Pada jawaban yang kadang terucap tidak sesuai keinginan hati, kita tidak punya pilihan lain, bahwa kita sengaja memanipulasi, padahal tahu kemana ia berlari.
Pagi ini, Bianca seharusnya berlari untuk menunggu angkot dikompleks depan rumahnya seperti biasa. Menaiki itu untuk sampai kesekolahnya setiap hari, lalu disambut hangat oleh hukuman bu Nadine karena terlambat memasuki gerbang. Atau pula melompati gerbang belakang yang terlalu sering tertangkap basah oleh satpamnya.
Namun untuk beberapa hari ini, Bianca mengabaikan itu. Tidak ada angkot yang ia naiki, terbebas dari hukumam bu Nadine, dan terlepas dari teriakan pak Joko dan pak Didi, karena Bianca berhasil menghindari itu semua.
Bukan, bukan karena alasan yang tidak pasti. Melainkan seperti saat ini, sosok dengan penampilan urak-urakan itu sudah berhenti dihalaman rumahnya. Sosok yang berhari-hari belakangan ini mampu membuatnya hilang kendali dan juga resah tanpa henti.
Dengan jaket kulit hitam andalannya, dia masih memeluk helmnya, sementara kakinya berdiri kokoh untuk menopang motor besarnya. Disana, Bianca bahkan dapat melihat cengiran menyebalkan yang sudah tersimpul dibibir tebalnya.
Wajahnya yang dari jauh mampu membuat beberapa orang terbuai, juga posturnya yang memikat tanpa berdosa. Bagai dikutuk karena Bianca terlena dan menikmati itu, ia bahkan berhenti hanya untuk memberi fokus matanya pada salah satu ciptaan sempurna yang Tuhan beri tersebut.
Terdiam tanpa tahu harus berkata apa, Bianca malah memberinya reaksi tak terkira. Bodoh! Bianca benar-benar semakin kacau, padahal sosok itu hanya menyeringai tanpa sepatah kata.
Hingga suara yang tidak asing itu memekik, Bianca seperti terhempas begitu saja. Sialan! Sosok itu sungguh mengusiknya sejauh ini. TITAN. "Kesambet lo?" tegur Titan pertama.
Menghela napas, Bianca mendekat. Menatap Titan dengan gelengan tidak percaya, seperti apa yang mereka lakukan beberapa hari ini mulai tidak wajar. "Ngapain lo?" sahut Bianca polos. Mereka sama sekali tidak memiliki janji untuk pertemuan pagi ini. Jadi keberadaan Titan sendiri membuat Bianca kelimpungan.
"Mau jualan." sahut Titan geli. "Ya, menurut lo?"
"Gatau. Makanya gue nanya??" sahut Bianca tidak mau kalah. Ia sudah menaikkan kedua alisnya, sama sekali tidak mengerti pada apa yang Titan inginkan sebenarnya.
"Mau jemput lo." jawab Titan santai. Sengaja menekankan itu. "Masih belum jelas?"
"Eh, Titan." sela Bianca kemudian. "Serius, lo kenapa sih beberapa hari ini? Gue masih enggak ngerti sama apa yang lo lakuin." sambungnya lagi. Bianca bahkan lupa sudah sebanyak apa ia mengatakan itu. Menanyakan hal yang sama karena Titan sama sekali belum memberinya jawaban yang memuaskan.
"Ada yang salah sama apa yang gue lakuin?" sahut Titan balik. Titan juga hanya terus mengatakan itu setiap kali Bianca bertanya. "Gue ngajakin lo kerkel. Gue jemput lo, gue ngajak lo makan. Apa yang salah?" beonya kembali.
"Kita enggak pelajaran bu Dyta setiap saat. Enggak ada alasan untuk lo harus lakuin itu setiap hari." sindir Bianca lagi. "Gue enggak biasa sama lo yang kayak begini!"
"Lo bakal terbiasa sama gue yang kayak begini." yakin Titan kembali. "Jadi, daripada lo ngomel dan lo lupa sekarang udah jam tujuh. Mending lo naik dan berangkat bareng gue."
Bianca melirik pergelangan tangannya. Benar, sudah pukul tujuh lewat satu, yang artinya Bianca telah menghabiskan waktu hanya untuk pertanyaan konyol itu. And see? Bianca bahkan tidak punya pilihan selain menuruti.
Akhirnya, menaiki ninja Titan dan memasang helmnya, Bianca tidak punya pilihan untuk menolak itu lagi.
"Lewat gerbang belakang aja. Gue enggak mau anak-anak ngeliat kita." jelas Bianca kemudian.
"Lo tahu??" kata Titan menjeda ucapannya. "Kita, udah kayak orang lagi selingkuh, sadar enggak lo?" ledeknya.
Bianca baru saja akan protes, tapi terlambat karena Titan sudah melajukan ninjanya cepat. Membelah jalanan Jakarta dengan ugal-ugalan, tapi Bianca masih tetap tenang, walaupun kedua jemarinya sudah melingkar pada pinggang si songong itu.
Jika Bianca masih memikirkan semua itu pada tahap yang lain, Titan malah menyeringai puas dari balik helmnya. Setidaknya, ia tidak pernah kalah dalam bermain. Karena bagaimanapun juga, Titan yakin Bianca akan terlena. Gadis bodoh itu, tentu saja akan berhasil ia dapatkan. Bahkan dengan cara paling mudah sekalipun.
Dia Titan. Seharusnya, orang-orang tahu itu. Karena keberadaannya saja sudah diakui diseluruh Danirian. Maka, jangan meragukan lagi semua yang ia lakukan. Right?
Hingga ninja Titan hampir berhenti digerbang belakang SMA Danirian, Bianca membulatkan mata tidak percaya.
Bahkan dari jauh, ia sudah menebak bahwa empat ninja berbeda warna disana milik para petinggi Carswell yang lain. Sialan!! Bagaimana ini???
Bianca menepuk pundak Titan kuat, terlewat kuat hingga si songong itu mengerang. Tapi Bianca tidak peduli, karena ia sudah terlanjur panik. "TAN-TAN! ITU ANAK-ANAK! IH, GIMANA INI???"
"Kenapa emangnya? Itu Arkan sama anak-anak, bukan orang lain." sahut Titan santai.
"Ish, bukan gitu! Gimana kalau mereka mikir yang enggak-enggak?" racau Bianca tidak jelas. "Mutar deh, mutar, gue enggak mau mereka liat!"
"Yaudah, tutup kaca helm lo. Jangan liatin muka lo, beres." jelasnya.
Bianca pikir Titan akan mengerti, Bianca pikir setan itu menuruti, namun sialan karena Titan sudah melajukan ninjanya mendekati Arkan dan yang lainnya.
Membuat Bianca spontan mencubit pinggang cowok itu kuat, walaupun Titan mengaduh, ia tetap terkekeh disana. Sementara Bianca masih berusaha menyembunyikan wajahnya dari punggung Titan.
Titan melepaskan helmnya, menatap keempat sahabatnya dengan senyum penuh kemenangan, lalu mengulum senyumnya mendapati wajah masam dari para petinggi carswell dihadapannya.
A-ah, Titan harus mengatakan ini, mereka sudah berjanji untuk bertemu disana. Mengingat, mereka ingin Titan membuktikan secara langsung bahwa ia benar hampir mendapati Bianca.
"Ck. Apa sekarang anjing sama kucing udah bisa akur?" Zidan menyindir pertama, semakin puas menggoda karena Bianca berusaha untuk mengelak mereka.
Arkan juga terkekeh seraya ikut menambahkan. "Kenapa lewat belakang? Kenapa kagak lewat gerbang depan?"
"Gue enggak yakin gimana respon satu Danirian kalau mereka tahu ini." Gavin bersiul geli, sengaja menekankan itu untuk meledek Bianca.
"Excuse me? Masih mau nutupin muka lo dari pundak tuh setan?" Zidan berdecak lagi, terkekeh geli karena Bianca masih mencoba menutupi dirinya.
"Yang bener aja?" goda Arkan. "Kita enggak buta loh Bianca." sambungnya menekankan.
"Udah Bi, gimana pun, kita hapal itu tas lo." Aiden berujar telak.
Bianca meringis. Sialan, ini benar-benar bencana. Seharusnya Bianca santai saja seperti biasa? Seharusnya ia tidak perlu menyembunyikan diri seolah-olah itu kesalahan?
Bodoh! Kenapa ia takut? Padahal tidak ada apa-apa antara ia dan Titan. Akhirnya, melepas helmnya, Bianca menatap galak satu persatu petinggi Carswell tersebut. Memperhatikan wajah Aiden, Arkan, Zidan dan Gavin secara bergantian, ia berdecak. "APA??" ucapnya gusar. "Lo berempat mau nyinyir? Lo tahu ini udah jam berapa?"
Terkekeh, keempatnya saling tatap sebelum menyahut Bianca. "Cih, kalau gitu, apa bedanya sama lo?" Arkan yang berujar pertama.
"A-ah, gue tahu alasan lo lewat belakang." Zidan terkekeh geli. "Mau sembunyi-sembunyi ya?"
"Takut ketahuan anak-anak yang lain??" Gavin menambahkan. "Sayang dong, lo udah ketahuan kita nih?"
"Neng Bian--" Aiden berujar paling halus. "Udah yakin, sama nih setan?" tunjuknya pada Titan.
Mengerutkan dahi, Bianca menggeleng tidak mengerti. Pusing sendiri dengan semua rentetan pertanyaan itu. "Apasih? Gue cuma pergi sekolah bareng."
"Iya-iya, satu dunia juga tahu cuma itu alesannya." Arkan menyahut geli. "Cuma pergi sekolah bareng." beonya meledek.
"Tan--" jeda Bianca pertama. Ia sudah menatap Titan malas. "Jelasin tuh sama temen-temen lo!"
"Jelasin apa? Jelasin kalau gue suka sama lo?" sahut Titan menggoda.
Terbelalak, Bianca kembali memukul Titan, yang ternyata berhasil ditahan oleh si songong itu. "Gila lo!"
Lantas, pada tatap mereka yang saling beradu disana. Titan berujar lagi, sementara matanya tidak lepas dari objek utama. "Kenapa diem? Apa gue harus jelasin, kalau gue suka sama lo?"
Layaknya dihuni seribu kupu-kupu, Bianca tidak tahu kenapa hatinya seperti menari-nari? Apalagi aliran darahnya seperti saling memompa sendiri, juga wajahnya yang bersemu, Bianca yakin semua petinggi Carswell tersebut dapat melihatnya.
Namun menepis tangan Titan, Bianca berujar lagi. "Sumpah, elo makin enggak jelas!"
Menatap Arkan dan yang lainnya bergantian. Bianca berujar kembali. "Jangan bilang apa-apa, terutama sama Alana dan Tata." jelasnya.
"Jadi, lo nutupin hubungan lo dari sahabat lo sendiri?" Arkan meledek lagi. Tidak berhenti menggoda Bianca, dengan wajah menyebalkannya.
"Gimana kalau Ana dan Tata tahu??" Gavin ikut bertanya.
"Seru nih, apa gue kasi tahu aja?" Zidan terkekeh geli.
Menghentak kakinya, Bianca menatap Titan meminta bantuan.
"Biar gue yang urus." yakin Titan kembali. "Kita cuma berangkat bareng, enggak dosa." kekehnya.
"Awas lo!" ancam Bianca galak. Lalu ia kembali menatap Arkan dan yang lain. "Apa yang setan ini bilang tadi, anggap aja dia lagi mabuk!" tunjuknya pada Titan. "Gue mau cabut, lo berlima susul lima menit setelahnya," katanya lagi. "Jangan bilang apa-apa, gue serius!" ucap Bianca dan berlalu.
Menaiki gerbang belakang dan melompatinya santai seperti biasa. Bianca mengelus dadanya pelan setelah ia berhasil mendarat dengan sempurna, menggeleng pelan, karena jantungnya benar-benar sudah meracau tidak jelas saat ini. Yatuhan, ada apa dengan hatinya?
Memastikan Bianca sudah pergi dan keberadaan mereka aman, Titan menatap ke-empat sahabatnya sebelum menyeringai puas. "Sedikit lagi." katanya. "Udah siapin diri buat mutar lapangan?"
"Tan--" Gavin mendekat. "Gue tim lo aja, ya??" rayunya lagi.
"Gue juga. Gue tim lo!!" mohon Aiden kemudian.
Menepis tangan kedua sahabatnya itu, Titan terkekeh. "Siapin diri. Jangan ngerayu gue karena itu enggak bakal mempan!"
"Masih punya waktu, Bianca juga enggak yakin gue liat." Arkan masih bersikeras.
"Betul, gue setuju sama Arkan." Zidan membela. "Jadi, daripada lo debat disini, mending masuk karena gue yakin pak Joko dan pak Didi bakal ngamuk kalo kita enggak ada dikelas."
Menyadari apa yang Zidan katakan, semuanya menyetujui lalu mulai melompati gerbang belakang satu persatu.
Seperti bukan hal yang sulit, karena begitulah para pemimpin Danirian menguasai sekolah.
***
Seharusnya Bianca mengerti saat ia memasuki kelas, Tata tidak berteriak heboh seperti biasanya. Alana juga hanya fokus memainkan ponselnya. Bel sudah berbunyi sejak dua puluh menit yang lalu, namun pak Jaka belum juga memasuki kelas.
Akhirnya, mengejutkan sahabatnya disana, Bianca terkekeh saat menemukan wajah masam Tata. "Tumben banget enggak teriak-teriak??" tegurnya pertama.
Mengedikkan bahu, Tata mencoba untuk tidak mengulik masalah itu. Meskipun bohong karena ia sangat ingin tahu.
"Ta?" Tegur Bianca kembali. "Kenapa sih? Lagi berantem sama Gavin?"
Cepat Tata menggeleng. Menoleh untuk melihat wajah Alana, lalu menatap Bianca lagi. "Angkot lo kena macet lagi? Tumben telatnya selama ini?"
Menggigit bibirnya pelan, Bianca berujar. "Hmm, gue yang telat bangun sih."
"Emang, lo kemana aja sama ayah lo?" tanya Tata lagi, penasaran dengan jawaban yang akan Bianca berikan.
Setelah semalam berdebat untuk apa yang akan mereka katakan pada Bianca, Tata dan Alana memutuskan untuk tidak menanyakan apa apa. Mereka akan tetap pura-pura tidak mengatahui apapun, hingga Bianca sendiri yang menjelaskannya. Hingga Bianca sendiri yang menceritakannya. Lagi pula, mereka sahabatan kan? Untuk apa Bianca menyembunyikan itu jika tidak ada apa-apa diantara dia dan juga Titan?
Bianca terdiam sesaat. Memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan. Lalu Bianca berujar. "Gue pergi makan sama Ayah gue."
Dan jawaban Bianca sontak membuat Alana dan Tata terkekeh. "Oh ya??" sahut keduanya bersamaaan.
Takut-takut, Bianca mengangguk pelan. "K-kenapa?" katanya terbata. "Kalian jadi pergi semalam??"
"Enggak, gue pikir elo kemana." Tata menyahut lagi. Bersumpah dalam hati bahwa ia tidak mengerti kenapa Bianca membohongi mereka. Seharusnya Bianca mengerti bagaimana perasaan Alana. Bukankah kedekatan Titan dan Bianca semalam seperti menjawab segalanya??
"Lo yakin pergi makan sama Ayah lo?" Alana menyahut dari belakang. Menoleh, Bianca mengangguk yakin.
Ketika Tata baru saja akan bertanya lagi, Titan dan yang lain baru saja memasuki kelas. Membuat kelas menjadi semakin riuh, sementara Arkan dan yang lain masih sibuk menggoda Bianca. Mengolok-oloknya, hingga wajah Bianca memerah.
Sialan, karena Bianca sudah menahan diri untuk tidak memukul para petinggi carswell tersebut.
"Dari mana aja?" tanya Alana saat Titan baru saja duduk disebelahnya.
Menyapu rambut Alana lembut seperti biasa, Titan berujar lagi. "Baru datang sama anak-anak."
"Kemana aja semalam? Sesibuk itu lo sekarang?" singgung Alana lagi, mulai geram karena Titan selalu meresponnya santai akhir-akhir ini.
"Ketiduran di apart. Gue baru buka hape tadi pagi." alasan Titan lagi. Lalu kemana semua percakapan yang mengatakan bahwa ia akan selalu ada untuk Alana? Apakah itu menghilang begitu saja seiring ia mulai intens mendekati Bianca??
Menggeram, Alana mulai tidak suka dengan semua kebohongan ini. Merasa kecewa, karena Titan benar-benar mengabaikannya. Alana menahan diri. Lantas berusaha menormalkan amarahnya, Alana terkekeh dan menyinggung. "Gimana, kalau ada yang ngasi tau gue, kalau elo lagi makan diluar tadi malam?"
DAMN. Bianca meneguk ludahnya perlahan. Apa yang Alana katakan seperti menghempasnya begitu saja. Menamparnya pada semua kebohongan itu. Bianca menggigit bibirnya kuat. Menerka-nerka apa yang akan Titan katakan untuk membuat sahabatnya itu mengerti.
Lalu saat tawa Titan terdengar, membuat kelegaan dihati Bianca. "Enggak mungkin ada, gue tidur semalam diapart." yakinnya lagi. "Tanya aja sama anak-anak, gue juga enggak ke basecamp semalam."
"Masa sih? Tapi kenapa katanya itu pasti lo. Lo lagi sama cewek, makan." kekeuh Alana. Masih bersikeras.
"Udahlah, salah liat kali. Siapa sih yang bilang??" tanya Titan penasaran. Ia mendekat, memberikan Alana bisikan, yang malah membuat kekecewaan Alana berlipat ganda. "Gue enggak mungkin bohongin lo, lo sahabat gue."
'Pembohong.' gusar Alana dalam hati. Lantas, tidak pernah punya cukup tenaga untuk marah dengan Titan, Alana hanya menghela napas. "Jangan bohongin gue. Lo tahu gue enggak suka!"
Mengangguk, Titan memberi jempol untuk menyetujui. "Nanti ke kantin, gue traktir. Biar enggak seudzon mulu."
"Biarin aja, siapa suruh enggak ke rumah, Mama nyariin lo." jelas Alana lagi. Namun Titan hanya terkekeh. "Gue serius, kalau gue tahu lo bohongin gue, awas aja!" ancam Alana lagi.
Bahkan dari kursinya, Bianca tidak tahu kenapa telinganya terus mendengarkan pembicaraan itu.
Titan juga berbohong. Tapi, bagaimana perkataan Alana seperti menamparnya begitu saja, Bianca memutuskan satu hal, persetan dengan kerja kelompok itu, Bianca harus menjauhi Titan.
Untuk banyak alasan yang mulai berdatangan dikepalanya, Bianca bersumpah ia harus melakukan itu. Setidaknya, menghindari Titan merupakan pilihan terbaik yang Bianca miliki.
***