasti berantem lagi." ujar Alana setelahnya. Ia sudah menatap Titan lekat, tidak berhenti memperhatikan cowok itu sejak tadi. "Selalu kan? Emang pernah mereka enggak berantem?" tebak Aiden kemudian. Terkekeh geli. "Tikus sama kucing mah udah jadi satu kesatuan." "Tapi, gimana jadinya kalau mereka malah saling suka?" Arkan mengoceh. Mengatakan itu dengan pandangan lurus pada Alana. Lantas, perubahan wajah gadis itu membuat Arkan terkekeh geli. "Ya, maksud gue, enggak dalam artian nyata sih. Mana mungkin coba?" "Enggak ada yang tahu!" sela Gavin kembali. "Lo bisa aja bilang kagak, tapi enggak ada yang tahu isi hati lo." "Tapi, Bian tumbenan sih enggak mau ikut." imbuh Tata lagi. "Biasanya juga sekenyang apapun, tuh anak tetep milih ke kantin?" sambungnya. Namun pula Tata mengerti mungkin saja Bianca tengah menyiapkan diri untuk menceritakan pada mereka. Namun penjelasan dari Tata malah membuat Titan menerka-nerka apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini. "Mau gue coba cari?" katanya pertama. "Kayaknya gue tahu, tuh cewek ada dimana." Titan berujar kembali. Memberi saran itu dengan berani, padahal ia sendiri tidak tahu kenapa ia mengatakannya. Sontak, yang Titan katakan membuat semuanya menoleh. Menatap ia dengan tatapan geli dan juga bingung. "Maksud gue, gue juga udah kenyang. Jadi, kalian bisa makan, sementara gue nyari Bianca." jelasnya lagi, mempertegas kebingungan disana. "Ya ngapain sih? Kayak hilang kemana aja." Alana memotong cepat. Semuanya terkesan berlebihan hanya karena Bianca tidak ada disana. "Nanti juga nongol." Arkan, Aiden, Zidan dan Gavin tertawa kuat. Membuat beberapa siswa yang ada di kantin ikut menoleh ke meja mereka. "Hell, sejak kapan setan ini mulai berpikir untuk musingin orang lain??!" goda Arkan pertama. Menjulurkan lidahnya. "Nyari Bianca? Yang bener aja!" kekeh Zidan setelahnya, menyambung geli. Gavin juga mengangguk. "Mau lo apain? Ajak berantem lagi??" "Gue enggak yakin, Titan bakal ngebawa Bianca kesini." Aiden berdecak santai. Seruan dari keempat sahabatnya membuat Titan meneguk ludahnya. Lalu Titan menatap ke-empat petinggi Carswell itu dengan seringai tajam, sebelum kembali menatap Alana lekat. "Ana?" katanya meminta persetujuan. Seolah-olah Alana harus mengerti, karena Alana satu-satunya yang memahami itu. "Boleh, ya?" rayunya lagi. "Buat apa lo ngajakin gue kekantin? Kalau akhirnya lo pergi lagi?" sindir Alana. Gusar sendiri karena Titan tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaannya. "Apasih Tan, lebay banget. Bian enggak kemana-mana." "Lo ada apa sih sebenarnya sama Bianca?" Tata menyahut polos. Sontak, pertanyaan Tata membuat semuanya menoleh pada gadis itu. Mereka saling tatap untuk sesaat, sebelum menggeleng geli. "Apanya?" Titan yang menyahut. "Lo seneng liat gue berantem sama sahabat lo itu?" "B-bukannya gitu, abis--" jeda Tata pertama. "Lo sama Bian aneh!" Mengabaikan sindiran dari Alana, Titan angkat lebih dulu. Apalagi saat Arkan semakin meremehkannya, membuat Titan panas. "Gue pergi dulu, nemuin Bian." katanya pertama. "Gue bakal bawa dia ke sini." jelasnya dan berlalu dari sana tanpa menoleh meskipun Alana belum mengizinkannya, tapi Titan sudah terlanjur berlalu. Membiarkan sorot ingin tahu dari Tata semakin terpampang jelas disana. "Titan sama Bian lagi pdkt-an atau gimana?" "Menurut lo?" Arkan menyahut geli. "T-terus?" katanya bingung. "A-ana, gimana??" Menghela napas, Alana memukul meja dan angkat dari duduknya. "Serah! Gue gak mood mau makan!" katanya dan berlalu meninggalkan kantin. "ANJIR! ANA CEMBURU?" Zidan berujar tidak percaya. Mengedikkan bahu, Arkan terkekeh sebelum ikut angkat dari duduknya. "Biar gue yang urus." Tinggal Aiden, Zidan, Gavin dan Tata. Keempatnya saling tatap, sebelum menggeleng tidak peduli. Memilih menyelesaikan makannya, keempatnya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. "Gue harus cari tahu ini!" yakin Tata. "Gue sahabat mereka kan? Kenapa gue enggak tau apa-apa?" gerutunya lagi. Terkekeh, Gavin mengangguk membenarkan. "Semangat, cantik." godanya kemudian. Lantas, tidak ada yang tahu bagaimana setelahnya. Jika yang satu sibuk mengejar, yang satu berusaha membenarkan. Pada banyaknya rencana yang kadang kala tak sesuai dengan keinginan. Mencoba menerima, bahwa ada masanya kesalahan terbesar adalah apa yang berusaha kita coba. "Ana--" Arkan berteriak. Menahan tangan gadis itu, lalu membawa tubuh mereka saling berhadapan. "Lepas!" geram Alana kemudian. Menghentak tangan Arkan dari pergelangan tangannya. "Lo apa-apaan sih!" "Lo yang kenapa?" tanya Arkan balik. "Lo cemburu? Bukannya lo--" "Gue tahu!" tegasnya, "Gue tahu, tujuan Titan, gue tahu rencana dia! Gue tahu semuanya!" geram Alana lagi. "Tapi ini makin enggak wajar! Tita--" "Jangan disini," potong Arkan kemudian. "Orang-orang ngeliatin kita!" tegasnya lagi. "Ikut gue!" katanya seraya menarik kembali tangan Alana. Membawa gadis itu menelusuri koridor, meskipun Alana bersikeras menolak itu, Arkan tetap memaksanya ikut. Hingga langkah mereka terhenti di taman belakang. Kehadiran dua orang dikursi panjang sana membuat Alana dan Arkan memilih untuk bersembunyi dari balik pohon besar. *** Titan tidak tahu apa yang salah padanya. Namun Titan hanya ingin menyelesaikan permainan itu secepat yang ia bisa. Semampu yang ia buktikan, oleh sebab itu melangkah keTaman Danirian menjadi tujuannya karena Titan percaya Bianca ada disana. Titan pula tidak tahu apa yang ia lakukan ketika dengan gesit kakinya melangkah meninggalkan kantin. Membiarkan Alana bersama yang lain, karena Titan sudah lelah untuk mendapatkan izin atas apa yang akan ia lakukan. Lagi pula, semakin cepat ia menyelesaikan rencana itu, bukankah malah semakin baik? Lantas kepergiannya ini menjadi tanya besar bagi dirinya sendiri karena Titan tidak tahu apakah itu murni karena permainan tersebut atau ada sesuatu yang lain merayap dalam dirinya setelah semalam Bianca berhasil membagi cerita padanya. Hinggah langkahnya terhenti, Titan mengulum senyumnya karena objek utama pencahariannya berhasil Titan temukan. "Ngapain disini?" Bianca menoleh pada sumber suara. Menemukan Titan sudah berdiri dibelakangnya dengan santai. Bianca membuang napasnya kasar, lalu melangkah mundur. "Lo yang ngapain kesini?" "Nyariin elo." kata Titan lagi. Ia mendekat untuk menyamai posisinya. "Anak-anak nunggu lo dikantin." Cepat Bianca menggeleng. Terlibat dengan Titan disaat pikirannya tengah kacau seperti ini bukan saran yang baik. "Enggak, gue udah kenyang." tolak Bianca kemudian. "Pergi deh lo," "See? Lagi-lagi lo ngusir gue." kekeh Titan kemudian. Ia melompat dari belakang dan mendarat pada kursi panjang dihadapannya. Menyilangkan kaki dengan tangan terselip rokok, Titan menaikkan kedua alisnya. "Berhenti ngusir gue, karena gue enggak akan pergi." "Gue enggak main-main." singgung Bianca gusar. "Mending lo pergi sekarang." tekan Bianca, tidak tahu kenapa suaranya jadi meninggi. Tapi apa yang Titan lakukan berhasil menyulutnya. "Jangan jemput gue lagi, jangan kerumah gue lagi atau datangin gue kayak gini lagi." Titan menatap gadis itu dengan kening mengkerut. Titan mengerti atas perubahaan mendadak Bianca. Bukankah tadi pagi mereka baik-baik saja? "Kita harus kelarin kerja kelompok kita." tegas Titan, beralasan. "Lo kenapa?" "Persetan dengan itu! Gue enggak peduli!" geleng Bianca, menatap Titan tajam. Memperlihatkan bahwa ia tidak peduli dengan semua itu. "Please, jangan kayak gini." Menghampiri Bianca lebih dekat dari sebelumnya, Titan berujar lagi. "Gue mau dekatin lo, apa kata-kata gue masih kurang jelas?" "Tan!" geram Bianca. "Lo sadar enggak sih tadi Alana nyindir gue??!!" sergah Bianca. "Seseorang ngeliat kita! Gimana kalau Alana tahu itu gue? Dia pasti marah! Gue, enggak mau kita berantem cuma gara-gara ini!" "Itu alasan lo ngehindar ke kantin?" tebak Titan langsung. Kini ia mengerti kenapa Bianca jadi seperti ini. "Lo takut, Alana tahu lo sama gue?" "Ana tahu semuanya tentang gue! Dia tahu gue benci sama lo! Itu sebabnya, apa yang lo lakuin sama gue--ini salah!" erang Bianca. "Gue ngedekatin lo, dan itu kesalahan?" tanya Titan tidak percaya. Titan bersumpah ia mengatakan itu tanpa memikirkan permainan mereka. "KARENA ANA SUKA LO! LO NGERTI ENGGAK SIH??!!" gusar Bianca. Menatap Titan dengan wajah memerah geram. "Lo bodoh, atau pura-pura bodoh?!" "I know." sahut Titan lagi. "Gue juga suka dia, gue juga sayang dia. Off course, dia sahabat gue." kata Titan lagi. "Gue udah jelasin itu ke lo semalam. Apa lo masih kurang ngerti? Atau kata-kata gue masih kurang jelas?" Menghela napas, Bianca menggeleng sebelum memilih berbalik badan dan melangkah pergi. Merasa percuma karena seperti biasa, Titan tidak akan menyerah hanya untuk menyahut semua omongannya. Jadi satu-satunya jalan terbaik adalah berlalu dari sana. Bianca tahu ini salah, ini tidak boleh, sejak awal ia sudah tahu. Namun, bagaimana beberapa hari ini Titan membawa sesuatu yang beda dari biasanya, Bianca tahu ada yang bermasalah pada semua pikirannya. Konyol memang menyebut itu perasaan nyaman saat mereka baru beberapa hari ini sering bersama, tapi Bianca pula tidak bisa mengabaikan itu. Lantas, baru dua langkah berlalu, Bianca merasakan tangannya kembali ditarik. Ia spontan berbalik, hingga tubuhnya sendiri menghantam d**a Titan kuat. Meringis, Bianca mendorong Titan, sebelum menggeram, "TAN!" "Enggak ada yang tahu gimana perasaan bakal datang." asal Titan, menelusuri matanya dengan milik Bianca. Membiarkan manik gadis itu menghantap pilar dimatanya. "Jangan nyuruh gue pergi, karena itu enggak akan gue lakuin." "Tan--" ujar Bianca pelan. Tidak tahu lagi harus bagaimana, terlampau bingung dengan semua yang mendadak ini. Ia sudah menghela napas panjang. "Gue enggak ma--" "Gue bakal rahasiain ini dari dari Alana. Gue bakal nutupin semua ini dari dia." yakin Titan lagi. Memastikan bahwa tidak ada yang perlu Bianca khawatirkan. Bianca pula menggeleng tidak mengerti. Memang tidak ada apa-apa diantara mereka. "Apa yang mau disembunyiin? Lo sama gue enggak ada apa-apa." "Lo begini karena ngejaga perasaan Alana kan? Lo bilang Alana suka sama gue? Itu sebabnya lo takut dekat sama gue." kata Titan menjabarkan. "Kalau emang itu alasannya, gue bakal dekatin lo dengan cara yang gue bisa. Tanpa menyakiti Alana, kalau emang itu yang lo takutin." sambung Titan kembali. "Titan..." erang Bianca. Suaranya sudah meluruh, ia tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka kali ini. Tapi Bianca tidak ingin seperti ini. "Gue bakal tetep sama keputusan gue." yakin Titan lagi. "So, berhenti nyuruh gue pergi, sebelum gue cium lo lagi." Bianca terkekeh, tahu betul bahwa ancaman Titan tidak akan nyata. "Pergi!" serunya kembali. Menantang. Mendekat, Titan menarik tubuh Bianca kembali. Membawa kepala gadis itu mendekat, hingga deru nafas mereka saling bertubrukan disana. Titan menyeringai sebelum membawa bibir tebal Bianca dalam kuasanya. Mengulumnya lembut dan penuh kegilaan. Titan bersumpah, ia harus menyelesaikan permainan ini secepatnya. Karena Titan tahu ini sudah mulai berantakan. Meninggalkan degup jantung Bianca yang berdebar semakin gila, Bianca membulatkan mata tidak percaya. Apalagi saat torehan halus bibir Titan menguasi bibirnya, Bianca tidak tahu harus mengatakan apa selain seluruh aliran darahnya mengalir sangat deras. Seperti memberinya kekacauan dalam suatu waktu, aneh, karena Bianca tidak mendorong tubuh Titan seperti terakhir kali. Hingga kenyamanan itu terus berlanjut, Bianca dan Titan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tersakiti akan itu. Di sana, dari jauh, seorang laki-laki berkacamata tengah melihat itu dengan tangan mengepal kuat. Sementara Alana dan Arkan, keduanya juga sudah membulatkan mata dari balik persembunyian mereka. Jika Alana sudah menangis dalam diamnya, Arkan berdiri sebagai penopangnya. Pemandangan disana, memberi sakit pada banyak orang. Dan sentuhan itu hanya bertahan selama beberapa detik dan berhasil membuat Bianca terbuai, hingga tanpa sadar, saat sentuhan Titan berhenti Bianca tahu jantungnya berpacu lebih gila dari sebelumnya. Titan pula tidak berhenti karena tangannya sudah menarik Bianca masuk kedalam pelukannya, membiarkan Bianca mendengar detak jantungnya dan meyakinkan lebih dalam bahwa tidak ada yang perlu gadis itu takutkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN