Bagaimana jika akhirnya dua insan perasa memilih ego mereka untuk memenuhi seluruh kepala.
Berdiri bagai satu yang mengingini lalu satu yang mengingkari.
Lantas, pada banyak nama yang terus bersorak, ego mampu tenggelam seiring dengan mimpi-mimpi yang suram.
Bianca bersumpah, jika saja Titan tidak mengetuk pintu rumahnya berkali-kali, Bianca tidak akan sudi mengizinkan si songong itu masuk kembali kerumahnya.
Namun bagaimana Titan terus mengetuk dan meneriaki namanya, membuat Bianca geram sendiri. Bianca yakin, jika ia tidak membuka pintu rumahnya ini, gedoran Titan pasti akan merobohkannya.
Akhirnya, membuka pintu dengan kasar, Bianca berdiri diambang pintu dengan wajah gusar. "Benar-benar dah lo!" geramnya pertama. Menatap Titan tidak suka. "Kenapa lagi sih? Lo mau, gue suruh ayah gue buat mukulin lo?"
"Serah. Gue cuma mau kerjain tugas kerkel kita." jawab Titan sekenanya. Ia sudah menenteng beberapa perlengkapan gambar, melewati Bianca begitu saja, Titan segera memasuki rumah gadis itu tanpa permisi. Meskipun Bianca belum mengatakan apa-apa. "Dan, gue udah izin sama Ayah lo buat kerkel malam ini." sambungnya mempertegas itu. Menoleh untuk melihat wajah Bianca sesaat.
Bianca terkekeh tidak percaya. "Pembohong lo!" selanya. "Mana mungkin sih."
"Nih!" kata Titan seraya menyerahkan ponselnya. "Gue udah chatan sama Ayah lo."
Mencondongkan kepalanya, Bianca membaca semua percakapan Titan dan Ayahnya melalui pesan itu. Lalu Bianca mengerjap untuk memastikan bahwa itu bukan chat palsu, karena Bianca mengenal jelas typing Basir disana.
Lantas, keterkejutan Bianca membuat Titan terkekeh geli. "So, mau kerjain, atau enggak?" godanya. "Tinggal lima hari."
Mengalah, Bianca menghela napas sebelum duduk di atas sofanya. "Keluarin semua perlengkapan, gue bagian ngecat."
"Ini gue semua yang nyiapin. Dan lo, cuma mau bagian ngecat doang??" tanya Titan tidak percaya.
"Iyalah, ini rumah gue. Jadi serah gue mau ambil bagian apa." sahut Bianca tidak suka. Sengaja membuat Titan kesal, karena itulah yang cowok itu lakukan sejak awal padanya.
"Yang bener aja!" geleng Titan.
"Mau, mau. Enggak, enggak! " ancam Bianca lagi.
Menghela napas gusar, Titan tidak punya pilihan selain mendengarkan apa yang gadis gila itu inginkan. Jika saja bukan karena permainan dan rencana ini, Titan bersumpah ia tidak akan bertahan sejauh ini.
Harus Titan akui bahwa hanya karena permainan konyol itu ia berjuang seperti ini. Menjadi sipaling rajin hanya untuk memenangkan Bianca. Tidak pernah ada yang membuatnya bekerja sekeras ini jika saja bukan karena rencana itu akan ia menangkan.
Bianca masih memperhatikan Titan yang sudah mengeluarkan beberapa perlengkapannya. Melihat itu dengan malas, ia berdecak kembali. "Lagian, enggak jelas banget sih wali kelas lo! Pelajaran kayak anak Paud gini masih disuruh!" omel Bianca. "Sejak kapan sih, SMA masih gambar-gambaran begini!"
"Ini nih, pemikiran yang minim!" sahut Titan kemudian. "Ini bagus buat generasi dibawah lo!" kekeh Titan lagi.
"Serah generasi, gue enggak peduli!" jawab Bianca ketus.
"Pantesan lo peringkat terakhir, lo b**o!" sindir Titan, ia memilih duduk dilantai, sementara beberapa perlengkapan diletakkan diatas meja.
Memukul punggung Titan kuat, Bianca berujar. "Sialan, tunggu aja! Gue rebut posisi lo nanti!"
"Silahkan, emang bisa?" goda Titan puas. "Maybe, lo harus belajar sampe mimisan buat ngalahin gue!" ledek Titan.
Memilih diam, Bianca tidak lagi menyahut, percuma karena sampai kapanpun keduanya memang ditakdirkan untuk terus saling sahut-sahutan.
Titan juga sudah mulai menggambar, sementara Bianca terus memusatkan perhatiannya pada apa yang tengah Titan kerjakan. Sebuah keunggulan karena si songong itu pandai dalam menata gambar.
Tapi semakin lama fokus Titan teralih pada gambaran yang tengah ia ukir, Bianca malah melirik si songong itu sesekali. Bohong kalau Bianca tidak terlena, karena hanya dengan kaos hitam polos dan celana koyak-koyaknya, Titan mampu membuat Bianca meneguk ludah. Tidak pernah terpikir bahwa dalam diamnya Titan lebih banyak menghipnotis orang.
"Gue pikir, lo cuma bisa cabut sekolah sama berantem." ledek Bianca pertama. Sengaja memecah hening karena ia tahu pikirannya akan semakin kacau.
"Gue bukan lo, yang langganan BK." sahut Titan tidak mau kalah. Namun matanya tidak berpaling dari kertas ditangannya.
"Dih, banyakan juga nama lo!" ujar Bianca bersikeras. Apa Titan memang tidak sadar diri?
"Enggak ada bedanya sama lo." tegas Titan lagi.
"Jadi, yaudah, jangan bacot lagi. Lo sama gue sama!" ujar Bianca akhirnya. Namun memilih untuk mengoreksi gambaran Titan, Bianca berujar kembali. "Eh, itu-itu garisnya gak rapih." ucap Bianca kemdian.
"Diem lo ya, jangan ganggu konsentrasi gue!" sahut Titan garang.
Mengabaikan itu, Bianca malah semakin jadi menggodanya. Tidak tahu kenapa Bianca melakukan itu, namun, jika Titan hanya fokus pada gambaran itu, Bianca bisa gila karena matanya malah berpusat pada sosok menyebalkan tersebut, tanpa pernah berhenti.
Menelusuri wajah Titan yang runcing, ada satu titik yang tidak berhenti Bianca abaikan. Sebuah bekas luka disamping mata kanan cowok tersebut. Lalu, menggeleng kepalanya kuat, Bianca berusaha menyadarkan dirinya. "Itu, gambaran diatas, enggak keliatan." kekehnya. "Yang dibawah, gambar orangnya juga masih abstrak gitu!"
Melempar pensilnya asal, Titan berbalik badan dan menengadah menatap gadis itu. "Excuse me, huh!"
Bianca terkekeh dari atas sofa. "Lanjutin, bagian lo masih banyak."
"Bener-bener ya lo!" gerutu Titan. Ia sudah angkat dari duduknya, memilih naik diatas sofa sebelah Bianca, Titan melipat kaki disana. "Ntar gue lanjutin."
Bianca mengangguk. "Eh, balap kapan sih?" cetus Bianca tiba-tiba. "Gue belum dengar kabar lagi akhir-akhir ini." katanya, Bianca pula tidak tahu kenapa ia lebih banyak membuka pembicaraan dan menjadi bawel seperti ini.
"Lo mau bahas kerkel atau masalah lain?" tanya Titan menyinggung.
"Masalah hidup!" jawab Bianca galak. Yang langsung dapat kekehan geli dari Titan.
Titan mengulum senyumnya, mengedarkan seluruh pandangannya pada sekeliling rumah Bianca. Titan menyadari satu hal, sesuatu yang tidak seharusnya ingin ia ketahui, tapi Titan juga tidak bisa mengabaikannya.
"Rumah gue enggak sebagus apart lo! Jangan liat-liat!" singgung Bianca galak.
"Setelah gue pikir-pikir, gue mau nanya ini--" kata Titan, ia masih menjeda ucapannya, ketika Bianca lebih dulu memotongnya.
"Enggak, gue gak nerima pertanyaan!" jawab Bianca malas, tahu betul sesuatu yang menjadi keinginan Titan bukan hal yang baik.
Terkekeh, Titan menatap gadis itu sebelum menaikkan kedua alisnya. "Coba, lo sekali aja ngalah sama gue."
"Ya buat apa? Lo juga, emang lo pernah ngalah??" kata Bianca sewot.
"Pernah, gue selalu biarin lo dapatin bendera carswell yang pertama, padahal gue tau tempatnya."
Tersentak, Bianca membalas tatapan Titan, sebelum tertawa kuat. Tentu saja Bianca tidak akan mempercayai itu. "A-ah, apa sekarang gue harus berterimakasih untuk itu??"
"Whatever, itu urusan lo kalau lo mau percaya apa enggak." kata Titan akhirnya.
"Ya enggaklah, pakai nanya lagi!" sahut Bianca cepat.
Setelahnya, Titan hanya mengedikkan bahunya. Ia merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok sebelum menikmati benda candu itu.
Hingga ponselnya berbunyi, Titan sudah menemukan nama Alana dilayarnya. Namun, memilih untuk meletakkan ponselnya diatas meja, Titan kembali menatap Bianca.
Menunggu persetujuan dari gadis itu, karena Titan tahu Bianca tidak ingin Alana tahu mereka sering bertemu seperti ini.
"Ana?" tebak Bianca pertama. Titan mengangguk kemudian.
Hingga deringan itu berakhir, Bianca menggigit bibirnya kuat. Bianca pikir hanya sampai disitu, Bianca pikir itu cukup. Namun salah, karena Alana masih menghubungi Titan hingga panggilan ke lima.
Mendapati Titan yang sama sekali tidak merespon itu, Bianca menyenggol kaki Titan dengan sengaja. "Angkat gih, berisik banget tau!"
Dan jawaban Bianca, membuat Titan melakukan pergerakan. Titan sengaja menunggu, ia ingin Bianca tahu bahwa tujuannya tidak hanya sekedar kerja kelompok ini. Titan ingin Bianca menyadari, paling tidak itu cukup untuk membuatnya mendekat lebih jauh lagi.
Meraih ponselnya yang ia letakkan diatas meja, Titan memilih untuk mematikan ponselnya. Mengabaikan Alana untuk Bianca. Titan ingin Bianca melihat, bahwa apa yang baru saja ia lakukan, hanya untuk membuat Bianca merasa berbeda.
Lantas, menatap Bianca lagi, Titan terkekeh karena wajah lega yang gadis itu tampilkan, memberinya satu persen harapan.
"Nanti Ana marah." erang Bianca tidak percaya.
Titan menggeleng. "Gue serius sama apa yang gue bilang ke, elo."
"Tan, sumpah lo--"
"Tujuan gue jelas." tegasnya. "Apa lo masih enggak paham sama apa yang gue lakuin belakangan ini?" tanyanya lagi. "Mau gue jelasin??"
Hening. Bianca terdiam. Tidak hanya soal bendera carswell yang Titan katakan tadi, namun apa yang baru saja Bianca dengar lebih membuatnya tersentak. Seperti kegilaan ini berputar-putar dikepalanya.
"Udah ah, males gue." kata Bianca akhirnya.
Titan mengedipkan mata sebelum mengacak rambut Bianca, lalu kembali fokus pada kertas gambarannya.
Sementara Bianca sudah merebahkan diri seraya memainkan ponselnya. Mendapati grupnya, Alana dan Tata sudah penuh oleh pesan yang belum dibaca.
Sadgirl Team HuHa
Tata Sandya Reola : Bi, Na, ayo keluar yuk!!
Alana Humeera Kenrick : Nanti gue jemput, gue juga bete banget, Titan enggak balas pesan gue.
Tata Sandya Reola : Lagi sibuk kali, Na.
Alana Humeera Kenrick : Heh, dulu juga sesibuk apapun, Titan selalu ngabarin gue.
Tata Sandya Reola : Yaudah, yuk keluar yuk...
Alana Humeera Kenrick : Bian, lo dimana?? @BiancaDialova
Bianca Dialova : Hmm, maaf. Gue lagi sama ayah gue, next time aja ya??
Tata Sandya Reola : Yah, Bi :(
Alana Humeera Kenrick : Ayuk ih, Bi :(
Tata Sandya Reola : Nanti gue izin sama Om Basir. Yaaa???
Bianca Dialova : Hehe, nanti aja deh. Lo tahu Ayah gue sendirian.
Setelah membalas itu, Bianca meletakkan ponselnya kembali. Entah kenapa ia melakukan kebohongan itu. Tapi, bagaimana keberadaan Titan dirumahnya malam itu, segalanya seperti menjadi jawaban yang pantas Bianca bicarakan.
Dan Bianca? Ia benar-benar kelu dengan semua yang Titan lakukan, tidak ingin berpikir lebih jauh lagi. Bianca hanya terdiam dengan pusat perhatiannya berada dalam sosok songong dihadapannya.
"Tapi serius, gue penasaran--" kata Titan kemudian. "Gue merhatiin semua foto-foto dirumah lo," ejanya lagi. "Nyokap lo mana?"
Untuk yang pertama kalinya, setelah sekian lama, pertanyaan itu berhasil membuat Bianca tersentak kembali. Sebuah pertanyaan yang ia dengar lagi. Seperti sesuatu yang asing, karena ia bahkan sudah hampir lupa bagaimana memanggil seorang ibu. Diam, Bianca tidak tahu harus mengatakan apa. Bahkan untuk sekedar membicarakannya Bianca tidak tahu harus mulai dari mana.
Tapi, bagaimana pertanyaan itu ia dengar lagi, Bianca ingin paling tidak sesekali ia membicarakannya pada seseorang. Membuat orang itu memahami, bahwa Bianca tidak sekuat apa yang orang-orang katakan. Bianca juga ingin dimengerti.
Menghentikan ukiran gambar dikertasnya, Titan menoleh lagi untuk menatap Bianca, apalagi saat gadis gila itu hanya terdiam dengan wajah yang tidak bisa Titan jelaskan. Seperti kacau dan juga penuh kekhawatiran. "Kenapa?" ulang Titan lagi. "Apa pertanyaan gue salah?" katanya kemudian.
Bianca menggeleng. Menghela napasnya berat, ia berujar setelahnya. "Nyokap gue pergi sejak gue kecil." kata Bianca akhirnya.
"Oh ya?" tanya Titan kaget. Ia kembali duduk diatas sofa, membuat posisi mereka kini saling berhadapan. "Sorry, gue enggak tahu soal itu."
"Its okay." ujar Bianca. "Gue juga enggak pernah tahu dia ada dimana, apa kabarnya, atau dia masih ada apa enggak."
"Gue yakin dia bakal baik-baik aja disuatu tempat." jawab Titan cepat. "Kayaknya gue salah nanya ya? Muka lo jadi kayak cuka begitu,"
"Asem maksud lo?" tuduh Bianca. Dengan Titan yang sudah mengangguk geli dihadapannya. "Sialan, elo tuh asem."
"Gapapa, beberapa orang suka asem daripada manis." kekeh Titan lagi, berusaha memecahkan keasingan diantara mereka.
"Dih, gak nyambung!" imbuh Bianca.
"Enggak papa asal lo ketawa." ujar Titan. Setidaknya, ia berhasil membuka pembicaraan itu. Meskipun kini Titan malah kepikiran dan bertanya-tanya, ia tahu, Bianca juga tengah menahan kesedihannya.
Titan pikir, pembicaraan itu berhenti sampai disana, ketika apa yang Bianca katakan selanjutnya benar-benar membuat Titan tertegun.
"Gue kadang iri sama anak-anak yang deket banget sama nyokapnya." ujar Bianca. "Sedih sama bingung." kekehnya. "Kayak, gue kadang mikir, kenapa nyokap gue pergi? Kenapa dia ninggalin gue, padahal gue enggak tahu apa yang salah?" imbuhnya tanpa henti. "Tapi, seiring berjalannya waktu. Gue enggak musingin itu lagi. Gue pikir, yaudah. Sekarang hidup gue kayak begini. Gue punya Ayah yang sayang sama gue, setidaknya itu cukup."
"Bi--"
"Apalagi setiap Tata sama Ana dimanjain nyokapnya. Gue berasa hancur." kekehnya kemudian. "Tapi, it's okay. Gue udah biasa."
"Hei, hei. Kenapa jadi sedih begini sih??" kekeh Titan. Berusaha lagi menormalkan situasi. "Yaudah deh, makan aja yuk? Gue traktir?" ajak Titan akhirnya.
Bianca menatap Titan sesaat sebelum mengangguk. Aneh, tapi itu spontan Bianca lakukan.
"Lo bisa ambil nyokap gue, anggap aja dia nyokap lo juga." kata Titan tiba-tiba. "Nanti gue kenalin, oke?" katanya membujuk.
Sementara Bianca hanya mengiyakan tanpa tahu bahwa Titan serius mengatakan itu. "Tapi gue kan udah kenal sama nyokap lo."
"Nanti gue kenalin lagi dengan cara yang keren." goda Titan. Bianca pula hanya mengedikkan bahunya. "Oh ya, ini bokap lo belum pulang ya?"
Bianca mengangguk sebagai jawaban. "Seperti biasa."
"Jadi lo sering dong sendirian kayak begini?" tanya Titan lagi, pembicaraan mereka semakin menjadi menarik.
"Hm." sahut Bianca. Titan pula tidak lagi bertanya, ia hanya menatap Bianca hingga membuat pandangan mereka saling terpenjara ditengah sana.
Satu pertanyaan yang ternyata memberi dampak luar biasa. Titan tahu, sejak Bianca menceritakan itu, keberadaannya seperti nyata dan diterima.
Entah Titan malah berpikir sesuatu yang lain, atau cerita itu memberinya peluang untuk mempermainkan Bianca semakin dalam lagi. Sebut ia b******n, maka Titan akan mengakuinya.
***