XXXV. Mencari Tahu

2142 Kata
Satu harapan yang sengaja diterima hanya karena saling memutuskan untuk berbagi. Seolah-olah memberi peluang bahwa luka dan bahagia selalu datang silih berganti. Bianca tidak tahu kenapa akhirnya duduk diatas motor Titan dan memutuskan untuk makan bersama cowok itu disetujuinya begitu saja, namun ketika pembahasan tentang Mamanya tadi berhasil ia utarakan pada Titan, Bianca berpikir ia butuh teman untuk menghilangkan sesak didadanya. Setidaknya bersama Titan, Bianca mampu menahan tangisnya karena ia pasti malu harus menitikkan air mata didepan sisongong itu. Karena Titan pasti meledeknya. Jadi menuruti ajakan Titan pula bukan sesuatu yang buruk, mungkin Bianca memang butuh udara segara untuk menenangkan segala hal yang sudah dikatakannya tadi. Dan persinggahan mereka itu menjadi keputusan Bianca. Menghentikan ninjanya disebuah gerobak bakso yang Bianca tunjuk, Titan menepikan motornya. Meskipun sepanjang perjalanan mereka berdebat untuk makan dimana, pilihan Bianca menjadi pemenangnya. Harus Bianca akui pula Titan lebih banyak mengalah malam ini. "Gue tahu, cowok modelan lo pasti enggak pernah makan disini." kata Bianca pertama. Ia menyeringai puas karena lagi-lagi Titan menuruti permintaannya. "Lo harus coba, kalo kata gue." "Biasanya gue sama anak-anak makan di restoran dekat sekolah." ujar Titan jujur. Hampir tidak pernah ia makan dipinggiran seperti ini. Tapi atas permintaan Bianca, Titan pula ingin mencobanya. "Emang enak?" Menggeleng geli, Bianca menarik tangan Titan dan membawanya duduk pada kursi plastik yang tersedia disana. Menatap sang penjual bakso yang sudah dikenalnya dekat, Bianca berujar. "Mang ucup, baksonya dua yah!" teriak Bianca semangat. Kenal betul dengan mamang penjual bakso yang bernama Ucup tersebut, mengingat ia dan Ayahnya juga sering makan disana. Titan tidak berhenti memperhatikan semua yang Bianca lakukan. Membuatnya meneguk ludah karena Bianca benar-benar ajaib. Titan bahkan lupa beberapa saat yang lalu mereka membahas hal-hal sedih yang Bianca katakan. Kini, cewek itu bahkan terlihat lebih tegar atau dia berusaha untuk tetap kuat. "Lo baik-baik aja kan?" tanya Titan lagi. Entah itu murni dalam hatinya, atau karena Titan hanya ingin sekedar tahu, ia juga tidak mengerti. "Soal apa?" tanya Bianca, ia sudah menaikkan kedua alisnya. "Kalo soal nyokap gue? Yeah. Its fine." "Lo boleh nangis kok." sergah Titan. Ia bersumpah, mungkin menjadi pundak untuk Bianca bersandar malam ini malah lebih baik untuk mempengaruhi gadis itu atas segala rencananya. "Lo bisa pegangan sama gue..." Tapi Bianca menggeleng cepat. Justru karena Titan ada disana ia ingin berterimakasih. Si songong itu yang membuat tangisnya mendadak sirna hanya karena ajakan makan yang Titan berikan. "Apaan sih, gue gapapa. Santai aja." Menghela napas panjang, Titan memperhatikan Bianca lekat untuk memastikan itu. Jadi saat wajah menyebalkan Bianca sudah terlihat kembali, Titan terkekeh seraya memilih untuk membahas sesuatu yang lain. "Lo kenal sama tuh mamang?" tanya Titan penasaran. Membuat Bianca mengangguk cepat. "Sekali-kali, coba makan dipinggiran kayak begini." saran Bianca lagi. "Kadang, tempat sederhana punya banyak makanan enak." "Lo emang sebawel ini ya??" potong Titan cepat. "Gue pikir, lo cuma bisa nyolot setiap kali ngomong sama gue." "Gue terlalu laper makanya bawel." sela Bianca. "Tapi serius, lo harus coba, ini bakso ter-enak yang pernah gue makan." Titan hanya mengangguk-angguk mengerti. Tidak tahu harus merespon semangat Bianca bagaimana lagi. "Lain kali, kalo emang seenak itu, lo traktir gue kesini lagi. Oke?" goda Titan. Bianca pula langsung menggeleng cepat. "Lo bisa makan sendiri, ajak anak-anak yang lain. Kenapa coba harus ada gue? Mang ucup emang mangkal disini doang kok. Kagak bakal ilang." "Ya karena gue mau sama lo aja." sahut Titan, ia sudah menjulurkan lidahnya geli. Mungkin, malam ini satu-satunya hari dimana Bianca banyak sekali berbicara kepada si songong yang satu itu. Apalagi saat perkataan Alana mengalun dikepalanya, Bianca benar-benar memahami itu, melihat Titan dari sisi yang berbeda. Dan Bianca memang tengah mencobanya. "Tadi, Ana sama Tata ngajak gue keluar makan." jujur Bianca akhirnya. Mungkin ia memang harus membahas itu, mengingat Titan dan Alana tidak pernah terpisah dari satu kesatuan. "Terus?" tanya Titan bingung, lagi pula, tidak ada masalah untuk itu? Ia hanya perlu menyelesaikan semua permainan ini, sekalipun Alana kadang kala menghambatnya atas permintaan yang sahabatnya itu lakukan. "Kenapa?" "Gue bohong." imbuh Bianca merasa bersalah. Menengadah untuk menatap Titan dan memastikan. "Gue bilang, gue lagi sama Ayah gue--" "Tapi ternyata lo sama gue??" potong Titan geli. Ia sudah tertawa dikursinya. "Kenapa lo harus bohong? Bukannya lo tinggal bilang, kalau lo lagi sama gue?" Bianca menggeleng. "Gue juga enggak tahu kenapa gue enggak berani bilang gue lagi sama lo." katanya tidak mengerti. "Lagian tadi kan Alana nelfone lo, kalo lo bilang kita lagi kerkel, ya gue juga ga bakal bohong." "Lo takut?" tebak Titan kemudian. Lalu Bianca mengangguk lagi, Bianca juga tidak mengerti atas dasar apa ketakutannya itu. "Lo sadar enggak, kalau Ana suka sama lo?" tanya Bianca serius. Kali ini ia harus meluruskan itu pada Titan. Mengatakan apa dan kenapa mereka seperti ini. "Sadar, gue juga suka sama Ana." jawab Titan tulus. Bianca terdiam mendengarkan. Seperti terpaku pada jawaban Titan barusan. "Gue juga sayang Ana--" katanya lagi. "Dia sahabat gue, dia deket sama gue dari kecil. Gue bahkan ngerasa dia udah kayak adek gue sendiri. Bagaimana jika perkataan Titan, membuat Bianca bernapas lega kali ini?? Sialan! Ada apa dengan hatinya?! Tapi Bianca menggeleng sebelum berdecak. "Yang bener aja?" "Gimana kalau Ana bukan sahabat lo?" imbuh Bianca. "Jangan jadikan dia patokan sebagai sahabat. Lo pernah liat dia dari sisi yang beda??" tanya Bianca lagi. Menggigit bibirnya karena ia sangat ingin tahu soal itu. Dan gelengan Titan, tiba-tiba mampu membuat Bianca mengulum senyumnya. Titan jujur. Dia benar-benar mengatakan itu semua pada Bianca. Ia menyayangi Alana, menyukai gadis itu seperti seharusnya, karena Alana adalah sahabatnya. Karena Alana adalah satu-satunya cewek yang sudah Titan anggap seperti keluarganya. "Permisi neng, Bian." ucap mang Ucup, seraya menyerahkan dua porsi bakso dihadapan Bianca dan Titan. "Makasih mang Ucup!" sahut Bianca bersemangat. "Loh, beda ya yang dibawa malam ini??" ledek mang ucup pertama. "Ayah, neng Bian kemana?" "Belum pulang mang. Masih diperjalanan kali." kata Bianca akhirnya. "Kenalin mang, namanya setan." Membulatkan mata, mang Ucup menatap Titan tidak percaya. Membuat Bianca terpingkal karena raut kebingungan mang Ucup disana. "Sekasep ini namanya setan???" tanya mang Ucup lagi. "Neng Bian ah, doyan bercanda." "Enggak mang, namanya Titan!" kekeh Bianca akhirnya. Hingga mang Ucup kembali ke gerobaknya, Bianca masih tidak berhenti terkekeh. "Puas lo??" sindir Titan, lalu Bianca mengangguk cepat. Membuat Titan ikut tertawa didepannya. Aneh, karena perasaannya mulai tenang hanya karena senyum gadis gila itu. "Tan--" tegur Bianca lagi. "Tapi gue serius soal Alana. Kalau lo kayak begini sama gue, dia bisa salah paham." "Kayak gimana?" kekeh Titan lagi, menaikkan kedua alisnya. "Udah gue bilang kan? Itu semua peranan Alana dihati gue." Bianca tidak tahu harus menjawab apa lagi. Tapi bagaimana jika Alana tahu apa yang Titan rasakan padanya tidak lebih dari perasaan yang dia harapkan? Apa Bianca harus memberitahunya? "Lo tega..." kata Bianca pasrah. "Kok tega?" tanya Titan tidak mengerti. Tapi Bianca sudah terlanjur menggeleng. "Yaudah makan aja, nanti keburu dingin." titahnya. Dan Titan mengangguk, lalu keduanya sama-sama mulai menikmati bakso tersebut. Disisi lain, Alana dan Tata baru saja selesai dengan semua belanjaan mereka. Setelah memutuskan untuk pergi berdua saja, mereka berhenti dipinggir jalan hanya untuk membeli beberapa cemilan. "Ana, Ana!" pekik Tata bersemangat. "Bukannya itu motor Titan ya?" Menoleh, Alana memperhatikan objek yang sedang ditunjuk Tata. Menajamkan pengelihatannya, ia menggeleng tidak percaya. "Emang, cuma Titan yang punya motor begitu??" "Enggak gitu anjir!" geram Tata kemudian. "Coba liat bener-bener!" katanya. "EH!" Pekik Tata lagi. "Bukannya itu Bianca sama Titan?!" Jika Alana sibuk dengan cimol ditangannya, kali ini fokusnya benar-benar tertuju pada apa yang Tata tunjuk. Melihat objek itu dengan kening mengkerut Alana ikut memperhatikan itu lebih lekat lagi. "IYA BENER!!" tegas Tata. Ia sudah mengucek matanya untuk memastikan itu. "GILA! BENER? ITU BIAN KAN?" Alana tidak juga menjawab, ia masih memperhatikan bagaimana dua objek disana tengah tertawa. Alana tahu Titan sedang menjalankan misinya, Alana juga tahu bahwa semua yang Titan lakukan disana hanya pura-pura. Namun, bagaimana Bianca berada disana membuat Alana mengepal tangannya kuat. Tapi yang lebih membuatnya marah adalah kebohongan yang Bianca katakan. "ANA, AYO KITA SAMPERIN BIAN??!" Ajak Tata semangat. "Dia bilang, dia sama Ayahnya! Apa Bian bohongin kita??" Menghela napas panjang, Alana menarik tangan Tata cepat. Membawa sahabatnya itu memasuki mobil, lalu mereka berlalu dari sana. "Iyakan? Gue enggak salah liat kan??" ujar Tata. "Kenapa kita pergi? Kenapa kita enggak nyamperin, terus nanya?" "Udah deh Ta, gue males." sahut Alana gusar. "Bian bohongin kita." katanya lagi. "Kenapa Titan sama Bian bisa sama-sama? Lo tau kan mereka tuh kayak anjing sama kucing??" gerutu Tata lagi. "Apa Bian, selama ini bo-ongin kita??" "Ta--" potong Alana. "Udah deh, diem dulu." "Pantesan Titan enggak jawab telfone lo? Dia lagi sama Bian, Ana!!" omel Tata lagi. "Jangan nanya-nanya Bian. Biar kita tunggu sampai dia jujur, oke?" saran Alana. Padahal ia tahu semua rencana itu, tapi kenapa melihat Bianca membohonginya dan Titan mengabaikannya malah membuat Alana gusar? Ini tidak benar, seharusnya sejak awal Alana juga tidak menyetujui itu. Karena Titan berbohong. Sialan, hatinya benar-benar tengah gondok saat ini. Pemandangan itu mengacaukan pikirannya. Tata terdiam sesaat sebelum mengangguk menyetujui. Namun malam itu, pikiran mengenai bagaimana sahabatnya itu saling tertawa bersama Titan yang notaben sangat Bianca benci, membuat Tata tidak berhenti memikirkannya. Bianca, Titan? Yang benar aja! "Eh tapi kali aja mereka lagi kerja kelompok, Na?" ucap Tata. "Ta, udah gue bilang." geram Alana, ia sudah memutar bola matanya jengah. Sementara Tata lansung tutup mulut. Jika Alana dan Tata sibuk dengan pikiran mereka. Titan dan Bianca malah tidak tahu apa-apa, mereka hanya makan dengan lahap, berbincang tanpa ingat waktu, lalu tertawa pada setiap pembicaraan yang kadang kala terasa menggelikan. Mereka menjadi dua insan yang paling bahagia, padahal tidak tahu ada yang tengah menatap keduanya dengan perasaan kacau. Titan juga tidak menyangka bahwa bersama Bianca, tidak perlu mengeluarkan tenaga seperti yang dipikirnya. "Lain kali, ajak gue kesini lagi." ujarnya kemudian. Menoleh, Bianca terkekeh karena Titan bahkan menambah dua mangkuk bakso tanpa berhenti. "Gue pikir, lo gak bakalan suka." "Sesuka ini gue ternyata sama bakso." katanya lagi. "Juga, sama orang yang duduk di depan gue..." "Hah?" ujar Bianca, terlonjak pada apa yang Titan katakan barusan. Ia tidak salah dengar kan? "Enggak." kekeh Titan setelahnya, lalu ia mengeluarkan ponselnya. Membuka kamera sebelum berujar, "Senyum dong, gue mau kirim ke nyokap gue." "Ih, ogah! Enggak mau, ngapain juga sih!" tolak Bianca, ia sudah memutar kepalanya kearah lain. Namun diam-diam Titan berhasil membidiknya, mendapatkan gambar saat Bianca perlahan menoleh untuk melihatnya. Titan berujar lagi, "Udah, udah. Bisa patah pala lo kalau begitu." "Elo sih! Nyebelin banget, ngapain coba ngirim foto gue kenyokap lo?" gerutu Bianca kesal. "Gapapa, nyokap gue nanya soalnya gue lagi dimana." kata Titan beralasan. "Huh, dasar!" potong Bianca. Bohong. Titan berbohong untuk semua pernyataan yang ia beri. Karena kini, foto Bianca sudah ia bagikan digrup Carswell. Setidaknya, Titan ingin membuktikan, bahwa sohibnya salah. Karena, Bianca sekalipun gadis yang membencinya, bukan lawan bagi Titan. Menyeringai, Titan tahu ponselnya sudah bergetar silih berdatangan, itu pasti semua rutukan dari seluruh sahabatnya. Namun, mengabaikam itu, Titan memilih untuk melanjutkan pembicaraannya dengan gadis gila itu. See? Bianca juga gadis yang mudah, bukan? *** Ada bahagia yang tercipta tanpa dipinta. Seperti apa yang baru saja Bianca lewati malam ini. Tadi, setelah Titan mengantarnya pulang, Bianca menemukan ayahnya sudah pulang dan duduk disofa. Mendekat, Bianca langsung bergelanyut dilengan Ayahnya tersebut. Menjadi Bianca yang manja setiap kali berhadapan dengan Ayahnya. Bianca menatap Basir lekat, apalagi ketika pertanyaan Titan kembali berputar dikepalanya. "Ayah baru pulang??" tanya Bianca pertama. "Iya, belum lama." jelas Basir. "Bian baru pulang dari mana?" kepo Basir lagi. "Udah selesai kerja kelompoknya??" "Makan, Titan ngajakin tadi." jelas Bianca akhirnya. "Udah baikan?" ledek Basir kembali, menatap putrinya dengan cengiran menggoda. "Belom, dia masih tetep nyebelin off course." imbuh Bianca. "Mari, abaikan Titan sebentar. Bian mau nanya..." Membenarkan posisinya, Basir menatap putrinya lekat. "Kenapa?" "Apa Mama, pernah nyariin Bian?" kata Bianca pertama. Ia sudah mempersiapkan diri sebelum menanyakan itu. "Apa mama pernah nanya kabar Bian?" sambungnya lagi. Tiba-tiba Bianca terasa kelu. "Apa mama baik-baik aja?" Tersentak, Basir terdiam. Menggeleng payau, dan berujar parau. "Bian, kamu tahu Ayah--" Lagi. Bianca selalu tahu jawaban itu yang selalu ia terima. Tapi bagaimana jika sekali saja Bianca ingin tahu sosok itu? Bianca ingin melihatnya barang sebentar? Memastikan paling tidak bahwa ibunya baik-baik saja? Salahkah? Salahkah Bianca menginginkan semua itu? Tapi Bianca tahu, menanyakan itu pula pada Basir adalah percuma, karena ayahnya itu tidak akan mengatakannya. "Bian cuma nanya aja, enggak ada apa-apa." potong Bianca lagi. Tersenyum, Bianca angkat dari duduknya. Mengecup pipi Ayahnya sebelum berujar. "Yaudah, Bian naik dulu ya Ayah. Lupakan apa yang Bian tanya barusan." kekehnya dan berlalu. Bianca tahu Ayahnya tidak suka setiap kali ia menanyakan tentang Ibunya. Tapi, Bianca tidak masalah. Meskipun bohong karena kadang kala ia membutuhkan sosok itu. Menepis pikirannya kembali, Bianca memilih merebahkan diri diatas ranjangnya. Tidak ingin memusingkan apa-apa, selain apa yang ia lewati hari ini terasa sangat berarti. Entah karena ia berhasil menceritakan tentang ibunya, atau karena ia menghabiskan malam dipinggiran dengan semangkuk bakso bersama sosok yang tanpa ia sadari berhasil membuatnya mengulum senyum sepanjang malam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN