XXXII. Mencari Jawaban

2032 Kata
Ada pengabaian yang sebaiknya kita lakukan untuk membuktikan ketulusan. Sebuah cara keji yang ditampilkan hanya untuk mencoba mengalih perhatian dengan cara konyol. Lalu mencoba tidak masalah, padahal hatinya tersesat selepas itu. Bianca tidak tahu apa yang membuat paginya akan terasa sekacau ini. Pesan Titan tadi malam seolah-olah terbawa dalam mimpi indahnya. Mengacaukan jalan pikirannya hingga membuat Bianca gelisah. Itu sebabnya, kehadiran Bianca diseluruh koridor pagi ini sebelum bel berbunyi masih terasa bagai mimpi. Tidak terlambat, tidak perlu lompat gerbang belakang, tidak perlu berurusan dengan bu Nadine, tidak perlu berhadapan dengan pak Didi, merupakan satu-satunya yang meringankan langkah Bianca. Hingga pemandangan dikoridor 12 IPS 1 menghentak Bianca. Menghentikan langkahnya, Bianca menggeleng seraya menghela napas panjang. Apa yang tengah beberapa siswa itu lakukan disana membuat Bianca gusar. Itu Andom, Bianca tahu betul dari kaos kakinya yang panjang sebelah dan celana yang yang gantung. Bagaimana cowok itu sedang dikerjain oleh anak 12 Ips 1, membuat Bianca gusar sendiri. Andom terlihat berusaha mengambil tasnya, sementara anak-anak yang lain malah mempermainkan barangnya seperti bola volli. Semua orang juga tahu Andom memiliki kekurangan, namun, bukan seperti itu caranya memanusiakan manusia. Ralat, sebenarnya bukan kekurangan fisik, tapi dia memang sedikit berbeda atau lebih spesial dari anak-anak pada umumnya. "SINI LEMPAR SINI!" Adin, gadis berambut sebahu terlihat paling bersemangat melempar tas cowok itu. Sementara yang dikerjai hanya pasrah tanpa perlawanan. "EH COWOK ANEH! SINI AMBIL, JANGAN KAYAK ORANG b**o DITENGAH BEGITU!" Zara, gadis berambut keriting paling ujung ikut menyuarakan semangatnya. "Lo itu, cowok apa b*****g sih??" Dinar, gadis berambut lurus sedada ikut bersuara. "NGOMONG DONG! BISU LO??" Kinar, gadis berambut pendek sebahu menambahkan. Sementara Tessa, Poppy dan Megan hanya terkekeh dari ambang pintu, ketiga gadis penguasa 12 IPs 1 itu hanya menyilangkan tangan seraya terus mengompori teman-temannya. Merasa apa yang dilihatnya sudah sangat keterlaluan, Bianca memutuskan untuk menyelesaikan itu meskipun tahu itu bukan urusannya. Mendekat, Bianca meraih tas tersebut saat salah satu dari cewek-cewek disana hendak melempar tas itu ketubuh Andom, Bianca mencegahnya. Merebutnya secara paksa. Dan kedatangan Bianca membuat beberapa cewek itu menundukkan kepala. Bukan, bukan karena mereka malu, Tapi karena mereka tahu, Bianca gila. Setidaknya gelar itu sudah diketahui seluruh Danirian. Tessa, Megan dan Poppy. Tiga wanita gila itu langsung menatap Bianca tidak suka, sementara anak-anak yang mempermainkan Andom tadi sudah menghentikan permainannya, mereka memilih mundur. Benar-benar mundur dan menjauhkan diri dari Bianca. Apalagi mendapati Bianca didepan kelas mereka, membuat Tessa, Megan dan Poppy yang notaben sangat membenci Bianca, merasa semakin gusar. "Tas lo," kata Bianca seraya melemparkan tas Andom tersebut. "Pergi." ujar Bianca lagi. "Dan, kaos kaki lo, perbaiki!" pesannya. Andom hanya mengangguk dan menerima takut-takut. Lalu menunduk, ia segera berlalu ke kelasnya dilantai kedua, mengingat Danirian memiliki gedung terbesar diseluruh sekolah. Selepas kepergian Andom, Bianca menatap cewek-cewek disana satu persatu. Sudah ia ingat diluar kepala nama-namanya. "KENAPA DIEM? NIH!" katanya seraya melempar tasnya pada Zara. Terlonjak, cewek itu menangkapnya cepat. Namun kepalanya masih tertunduk dalam. Zara sama sekali tidak berkutik. "AYO MAIN! KENAPA DIEM? LEMPAR TAS GUE!" titah Bianca lagi. Memaksa para cewek itu untuk melakukan hal yang sama. "Lo!" tunjuknya pada Adin. "Bisu? Mana suara lo yang kayak toa tadi?" geram Bianca kembali. "Keluarin sebelum gue cekek sampe keluar!" "Em, a--" "LO JUGA! LEMPAR TAS GUE, KENAPA DIEM LO SEMUA??" bentaknya pada Dinar dan Kinar. Bianca menatap satu persatu cewek itu dengan kilatan marah. Hening, keempat pelaku utama tadi masih terdiam tanpa suara. Tidak berani berkutik ataupun bergerak dari posisinya. Seperti kehadiran Bianca benar-benar menghipnotis mereka semua. "Eh, apa-apaan sih!" Tessa memotong cepat. "Norak lo, datang-datang bacot!" Tessa, penguasa kelas itu maju pertama, masih melanjutkan ocehannya. Gedek sendiri karena Bianca yang tiba-tiba sok berkuasa. "A-ah, si gila ini yang merintahin kalian buat main-main kayak tadi??" tebak Bianca kemudian. Lalu Adin mengangguk pertama. "Masuk lo berempat!" titah Bianca garang. "Minta maaf sama Andom istirahat nanti," sambungnya cepat. "Kalau enggak? Lo tahu lo berurusan sama siapa!" ancamnya. Dan keempatnya benar-benar menuruti. Hingga tersisa Tessa, Poppy dan Megan. Ketiga cewek itu masih menatap Bianca santai. "Jangan ikut campur sama kelas gue!" Tessa berujar lagi. "Enggak jera lo ya setelah gue permaluin terakhir kali?" seringai Bianca geli. Menaikkan kedua alis menggoda. Ia hanya butuh otak untuk melawan para medusa dihadapannya ini. "Bi, pergi deh lo. Bikin ribut dikelas orang aja." Poppy ikut bersuara. "Liat, orang-orang berhenti karena suara gaduh lo," Megan memotong. "Jadi cewek berisik banget sih!" Megan menambahkan. Terkekeh, Bianca mendekat sebelum mendorong kepala Megan dan Poppy bergantian. "APA? GUE BERISIK???" beonya. Membulatkan mata garang. "Diem lo bedua sebelum gue gampar muka menjijikan lo ini!" "EH t*i!" geram Poppy. Dia sudah mendekat untuk membalas Bianca, namun Bianca berhasil menepisnya. "Bukan gue yang salah, elo bertiga yang g****k!" geram Bianca lagi. "Lo bertiga manusia yang kelakuannya kayak binatang!" Megan juga tidak terima, ia mendekat dan menarik rambut Bianca. Tentu saja Bianca tidak tinggal diam, ia ikut menarik keras rambut Megan. Lebih kuat berkali-kali lipat dari yang Megan berikan padanya. Sampai perkelahian itu semakin tidak terkontrol, beberapa orang yang berlalu lalang memilih bersorak untuk menentukan pemenangnya. Apalagi karena suara teriakan Megan yang menggelegar. Seisi koridor mulai bertambah kacau. Melihat sahabatnya yang kesakitan, Tessa ikut membela. Ia menendang kaki Bianca dari belakang, membuat Bianca terduduk, lalu pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Bianca yang hanya seorang diri berusaha membela harga dirinya. Jika Megan, Poppy dan Tessa bekerja sama untuk menjatuhkannya, maka Bianca membalasnya dengan cakaran dan tamparan lebih keras. Tidak ingin sedikitpun kalah meskipun ia hanya seorang diri. Bianca harus memberi pelajaran pada ketiga cewek b**o itu. "BIAN! BIAN! BIAN!" "POPPY, TESSA, MEGAN!" Bianca tiba-tiba mendengar teriakan itu silih berdatangan. Tidak tahu sudah sebanyak apa massa berdatangan, yang Bianca ingat hanya kini sekelilingnya sudah dipenuhi orang. Mereka pikir Bianca akan mengalah, tapi tidak karena Bianca kini sudah berhasil membuat Poppy dan Megan merintih kesakitan. Tidak peduli meskipun sepanjang tubuhnya juga sudah dipenuhi cakaran, Bianca hanya ingin membalas itu pada Tessa mengingat cewek tersebut sudah menampar wajahnya. "b***h!" pekik Tessa saat Bianca berhasil memberi goresan kecil disekitar wajahnya. "ELO b***h!" balas Bianca tidak mau kalah. Lalu sorakan itu perlahan memudar, Bianca menoleh untuk mencari tahu, ketika kedatangan para petinggi Carswell adalah jawabannya. Apalagi saat Titan menarik tubuhnya dan membawanya pergi dari sana, Bianca tidak sempat protes karena tangannya benar-benar ditarik paksa. Melewati kerumunan yang memberi mereka jalan, Bianca tahu petinggi Carswell yang lain tengah membubarkan massa dan menyelesaikan sisanya. Tapi Bianca tidak ingin kalah begitu saja, ia masih tidak terima atas apa yang terjadi. Berhenti ditaman belakang Danirian, Titan membawa Bianca disana. Memilih tempat itu karena Titan tahu disanalah mereka bisa menemukan ketenangan. Memperhatikan Bianca, Titan menggeleng menyaksikan betapa kacaunya penampilan gadis itu. Rambutnya yang berantakan, seragamnya yang kacau balau, Titan juga menemukan beberapa bekas cakaran yang terlihat jelas dikulit putih Bianca. Menyentuh punggung tangan gadis itu hingga membuat erangan Bianca terdengar, Titan berujar. "Sakit?" Sementara Bianca sudah menepis tangan Titan begitu saja. Ia menatap cowok itu dengan kerutan tidak berdaya. "APA-APAAN SIH!" geramnya pertama. Kesal sendiri karena ia belum selesai dengan Tessa dan yang lain. "Gue masih harus kasi mereka pelajaran!" jelas Bianca. Tapi bukan itu saja, apa yang Titan lakukan padanya sekarang membuat Bianca tahu wajahnya pasti memerah. Bukan karena malu, tapi karena jantungnya bersorak didalam sana. Kacau. "Ini," kata Titan lagi. Ia kembali menarik tangan Bianca, menyeringai dari sudut bibirnya Titan harus membuat rencananya berhasil. "Mau gue ambilin obat di Uks?" "Tan--" tegur Bianca, menyentak tangan Titan lagi agar segera menjauh. Ini bisa jadi lebih runyam jika seseorang melihat cara Titan memberinya perhatian. "Kenapa sih, sakit lo?" Titan menggeleng. "Gue baik-baik aja kok." sahutnya santai. "Bukannya lo yang sakit disini?" "Lo tan, elo yang sakit!" geram Bianca lagi. Menaikkan kedua alisnya, Titan menoleh kekanan dan kekiri. Memastikan bahwa tidak ada yang melihat mereka disana, walaupun tentu Titan tidak akan peduli. "Lo takut kita ketahuan?" "Ketahuan apa gila?" sela Bianca cepat. Tidak mengerti dengan pembicaraan mereka kini. Mengeluarkan rokok disakunya, Titan memilih menghidupkan benda itu terlebih dahulu. Menghisapnya sesaat, sebelum menatap Bianca lekat. "Bu Nadine, hampir mergokin lo, tadi." decaknya kemudian. "Lo bisa kelarin itu nanti." Tapi Bianca tidak peduli, cepat atau lambat pertengkaran itu juga akan membuatnya bertemu bu Nadine. Jadi Bianca benar-benar merasa harus memberi pelajaran disana. "Bukan urusan lo!" kata Bianca ketus. Membalas tatapan Titan tidak suka. "Lo enggak tahu apa yang mereka lakuin sama Andom." "Nanti gue kasi tahu anak-anak buat ngurusin itu." jelas Titan. Memaksa Bianca untuk mengerti, karena dengan cara itu Titan bisa memenangkan hati. "Jangan khawatir." Bianca sendiri sudah memutar bola matanya jengah. Berdecak dengan sebal. "Gue kesal ya lama-lama sama lo!" "Kesal aja, kenapa? mau mukul gue? sini pukul." kekeh Titan, menepuk dadanya untuk mempersilahkan jika Bianca ingin melampiaskan itu semua. Memasang wajah tidak suka, Bianca berdecak. "Kalau gitu gue butuh pemukul baseball!" "Tega, Bi..." kekeh Titan geli. Tapi Bianca sudah terlanjur tidak peduli. Titan tahu bahwa inilah yang akan diterimanya. Jadi dengan penuh kesabaran ia bertanya. "Ngapain lo berantem sama Tessa?" kata Titan penasaran. "Buang-buang waktu, dia bukan levelan lo." Menghela napas gusar, Bianca menggeleng payau. "Bukan urusan lo!" beonya sekali lagi. Menekankan itu agar Titan mengerti. "Kenapa sih? Udah gue bilang juga." Mengangguk, Titan akhirnya memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Titan duduk pada kursi panjang yang tersedia di taman, bel baru saja berbunyi, namun ia masih bertahan disana. Menengadahkan kepalanya, Titan menatap Bianca lekat, membiarkan pantulan matahari mengusik pengelihatannya, ia berdecak. "Udah bel, masuk sana." Menghela napas, Bianca memilih untuk ikut duduk disamping Titan. Memperhatikan apa yang tengah cowok itu lakukan, Bianca pula tidak peduli dengan bel yang baru saja melengking nyaring. "Minta rokok." kata Bianca akhirnya. Mengabaikan bel yang baru saja berbunyi, sepertinya masuk ke kelas dengan mood yang seperti ini tidak akan baik. Terkekeh, Titan langsung menjentikkan sisa rokoknya. Ia menggeleng menatap Bianca. Cewek itu--dia memang selalu berhasil membuat Titan menatapnya tidak percaya. "Yang bener aja!" "Gue serius." kata Bianca lagi. Menaikkan kedua alisnya. "Siniin rokok lo, gue minta satu." "Enggak." tolak Titan cepat. "Jangan macam-macam." sambungnya galak. Ia sudah memutar tubuhnya, membiarkan posisi mereka kini saling berhadapan. "Kenapa lo aneh banget sih belakangan ini." tanya Bianca akhirnya. Setelah membendung rasa penasarannya. Berhari-hari memikirkan kegilaan itu, membuat ia bahkan terbendung dengan semua penerkaan yang dibuatnya sendiri. Pada semua kebingungan yang memuncak dan melandanya. Bjanca sama sekali tidak mengerti atas dirinya. Atas mereka. "Lo mau apa sih?" Titan hanya mengedikkan bahu sebelum mengacak rambut Bianca pelan. Titan pula tidak punya pilihan atas pertanyaan itu. Ia tidak mengerti apa yang harus dikatakannya pada Bianca. Jadi Titan memutuskan untuk tidak menjawab itu. Ia memilih untuk berdiri, lalu berujar. "Masuk sana, Ana sama Tata pasti nyari lo." katanya mengelak. Tapi Bianca tidak akan nyerah jika ia belum mendapatkan jawaban. Mengerucutkan bibirnya masam, Bianca berdecak kembali. "Lo belum jawab pertanyaan gue." erang Bianca kemudian. "Lo mau apa sebenarnya?" Apakah seharusnya sejak awal Titan katakan saja bahwa ia hanya bermain-main karena taruhan itu? Apa seharusnya Titan katakan bahwa ia butuh Bianca bekerja sama untuk memenangkan ini dan memberi pelajaran pada sahabatnya? Tapi, apa Bianca akan menerima semua itu? Apa gadis gila ini mau membantunya? Namun menggeleng cepat, Titan memutuskan untuk tetap pada rencana awalnya. Tidak ada yang harus ia takutkan dan ia pusingkan atas gadis itu, jadi Titan tidak ingin mempermasalahkannya. Kemudian ia membalas tatapan Bianca lagi dan berujar. "Gue enggak ngerasa ada yang aneh sama gue." kata Titan akhirnya. "Atau lo yang kepikiran sama apa yang gue lakuin?" kekeh Titan lagi. Menggoda. Menatap Titan galak, Bianca mendekat untuk menginjak sepatu cowok itu kuat. "SIALAN LO!" gerutunya. Sementara Titan sendiri sudah terkekeh disampingnya. "Enggak ada alasan apa-apa. Lo mikirnya apaan?" Bianca tahu pertanyaan itu adalah sebuah malapetaka. Apa ia harus mengatakan bahwa semua yang Titan lakukan belakangan ini membuat hatinya terasa seperti roller coaster? Gila. Untuk apa Bianca mengatakan itu disaat ia sendiri tidak mengerti atas kemauannya? Jadi Bianca berujar malas. "Kagak ada." "Nggak ada?" beo Titan, mengulangi. "Loh bukannya tadi lo bila--" Bianca memilih untuk angkat dari duduknya . Menatap Titan dalam beberapa detik sebelum memutuskan untuk berlalu dari sana. Dan yang Bianca tahu, bahwa tidak ada yang salah dengannya, karena kini Titan ikut melangkah dibelakangnya. Tanpa menoleh, Bianca memekik. "Jangan ngikutin gue!" "Enggak ngikutin, gue mau ke-kelas juga." kekeh Titan. "Jangan lupa obatin tangan lo?" sambungnya lagi, memekik geli. Dengan Bianca yang sudah menggerutu, seraya mengutarakan semua sumpah serapahnya untuk si songong itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN