Kadang ketakutan itu menguasai diri, tapi keinginan lebih jelas meracau dalam kehati.
Jika saja tidak ada yang salah.
Mungkin kebersamaan itu akan terarah.
Selepas kepergiannya dari rumah Bianca, Titan tidak langsung kembali ke apartemennya. Memilih untuk ke basecamp Carswell seperti biasa, ia menemukan Arkan dan Zidan masih berada disana. Sementara Gavin dan Aiden sudah tidak kelihatan batang hidungnya.
Sepanjang perjalanan tadi pula Titan memikirkan banyak hal. Entah kenapa hari ini terasa begitu berat hingga berkali-kali Titan oleng dijalanan. Tapi tidak bisa ia pungkiri bahwa sebagian besar pikiran itu adalah mengenai Bianca. Meracau pada segala hal yang akan terjadi juga yang akan ia lakukan kepada gadis itu.
Kadang Titan tahu ketakutan itu menguasai dirinya. Tapi sebanyak apapun itu Titan akan selalu menepisnya dan beranggapan bahwa ini hanya permainan belaka. Tidak ada yang harus ia khawatirkan atas apa yang terjadi. Lagi pula itu Bianca, gadis gila itu akan selalu baik-baik saja dan Titan percaya itu.
Tidak ada yang perlu Titan pikirkan selain bagaimana ia harus memenangkan itu semua. "Belum pulang?" tanya Titan seraya merebahkan diri di sofa tepat disebelah Arkan. Memperhatikan sahabatnya itu dengan kening mengkerut.
"Ini mau, dari mana lo?" sahut Arkan kemudian. Meneliti penampilan Titan yang berantakan. "Rumah Alana?" tebaknya kemudian.
Tapi Titan menggeleng cepat, sebelum terkekeh. "Berusaha menangin taruhan."
Mendengar itu, Zidan mendekat, menarik sebatang rokoknya kemudian menyerahkannya pada Titan. "Kalem bro, Bian juga belum ada perubahan." katanya pertama. "Gercep banget sih lo. "
Menerimanya dengan cara yang keren, Titan mengedipkan sebelah matanya. "Iya, gue kalem. Tenang aja."
Tapi jawaban Titan malah membuat Arkan dan Zidan terasa waspada. "t*i! Jangan semangat gitulah, bikin ngeri lo." ujar Arkan setelahnya, ikut menghidupkan sebatang rokok disana.
Zidan juga sama, mereka bertiga sudah terduduk santai disofa yang ada. "Takutnya, semangat berlebihan lo, buat Bianca salah tanggap." tambah Zidan setelahnya.
"Emang itu tujuannya kan?" tawa Titan lagi. Tetap santai, dengan senyum menjengkelkan. "Emang tuh cewek gila harus salah tanggap supaya rencana gue berhasil dan lo semua kalah."
"Keparat." umpat Arkan setelahnya. "Kita liat dari sudut pandang yang beda," jedanya pertama. "Gimana, kalau tiba-tiba Bianca jatuh cinta sama lo?"
Titan tertawa dan menggeleng cepat. Tidak mungkin. Tidak akan pernah ada perasaan yang tumbuh antara dirinya dan juga Bianca. Mereka tidak punya alasan untuk yang satu itu. "Kagak mungkin." jawab Titan yakin. Percaya diri. "Jangan nanya sesuatu yang jawabannya udah jelas kagak bakal terjadi."
"C'mon bro! Lo kagak tahu isi hati orang." Arkan memekik geram. Apa Titan terlalu naif hingga tidak memikirkan masalah itu? Apa Titan murni hanya main-main tanpa kencoba berpikir apa yang akan terjadi pada mereka? "Tapi emang itu seharusnya kan?" kekeh Arkan kembali. "Lo emang harus buat Bianca jatuh cinta sama lo, baru lo bisa menangin ini."
Zidan mengangguk, membenarkan. "Gimana kalau rencana ini benar-benar jauh dari ekpetasi lo?" tebak Zidan lagi. "Pikirin, kalau Bianca benar-benar naksir lo? Sementara lo harus jaga perasaan orang lain?"
"Orang lain?" beo Titan, mengerutkan dahi.
Zidan menghela napas panjang. Sialan. Titan memang kepala dan hati batu. "Alana, gila. Lo enggak bisa nyangkal kalau Alana juga suka sama lo? Atau lo juga sama?"
Titan tidak tahu perasaan suka itu harus melewati batasan apa. Tapi ia memang menyukai Alana. Menyayangi gadis itu. Tidak ingin Alana terluka apapun yang terjadi. Tapi lagi-lagi hanya karena sebuah alasan. "Ana kan sahabat gue."
"Itu lagi. Itu terus. Benar-benar dah lo." erang Zidan. "Sampai kapan lo bakal bilang Alana cuma sahabat lo?"
"Sampai mati lah." kekeh Titan, menyunggingkan senyum menggoda. "Udah deh, santai aja. Lo takut kalah?"
"t*i. Kagak ye." sahut Zidan kemudian. Walaupun bohong jika ia tidak takut. Bisa hancur harga dirinya jika sampai mutar lapangan hanya dengan boxer. "Setidaknya kalau kalah, gue kagak sendiri." sambung Zidan lagi.
Membuat Titan mengangguk ria. "Kalau gitu, tungguin aja kekalahan lo."
"Kagak bakal." Arkan menyahut cepat. "Sebaiknya lo pikirin cara mengatasi Bianca kalau dia terjebak benaran sama lo yang b******n ini."
Lalu Titan tertawa, "Terus? Gue harus peduli sama perasaan cewek gila itu?"
Zidan menggeleng cepat. Setiap pertengkaran yang terjadi, setiap perdebatan antara Bianca dan juga Titan, mereka tahu kadang sorot mata kedua orang itu tidak bisa dipungkiri.
"Yakin lo enggak peduli?" potong Zidan.
Titan mengangguk setelahnya. "Sama sekali." yakinnya. "Buat apa? Itu urusan dia, tugas gue cuma naklukin dia. Enggak lebih dari pada itu."
Zidan dan Arkan hanya saling tatap sebelum menggeleng geli. "Kita ingat omongan lo." Arkan menyinggung kemudian.
Sementara Titan sudah mengedikkan bahu. Lagi pula, untuk apa ia memikirkan itu? Titan pula tidak yakin Bianca akan memiliki rasa padanya. Sepertinya itu tidak akan pernah.
"Terus tadi, lo nyogok bu Dyta buat sekelompok sama Bian?" tuduh Arkan setelahnya. Masih tidak menerima setiap kali Titan terlihat unggul. "Pasti, ini pasti lo nyogok."
"Kagak t*i. Gue bukan pengecut." bela Titan tidak terima. "Minta bantuan, bukan tipe gue."
"Mulus banget jalan lo. Enggak perlu usaha, ada aja yang bantu." jelas Zidan tidak terima. Semakin terasa was-was jika kekalahan memang ada pada mereka.
Titan mengangguk menyetujui. Kadang, Titan tahu hidupnya memang punya banyak kejutan. Kadang pula ia menyadari bahwa dirinya dikelilingi dengan keberuntungan, hingga Titan percaya bahwa apapun yang akan terjadi, meskipun hanya sebuah rencana dan permainan ini, Titan percaya ia akan memenangkannya. "Artinya, Bianca cewek gampangan." kekeh Titan lagi. "See? Gue selalu diberi kemudahan untuk memulai semua ini."
"t*i, mulut lo!" Arkan yang menggeleng geram. Namun Titan tetap santai akan itu, seperti halnya Bianca benar-benar bukan hal yang sulit.
"Pantas aja Bianca gelarin lo setan." ledek Zidan. "Emang kelakuan lo kayak setan.
"Enggak beda jauhlah sama lo-lo pada?" imbuh Titan tidak mau kalah. Membuat ketiganya saling tatap sebelum tertawa lepas.
Titan pula baru menyadari jika Aiden dan Gavin tidak nongol lagi. Jadi ia bertanya pertama. "Eh, tuh dua curut mana?" kata Titan bingung sendiri karena tidak seperti biasanya Gavin dan Aiden pulang lebih dulu.
"Gavin? Lo perlu nanya lagi? Playboy yang satu itu lagi nyicip mangsa." Zidan yang menjelaskan.
"Aiden?" tanya Titan lagi, alasan apa yang buat sahabatnya yang satu itu tidak ada disini.
"Disuruh nyokapnya pulang," ujar Arkan. Membuat Titan menggeleng geli.
Titan melempar sisa rokoknya. Menghidupkan kembali benda itu, karena ia juga lupa sudah tarikan keberapa ia menghisap benda candu tersebut.
Namun ingatan Titan tiba-tiba berputar pada hal lain. Mengenai pertandingan yang lupa kapan terakhir di-ikutinya. "Jadwal balap? Udah ditentuin?"
Arkan mengangguk sebagai jawaban. "Beberapa hari lagi kayaknya."
"Cabut yok? Gabut banget anjir." Zidan mengusulkan hal lain. "Kemana kek, bar? Tempat bilyard?" sambungnya lagi memberi ide.
"Bukannya lo pada mau pulang?" tanya Titan lagi, menyadari bahwa niat kedua sahabatnya itu adalah pulang.
"Enggak jadi deh." sahut Zidan, menyeringai geli.
Arkan langsung menyetujui, sementara Titan masih mengimang ajakan itu. "Suruh Gavin sama Aiden nyusul." ajak Titan setelahnya. "Ke bar aja. Gue pengen minum."
Menepuk pundak Titan, Zidan dan Arkan segera berdiri. Sebelum bersorak. "GAS!" pekik keduanya serempak.
Lalu ketiganya mulai meninggalkan basecamp. Melanjutkan untuk menikmati malam itu di bar dengan segala cerita dan kenangan yang belum usai.
Mereka pula benar-benar menghabiskan banyak waktu dibar. Titan meminum banyak sekali wine, meluruskan seluruh pikiran yang perlahan mulai meliar kemana-mana.
Itu sebabnya, ada yang mengatakan bahwa tidak ada sunyi yang kau nikmati, dari pada didalam keramaian kekacauan itu semakin mencekam dan mendekap sampai mati. Entah apa yang membuat tantangan itu semakin menggebu-gebu untuk Titan lewati.
Benarkah karena ia hanya ingin bermain-main? Atau karena hal lain yang mungkin menjadi kepastian atas perasaan sepi ini?
***
Sadgirl Team HuHa
Tata Sandya Reola : Halo-halo
Tata Sandya Reola : Dengan Tata yang cantik disini
Tata Sandya Reola : Gue mau kasi tahu
Tata Sandya Reola : Gavin baru aja pulang dari rumah gue hehe
Tata Sandya Reola : Seneng bgt! Kenapa tuh cowok sering buat deg-degan ya?
Tata Sandya Reola : Selangkah lagi, gue bakal dapatin Gavin seutuhnya.
Alana Humeera Kenrick : Enak bgt
Alana Humeera Kenrick : Lah apa kabar gue?
Alana Humeera Kenrick : Berdiri diatas angan-angan yg enggak pasti
Tata Sandya Reola : Ayo, teros-teross wkwkw
Tata Sandya Reola : Gimana kalau lo aja yang nyatain duluan?
Alana Humeera Kenrick : Yang bener aja!
Tata Sandya Reola : Sekarang, jamannya kayak begitu
Tata Sandya Reola : Lagian, Titan enggak mungkin kan enggak suka sama lo?
Tata Sandya Reola : Harus berapa kali gue bilang?
Tata Sandya Reola : Satu dunia juga tahu, Titan sama lo tuh saling suka.
Bianca menggigit bibirnya pelan. Membaca rentetan curahan hati kedua sahabatnya itu. Bianca diam tanpa tahu harus merespon seperti apa.
Ia juga tidak mengerti, namun perkataan Tata membuat Bianca menyetujui itu. Titan dan Alana memang pasangan yang sempurna. Semua orang juga dapat menebak mereka saling suka. Lantas, apa sebaiknya Bianca bantu Alana untuk mewujudkan itu? Menjadi tameng agar Titan sadar, bahwa Alana sedang menunggu? Bahwa sahabatnya itu menanti-nanti hingga Titan menyatakannya lebih dulu.
Menggeleng cepat, Bianca menepis seluruh pikirannya itu. Memang ia siapa? Tidak pernah ada waktu baik untuk mengatakan itu setiap kali ia dan Titan sudah berhadapan. Apalagi mengurusi hubungan Titan dan Alana.
Tata Sandya Reola : Bi?
Tata Sandya Reola : Dibaca doang? Lo lagi ngapain sih??
Tata Sandya Reola : Punya gebetan baru ya lo??
Alana Humeera Kenrick : Iya nih, sombong banget dari semalam enggak nongol-nongol
Bianca Dialova : Hehehe sowryy
Bianca Dialova : Gue baru aja naik kekamar
Bianca Dialova : Tadi habis cerita sama Ayah
Bianca Dialova : Pada bahas apa sih? Capek bgt mau scroll
Tata Sandya Reola : Kebiasaan, padahal kita lagi curhat
Tata Sandya Reola : Tega bgt!
Bianca Dialova : Iya-iya, nnti gue baca
Alana Humeera Kenrick : Salah enggak sih, suka sama sahabat sendiri?
Tata Sandya Reola : Enggaklah, namanya juga perasaan. Enggak ada yang tahu kemana akan berlabuh.
Tata Sandya Reola : Hehe, ih puitis banget Tata malam ini
Bianca Dialova : Enggak tau, enggak pernah ngerasain HAHAHAHHA
Tata Sandya Reola : Makanya, ngedate sana. Mau gue cariin?
Tata Sandya Reola : Aiden, Arkan, Zidan. Mau yang mana?
Bianca Dialova : Dih, kagak ada orang lain apa?
Alana Humeera Kenrick : Arkan baik kok, lebih perhatian dari yang lain. Cakep juga, boleh Bi, cobain.
Bianca Dialova : Anjir, udah kayak nyicip bumbu.
Tata Sandya Reola : HAHAHAHA, lagian, lo tuh galak banget. Judes lagi. Gimana cowok berani sih??
Alana Humeera Kenrick : Gini aja, coba, kasi tahu salah satu cowok yang lo suka? Nanti kita coba bantu?
Bianca Dialova : Enggak ada, kenapasih pada jodoh-jodohin gue
Tata Sandya Reola : Biar bisa triple date
Bianca Dialova : Dih
Bianca sudah menggeleng geli membaca percakapan ia dan kedua sahabatnya tersebut. Selalu saja, setiap kali mendengar curhatan mereka, Bianca akan selalu didesak untuk segera mencari pasangan. Hell, Bianca bahkan tidak mengerti pada hatinya sendiri.
Alana Humeera Kenrick : Ta, Gavin pulang apa nyamperin mereka Titan lagi?
Tata Sandya Reola : Mau ke bar katanya, nyusulin kayaknya
Alana Humeera Kenrick : Huh, pantes aja chat gue gak dibales.
Yang membuat Bianca tersentak adalah kini notif dari Titan sudah berdatangan dilayarnya. Cepat Bianca membuka itu, membacanya perlahan, lantas semakin dibuat bingung dengan perlakuan si songong itu.
Setan sialan
Gue dibar, bareng Gavin, Arkan, Aiden sama Zidan.
Bianca Dialova
Lah, ngapain ngabarin gue?
Setan Sialan
Gue pikir lo nunggu kabar dari gue?
Bianca Dialova
Aneh lo!
Setan Sialan
Takutnya lo khawatir
Bianca Dialova
Gue? Khawatirin lo? Yang bener aja gila!
Setan Sialan
Emang, enggak?
Bianca Dialova
LO TAU JAWABANNYA!!
Setan Sialan
Tapi gue gak tau isi hati lo?
Bianca Dialova
Eh, udah, jangan main-main.
Setan Sialan
Siapa yang main-main sih, Bi?
Bianca Dialova
Sakit jiwa lo
Setan Sialan
Emang.
Bianca Dialova
Mending lo kabarin Alana sana!
Setan Sialan
Kenapa?
Bianca Dialova
Ya kabarin aja! Dia nyariin lo.
Setan sialan
Tapi gue juga lagi nyari lo?
Bianca Dialova
Serius, Lo mabok???
Setan sialan
Khawatir kan lo?
Bianca Dialova
Enggak jelas lo!
Setan Sialan
Yaudah, gue mau ngasi tau itu doang.
Setan sialan
See u, pig!
Bianca menggeleng cepat. Memilih untuk meletakkan ponselnya asal, ia kembali terdiam dengan semua perasaan bingung itu.
Titan sialan! Dia kenapa sih???
Bianca benar-benar kacau dengan semua pikiran mengenai perlakuan Titan tersebut. Bahkan, pelan-pelan ia menepisnya, Bianca seperti tersentak pada semua perlakuan Titan hari ini.
Ish! Apa sih? Kenapa sih gue? Enggak jelas!
Memilih untuk memejamkan mata, Bianca akhirnya terlelap dengan semua tanya dan perasaan kacau dalam hatinya yang juga belum selesai ia temukan jawabannya.
***