Ada usang yang kadang kala salah ditatap mata.
Ia redup, namun selalu hadir cahaya untuk membuatnya bertahan.
Namun, pada sajak yang tak diterima nalar, ia sebenarnya nyata.
Perasaan itu ada, tanpa pernah mampu mengabaikannya.
Bianca meneguk sisa terakhir air minum yang telah dipesannya. Sudah satu setengah jam Bianca menunggu dengan ketidakjelasan. Setelah berbincang mengenai tugas apa yang akan ia dan Titan kerjakan, di kafe depan sekolah inilah mereka memutuskan hasil akhirnya.
Seharusnya Bianca tidak memusingkan itu. Seharusnya ia mengabaikan tugas dari bu Dyta tersebut, apalagi ia dipasangkan dengan Titan, Bianca sendiri tidak yakin mereka dapat menyelesaikannya. Namun, bagaimana Titan mendesak untuk segera membahasnya, membuat Bianca tidak punya pilihan lain.
Tapi bagaimana janjinya tidak kunjung menemukan titik terang, Bianca menghela napas gusar. Sialan! Apa Titan sengaja mengerjainya seperti ini?? Membuatnya menunggu tanpa pasti?
Tadi setelah pulang sekolah, Tata sudah bergegas dengan Gavin. Sementara Titan memilih untuk mengantar Alana lebih dulu, Bianca juga menyetujui itu. Lagi pula, bagi Titan, memang ada yang lebih penting selain Alana? Bianca menerimanya, apalagi Alana adalah sahabatnya, ia harus memaklumi itu dan mengalah. Lantas, ketidakhadiran Titan hingga detik ini menjadikan Bianca gusar.
Membayar pesanannya dengan wajah masam, Bianca berlalu meninggalkan kafe. Persetan dengan perjanjian yang mereka buat, Titan lebih dulu melanggarnya. Bagaimana satu jamnya berakhir sia-sia, Bianca tidak peduli dengan tugas itu lagi. Huh! Titan sialan!
Namun yang paling bodoh adalah karena Bianca menunggu, ada harapan yang dirapalkannya saat mereka berjanji untuk bertemu disini. Lucu memang, karena Bianca menyerahkan semua harapan itu disaat tahu bahwa pada akhirnya ia akan selalu sendiri.
Sementara disisi lain, Titan masih berada dirumah Alana. Tidak pernah punya cukup tenaga untuk menolak keinginan sahabatnya itu. Meskipun Alana bisa saja pulang dijemput pak Dadang supirnya, hari ini dia ingin Titan yang mengantarnya. Jadi disanalah Titan akhirnya.
Setelah diam-diam mengadakan pertemuan untuk tugas kelompok dan modus yang Titan buat pada gadis gila itu, Bianca akhirnya menyetujui itu walaupun dengan wajah menyebalkan yang masih Titan ingat.
Seharusnya mereka langsung pergi sejak bel tadi, tapi langkah Titan terhambat karena Alana tiba-tiba memaksanya untuk mengantarkan sahabatnya itu pulang. Tapi sudah cukup waktu yang dibaginya pada Alana, Titan harus segera menemui Bianca.
Kemudian menatap Alana lekat, Titan berujar. "Ana, gue harus pergi." erang Titan akhirnya. Setelah mengantar Alana sampai dengan selamat, sahabatnya itu masih menahannya untuk tetap berada disana, meminta Titan agar tetap tinggal untuk waktu yang lama. Menyetujui itu agar Alana tidak marah, Titan malah melupakan janji yang dibuatnya bersama Bianca tadi.
Menoleh pada pergelangan jam ditangannya, Titan sudah melupakan waktu temu itu untuk waktu yang lama. Lalu memperhatikan Alana yang sudah menatapnya penuh selidik, Titan berdeham. "Gue pergi sekarang ya?" beonya kembali.
"Mau kemana sih?" gerutu Alana. Titan tidak seperti biasanya pergi begitu saja. Dia bahkan selalu menghabiskan waktu hanya untuk terlelap dirumah dan numpang dirumah Alana. "Biasanya juga makan disini, mandi disini, buru-buru mau kemana??" todong Alana lagi.
Hening, Titan masih memikirkan jawabannya. Ia dan Bianca juga berjanji tidak akan mengatakan pertemuan mereka pada Alana, walaupun tadi Titan sudah memberitahu Bianca bahwa ia harus mengantar Alana lebih dulu. Dan Bianca menyetujuinya, lantas setelah itu Bianca memaksa untuk tetap merahasiakan tentang tugas kelompok mereka. Merahasiakan tentang kapan, dimana dan bagaimana mereka akan menyelesaikannya.
Jadi memikirkan jawaban yang pas untuk itu, Titan menyeringai puas. "Ada janji sama mereka Gavin." kata Titan beralasan. "Nanti gue kabarin, kalau sempat gue mampir lagi, oke?"
Mengerucutkan bibirnya masam. Alana menggeleng tidak mau. Titan harus tetap disana, bersamanya karena hanya dengan itu Alana mampu memperhatikan sosok yang sampai kini masih menjadi jawaban atas banyaknya sosok diluar sana yang ditolaknya. Karena Titan, karena Alana hanya menginginkan cowok ini. "Enggak boleh. Lo tetep harus disini sampai papa, mama datang."
"Ana..." erang Titan lagi. Kali ini ia harus lebih memastikan gadis itu. "Gue mau beresin sesuatu dulu sama anak-anak."
"Beresin apa sih?" sela Alana cepat. "Ya biarin yang lain, yang beresin. Kan ada Arkan, Zidan, Gavin sama Aiden. Mereka juga pasti ngerti kok."
Mendekat, Titan menyapu kepala gadis itu lembut, menghela napas dengan sabar sebelum berujar kembali. "Besok ketemu lagi disekolah, udah seharian juga barengan." kata Titan akhirnya. "Lagian kalau gue sempat, nanti gue kesini lagi."
Meneliti bahwa Titan tidak membohonginya, Alana akhirnya berujar pasrah. "Yaudah deh, jangan lupa kabarin gue."
Mengangguk, Titan segera berlalu dari sana. Meraih jaket kulitnya, ia meninggalkan rumah Alana dengan ninjanya dan menderu motor itu dengan kecepatan gila. Untuk yang pertama kalinya, Titan tidak menoleh lagi.
Seperti pada tujuan utamanya--menemui Bianca. Titan tidak tahu sejak kapan kebohongan itu sering ia utarakan pada Alana. Namun, bagaimana permainan ini dimulai, Titan benar-benar mengatakan semua kebohongan itu. Titan harus menyelesaikannya karena ia juga yang memulai semua ini.
Selama perjalanan Titan memikirkan banyak hal, tentang semua hal mengenai tantangan dan permainan ini. Haruskah? Atau, inikah keinginannya? Beginikah caranya? Seperti inikah kemenangan yang akan ia dapatkan?
Lagi pula, untuk apa Titan memikirkan itu? Bianca gadis gila, dia tidak akan memikirkan apa yang sebenarnya Titan lakukan. Jadi, Titan tidak lagi memusingkan itu. Anggap saja ini hanya sebuah percobaan yang tidak mereka ketahui bagaimana hasilnya.
Hingga ninjanya berhenti disebuah kafe yang telah mereka janjikan, Titan meletakkan helmnya asal, lalu berlari memasuki kafe.
Menelusuri matanya pada seluruh ruangan, Titan menepis keringat dipelipisnya, mencari-cari sosok Bianca yang menjadikannya berakhir sebagai pusat perhatian.
Menoleh kesana kemari, Titan masih bertahan ditengah sana, dalam segala upaya yang coba ia harapkan, mungkin Bianca duduk di pojok atau dimana saja yang membuat gadis itu nyaman.
Dan gilanya, kedatangan Titan di cafe depan sekolah malah membuat beberapa siswa yang berada disana bersorak. Mereka terlonjak karena kedatangan pentolan Danirian tersebut. Hingga segala pujian berhasil mereka layangkan hanya karena sosok tinggi, putih, berkharisma itu berdiri disana.
"GILA! ITU KAK TITAN??"
"ASTAGA! CAKEP BANGET!"
"Gila! Gila, yang bener aja? Dia manusia bukan sih??"
"Kakinya masih napak kan??"
"Ngapain kak Titan disini?"
"Eh,eh! Gue udah rapih belum?"
"Gue udah cantik gak sih??"
Kira-kira, itulah erangan dari seluruh gadis yang berada di kafe tersebut. Tidak juga berani menghampiri, aura Titan benar-benar membuat semua orang mampu membisu dengan pandangan tidak percaya. Jadi mereka yang mengagumi pula memilih untuk terus memperhatikannya dalam diam. Dalam ketenangan yang juga terlihat membaluti sosok yang diberi gerlar The Vampire Killer itu.
Dengan jaket kulit dan rahang runcingnya, Titan mampu membuat semua gadis melongo. Apalagi saat pandangan Titan mengedar keseluruh ruangan dengan sekejab mata, semua gadis memilih menundukkan kepala. Hell, siapa yang berani dengan sorot tajam pemimpin tertinggi Carswell tersebut?
"Eh, Tan."
Menoleh, Titan menemukan Ifan, teman satu angkatannya sedang menghampirinya. Lalu Ifan berdecak kembali. "Tumben, ada perlu apa?"
Titan tidak butuh basa-basi untuk mengatakan tujuannya, lantas menatap Ifan ia berujar. "Gue nyari--"
"Bianca?" potong Ifan.
Lalu Titan mengangguk cepat. Benar, Ifan kerja paruh waktu disini, mungkin cowok itu tahu keberadaan Bianca. "Apa Bianca ada datang kesini?"
Ifan mengangguk cepat. "Dia duduk dipojok sana tadi." jelasnya kemudian. "Setengah jam yang lalu dia udah pulang, dari tadi kayaknya dia nungguin lo."
Menepuk pundak Ifan pelan, Titan tidak mengatakan apa-apa selain berlalu meninggalkan kafe.
Seharusnya ini tidak begini, namun bagaimana hal itu menjadi peluang untuk Titan agar lebih mudah mengelabuhi gadis gila itu, Titan memilih untuk mendatanginya.
Bukan, bukan karena alasan Titan khawatir. Melainkan karena permainan ini semakin membuatnya geli sendiri. Tentu saja Titan datang untuk meminta maaf, bukan karena ia merasa bersalah, tapi karena Titan tertantang. Tidak lebih dari pada itu.
***
Setelah menghentikan ninjanya disebuah rumah yang sudah tidak asing ini, Titan memilih turun dari motornya. Memarkirkan ninjanya asal, ia berjalan dengan santai.
Merasakan sesuatu yang berbeda dan mengusiknya, Titan menoleh sesaat seperti ada orang yang tengah memperhatikannya, jadi ia mencari-cari kebenaran itu. Ketika matanya bertatapan pada seseorang berkacamata diujung sana, sosok itu langsung berlari begitu saja.
Namun, untuk apa Titan memusingkan itu? Akhirnya, ia memilih untuk melanjutkan langkahnya dengan pasti. Mengetok pintu rumah Bianca, Titan terdiam dengan kedua tangan disimpan disaku.
Lama waktu itu berputar, hingga Titan terpaksa menunggu. Jika saja bukan karena taruhan itu, Titan tidak akan pernah membuang waktu berharganya hanya untuk hal konyol ini.
Hingga pintu itu terbuka, seorang laki-laki berperawakan besar sudah berdiri dihadapannya. Tato-tato yang terukir sempurna dilengannya, membuat Titan berdiri kikuk. Dan berhasil membuatnya menahan kalut. Titan meneguk ludahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Terlonjak, Titan spontan membungkuk. Perawakan lelaki dihadapannya membuat Titan sedikit segan. Membuatnya bertanya-tanya, apakah ia memang tidak salah rumah? Ini rumah Bianca kan? Bukan rumah petinju?
Namun menetralkan dirinya, Titan berujar. "Malam, Om. Saya mau ketemu Bianca." jelas Titan akhirnya. Berusaha menormalkan keterkejutannya, karena jika ia tidak salah menebak, ini pasti Ayah Bianca. Dan inilah alasan kenapa gadis itu tidak mengajaknya masuk. Mungkin tahu bahwa Titan akan seterkejut ini.
Menyenderkan tuhuh dipintu utama, Basir menyilangkan kedua tangan didadanya. Menatap Titan menyeluruh dan berujar. "Ada keperluan apa sama anak saya?"
Sialan, Titan benar-benar ketakutan sekarang. "Saya ada janji mau kerja kelompok dengan Bian Om."
"Selarut ini??" singgung Basir cepat. Menaikkan kedua alisnya, menantang.
Titan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyunggingkan senyum kikuk serta berujar. "Mau, bahas-bahas sebentar om." katanya beralasan. "Tapi kalau enggak diizinin, saya bisa pergi sekarang, Om."
Mengangguk-angguk penuh selidik, Basir menyahut. "Nama kamu." tanyanya, ia masih menaikkan kedua alisnya. Namun Basir tahu sosok dihadapannya inilah yang selalu menjadi permasalahan bagi Putrinya.
"Titan, Om." sahut Titan. Apa harus ia katakan nama lengkapnya agar papa Bianca tahu siapa dirinya? Haruskah Titan beri tahu siapa orang tuanya? Jadi Titan menambahkan. "Titan Deimos Kennedy, Om." tekannya kemudian.
Mengulum senyumnya, Basir mengangguk geli. "Jadi, kamu yang namanya Titan?"
"Iya, Om." kata Titan lagi. Tidak pernah seintimidasi seperti ini. "Saya yang namanya Titan, tapi enggak tahu kalau Bianca punya teman lain yang namanya juga Titan."
Bodoh. Titan benar-benar merutuki dirinya sekarang. Kenapa ia benar-benar terlihat seperti mati kutu? Padahal tidak ada yang dilakukannya.
"Kalau begitu, silahkan masuk." kekeh Basir kemudian. Berbalik badan dan membawa Titan memasuki rumahnya.
Titan diam sejenak, sebelum teguran dari Basir kembali membuatnya tersentak. Lalu Titan segera mengikuti.
Menelusuri pandangannya pada sekeliling, Titan menemukan banyak sekali foto-foto Bianca yang hampir memenuhi seluruh ruangan. Wajah bahagianya digendong seorang laki-laki yang merupakan Ayahnya, wajah penuh coletan bekas coklat, juga ketika gadis gila itu tengah menangis saat masih bayi.
Titan memperhatikan semua foto-foto itu. Wajah Alana dan Tata yang juga ikut terpampang disana, Titan terkekeh menemukan bagaimana wajah Bianca sedang masam saat mereka mengambil foto tersebut.
"Bian sering nyeritain kamu. Katanya kamu sering ngajak berantem." kekeh Basir pertama. "Sini duduk, sebentar lagi Bian pasti turun."
Titan menggeleng tentu saja. Ia harus memberikan sisi terbaik agar semua rencananya berhasil. "Enggak kok om, mana pernah sih saya ngajak anak om berantem. Kebalik yang ada." kata Titan pertama. "Jangan percaya ya om. Anak om kadang emang keras kepala, jadi hal itu yang buat kita berdua sering berantem." sambung Titan tanpa takut.
Merasa putrinya disudutkan, Basir berdecak. "Apa kamu bilang?" singgung Basir galak. Lalu Titan hanya menggeleng. Membuat Basir benar-benar tertawa lepas. "Kata Bian, kamu jagoan. Ini, kayak begini yang namanya jagoan?" sindir Basir kembali.
Titan masih terdiam. Lalu, saat suara yang tidak asing itu mengisi seluruh ruangan, Titan menoleh pada anak tangga. Menemukan Bianca sedang menuruni tangga dengan mulutnya yang masih mengoceh, Titan terkekeh saat gerutuan itu malah terdengar menggemaskan.
"Ayah, Bian laper."
"Ayah masak apa malam ini?"
"Ish! Bian mau cerita, bete banget!"
"Tadi, Bian nungguin si setan itu, Ayah tau enggak, Bian udah nunggu hamp--"
Bianca menghentikan ocehannya dan membulatkan mata. Menemukan si songong itu sudah duduk disamping Ayahnya dengan cengiran menggoda, membuat Bianca menggeleng tidak percaya.
Sementara Basir dan Titan saling pandang untuk sesaat, sebelum benar-benar tertawa disana. Lucu memang tapi sejak pertama Titan tahu, bahwa dirinya dan Basir memiliki frekuensi yang pas.
Menatap Titan malas, Bianca memekik.
"HEH, NGAPAIN LO DISINI?" kata Bianca garang. Kesal sendiri karena sosok yang membuatnya gusar sejak tadi, kini malah duduk dengan santai dirumahnya. "Pergi lo, gue enggak peduli sama tugas bu Dyta lagi!"
Basir sendiri sudah menatap putrinya itu dengan gelengan tidak percaya. "Bian, jangan begitu. Kasihan ini tamunya." rayu Basir hangat.
Bianca menggeleng cepat. Tidak ada belas kasihan yang harus diberikannya pada sosok songong itu. Sudah cukup Titan mempermainkannya seharian ini. "Enggak yah, enggak perlu dikasihanin tuh anak."
Titan baru saja hendak menyahut, ketika Bianca bahkan lebih dulu memotongnya cepat. "Diem lo! Enggak ada yang nyuruh lo jawab omongan gue!" potong Bianca cepat. Tidak peduli apapun yang akan Titan katakan. "Jadi diem sebelum gue bakar lidah lo itu!"
"Bian..." erang Basir lagi. Tapi Bianca sudah tidak peduli lagi. Bianca mendekat, menarik tangan Titan sebelum memaksa lelaki itu untuk meninggalkan rumahnya. "Pergi enggak!"
Basir menatap Bianca geli sebelum angkat dari tempatnya, lalu menarik putrinya itu dalam rangkulan. "Udah, omongin dulu baik-baik," kata Basir pertama. "Ayah enggak mau datang kesekolah nanti kalau Bian dipanggil ke BK lagi." ancam Basir. "Gih, omongin dulu."
Menghentak kakinya kasar. Bianca berseru marah. "AYAH!"
"Omongin dulu. Ayah nyiapin makanan, baru kita makan sama-sama." kata Basir lagi, memperingatkan sebelum berlalu ke dapur.
Bianca menghela napasnya berat karena ia tidak punya pilihan. Menatap Titan dengan kilatan marah, Bianca memutar bola matanya jengah. Sementara Titan sudah mengerjap, tengah mempersiapkan alasan yang akan disampaikannya.
"Apa?" decak Bianca pertama. "Pergi gih, sumpah, gue kesal banget pengen bunuh lo!"
Menghela napas panjang, Titan menatap gadis itu lekat. Setidaknya harus ada yang ia lakukan untuk ini "Oke, gue salah karena udah buat lo nunggu lama." ujarnya pertama. "Gue ada perlu sama Ana."
"Oh ya? Lo enggak punya hape buat ngabarin gue??" sentak Bianca. Menuntut. "Enggak punya tangan, buat ngetik kalau lo gak bisa datang??"
"Bi--"
"Lo buat satu jam gue terbuang sia-sia!" geram Bianca. "Lo pikir, waktu gue cuma bu--"
Bianca menghentikan ucapannya saat Titan mendekat, menutup mulutnya dengan telapak tangan si songong itu, Bianca tersentak karena helaan napas Titan mulai menguasi wajahnya.
"Gue belum jelasin, tapi lo udah ngomel." potong Titan kemudian. "Oke, gue minta maaf." beonya kembali.
Bianca menepis tangan Titan begitu saja, tidak ingin jarak itu menguasi keduanya. "Yaudah, pergi sana."
"Enggak, sebelum lo maafin." ujar Titan lagi.
"Apasih!" gerutu Bianca. "Gue mau makan sama Ayah gue, pergi."
"Sehari aja enggak ngusir gue, bisa?" imbuh Titan kemudian.
"Enggak bisa! Jadi tolong, pergi!" kata Bianca lagi. Meyakinkan.
"Alana minta gue nemanin dia, om Sean sama tante Alice belum pulang." jelas Titan hati-hati. Setidaknya jika menyangkut Alana, Titan percaya Bianca pasti mengerti.
"Terus?" sergah Bianca. Kentara sekali bahwa ia hanya menginginkan sebuah penjelasan lebih dari itu. "Gue nanya, kenapa lo enggak hubungin gue buat ngasi tau?"
"Kenapa lo semarah ini sih? Gue nemanin sahabat lo, seharusnya lo berterimakasih." ucap Titan malas.
Hening. Bianca terdiam, bingung dan juga bimbang. Benar kata Titan. Kenapa ia semarah itu? Titan memang selalu bersama Alana, lantas, tidak ada yang salah untuk itu? Seharusnya Bianca mengerti, tapi aneh, ia juga tidak tahu kenapa ia seperti ini. Menuntut kabar dari Titan pula percuma karena mereka memang tidak sedekat itu. Akhirnya, menatap Titan sesaat Bianca memilih untuk memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan Titan.
Namun, baru pada langkah pertama, tangannya sudah ditarik kembali. Menoleh, Bianca menatap malas wajah yang tengah memelas dihadapannya.
"Maafin gue, hm?"
Untuk yang pertama kalinya, Bianca tahu Titan tulus mengatakan itu. Lalu Bianca berdeham sebagai jawaban. Setidaknya Bianca tahu kemarahannya berasal dari mana. Kemudian Bianca melanjutkan langlahnya dan berlalu untuk menghampiri Ayahnya.
Setelah menyiapkan semua makanannya, Basir pun memaksa Titan untuk ikut makan bersama. Jika Bianca sudah mencak-mencak menolak itu semua, Titan malah semakin puas karena Ayah Bianca tetap bersikeras.
"Silahkan makan, maaf Om cuma bisa nyiapin ini." kata Basir ketika mereka bertiga sudah berkumpul dimeja makan.
"Terimakasih om." kata Titan tulus. Meskipun perawakan Ayah Bianca garang, Titan berusaha untuk tetap tenang.
"Yah--" tegur Bianca. Masih ingin protes karena keberadaan Titan membuatnya tidak nyaman.
"Makan dulu, jangan ngomel mulu. Titan ini tamu kita." jawab Basir hangat. "Ingat, apa yang Ayah ajarin?? Harus sopan sama tamu."
"Ayah ih, ngeselin!" rajuk Bianca malas.
"Emang semanja ini ya anak om?" tanya Titan disela-sela makannya. "Disekolah galak banget om." kekeh Titan lagi.
"Oh ya?" tanya Basir. Padahal ia paham betul sifat putrinya tersebut.
"Jagonya lompat gerbang. Selalu bangun telat, langganan BK." kekeh Titan lagi. Meledek.
"Eh, sama ya! Lo juga! NGACA!" geram Bianca tidak terima.
Basir hanya tertawa mendengar perdebatan kedua orang dihadapannya. "Pantas saja ya kalian sering berantem. Sama-sama keras kepala."
"Yah, udah deh. Males banget Bian!" sela Bianca akhirnya.
Titan tersenyum, lalu memilih untuk kembali melahap makanannya. Untuk yang pertama kalinya, Titan benar-benar menikmati makanan itu. "Enak banget om."
"Bagus, jadi, makan yang banyak." jawab Basir lagi. Tidak terganggu sama sekali atas kehadiran Titan.
Titan hanya mengangguk, sementara Bianca mengerutkan dahinya malas. Berada dalam situasi yang asing ini, menjadikan Bianca kacau. Terlepas dari itu, untuk yang pertama kalinya, Bianca tahu Ayahnya bahagia dengan suasana yang ramai ini.
"Ini pertama kalinya ada cowok yang berani main kerumah, Bian." ucap Basir kemudian.
Titan melongo, tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan Basir, lalu ia menyunggingkan senyumnya. "Takut kali om, sama anak Om, atau sama Om." ledek Titan santai.
Basir terdiam sejenak sebelum mengangguk-angguk. Bianca sendiri sudah melahap makanannya dengan wajah masam. "Bayar makanan lo setelah ini, awas aja!" ancam Bianca. Membuat Basir kembali menegur putrinya itu, tapi dengan kekehan bergurau tentu saja.
"Setelah ngeliat kamu, om paham kenapa kalian senang berantem." imbuh Basir kemudian. Mengulum senyumnya. "Ini karena ada kamu aja, Bian malu-malu. Biasanya, dia paling manja..."
"Enak aja! Ayah apaan sih!" protes Bianca tidak terima. Mengerucutkan bibirnya masam karena Ayahnya senang mempermalukannya.
"Iya Om, dari turun tangga tadi Titan udah bisa nebak." imbuh Titan, mengedipkan sebelah mata menggoda.
"Enggak jelas lo!" sela Bianca cepat. "Awas aja lo bilang ke anak-anak kalau lo kesini." ancam Bianca setelahnya. "Apalagi, Ana..."
"Loh, kenapa dengan Alana?" tanya Basir penasaran. Ia sudah menatap Bianca dan Titan untuk mendengar penjelasan.
"Ayah, udah, stop keponya." gusar Bianca lagi. Sementara Titan hanya terkekeh dari tempatnya.
Hingga pekat itu semakin menguasi dunia, Titan benar-benar menghabiskan malam bersama Bianca dan Basir. Menjadikan ia mengerti, bahwa kedatangannya malam ini adalah kesalahan pertama yang Titan lakukan.
***