Menolak lupa bahwa kekhawatiran tidak pergi begitu saja.
Meski beberapa orang berusaha mengenyahkannya, kadang perasaan kalut dan takut itu tidak berhenti disana saja.
Seperti biasa, berita perkelahian Bianca langsung menyebar keseluruh Danirian. Secepat dan semudah itu pula gosip mulai berdatangan. Bahkan, kedatangannya yang disusul Titan juga menjadi cuitan karena Titanlah yang membawa Bianca keluar dari pertengkaran tadi.
Cara Titan membawa Bianca pula membuat keduanya ikut menjadi berita utama pagi itu. Desas-desus dan segala hal yang menyangkut keduanya membuat sorakan itu semakin riuh dan silih berdatangan.
Semua teman-temannya sudah pasang telinga untuk mendengar penjelasan dari Bianca. Meskipun masih ada beberapa siswa yang terlihat acuh karena mereka juga paham kebiasaan berkelahi Bianca. Beberapa terang-terangan mengagumi Bianca seperti biasa.
Lantas tidak heran sorot mengagumkan itu terus mengalun disana, terutama untuk teman sekelas Bianca yang mengenal gadis itu lebih dari kelas lain.
"SATU LAWAN TIGA???"
"JAGOAN IPS 3 DONG YANG PASTI MENANG!"
"MAEN-MAEN AJA TESSA SAMA JAGOAN KITA?"
"CARI MASALAH BANGET YA ANAK IPS 1?"
"MAU KITA DATANGIN ENGGAK BII??"
"KITA BALES TIGA LAWAN TIGA BIAR ADIL!"
"ATAU KALO PERLU SATU KELAS DATANGIN TUH?!"
Bianca menatap tajam satu persatu teman sekelasnya yang saling sahut menyahut disana. Ia menyimpan jari telunjuknya dibibir, mengisyaratkan bahwa sudah cukup ia mendengar semua itu. Lantas, kelakuan Bianca membuat mereka berhenti bersorak, tapi tidak berhenti menggodanya.
Setelahnya, Bianca berujar. "Diem dulu, gue lagi riweh." ujarnya malas. "Nanti gue cerita, stop jangan pada bawel."
"HEH, INI MASIH JADI BERITA HANGAT TAUK!"
"KEREN BANGET LO NARIK RAMBUT SI BELAGU MEGAN!"
"POPPY TUH SAMPAI KALANG KABUT, KUKU-KUKUNYA PATAH!"
"APALAGI TESSA, MUKANYA ANCUR!"
"BENER-BENER DAH LO!"
"SEHARUSNYA LO NGAJAK KITA BI!"
Jika Bianca sudah menghela napas malas dan memilih duduk dibangkunya. Titan hanya terkekeh sebelum ikut menghentikan cuitan teman sekelasnya itu. "Diam woi!"
Alhasil, perkataan Titan benar-benar membungkam semua orang dikelas. Apalagi saat keempat petinggi Carswell mulai memasuki kelas, mereka langsung memenuhi meja Bianca untuk mencari tahu sebab perkelahian tadi. Tentu tidak lepas dari kenapa itu semua bisa terjadi.
Tata sendiri sudah menggeleng tidak percaya, menatap sahabatnya itu dengan helaan panjang. Sebelum berdecak kalut. "BIAN!" decaknya pertama. "LO GAPAPA? ASTAGA MUKA, TANGAN LO!" Tata berujar kalut.
Seperti biasa, Bianca mengerti sahabatnya itu akan selalu menjadi yang paling heboh hanya untuk memastikan keadaannya. Maka Bianca hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa Bi? Mereka gangguin lo lagi?" Alana bertanya juga, khawatir karena berita itu begitu menyebar cepat. Namun bukan itu yang ingin diketahuinya lebih dulu, karena Alana tahu Bianca akan baik-baik saja. Melainkan keberadaan Titan yang menjadi objek utama kenapa Alana bertanya.
"Enggak apa-apa, mereka cuma ngerjain Andom. Kebetulan gue lewat, kesal banget gue." jelas Bianca kemudian. "Lo bayangin, tas Andom dilempar-lempar, sementara tuh cowok disuruh ngejar tasnya sana-sini."
"Gila, enggak waras tuh anak IPS 1." geleng Tata tidak percaya. "Huh, kasian banget sahabat gue." erangnya seraya memeluk Bianca.
Yang langsung Bianca tolak begitu saja. "Lebay, gue enggak apa-apa anjir!"
"Yaampun Bi, gue perhatian dibilang lebay." rajuk Tata akhirnya. Mengerucutkan bibirnya masam.
"Perhatiin gue aja, Ta." Gavin memotong cepat.
"Emang selalu kan??" balas Tata kemudian. Tidak peduli siapapun yang ada dimeja mereka. "Sedikitpun, emang pernah gue kagak merhatiin lo?"
"GELIK GUE, GELIKKK!" protes Zidan. Dengan Gavin yang sudah menoyor kepala sahabatnya tersebut sembari terkekeh geli.
"Tapi lo bener gapapa kan?" Alana bertanya lagi. Sementara Bianca sudah mengangguk sebagai jawaban.
Tidak ingin menyia-nyiakan kegemparan mengenai berita itu.
Arkan dan Zidanlah yang paling bersemangat membahasnya.
Sementara Titan hanya terkekeh seraya memperhatikan Bianca lekat. Meski hanya punggung gadis itu yang kini bisa dilihatnya.
"Anjir, tuh bocah tiga pada nangis setelah lo pergi." kekeh Zidan pertama. Mereka sudah duduk melingkar dimeja Bianca dan Tata, memberi ruang untuk siempunya tempat.
"Lo apain? Bisa-bisanya beranten dikelas orang." sahut Gavin juga. "Kacau balau tuh mukanya."
"Kenapa? Belum puas tuh gue acak-acak muka Tessa." kata Bianca, sengaja menyindir. Membuat Tata terkekeh geli. Gavin sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan itu.
"Gimana kalau satu kelasnya pada nolong Tessa cs?" Arkan memberi asumsi lain.
"Lo gapapa Bi?" Aiden bertanya khawatir.
Dan pertanyaan paling normal dari Aiden yang pertama Bianca respon. "Menurut lo?" sahutnya galak. "Dari tadi gue udah jawab."
Lalu keempat lelaki tersebut terkekeh, sementara Titan hanya menggeleng dari bangku belakang.
Jika keempat sahabatnya sudah sibuk mengintograsi Bianca, Titan dan Alana hanya memperhatikan itu dari belakang.
"Kenapa bisa sama Bian?" tanya Alana pelan. Namun ia tidak basa-basi lagi.
Menatap sahabatnya lekat, Titan berujar. "Gak sengaja lewat."
"Kenapa lo yang bawa Bian?" todong Alana lagi. Tentu dengan suara pelan karena ia tidak ingin Bianca tersinggung. Walaupun memang lebih baik Bianca mendengar itu. "Kan empat curut itu ada disana?" tunjuk Alana pada Gavin dan petinggi Carswell yang lain.
"Ana, gue cuma ngelerai mereka. Kebetulan yang gue tahan Bian. Masa gue narik Tessa??" ujar Titan tidak percaya.
Alana tidak lagi menyahut, ia hanya mengerucutkan bibirnya masam. Berusaha untuk menerima alasan itu. "Lo enggak ngabarin gue semalam."
"Gue lupa," kata Titan beralasan. "Hape gue juga mati."
"Enggak kayak biasanya." imbuh Alana kemudian. "Lo udah jarang nyamperin gue."
"Ana, lo tahu kan gue har--" kata Titan, sengaja menghentikan ucapannya karena ia sudah lelah harus menjelaskan itu berkali-kali.
"Ya, ya, ya." ujar Alana malas. Dan Alana benar-benar nyerah untuk bertanya lagi.
Bianca langsung mendepak satu persatu petinggi Carswell dari atas mejanya. Memberikan ruang diantara mejanya dan juga Tata, ia menghela napas saat Arkan dan yang lainnya sudah pergi.
Meskipun Tata masih menyuarakan keterkejutannya pada apa yang ia alami, Bianca memilih untuk mengabaikan sahabatnya yang bawel itu.
Membuka ponselnya yang terus berbunyi, Bianca menemukan dua pesan disana.
Mengerucutkan dahinya karena nama Titan ada disana, Bianca menoleh sesaat, menemukan si songong itu sudah mengedikkan bahu.
Setan Sialan
Istirahat ke taman belakang. Gue mau ngomong.
Setan Sialan
Sampai ketemu cewek gila.
Bianca Dialova
Ogah, buang-buang waktu ngomong sama lo.
"Kalau gitu, lo mau gimana?"
Dan suara itu, membuat Bianca meneguk ludahnya. Membulatkan mata tidak percaya, Bianca buru-buru mengetik balasan. Sialan! Titan benar-benar membuatnya kelimpungan.
"Kenapa?" Alana yang bertanya heran.
Cepat Bianca mengirim balasan, karena ia tidak ingin Alana mengetahui itu.
Bianca Dialova
Perpus, nanti!
Lantas, kekehan Titan membuat Bianca menghela napas panjang.
"Gue ngomong sendiri." yakin Titan pada Alana.
Mendengar itu barulah Bianca mulai bernapas lega. Benar-benar tidak masuk akal karena Bianca menyembunyikan keanehan ini semua.
***
Ada banyak hal yang kerap kali mengecoh seluruh isi kepala. Membuat kita menerka-nerka pada apa yang sebaiknya kita utarakan.
Lantas selama dua jam pelajaran, Bianca memikirkan alasan yang tepat untuk ia katakan pada Alana dan Tata.
Setelahnya, sepuluh menit sebelum bel istirahat berbunyi, Bianca bergegas cepat dengan alasan kebelet, padahal ia menghindari Alana dan Tata yang pasti akan mengajaknya ke kantin.
Berbelok dari tujuan utamanya ke kamar mandi, Bianca meleset menuju perpus dikoridor terujung Danirian.
Seharusnya tinggal Bianca katakan bahwa ia hanya ada perlu sebentar, lantas, memilih menutupi itu, sekali lagi akan Bianca katakan, ia tidak ingin Alana salah paham. Itu saja.
Kemudian, memasuki perpus yang tidak ada satupun orang, Bianca menghela napas lega. Mungkin, bu Savi selaku pengurus perpus sedang dikantor saat ini. Memilih duduk pada meja pojok kiri yang langsung menghadap lapangan, Bianca menarik sebuah buku mengenai dewa mitologi dan berkutat dengan kesibukan itu.
Sementara bel istirahat berbunyi, Titan sudah berdiri lebih cepat dari biasanya. Baru saja ia ingin beranjak ketika tangannya kembali ditahan Alana. "Mau kemana?"
"Ke gudang bentar. Masih ada urusan," kata Titan beralasan, mungkin memberitahu Alana akan membuat semuanya semakin runyam. Jadi lagi-lagi Titan memutuskan untuk membohongi sahabatnya itu.
"Urusan apa?" Gavin yang menyahut bingung.
"Masalah kemarin bukannya udah kelar?" tambah Arkan juga.
"Lo mau apain lagi tuh dua curut?" Zidan ikut menyela, tidak mengerti.
"Kantin ajalah, laper nih." usul Aiden setelahnya.
"Dulu, gue nyusul nanti." jelas Titan kemudian. "Kan, bawa Ana kekantin, gue nyusul." pesannya dan berlalu. Meninggalkan Alana yang sudah mengerucutkan bibirnya masam. Titan sama sekali tidak menoleh lagi.
"Yuk, beb." ajak Arkan, ia sudah merangkul pundak Alana lembut. Yang langsung di tepis Alana galak.
"Jauh-jauh lo!" geramnya dan menarik Tata lebih dulu. Sementara Gavin, Aiden dan Zidan hanya terkekeh menyaksikan itu.
"Lo jelek, mana mau dia." ledek Aiden geli.
"VIN!!" teriak Arkan kemudian. "BELIIN SAHABAT LO TU KACA!"
Hingga ledekan itu saling sahut menyahut diseluruh koridor, beberapa siswa yang berlalu lalang memilih menepi untuk memberi ruang bagi petinggi Carswell yang tengah melewati mereka.
Titan memantapkan langkahnya menuju perpus. Sebuah keajaiban karena selama tiga tahun, Titan baru pertama kali menginjakkan kaki disana.
Jika saja bukan karena Bianca yang meminta bertemu disana, Titan mungkin akan menjadi pemecah rekor sebagai siswa Danirian yang tidak pernah tahu tatanan di perpustakaan sekolahnya sendiri.
Titan memasuki ruangan itu perlahan, masih dengan tangannya ia simpan disaku, Titan menghampiri seorang laki-laki berkacamata yang berada dirak nomor tiga.
Bukan karena alasan apa, karena kini sosok itu satu-satunya yang berada disana. Dan Titan tidak ingin pembicaraannya dengan Bianca didengar orang lain. Meskipun Titan harus mengusir sepuluh orang yang berdatangan, maka akan Titan lakukan.
"Elo, " tegur Titan pertama.
Menoleh, cowok yang dimaksud menatap Titan sesaat sebelum kembali menunduk. "Sang ketua osis," kekeh Titan kembali. Baru menyadari bahwa sosok itu adalah pusat Danirian. "Gue butuh nih perpus," jelasnya. "Gue mau ngomong sama cewek dipojok sana." tunjuknya pada Bianca. "Jadi, ambil buku yang lo mau dan pergi." ujar Titan lagi, sama sekali tidak peduli meskipun harus mengatakan itu pada siketua osis.
Menyetujui. Sang ketua osis tidak banyak bertanya, selain tidak ingin berurusan dengan sang pemimpin Carswell tersebut, ia juga tidak ingin ketahuan berada disana. Akhirnya mengambil asal sebuah buku dirak, menoleh pada sosok yang ditunjuk oleh pemimpin Carswell tersebut, sang ketua osis berlalu meninggalkan perpus.
Kafi Dalendra. Titan mengeja nama itu sesaat, sebelum kembali mendekati meja Bianca. Tanpa mencoba peduli dengan nama itu, padahal ada banyak hal yang seharusnya membuat Titan bertanya-tanya.
Akhirnya meraih kursi dihadapan gadis gila itu, Titan menyimpan tangan didagunya, sementara matanya masih berpusat pada apa yang tengah Bianca lakukan.
"Emang, ada dewa yang lebih tampan dari gue??" ledeknya, menemukan Bianca tengah membaca buku mengenai dewa-dewa mitologi dan gelarnya.
Menengadah, Bianca mengerutkan dahi tidak suka. Menatap Titan malas, karena si songong itu selalu saja mengacaukan kegiatannya. "Apa?" jawab Bianca ketus.
Titan terkekeh, mengulum senyumnya dan berujar geli. "Giliran ngebaca begini, lo serius. Coba buku pelajaran," goda Titan.
"Bacot. Cepat, ngapain ngajak gue ketemuan?" sela Bianca cepat. Kenapa pula mereka harus diam-diam bertemu seperti ini?
Titan membenarkan kursinya, sebelum kembali memenjarakan matanya dengan milik Bianca. Menelusuri segala hal dalam mata pekat gadis itu, Titan kembali berujar. "Gimana, kalau gue bilang--" jedanya pertama. "Gue cuma mau berduaan sama lo kayak gini?"
Bianca langsung melempar buku yang dibacanya ke wajah Titan. "BENER-BENER YA LO!"
Terkekeh, Titan berhasil menangkap buku yang Bianca lempar, sebelum menjulurkan lidah untuk meledek gadis itu. "Gue serius."
"Sekali lagi! Gue gampar lo!" ancam Bianca. Ia sudah mengulurkan tangannya untuk memukul Titan. Namun Titan berhasil menahannya lagi. "Gak usah aneh-aneh!"
"Gue mau bahas kerkel kita, nanti malam gue kerumah lo." pesan Titan kemudian, konyol memang karena ia hanya ingin mengatakan itu.
Cepat Bianca menggeleng. "Enggak, ngapain dirumah gue? Males ah!" tolaknya mentah-mentah. Sudah cukup kemarin Titan datang kerumahnya, selanjutnya tidak perlu lagi.
"Lah, terus? Ke apart gue?" saran Titan. "Jangan deh, entar barang-barang gue ilang lo ngepetin."
"Heh setan, serius. Lo kenapa sih sebenarnya??" kata Bianca lagi, masih tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikannya sejak tadi.
"Kenapa apa?" kata Titan santai, menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa lo giniin gue?" erang Bianca lagi. Menatap Titan tidak percaya.
"Kayak gimana?" beo Titan kembali.
"Lo aneh! Lo tau nggak sih lo aneh!" geram Bianca lagi. Kesal sendiri karena Titan tidak memahami apa yang tengah ia khawatirkan.
"Jelasin, biar gue paham." ucap Titan, sengaja.
"Seharusnya lo tahu! Lo enggak kayak begini sebelumnya!" imbuh Bianca malas.
Terdiam, Titan berusaha memahami itu. Mengulum senyumnya karena wajah masam Bianca membuatnya gemas sendiri. Titan yakin, ia pasti berhasil atas semua permainan ini. Meskipun kadang kala keinginan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
"Enggak ada yang aneh. Tujuan gue jelas disini." tegas Titan akhirnya. Mengubah raut wajahnya, Titan ingin Bianca memahami itu. Mengerti bahwa apa yang ia lakukan akan membuahkan hasil.
"Gue enggak mau Ana salah paham." erang Bianca akhirnya.
"Selalu Ana, enggak ada yang harus lo takutin." ujar Titan jujur. "Gue sama Alana kan enggak ada apa-apa?"
Oke Bianca tahu itu. Tapi Bianca juga mengerti bahwa Alana menunggu Titan sejauh ini. Berharap si songong ini mengatakan perasaan yang ada didalam persahabatan mereka. Tapi Bianca pula tidak punya pilihan lain. "Ngapain juga gue takut?" tantang Bianca tidak mau kalah. "Gue cuma enggak mau Ana mikir yang enggak-enggak." katanya akhirnya.
"Sejak awal, lo udah enggak jujur." potong Titan cepat.
"Gue bukan enggak jujur! Gue menghargai saha--"
"Kalau gitu," potong Titan pertama. "Kenapa lo ngajak gue ketemuan disini? Kenapa enggak bahas didepan mereka?"
"Sialan lo!" geram Bianca lagi. "Terserah lo deh, capek gue ngomong sama setan kayak lo!" ujarnya dan langsung berlalu dari sana. Sebal sendiri, karena berhadapan dengan Titan benar-benar menguras seluruh emosinya.
"GUE KE ELO NANTI MALAM! JANGAN LUPA!" teriak Titan cepat. Hingga punggung Bianca menghilang dari balik pintu, Titan menyeringai puas. 'Sedikit lagi.' batinnya dalam hati.
Meninggalkan Bianca yang sudah mengacak rambutnya asal dan menghentak kakinya dengan kesal.
***